Dear D

Dear D
Episode 230



Tangan yang lincah dan perasaan penasaran membuat wanita itu mengambil buku tersebut. "Tapi jika aku membuka nya apa lelaki bodoh itu akan marah?" tanya Nana.


"Ah terserah, Aku buka saja mumpung dia belum kembali" jawab nya akan pertanyaan sendiri dan langsung membuka buku itu.


"Dear D"


Halaman pertama isi buku saat ia membuka nya membuat dahi wanita itu mengerut dan terus membuka halaman demi halaman.


"Wanita yang sudah lama aku cintai tapi aku tidak berani mengungkap kan nya dan mengatakan nya kepada mu, Wanita yang selalu bertingkah konyol dan seperti anak kecil yang berhasil membuat hati yang selama ini tertutup kembali terbuka,


Wanita bodoh yang selalu marah dengan ku, Wanita yang sama persis sifat nya seperti anak anak tapi aku sangat mencintai nya, Wanita itu juga sedikit ceroboh, Dia ceroboh selalu menyalahkan orang lain atas kelakuan ceroboh nya.


Wanita yang selalu menunjukkan sisi kuat nya namun lemah, Dia adalah wanita aku cintai, Aku sedikit bangga dengan nya, Dia bisa bertahan dengan keadaan yang seharus nya dia menyerah, Kehilangan ayah nya saat berumur dua tahun dan menangis di hadapan ku, Namun saat dia menangis dia memintaku untuk tidak melihat nya.


Apakah dia malu?.


Entahlah aku tidak tau yang jelas dia tidak pernah mau aku melihat dia menangis, Baik itu menangis karna terjatuh atau tidak aku benar benar tidak pernah melihat nya menangis.


Saat nenek meninggal dia juga menangis sedangkan aku tidak, Padahal cucu nenek adalah aku namun yang menangis adalah dia wanita bodoh itu.


Wanita yang selalu aku belai dari kejauhan, Aku jaga dari kejauhan membuat nya tidak sadar akan kehadiran ku, Apakah dia akan membalas cintaku?.


Semenjak aku bertemu wanita itu, Kehidupan ku yang aku kira tidak akan pernah terang berubah drasti, Tawa yang di bawa oleh nya membuatku sadar jika kebahagiaan bukanlah dari segi harta ataupun banyak nya saudara melainkan kebahagiaan adalah rasa syukur dan juga kasih sayang.


Dia memang tidak tergolong dari kalangan orang kaya raya namun dia selalu saja tertawa kapanpun hingga aku kadang juga ikut tertawa bersama nya, Ah bukan tertawa melainkan tersenyum.


Aku menulis ini karna buku ini akan tetap berada di sini, Jika ada yang mencariku dan merindukan ku pasti mereka akan kemari dan menemukan buku ini.


Aku tidak melarang siapapun untuk membaca buku ini, Namun aku yakin saat sudah ada orang yang membuka buku ini jelas saja aku sudah tiada dan orang itu merindukan ku makanya buku ini aku biarkan tetap di sini, Hanya orang yang mengenalku saja yang akan bisa menemukan ini, Mereka yang benar benar menyayangiku pasti akan menemukan buku ini.


Kebahagiaan kecil yang aku dapatkan saat bersama wanita itu aku harap akan abadi hingga aku tiada nanti, Aku menginginkan dia menjadi wanitaku untuk selama nya, Menjadi bidadari di hidupku mau itu di dunia ataupun di akhirat kelak."


Tulisan tangan yang selalu berubah ubah setiap halaman membuat Nana yang sedikit merasakan sedih sedikit tersenyum. "Siapa wanita bodoh yang di maksud lelaki ini?" tanya Nana yang kembali menyingkap halaman terakhir buku itu.


"Sayang apakah boleh aku mengetahui siapa D itu?" teriak Nana berharap mendapatkan jawaban namun dia tidak mendapatkan jawaban dari siapapun membuat Devan dan juga Anggi hanya terdiam memperhatikan wanita itu.


"Baiklah, Jika kau diam pasti kau menyetujui nya" ucap Nana dan menyingkap halaman terakhir itu.


"DELINA NARSELIA, dia adalah bidadariku yang memberikan warna di hidupku, Aku mencintainya sampai kapanpun


Ryhan alexander kusuma"


"Hey Ryhan, Kau sudah menyukai ku sejak kecil ya? Kau menyukaiku dalam diam mu ya?" tanya Nana dengan membalikkan tubuh nya. Wajah tersenyum bahagia saat dapat membaca buku itu langsung luntur saat melihat kembali isi kamar lelaki nya tersebut.


"Astaga apa yang terjadi dengan kamar ini? Kenapa begitu banyak poto ku dan aku tidak tau jika di sini hampir seluruh kamar di isi oleh poto ku?" tanya Nana yang kembali berdiri dari duduk nya dan mengelilingi kamar itu tanpa sadar akan kehadiran Devan dan juga Anggi.


"Hikssss ini sudah sangat larut kau belum kembali ke rumah, Apa kau baik baik saja sayang?" tanya Nana dengan mengusap poto lelaki nya.


"Paman jawab pertanyaan ku, Siapa itu Ryhan?" tanya Devan dengan mengguncang bahu Anggi. Nana menghentikan tangis nya dan menatap ke pintu kamar yang saat ini di duduki oleh nya.


"Devan? Kak Anggi?" ucap Nana saat melihat Anggi dan juga Devan.


"Shit ketahuan kan" umpat Devan dengan wajah kesal nya. Nana langsung berjalan mendekat ke arah Anggi dan juga anak nya, Dia langsung mengambil anak kecil nya itu dari Anggi.


"Lancang sekali memasuki rumahku" ucap Nana dengan wajah datar nya.


"Ini kakak sayang" jawab Anggi sedangkan Devan dia tidak memperdulikan kedua orang dewasa itu dan menatap ke sekeliling kamar meskipun dia saat ini tengah berada di gendongan Nana.


"Suamiku sedang tidak ada di rumah, Kakak boleh keluar dari rumah ini" ucap Nana dengan wajah datar nya.


"Tapi Ryhan......"


"Ada apa dengan nya? Apa kakak juga mau mengatakan hal bodoh itu? Suamiku masih belum pulang dia baik baik saja, Lihat saja nanti" potong Nana yang sangat tidak ingin mendengar perkataan bodoh itu bagi nya.


"Tapi Na kau harus menerima kenyataan ini, Ryhan memang sudah tiada dan dia...."


"Berani nya mulut sampah itu berbicara seperti itu tentang suamiku" teriak Nana hingga membuat Devan yang berada di gendongan nya kaget.


"M-mama...."


"Ah sayang maafkan mama, Mama terlalu emosi dengan pamanmu yang berbicara sembarangan, Devan istirahat di sini dulu ya" ucap Nana dengan senyum nya saat melihat anak nya yang ketakutan saat dia berteriak.


Nana meninggalkan Devan di atas ranjang dan berjalan ke arah pintu kamar itu. "Jika aku masih melihat kakak di sini saat aku keluar, Akan aku panggilkan polisi dan akan aku katakan kepada Ryhan bahwa kakak sudah lancang masuk ke rumah nya tanpa izin" bisik Nana dengan tegas dan langsung mengunci kamar itu dan kembali ke dekat anak nya yang duduk sendiri di atas ranjang.


Devan langsung bergulung di dalam selimut saat melihat ibu nya mendekat ke arah nya membuat Nana tersenyum menatap nya. Nana kembali berdiri dari duduk nya dan menutup jendela kamar itu dan kembali ke dekat Devan lagi. "Sayang kau takut ya saat mama berteriak tadi?" tanya Nana dengan mengusap kepala anak nya yang di selimuti oleh selimut itu.


"T-tidak ma" jawab Devan dari balik selimut.


"Jika tidak ayo buka selimut nya" ucap Nana kembali dengan nada bicara sangat lembut. Devan yang awal nya takut menyingkap perlahan selimut yang membalut seluruh tubuh nya. Mata nya pertama kali melihat ibu nya yang tersenyum lebar menatap nya.