Dear D

Dear D
Episode 154



"Baik silahkan di tunggu" jawab pelayan dengan senyum menyuruh kedua nya untuk menunggu dan langsung berlalu dari sana.


"Ini meja terlalu besar untuk kita berdua" ucap Ryhan yang cukup tidak nyaman berada di meja makan yang cukup besar untuk orang berdua.


Nana menuangkan air yang sudah tersedia bersamaan dengan pelayan datang tadi. "Kau ini mengoceh saja sedari tadi, Minum" jawab Nana yang tau jika suami nya itu kelelahan berjalan cukup jauh.


Ryhan menerima nya dan meminum habis makanan tersebut. Dia berdiri dari duduk nya dan berpindah tempat di samping istri nya. "Jauh sekali duduk kita" ucap Ryhan yang memiliki alasan untuk berpindah duduk.


"Segitu nya kau tidak mau jauh jauh dari ku?" tanya Nana.


"Iya" jawab Ryhan dan mencium leher itu.


"Hey ini tempat umum" ketus Nana.


"Biar saja biar semua orang tau kau milikku" jawab Ryhan dan terus saja mengganggu istri nya dengan mencium leher nya.


"Ryhan?" terdengar suara wanita memanggil nama Ryhan hingga hal tersebut membuat Nana menoleh ke arah nya sedangkan Ryhan mencium wajah wanita nya terselbih dahulu setelah itu baru melihat siapa yang memanggil nya.


"Memang saya?" tanya Ryhan dengan menunjuk ke diri sendiri.


"Em sudah lama sekali tidak bertemu" ucap wanita itu dengan tertawa menatap Ryhan membuat Nana mengerutkan dahi nya begitupun dengan Ryhan.


"M-maaf seperti nya anda salah orang" ucap Ryhan yang benar benar merasa tidak ingat akan wanita yang menyapa nya saat ini.


"Tidak mungkin kau tidak ingat dengan ku, Aku Dara" ucap wanita itu yang mencoba membuat Ryhan ingat.


"Dara?" ucap Ryhan yang masih saja bingung.


"Iya, Dara teman kecil mu, Kau tidak ingat? Aku selalu ke rumah nenek dahulu dan bertemu dengan Nana, Kau tidak ingat?" tanya Dara dengan senyum nya mencoba membuat Ryhan ingat.


Nana yang mendengarkan ucapan tersebut bingung apa lagi nama nya di sebut sebut. "Ini wanita ini siapa? Kau dan dia nampak mesra" ucap Dara yang masih saja tersenyum menatap Ryhan.


"Dia..."


"Aku Nana" potong Nana dengan membekap mulut suami nya dan setelah itu langsung melepaskan nya.


"Oh ternyata kau Nana, Sudah lama sekali tidak bertemu hingga aku lupa dengan mu" ucap Dara dengan girang saat bertemu dengan Nana sekaligus.


Nana tersenyum canggung saat mendengar ucapan tersebut sedangkan Ryhan nampak masih mencoba mengingat siapa wanita yang ada di hadapan nya saat ini. "Dara?" guman Nana yang juga mencoba terus mengingat siapa itu Dara.


"Triani Dwi Andara" ucap Dara saat melihat Ryhan dan Nana yang masih sangat kebingungan akan diri nya.


"Oh kau Dwi?" ucap Nana yang baru ingat. Dara langsung menganggukkan kepala nya mengiyakan ucapan Nana tersebut sedangkan Ryhan yang langsung ingat akibat istri nya mengatakan nya tadi langsung menatap tajam ke arah wanita itu.


"Kau ingat dia?" tanya Nana kepada suami nya.


"Em" jawab Ryhan dan membuang pandang nya dari wanita itu.


Pelayan datang dengan membawa banyak makanan kepada Nana hingga membuat ketiga orang itu menatap ke arah pelayan. "Kau memasan makanan banyak sekali" ucap Ryhan saat melihat meja yang sangat besar di hadapan nya di penuhi makanan.


"Kenapa? Kau tidak sanggup? Biar aku yang maian, Tapi tetap kau yang membayar" ucap Nana dengan wajah kesal nya dan kembali menatap ke Dara.


"Kau mau kemana?" tanya Nana kepada Dara.


"Aku ada janji dengan teman ku" jawab Dara dengan senyum nya menatap Nana sedangkan Ryhan dia hendak makan.


"Hey sopanlah" ketus Nana dengan memukul tangan lelaki nya yang mengambil makanan.


"Tidak, Akan merepotkan jika aku makan bersama kalian, Aku pergi dahulu untuk menemui teman ku, Ryhan besok kau ke kantor kan?" tanya Dara kepada Ryhan yang nampak sudah melahap makanan.


Nana langsung menatap ke arah suami nya dan juga Dara secara bergantian. Senyuman di wajah Dara dan tatapan nya membuat Nana tidak suka. "Mau ke kantor atau tidak kau bukan urusan mu" jawab Ryhan dengan wajah datar nya.


"Jika kau ke kantor besok aku juga akan ke kantor mu" ucap Dara pula.


Ryhan menghentikan makan nya saat mendengarkan ucapan tersebut. "Untuk apa?" tanya Ryhan denegan wajah datar nye mantap Dara.


"Urusan pekerjaan, Aku pergi dulu ya, Nana lain kali kita membuat janji untuk makan malam bersama" pamit Dara dan langsung berlalu dari sana.


Ryhan menatap ke istri nya dan terlihat wanita itu menatap tajam ke arah nya. "Kenapa kau menatap ku seperti itu? Makan cepat makanan mu atau aku yang menghabiskan nya" ucap Ryhan saat melihat istri nya menatap tajam ke arah nya.


Nana tidak menjawab nya dan mengambil makanan yang ingin ia makan dan melahap nya dengan kasar. Ryhan tidak menjawab nya dia merasa normal normal saja saat ini dan kembali melahap makanan nya.


"Shit bagaimana cara nya aku bisa bertemu langsung dengan wanita jalang itu?" guman Merri yang nampak berjalan bolak balik di dalam kamar memikirkan hal tersebut.


Tok..tok..tok


"Siapa?" teriak Merri dari dalam.


"Tante ini Dira" jawab Dira dari luar. Merri yang mendengar jawaban tersebut langsung berjalan ke arah pintu dan langsung membukakan nya.


"Sayang, Lama sekali kau tidak datang kemari, Ayo masuk" ajak Merri dengan mengunci kembali pintu kamar tersebut saat Dira dudah masuk.


"Om Andra di mana?" tanya Dira yang mencari cari keberadaan Andra.


"Dia sedang tidak di rumah, Dia sedang ada pekerjaan di luar negri" jawab Merri dan mendudukkan tubuh nya di atas kursi yang ada di dalam kamar itu begitupun dengan Dira.


"Tante tidak ikut?" tanya Dira.


"Tidak sayang, Melenyapkan wanita jalang itu lebih penting dari mengikuti suami tante" jawab Merri dengan senyum nya menatap Dira.


"Bagaimana keadaan nya dan juga Ryhan?" tanya Dira.


"Tante sudah tidak bertemu dengan nya lagi tapi kami mulai dekat berkomunikasi melalui telpon" jawab Merri yang nampak prustasi akan usaha nya yang belum juga membuahkan hasil.


"Tante kemarin bilang jika wanita jalang itu hamil, Apa itu benar?" tanya Dira yang cukup penasaran akan hal tersebut.


"Hah?" Andra yang bisa mendengar seluruh ucapan dan melihat seluruh kelakuan istri nya dengan menggunakan kamera pengawas yang bisa mendengarkan suata bisa mendengarkan seluruh ucapan itu dan sedikit bingung saat mendengar pertanyaan Dira.


"Belum bisa di pastikan sayang, Tapi kau tenang saja sebelum kehamilan itu terungkap tante akan pastikan jjika dia tidak akan pernah hamil" jawab Merri dengan senyum nya.


"Kenapa belum bisa di pastikan tan?" tanya Dira.


"Dia belum di periksa tapi kau tenang saja tante akan mencari cara agar bisa membawakan makanan untuk nya dan memberikan obat penggugur kandungan ke makanan itu" jelas Merri dengan senyum nya dengan menunjukkan obat yang sudah di siapkan oleh nya.


.


.


.


.


.