
Dear D
Hari itu adalah hari yang paling indah di hidupku. Hari dimana kita saling berjanji di hadapan Tuhan. Terima kasih telah mewujudkan pernikahan impianku, dan membuat merasa menjadi wanita paling beruntung didunia.
Tolong jadikan ini sebagai pernikahan pertama dan terakhirku. I Love You.
Hari ini adalah hari yang paling dinantikan Vey, hari ini ia akan resmi menyandang status nyonya Geraldo. Vey sudah berada di pintu gerbang ballroom , menunggu pintu itu terbuka untuk memulai acara pernikahan.
Vey menunduk untuk memastikan bahwa ia tidak akan menginjak bagian bawah gaun indah yang ia kenakan. Keahlian Yori memang tidak bisa diragukan lagi, ia mendesain gaun pernikahan Vey dengan begitu sempurna. Yori benar-benar mewujudkan impian Vey untuk menjadi cinderella di hari pernikahannya.

Saat pintu gerbang di buka, Vey semakin mengeratkan pegangan tangannya pada lengan Rendra, Rendra mengelus tangan Vey agar anak gadisnya itu tenang dan tidak terlalu gelisah.
Mereka berdua melangkah menuju altar, Vey sempat berhenti sejenak, memperhatikan dekorasi ruangan yang sangat mewah. Vey tidak pernah mengira pernikahannya akan se mewah ini.
Dekorasi pernikahan Vey dan Dean bertema Disneyland, Gereja Sagrada Familia di sulap sedemikian rupa hingga terlihat bak istana di negeri dongeng.
Ribuan bintang tiruan yang terbuat dari kaca nampak berkelap-kelip saat diterpa oleh lampu pijar yang berkilau. Semua tamu undangan juga diwajibkan mengenakan kostum ala disney.
Entah berapa banyak dana yang dikeluarkan untuk merancang pernikahan se megah ini. Vey yakin sangat banyak dan bisa jadi lebih banyak dari apa yang ia pikirkan. Belum lagi setiap tamu undangan yang datang akan diberi buah tangan berupa ponsel keluaran terbaru tahun ini.
Walau terlahir dari keluarga kaya, Vey tetap berprinsip untuk hidup hemat, termasuk dalam hal pernikahan yang bisa dipastikan hanya akan ia lakukan sekali seumur hidup.
Sebenarnya ia ingin pernikahannya dilakukan secara sederhana saja, tapi sepertinya sang mertua ingin membuat pernikahan yang berkesan untuk nya, dan Vey akan mengucap terima kasih yang sebesar-besarnya pada Hana karena telah mewujudkan pernikahan impiannya.
Vey melihat banyak kamera yang menyorot ke arahnya, dan ia juga melihat para tamu undangan mengarahkan kamera ponsel mereka ke arahnya untuk mengabadikan momen sakral ini.
Di didepan sana Dean sudah menunggu nya dengan tatapan mata yang membuat jantung Vey berdegup tak karuan. Dean mengulurkan tangannya untuk mengambil alih tangan Vey dari sang mertua saat gadisnya itu tiba di hadapannya.
Dean meremas tangan Vey pelan, berusaha menyalurkan kehangatan pada tangan Vey yang menurutnya terlalu dingin, dia mengerti jika Vey saat ini sangat gugup.
Dan acara dimulai. Pendeta membuka acara dengan lantunan doa sampai akhirnya meminta kedua mempelai untuk mengucapkan janji suci.
"I'm Dean Brilliand Geraldo, take you Veyraa Joanne Wijaya, to be my wedded wife. To have and to hold, from this day forward, for better, for worse, for richer, for poorer, in sickness or in health, to love and to cherish 'till death do us part. And hereto I pledge you my faithfulness." Ucap Dean lantang sembari menatap Vey dengan tatapan penuh cinta.
Vey tertegun sejenak, benarkah ini Dean? Tatapan lelaki itu berbeda dari biasanya.
"I'm Veyraa Joanne Wijaya, take you Dean Brilliand Geraldo, to be my wedded husband. To have and to hold, from this day forward, for better, for worse, for richer, for poorer, in sickness or in health, to love and to cherish 'till death do us part. And hereto I pledge you my faithfulness." Ucap Vey, tidak terlalu buruk, karena sebelumnya ia sudah menghafalkan janji pernikahannya.
Setelah itu mereka saling bertukar cincin, dan saat Dean selesai memasang cincin di jari manis Vey, untuk pertama kalinya ia mencium bibir Vey. Vey tersentak kaget, saat Dean mulai ******* pelan bibirnya, ciuman yang terasa begitu nyaman dan memabukkan, tanpa sadar Vey membuka bibirnya seolah memberi celah lidah Dean untuk masuk dan bermain didalam sana.
Dean melepaskan bibirnya yang melekat di bibir Vey, kemudian kembali menyesap singkat bibir gadis itu yang sontak membuat para tamu undangan riuh dengan tepuk tangan.
Dean menggenggam erat telapak tangan Vey, menyalurkan aliran-aliran listrik yang terasa begitu menyengat hati Vey.
Setelah itu Dean tersenyum lebar ke arah tamu undangan, dan secara tiba-tiba ia kembali mencium Vey lagi, kali ini sasarannya ada pipi. Dean mencium pipi Vey cukup lama, hingga pipi Vey memerah bagai kepiting rebus.
Vey tersenyum bahagia, pernikahan ini memang seperti apa yang selalu ia impikan. Vey sedikit menengokkan kepalanya dengan mata menatap ke atas, menatap wajah lelaki yang selalu berhasil membuat jantungnya meloncat-loncat bagai dihinggapi ribuan katak. Lelaki itu membalas tatapan Vey seraya tersenyum manis.
"Kalau gue cinta sama lu, salah gak sih?" Gumam Vey lirih, sangat lirih, dan mungkin hanya ia dan Tuhanlah yang tau.
***
Dean's Apartement, 22.56.
Vey merebahkan kasar tubuh mungilnya diatas kasur empuk berukuran king size milik Dean. Hari ini Vey sangat lelah sekaligus senang, namun perasaan senanglah yang kini paling mendominasi. Yups...Mulai saat ini ia sudah resmi menjadi istri Dean.
Vey menyentuh pelan bibirnya, memejamkan mata sembari membayangkan kembali ciuman yang dilakukannya bersama Dean tadi . Sensasi itu masih terasa, sensasi aneh yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Seperti teringat sesuatu, Vey berguling ke sisi ranjang dan merubah posisinya menjadi tengkurap, ia meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja kecil di samping ranjang.
Vey pun buru-buru melakukan siaran langsung di instagram untuk menyapa dan berbagi kebahagian dengan para fansnya.
ceklek
Disaat bersamaan, pintu kamar mandi terbuka. Menampilkan seorang lelaki tampan dengan handuk melingkar di sebatas pinggang, Dean menyisir rambutnya yang basah dengan jari tangan lalu berjalan ke arah Vey.
Ponsel yang Vey pegang merosot jatuh diatas busa kasur, dan membuat posisi kamera mengarah ke langit-langit ruangan.
"Lepas pakaian lu" Perintah Dean dengan tiba-tiba. Tolong....jangan berpikiran kotor dulu. Dean hanya risih melihat Vey yang masih mengenakan gaun cinderella.
Tapi sepertinya akan muncul salah paham, mengingat Vey belum mematikan siaran langsungnya.
"Hmmm.... Kotak yang kemarin mana kak? Kok gak ada" Vey mengerutkan bibirnya, apa Dean lupa membawa kotak berisi pakaian milik Vey? Atau Dean sengaja? Mengingat ini akan menjadi malam pertama mereka.
Jawabannya, karena Dean lupa tidak membawanya. Kotak itu masih tertinggal di rumah mamanya. Hooh dan ia akan mengambilnya besok.
Dean membuka kopernya yang ada di atas ranjang untuk mengambil pakaian. Sedangkan Vey masih memperhatikan kegiatan Dean, memperhatikan lekuk tegap punggung Dean yang nampak begitu gagah.
"Kayaknya ini kegedean deh", ucap Dean seraya menunjukkan kaos hitamnya pada Vey, Dean berniat meminjami gadis itu pakaian.
"Tapi gue suka yang ukurannya gede gitu kak" Desis Vey, ambigu.
"Udah dulu ya guys... aku mau istirahat dulu nih...bye bye" Ujar Vey, menutup siaran langsungnya segera setelah Vey berhasil mengontrol dirinya dan menyadari bahwa sedari tadi dirinya masih melakukan siaran langsung di instagram.
"Jadi dari tadi lu lagi siaran langsung?!" Sarkas Dean dengan nada bicara yang terdengar kesal.
Vey mengelus tengkuk lehernya, "ee-em iya kak".
"Jangan bilang lu arahin kameranya ke gue?"
"Kok tau sih kak? Banyak yang suka sama abs lu tau. Gimana kalau lu jadi selebgram kayak gue?" Kicau Vey polos, tanpa dosa.
Menjadi selebgram? Sampai kucing bertelur pun Dean tidak akan mau.
"***** emang! Lu malu-malu in gue" Gerutu Dean.
"Maaf deh kak,.." Bibir Vey melengkung ke bawah, dengan raut wajah penuh penyesalan.
Dean melempar kaos hitam itu ke arah Vey. Kemudian berlalu ke dalam kamar mandi untuk mengenakan pakaian, Dean merasa sangat kesal, sudah berapa ribu orang yang melihatnya dalam keadaan telanjang seperti tadi? Ah bahkan ia baru berani bertelanjang dada di depan Vey, dan karena gadis menyebalkan itu ribuan orang ikut melihatnya juga.
3 menit kemudian pintu kamar mandi kembali terbuka.
Vey berkali-kali menggurutu kesal di depan cermin, ia kesulitan membuka kancing gaunnya yang terletak dibagian belakang. "Ih gimana sih, kok gak bisa dibuka?" Vey masih mencoba, hingga pada akhirnya menyerah.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Dean meraih kancing gaun Vey dan membukanya hingga kancing terakhir. Meski gadis itu begitu menyebalkan namun Dean memutuskan untuk membantu Vey. Mungkin karena alasan K A S I H A N?
Ayolah Dean belum lupa kejadian beberapa menit yang lalu ketika gadis itu secara lancang merekam dan mempermalukannya di depan publik. Kancing terakhir pun terbuka, membuat punggung mulus dan putih milik Vey terekspos dengan jelas.
"Apa dia tidak memakai bra?" Batin Dean dalam hati. Dean menelan kasar salivanya, bohong jika ia tidak tertarik, sebagai laki-laki normal mana mungkin ia tidak terangsang?
"Enakk banget rasanya....makasih ya kak." Erang Vey, rasanya lega sekali karena terbebas dari lilitan gaun yang menyesakkan nafas itu.
Dean hanya berdeham kemudian duduk diatas sofa dan menyalakan laptopnya.
Cling
Dean membuka ponselnya. Entah apa yang Dean lihat pada layar ponselnya hingga membuat ekspresi wajahnya kini nampak senduh, kecewa dan seolah menyimpan rasa sakit yang mendalam.
"Ada tagihan hutang ya kak?" Tanya Vey, melihat Dean dari pantulan cermin.
Dean tidak menjawab, tidak juga menatap kearah Vey.
"Kak?" Vey berjalan ke arah Dean sembari mengangkat gaun bagian bawahnya agar tidak terinjak, dengan salah satu tangan memegang bagian dada agar gaun tersebut tidak langsung merosot ke bawah.
"Kakak ganteng..." Kini Vey sudah berada di samping Dean, ia menyenggol-nyenggol lengan Dean, menantikan respon dari suaminya itu.
Dean bangkit dari sofa, lalu mengenakan jaket tebal berwarna abu-abu yang sebelumnya tersampir di sofa.
Vey ikut berdiri, "Kak..? Mau kemana?" Tanya Vey lagi dengan raut wajah kebingungan.
Dean sama sekali tidak merespon Vey, ia langsung saja pergi meninggalkan apartement. Meninggalkan Vey sendirian, padahal harusnya ia tau jika istrinya itu takut 'sendiri' .