Dear D

Dear D
Episode 83



"Aku benar benar tidak ingin hati, fisik dan juga batin nya terluka. Aku mencintai nya" guman Ryhan kembali dan mempererat pelukan. Dia menghujani pucuk kepala wanita itu dengan ciuman, Rasa sayang dan cinta yang baru di sadari oleh nya membuat nya berani melakukan hal tersebut.


"Bertahanlah sebentar lagi masalah mama yang ingin menjodohkan ku dengan Dira. Mama akan segera tau siapa Dira sebenar nya dan membiarkan aku dan kau berbahagia" guman nya kembali dan mencium pucuk kepala wanita nya.


"Kenapa? Apa dia sudah terpengaruh dengan wanita jalang di rumah ini?" bentak Merri dengan melototkan mata nya menatap suami nya.


"Jaga ucapan mu, Kau tidak pantas berbicara seperti itu" jawb Andra dengan wajah datar nya.


"Kenapa? Apa kau juga..."


"Pulang atau kau tidak usah pulang lagi ke rumah?" Andra melototkan mata nya mengancam istri nya untuk tidak membuat keributan dan kembali ke rumah mereka dan membiarkan anak nya dan juga Nana bersama.


"Aku tidak mau pulang" jawab Merri. Andra tidak menjawab nya dan langsung menarik tangan istri nya tersebut. Dia langsung membawa wanita itu masuk ke dalam mobil dengan Dira yang tidak di perdulikan oleh nya.


"Kau jangan pernah menginjak rumahku lagi" ucap Andra dengan wajah datar yang menyeramkan menatap ke depan berucap kepada Dira yang masih di luar.


"Kembali ke rumah" perintah Andra dan langsung menutup jendela mobil. Sopir mengangguk mengiyakan nya dan langsung melajukan mobil dengan kecepatan sedang menuju ke kediaman bos nya.


"Shit, Selalu saja gagal" bentak Dira dengan mengacak acak rambut nya prustasi akibat tidak berhasil lagi untuk memisahkan Nana dan juga Ryhan.


Wanita yang kesal itu langsung masuk ke dalam mobil nya dan langsung melajukan mobil dengan kecepatan tinggi menuju ke tempat tinggal nya.


"Nana sudah tidak pernah lagi datang ke cafe untuk bekerja" guman Febri yang sedang duduk manis di kursi nya dengan tangan yang memainkan pulpen.


"Apa yang terjadi? Apa dia kenapa kenapa?" tanya lelaki itu kepada diri nya sendiri.


Ckleek


Pintu ruangan Febri terbuka dan itu tidak menyadarkan Febri sedikitpun. Anggi yang berkunjung menatap bingung dan kembali menutup pintu ruangan itu dan berjalan ke arah Febri. Dia mendudukkan tubuh nya tepat di hadapan Febri dan menatap Febri yang nampak tengah berpikir. "Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Anggi dengan wajah kebingungan nya. Febri tidak menjawab nya dan itu menambah kebingungan Anggi.


Braakk


"Hey apa yang kau pikirkan?" teriak Anggi dengan memukul kasar meja di antara nya dan juga Febri.


"Astaga" Febri langsung tersadar akan lamunan nya akibat kaget dan memegang dada nya.


"Apa yang kau lakukan?" bentak Febri kepada Anggi yang mengageti nya.


Febri kembali menyenderkan tubuh nya. "Tidak apa, Aku hanya sedikit kebingungan" jawab Febri dengan wajah masam nya.


"Kebingungan?" tanya Anggi yang tidak mengerti.


"Hem, Nana beberapa hari ini tidak masuk kerja" jawab Febri. Anggi terdiam dan menatap tajam ke arah lelaki itu. Raut wajah yang nampak kehilangan sangat jelas terlihat.


Febri yang tidak mendengarkan lagi suara Anggi langsung menatap ke arah Anggi dan nampak Anggi menatap tajam ke arah nya dan semakin mendekat. "Hey apa yang ingin kau lakukan?" ketus Febri dan sontak tangan nya mendorong wajah Anggi ke belakang.


"Kau menyukai Nana ya?" ejek Anggi.


"Hah? J-jelas saja tidak" jawab Febri dengan gelagapan dan langsung membuang wajah nya dari Anggi. Anggi belum menjawab nya dan menatap tajam wajah lelaki itu.


"Benarkah? Kenapa wajah mu sedikit memerah? Kau juga nampak hawatir dan kehilangan akan Nana" ucap Anggi yang kembali mengejek sahabat nya. Bukan berniat ingin mengejek tapi lelaki itu baru saja di sakiti oleh kekasih nya makanya Anggi sedikit kebingungan dan ada juga rasa ketidak sukaan nya akan Febri sahabat nya menyukai adik nya.


"Aku seperti nya tidak akan menyetujui kau bersama Nana" Febri langsung menoleh ke arah nya saat mendengar ucapan itu keluar dari mulut Anggi.


"Kenapa?" tanya Febri yang penasaran dan memang takut jika tidak di restui oleh Anggi.


"Kau baru saja mengakhiri hubungan dengan kekasih mu jadi aku takut kau nanti mendekati Nana hanya untuk melampiaskan rasa sakit hati mu dan aku tidak mau itu terjadi. Sudah cukup dia selalu saja bersedih dengan kehilangan banyak orang yang di sayangi nya di dunia ini dan aku tidak mau lagi kau menambah luka dan kesedihan hati nya dengan mendekati nya hanya untuk membalas dendam sakit hatimu kepada kekasih mu. Padahal Nana sendiri tidak tau apa apa, Kekasih mu pun dia tidak tau tidak mungkin dia yang mendapatkan luka atas akibat kekasih mu bukan? Cukup takut akan itu" jelas Anggi dengan wajah datar nya menatap Febri.


Febri mendengarkan nya dengan jelas perkataan perkataan Anggi. Sedikit di serap nya ucapan itu tapi dia menolak akan ucapan Anggi tadi. "Iyapun aku menyukai nya tidak mungkin aku membalas dendam wanita masalalu kepada nya, Aku juga memiliki akal, Aku juga tau jika dia tidak tau apa apa dan tidak ada hubungan nya dengan masalah ku dan wanita itu" jawab Febri yang tidak terima akan ucapan Anggi tadi.


Anggi terdiam dan kembali menatap tajam lelaki itu. "Kau benar benar menyukai nya bukan?" tanya Anggi. Selain ingin menjelaskan nya dengan nyata dan langsung sebelum Febri berbuat dia juga menjelaskan nya supaya Febri mengaku dengan sendiri nya.


"Ryhan" panggil Nana yang masih berada di pelukan Ryhan. Ryhan menundukkan kepala nya dan menatap kepala wanita nya.


"Apa masih banyak masalah yang belum terselesaikan oleh ku, Apa aku benar benar nakal hingga tuhan mengambil seluruh nya dariku?" tanya Nana dengan menatap ke luar jendela. Lampu kota dan gedung yang mulai menyala di malam hari membuat pemandangan dari lantai itu sangatlah bagus.


"Kau tidak nakal, Siapa yang mengatakan mu nakal?" tanya Ryhan dengan wajah datar nya dan mengangkat wajah wanita nya.


"Tidak ada" jawab Nana dengan wajah malas nya dengan menatap Ryhan.


Kedua nya saling bertatapan. Mata yang berbinar sangat nampak jelas dan nyata di mata Ryhan. "Jadi kenapa kau mengatakan kau nakal tadi?" tanya Ryhan dengan mengusap kepala wanita itu.


"Tuhan mengambil ibu dan setelah itu ayah dan setelah itu kak Rendi begitupun dengan nenek bukan?" tanya Nana.