Dear D

Dear D
7. Obat perangsang



Dean sudah berdiri di depan pintu rumah, rumah yang dulu sering ia kunjungi. Ia berkali-kali menekan bell agar pemilik rumah segera membukakan pintu.


Beberapa menit selanjutnya, pintu terbuka, menampilkan seorang wanita cantik berumur 24 tahun yang hanya mengenakan tengtop dan celana jeans diatas lutut, belahan gunung kembar milik wanita itu terlihat begitu menggembul.


"Ada apa Na?" Tanya Dean dengan nafas yang masih memburu.


"Masuk. Kita ngobrol didalam" Rena sedikit menyingsing ke samping, memberi jalan untuk masuk pada Dean yang masih nampak lelah.


Dean sudah berada diruang tamu, ia menatap sekeliling ruangan. Rumah ini masih sama seperti dulu, tidak ada yang berubah. Bahkan foto-fotonya dengan Rena semasa kuliah dulu masih ada di dalam pigura kecil yang diletakkan diatas meja.


"Nih minum dulu" Rena meletakkan secangkir teh hangat dihadapan Dean. Kemudian ia duduk disamping Dean.


"Om Feri kemana Na?" Tanya Dean seraya menyesap perlahan teh hangat. Sedari tadi Dean memang tidak melihat keberadaan papa Rena.


"Papa udah meninggal dua tahun yang lalu Dy" Jawab Rena senduh, namun ia masih mencoba tersenyum.


Mendengar ucapan Rena, Dean menjadi tersedak. "Maaf... Na, aku gak tau" Desis Dean, merasa bersalah.


"Iya gak apa-apa Dy"


Tiba-tiba Dean merasakan sakit yang teramat sangat pada kepalanya. Jantungnya berdegup begitu cepat sedangkan juniornya menegang. Ah Sial! Sepertinya Rena menjebak Dean dengan obat perangsang. Dean memukul-mukul kepalanya sendiri, menepis rasa gairahnya yang sekarang memuncak. Ia butuh pelampiasan.


Rena mengalungkan tangannya di leher Dean. Kini posisinya berada di pangkuan Dean dengan payudara yang sudah menempel sempurna di dada bidang Dean, ia sudah tidak peduli lagi dengan status mantan kekasihnya yang sudah menikah itu. Ego nya berkata untuk mendapatkan Dean lagi sekalipun ia harus menjadi orang ketiga.


Rena mulai mengecupi rahang tegas Dean lalu turun menuju leher, membuat gigitan-gigitan kecil yang membuat tubuh Dean menggeliat karena sensasi yang dibuatnya. Dean mulai terbawa permainan, ia meremas kasar pantat Rena, ia benar-benar tidak sadar.


Bibir ranum milik Rena naik keatas, menjarah penuh nafsu bibir Dean. Dean mengikuti ciuman panas itu, bahkan tangan kanannya sudah masuk kedalam tengtop Rena, meremas aset milik Rena dengan begitu lihai.


"Kak Dean... Gue takut!" Suara gadis itu bagai menusuk pendengaran sang pemilik nama. Membuat Dean terperanjat dan segera menghentikan kegiatan gilanya itu bersama Rena. Dean bangkit seraya mendorong tubuh Rena agar menjauh. "Gila kamu Na!" Bentak Dean sembari memegangi kepalanya yang masih terasa sakit.


"Sayang... Kita lanjutin mainnya di kamar yuk" Goda Rena. Kemudian melepas tengtopnya. Tubuhnya kini benar-benar polos tanpa satu pun benang yang menutupi.


Dean menggeleng cepat, ia tidak mau terpedaya lagi. "Murahan!" Bentak Dean pada Rena, dengan perasaan geram. Lalu ia buru-buru keluar dari rumah Rena. Ia menyesal telah datang kesini dan ia merasa bersalah telah meninggalkan Vey sendirian.


Dean lupa jika Vey mempunyai autophobia, gadis itu takut sendirian. Pikiran Dean kacau, ia tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri jika sampai terjadi apa-apa pada Vey. Dean mengendarai mobilnya dengan kecepatan maksimal, tidak mempedulikan rasa sakit yang ia rasakan karena efek obat perangsang itu.


Dean memarkirkan mobilnya tepat di depan apartement, lalu langsung berlari menuju ruang apartementnya. Saking tergesa-gesanya Dean hampir menabrak beberapa orang yang tengah berjalan.


Dean's apartement


Dean membungkuk, kedua tangannya memegang lutut. Nafasnya masih terengah-engah. Reaksi obat laknat itu sepertinya masih bekerja.


Dean menatap gadis mungil yang sedang berbaring di atas ranjang. Malam ini Vey terlihat begitu menggoda di mata Dean, padahal istrinya itu mengenakan pakaian yang bisa di bilang tertutup. Sebuah kaos hitam yang kebesaran dan celana training yang juga kebesaran.


Deru nafas kasar Dean membuat Vey menoleh ke arahnya.


Vey melontarkan pandangan heran pada Dean. Bagaimana tidak heran? Suaminya itu tiba-tiba datang dengan keadaan wajah bercucuran keringat. Vey hanya mengedikkan bahu cuek dan kembali menatap layar ponselnya. Tidak mau siaran langsungnya terganggu.


Dean berjalan menuju Vey yang sedang berbaring diatas ranjang. Dean langsung menindih tubuh mungil Vey, lalu menciumi bibir gadis itu secara liar.


Vey mengantupkan bibirnya rapat-rapat, tidak memberi kesempatan lidah Dean untuk masuk. Dean sedikit kesal, ia pun mengigit bibir bagian bawah milik Vey hingga berdarah, dan saat bibir Vey terbuka Dean segera melumatnya. "Kak... Berhenti!" Teriak Vey, sambil mendorong dada bidang Dean agar menyingkir darinya.


Dean kembali tersadar. Apa yang sudah ia lakukan pada Vey? Apa dia sedang berusaha memperkosa Vey? Dean memukul-mukul kepalanya lagi, obat perangsang itu benar-benar membuat nafsunya tidak terkendali.


"Maaf Vey..." Erang Dean. Ia sudah tidak kuat menahan lonjakkan gairahnya sendiri. Dean berlari menuju kolam renang, menceburkan tubuhnya di air kolam yang sangat dingin.


Vey mengikuti kemana perginya Dean. Lelaki itu sekarang tengah berenang. Apa Dean sudah gila? Ia berenang di pukul 1 pagi, apa ia ingin sakit?


Vey berjalan kesisi kolam, " Ka Dean.." Panggil Vey.


Setengah jam berlalu.


Dean terus berenang, menguras habis tenaganya. Dean tidak ingin Vey menjadi korban kebrutalannya, gadis itu masih terlalu kecil. "Kak Dean..." Teriak Vey lebih keras.


Mendengar panggilan Vey, Dean pun melipir ke sisi kolam, dan keluar dari dalam sana. Gigi Dean menggeretak akibat dinginnya air kolam ditambah dengan cuaca malam ini yang memang sedang dingin. "Lu kenapa renang malem-malem sih?" Tanya Vey, bingung.


"Maafin gue Vey, tadi itu semua diluar kendali gue" Jelas Dean. Ia tidak ingin Vey salah paham apalagi sampai menuduhnya lelaki mesum.


"Lu kenapa renang malem-malem?" Vey bertanya kembali.


"Buat ngilangin efek obat-/" Dean menghentikan ucapannya, "Gue pengin olahraga" Ralat Dean.


"Hah obat apa? Jangan-jangan lu minum obat perangsang ya?"


"Gak lah, lu pikir gue cowok lemah?" Ketus Dean.


"Ya kali aja lu gak tertarik sama cewek" Jawab Vey asal, apa Vey ingin memangsakan tubuhnya sendiri pada Dean si Singa kelaparan? Huh kalau Dean tak punya belas kasihan, ia pasti sudah melakukan hal itu dari tadi dan kalau perlu ia akan membuat Vey tidak bisa berjalan selama seminggu.


"Serah lu" Desis Dean, kemudian masuk kedalam kamar mandi untuk mengganti pakaiannya yang basah.


***


Vey mengucek kedua matanya, dengan mulut yang menguap lebar. Sinar matahari yang menerobos melalui celah-celah jendela, memaksa Vey untuk bangkit dari tidurnya. Tapi tidak masalah, karena Vey saat ini juga sedang merasa lapar.


Semalam Vey tidak tidur bersama Dean. Lelaki itu lebih memilih tidur diatas sofa, padahal ranjang ini cukup besar untuk ditiduri oleh dua orang atau bahkan lebih.


Vey menuju dapur, membuka kulkas dan mencari sesuatu yang dapat ia masak.


Vey hanya menemukan dua butir telur. Vey mendekus kesal, apa semua orang kaya begini? Apakah semua orang kaya hanya menyimpan dua butir telur didalam kulkas? Tanpa pikir panjang lagi Vey segera memasak telur tersebut menjadi telur dadar biasa, tidak ada yang istimewa. Memang apa istimewanya dari telur dadar?


Setelah diletakkan diatas piring, Vey membawanya menuju Dean yang masih tertidur diatas sofa. "Kak Dean... Bangun. Kita sarapan dulu" Ucap Vey.


Tidak ada respon. *Kayak gebetan:).


Vey meletakkan piring yang ia bawa diatas meja kemudian menyentuh lengan kekar suaminya itu. Tubuh Dean mengigil kedinginan, Vey menempelkan punggung tangannya diatas kening Dean, "lu panas banget ogeb...." Sentak Vey, .


Vey panik sekali, ia lari menuju dapur dan beberapa menit kemudian kembali membawa handuk kecil dan sebuah baskom berisi air hangat. Vey memasukkan handuk itu kedalam air hangat, dan memerasnya sebelum menempelkannya di kening Dean.


Dean masih mengigil. Vey membenamkam selimut tebal ke tubuh Dean seraya mengkompres kening Dean. Berharap demam sang suami segera turun. Pasti ini karena semalam berenang. Kalau begini, siapa yang salah?


"Kak... Makan dulu" Tutur Vey lembut seraya menyeka keringat dari kening Dean. Dean membuka matanya perlahan, memandang gadis dihadapannya dengan pandangan sayup. "Vey di-dingin".


"Gue telfon mama ya kak? Suruh bawa dokter kesini".


"Jangan. Cepet suapin! Gue laper" Dean merubah posisinya menjadi terduduk. Vey berjalan cepat menuju ke dapur dan kembali dengan semangkuk bubur di tangannya.


"Aaaaa" Vey mendekatkan sendok makan itu ke arah mulut Dean.