Dear D

Dear D
21. kecupan



Dear D


Sayangnya aku hanya mampu berpikir untuk meninggalkan, tanpa mampu melakukannya. Segitu munafik kah aku?


Di pagi yang cerah ini, Dean dan Vey sudah dibuat kenyang saja oleh ceramah dari Hana. Sudah 2 jam lamanya, Hana memberi wanti-wanti pada anak dan menantunya itu.


Dean hanya diam dan meng'iya'kan setiap nasehat Hana, sedangkan Vey malah kini tengah menangis di pelukan Hana.


Dampaknya, Dean lagi yang dimarahi, kalau sudah begini Dean merasa menjadi pihak yang bersalah. Padahal kan ia pergi karena kecewa pada Vey yang dianggapnya telah berselingkuh.


"Dean, mama gak pernah ngajarin kamu nyakitin cewe..." Hana mengelus punggung Vey, "udah sayang jangan nangis ya."


"Iya mah, Dean yang salah," laki-laki memang selalu salah. Daripada ribet mencari pembenaran, tapi kalau pada dasarnya laki-laki selalu salah. Ya mending langsung ngaku aja kalau salah. Biar gak ribet!


"Iya kamu memang salah, kamu gak seharusnya ninggalin Vey. Lagian kan Vey udah njelasin, kalau Kris cuma sahabatnya."


Dean tadi sudah menceritakan semuanya pada Hana tentang kejadian kemarin, tapi lihatlah respon Hana? Ahh tetap saja Dean yang disalahkan.


"Kak maafin gue yahh..." Vey sesenggukan.


"Iya."


"Kok gitu doang sih jawabnya De?" Protes Hana.


"Ya terus Dean harus gimana ma?" Dean bingung, dimaafin....SALAH, gak dimaafin....makin SALAH.


"Di peluk dong Dean, kamu gak ada romantis-romantisnya banget sih ke cewek." Hana kemudian menyuruh Vey agar duduk disamping Dean.


Dengan terpaksa Dean merangkul bahu Vey, "udah nih..."


"Mama sebenernya mau ngapain ke sini?" Tanya Dean.


"Mau liat perkembangan cucu mama udah sampe mana."


"Buat aja belom ma," gerutu Dean. Mamanya itu sangat terburu-buru mendapatkan cucu, ayolah ia dan Vey saja belum lama menikah


"Hah? Jadi kalian selama bulan madu belum bikin cucu buat mama?" Hana menatap Vey dan Dean secara bergantian.


"Belum ma..." Jawab Vey. Ia sih mau-mau saja membuat cucu untuk Hana, tapi salahkan saja Dean karena tidak pernah benar-benar berniat untuk melakukan hubungan suami istri dengannya.


Dean mah sukanya cuma cium, peluk sama *****-***** dikit.


"Sabar lah ma, lagian kan Vey masih terlalu muda buat punya anak. Mama tau gak? Kalau hamil diusia muda memiliki resiko kematian yang tinggi baik ibu maupun bayinya."


"Enggak, pokoknya pulang honeymoon kalian harus udah bikin cucu buat mama!" Paksa Hana, ia menolak semua alasan Dean.


Hana saja hamil di usia 17 tahun, dan buktinya sampai sekarang ia masih sehat-sehat saja.


"Iya mah iya," Dean mengangguk malas.


.


.


.


Malam ini Dean dan Vey sedang berada di bandara, tentunya untuk mengantar kepergian Hana kembali ke Indonesia.


Hana memang aneh, jauh-jauh dari Indonesia ke Korea hanya untuk mengecek perkembangan cucunya. "Ma hati-hati ya..."


"Iya sayang, kamu baik-baik ya disini, jagain menantu kesayangan mama. Dan jangan lupa, pulangnya bawa cucu buat mama," pesan Hana pada Dean.


"Vey kalo Dean jahatin kamu, laporin aja ke mama ya."


Vey mengangguk, "siap ma."


"Ayok pulang," ajak Dean saat pesawat yang Hana tumpangi sudah lepas landas.


Dean sudah tidak marah pada Vey, ah... Dean menyayangkan sikapnya tadi pagi yang sangat kekanak-kanakan, harusnya ia bisa sedikit lebih dewasa dalam menyikapinya.


Pakai mau kabur-kaburan segala lagi, hooh... Memalukan sekali.


Tapi soal pelukan Vey dan Kris, Dean memang masih belum bisa melupakannya. Pria mana di dunia ini yang rela gadisnya disentuh oleh pria lain?


"Kak lo masih marah?" Vey memecah suasana hening didalam mobil.


"Gue gak suka lo deketan sama cowok yang gak bisa melek itu," ucap Dean, yang lupa siapa nama Kris, jadi asal menyebutnya dengan 'cowok gak bisa melek.'


"Hah Kris maksud lo?"


"Dia cuma sahabat gue kak, masa lo cemburu sih?? Cie cemburu," goda Vey sambil cengengesan.


"Kagak," ketus Dean. Memang siapa juga yang cemburu? Eh Dean saja juga tidak tau apa itu cemburu.


"Terus kenapa gak boleh deketan? Hayoo!" Selidik Vey, mendekatkan kepalanya ke wajah Dean dan menatap tajam pria bermarga Geraldo itu.


Dean mendorong kepala Vey menjauh, "lo bisa mikir gak sih? Lo itu udah nikah, lo gak bisa seenaknya meluk cowok lain, berhubungan sama cowok lain, meskipun sama cowok yang udah lo anggap sahabat."


Lagi-lagi Vey hanya cengengesan, membuat Dean merinding. Apa istrinya itu sedang kesambet setan? Atau otaknya lagi kurang 1 ons?


"Lo gila? Gue lagi serius! Lo malah cengengesan," gerutu Dean kesal.


"Lo lucu deh kak kalo lagi ngambek," Vey merasa gemas jika suaminya itu tengah ngambek dan cerewet begini.


Dean menghela nafas berat, susah memang berbicara hal seperti ini dengan anak kecil. Jika terus berlanjut, yang ada malah Dean sendiri yang tersulut emosi.


Dean, keep patient!


Vey terpukau menatap langit Seoul yang dihujam warna-warni kembang api, hari ini adalah tanggal 14 Februari, bertepatan dengan perayaan Valentine.


"Liat kembang api yuk kak di Namsan Tower," pinta Vey.


Mungkin itu ide yang bagus, secara sekarang pikiran Dean sedang bunek, dia butuh hiburan atau istilahnya refreshing.


Tidak butuh waktu lama akhirnya Dean dan Vey tiba di Namsan Tower, Vey langsung turun dari mobil dan menghampiri seorang wanita paruh baya yang menjual berbagai aksesoris, "ahjumma apa disini ada gembok cinta?"


"Vey lo mau beli apa?" Tanya Dean.


"Lo suka yang mana kak?" Vey memberikan dua pilihan pada Dean, yaitu gembok berwarna merah dan yang satunya berwarna biru.


"Gue suka yang warna biru," Dean menunjuk pilihannya.


"Oke, ahjumma... Aku beli yang warna merah." Vey meletakan kembali gembok berwarna biru di tempatnya, dan membuat Dean menggertakan giginya karena kesal.


Kalau begini untuk apa Vey menanyakan pilihan Dean?


"Gue tulis dulu nama kita berdua ya," Vey menuliskan namanya dan nama Dean pada dua gembok yang tadi ia beli.


"Lempar kuncinya," perintah Vey seraya menyerahkan kunci gembok cinta pada Dean.


"Lo yakin banget kita bakal sama-sama terus selamanya?" Dean menatap kunci berwarna emas itu seraya memikirkan sesuatu.


Vey tersenyum parau, apa yang bisa membuatnya se yakin ini jika ia dan Dean akan terus bersama selamanya?


Bahkan ia saja hingga saat ini belum bisa menakhlukkan hati Dean.


Wushh


Dean tersenyum lebar, lalu menatap sang istri yang malah tengah ternganga kaget, "lah lo kenapa? Cepet lempar juga kunci lo."


Apa itu artinya Dean juga ingin bersama Vey selamanya? Menikmati hari tua bersama tanpa ada yang mampu memisahkan kecuali maut. Entahlah, yang pasti Vey sekarang merasa sangat bahagia.


Wushh


"Dih lemparan lo kurang jauh Vey," cibir Dean, kemudian mengacak-acak rambut coklat milik Vey yang diikat kuda.


Namsan Tower yang seakan tengah bermandian cahaya biru itu terlihat begitu menyala di atas gelapnya langit Seoul.


Vey mendongakkan kepalanya, memandang puncak Namsan Tower yang bersinar terang, nampak sangat indah.


Akhirnya Vey bisa melihat Namsan Tower secara langsung, setelah sekian lama hanya bisa melihatnya lewat foto-foto yang ada di internet. "Kak, kapan-kapan kita kesini lagi ya..."


"Oke."


Duarrr


Bertepatan dengan meletusnya kembang api, para pasangan yang juga sedang berkunjung di Namsan Tower langsung berciuman mesra.


Vey meneguk kasar salivanya, merasa tidak nyaman dengan pemandangan yang ada di sekelilingnya.


"Vey..." Panggil Dean, lalu Vey menghadapkan posisi tubuhnya ke arah Dean.


Cup


Dean mengecup lama bibir merah muda milik Vey, lalu mengusapnya lembut setelah ciuman berakhir, "gue tau lo iri sama mereka kan?"