Dear D

Dear D
Episode 68



"Tapi aku tadi mendengar kau mengatakan, Ehem 'Ryhan aku mohon kembalilah'" sangat terdengar jelas ledekan itu dari suara lelaki itu, Nada bicara yang meniru Nana saat hendak menangis akan takut di tinggal oleh Ryhan di tiru oleh Ryhan. Dengan senyum yang mengembang dia meledek wanita nya sedangkan Nana bukannya tertawa dia malah semakin kesal akan hal itu.


"Shit, Siapa yang mengatakan nya?" ketus Nana dengan wajah kesal nya akan Ryhan yang meledek nya.


"Siapa lagi jika bukan kau, Kau menangis setelah itu mengatakan hal itu bukan?" tanya Ryhan dengan senyum nya dan sedikit membungkuk menyesuaikan tinggi nya dan juga wanita nya.


"Kapan aku mengatakan nya?" ketus Nana lagi dengan wajah yang masih kesal.


"Tadi" jawab Ryhan dengan senyum nya.


"Tidak pernah, Aku tidak pernah mengatakan hal itu, Aku tidak meminta mu untuk kembali" ucap wanita itu dan langsung membalikkan tatapan nya meskipun tangan nya masih erat menggenggam tangan lelaki nya.


"Benarkah?" tanya Ryhan dengan wajah masih meledek dengan senyum nya juga.


"I-iya, Pergi saja jika kau mau, Aku tidak peduli" jawab wanita itu dengan wajah kesal nya dan kembali membuang pandang dari lelaki nya.


"Astaga" guman wanita itu dan memejamkan sebentar mata nya dan setelah itu kembali membuka nya.


Ryhan tersenyum mendengar itu dan menatap ke bawah dan terlihat tangan nya masih di genggam erat oleh wanita nya. "Kau menyuruhku untuk pergi sedangkan kau menggenggam erat tangan ku seperti tidak mau aku pergi kemana pun" ucap Ryhan dengan senyum ledekan nya dan itu membuat Nana langsung menoleh ke arah nya dan melihat memang benar tangan nya menggenggam tangan Ryhan sekarang.


Nana langsung melepaskan tangan itu dan kembali membuang pandang nya. "Pergi saja" ketus nya dan melipatkan kedua tangan nya di atas perut nya dan menatap ke sembarang arah dengan tatapan kesal nya.


"Kau yakin?" tanya Ryhan memastikan nya.


"Jelas saja yakin, Tadi siang kan aku juga sudah bilang jika kau ingin pergi pergi saja aku tidak apa apa" jawab Nana dengan wajah kesal nya dan masih belum menatap lelaki nya.


"Baiklah aku akan pergi, Kau jaga diri baik baik di sini awas saja nanti jika terjadi sesuatu kepada mu" ucap Ryhan dan berjalan menjauh dari wanita itu.


"Nana hentikan dia" guman hati kecil wanita itu yang tidak mau suami nya pergi.


"Aku akan pergi" ucap Ryhan dan keluar dari rumah itu.


"Satu" Ryhan mulai menghitung memastikan apa benar istri nya menyuruh nya benar benar pergi atau tidak.


"Dua" sedikit di jeda oleh nya dan di perlambatkan nya langkah kaki nya.


"Tiga"


"Jangan pergi" teriak Nana dengan wajah masih kesal dan terdengar nada kesal keluar dari mulut nya.


"Syukurlah" guman nya lega dan menghentikan langkah kaki nya yang sudah berada di ambang pintu keluar.


Ryhan membalikkan tubuh nya dan tersenyum menatap wanita itu dan kembali berjalan mendekat ke arah nya. "Aku tau kau tidak mau aku tinggalkan" ucap Ryhan dengan senyum nya dan mengusap kepala wanita nya.


"Shit aku hanya tidak berani di rumah sendiri makanya aku meminta mu untuk tinggal" jawab Nana dengan wajah kesal nya.


"Bagaimana bisa aku menyuruh lelaki ku untuk meninggalkan ku? Aku mencintai mu kau tau tidak akan hal itu?" guman nya dengan nada kesal menatap Ryhan.


"Oh iya, Aku membelikan mu makanan tadi" ucap Ryhan yang ingat akan makanan yang di beli oleh nya sebelum kembali ke rumah dan membuat nya terjebak macet tadi.


"Makanan apa?" tanya Nana.


"Kau tunggu di sini" jawab Ryhan dan langsung kekuar dengan langkah kaki yang terburu buru dia kembali menuju ke mobil sedangkan Nana hanya diam di tempat nya dan mendudukkan tubuh nya di atas kursi. Ryhan mengambil pizza yang di beli nya tadi dan setelah itu kembali masuk ke dalam rumah.


Nana baru sadar akan pakaian suami nya yang sedikit berbeda dari biasa nya yang hanya mengenakan baju kaos saja. "Ini, Aku membelikan nya untuk mu, Makanlah" ucap Ryhan dan menyodorkan pizza tadi ke atas meja. Nana menatap bingung ke arah pizza itu dan setelah itu menatap ke arah Ryhan.


"Kau dari mana memang nya hingga membelikan ku pizza?" tanya Nana dengan tatapan bingung nya.


"Makan dahulu nanti baru aku akan menjawab" jawab Ryhan dan membuka kotak pizza itu dan mengambil satu potong.


"Tapi aku ingin kejelasan nya dahulu, Dari mana kau mendapatkan pizza ini jangan sampai aku memakan makanan curian dan...." Ryhan menempelkan bibir nya ke bibir wanita nya yang sedang mengoceh. Pizza yang sedang kunyah oleh nya di masukkan nya ke dalam mulut itu dan dia terus ******* bibir wanita nya hingga pizza yang di masukkan nya tadi tertelan.


"Enak?" tanya Ryhan dengan menatap wanita nya. Wajah wanita itu seketika memerah saat di tatap lekat oleh lelaki nya.


"Tidak enak tapi rasa nya sedikit manis" jawab Nana dengan wajah polos nya yang tidak mengerti apa rasa nya ciuman meskipun seperti itu wajah nya memerah ketika itu.


Ryhan bisa wajah yang memerah itu dan di cium nya wajah itu, Mata Nana membulat saat di cium oleh Ryhan bagian wajah nya. "Wajah mu memerah" ucap Ryhan dan kembali melahap makanan nya.


"Kau ini lancang sekali dengan ku" bentak Nana yang langsung berdiri dari duduk akibat kesal dan sedikit salah tingkah akibat Ryhan. Ryhan menengadah menatap wanita itu dengan tatapan biasa saja dan seperti memelas meminta sesuatu tapi dia tidak meminta sesuatu.


"M-maaf" Nana kembali mendudukkan tubuh nya saat melihat wajah yang nampak bersedih menatap nya dan itu membuat hati Ryhan tersenyum.


"Makan lah" ucap Ryhan dan menyodorkan pizza tadi kepada istri nya. Nana membuang nafas panjang dan mulai melahap makanan itu.


Setelah sekira nya makanan habis Ryhan mengambilkan minum untuk nya dan juga Nana dan kembali ke tempat. Nana meminum minuman yang di berikan oleh Ryhan dan meletakkan gelas di atas meja di samping bekas pizza tadi. "Jawab pertanyaan ku, Dari mana... Eek" Nana belum selesai berbicara dan dia mengeluarkan suara sendawa dan itu membuat Ryhan menatap datar ke arah nya.


"Dari mana kau...."


Cup


"Jangan berbicara dulu, Sebentar lagi baru kau beh bicara" ucap Ryhan dengan mencium sekilas bibir wanita nya yang terbuka.


Nana langsung memegang bibir nya. "Em, Kau ini lancang sekali" ketus Nana dengan nada rendah akibat di tahan oleh tangan nya yang menutup mulut nya.


.


.


.