
Mereka masuk ke dalam kamar apartemen mereka. "Sayang mandi abis itu ganti baju ya" ucap Nana dengan senyum nya dan melepaskan baju anak nya agar dia membersihkan tubuh nya.
"Kamar mandi di mana ma? Di sini tidak ada Devano liat kamar mandi" ucap Devano.
"Di sana sayang, Di sini adalah rumah papa jelas saja ada baju mu, Cepat mandi ya anak pintar" jawab Nana dengan mengusap kepala sang buah hati.
"Baik" jawab Devano dan langsung berlalu masuk ke dalam kamar mandi.
"Hey" ucap Nana dan meraih poto nya bersama lelaki nya yakni Ryhan.
"Kau berjanji akan kembali dengan selamat saat meminta izin kepada ku tapi kenapa kau malah meninggalkan ku selama nya?" tanya Nana dan mendudukkan tubuh nya di atas kursi belajar nya.
"Sayang" Ryhan.
"Hey lihat ini apa kau menyukai nya?" Ryhan.
"Ini mainan untuk bocah kecil ini, Nanti saat dia lahir dia akan bermain dengan ku, Jika bisa akan aku buatkan lapangan khusus untuk nya sendiri bermain agar dia puas, Iyakan sayang" Ryhan.
"Kau pikir dia mau bermain sendiri sama seperti mu? Jika kau iya bisa main sendiri dengan pikiran mu tapi anakku tidak" Nana.
"Tidak aku sangka akan berakhir seperti ini, Hiksssss" Nana langsung menangis dengan kepala yang di sandarkan nya di meja belajar di sana dengan masih ada sedikit debu akibat seminggu ini tidak di bersihkan.
"Sayang buka pintu nya" teriak Febri dengan menggedor pintu rumah yang sama sekali tidak terbuka. Hati yang pedih saat mengingat seluruh kejadian di hidup nya membuat wanita itu terus saja menangis, Meneteskan air mata terus menerus tanpa memperdulikan gedoran dari luar rumah.
"Bagaimana? Apa Nana ada di rumah?" tanya Anggi yang nampak hawatir.
"Tidak ada jawaban"
Brakkk
"Sayang buka pintu nya ini aku" teriak Febri kembali dengan menggedor rumah itu terus menerus.
"Mama baju Devano di mana?" tanya Devano.
"Hey nama panggilan mu itu Devan bukan Devano, Ini baju mu" ucap Nana dan menyodorkan baju Devan yang sempat di beli oleh Ryhan beberapa tahun lalu.
"Kau tunggu di sini, Jangan kemana mana" ucap Nana dengan tegas dan meninggalkan anak nya sendiri di kamar.
"Siapa ini?" tanya Devan saat melihat poto yang di lihat oleh Nana tadi.
"Sa...."
"Ada perlu apa anda menganggu saya?" tanya Nana dengan wajah datar nya. Mata yang langsung menatap ke mata wanita itu yang nampak memerah akibat menangis.
"Sayang kau...."
"Jangan berani berani anda menyentuh saya dan panggilan menjijikkan itu jangan ucapkan lagi" potong Nana dengan menepis tangan Febri yang hendak menyentuh wajah nya.
"Biasahkan kalian tidak membuat keributan di rumah suami saya?" tanya Nana dengan wajah datar dan tangan yang di lipat di atas perut nya.
"Tapi aku...."
"Anda suami saya?" tanya Nana dengan memotong ucapan Febri membuat Febri terdiam dan menatap wanita itu.
"Sudah cukup berbohong beberapa tahun ini dan tidak memberitahu tentang...." mata wanita itu langsung terpejam mengingat senyuman terakhir yang di perlihatkan suami nya kepada nya. Hati yang kembali sakit saat mengingat perlakuan banyak orang yang membohongi nya atas meninggalnya lelaki nya.
"Apakah ini adalah......."
Nana langsung menutup pintu rumah nya dan mengunci pintu rumah itu dan kembali masuk ke dalam kamar nya. "Sayang, Mama terlalu lama meninggalkan mu ya?" tanya Nana hingga membuat Devan langsung meletakkan kembali poto yang ia lihat tadi.
"Tidak ma" jawab Devan dan langsung berjalan mendekat ke arah Nana yang duduk di atas ranjang.
"Nana" teriak Febri yang kembali menggedor pintu rumah itu.
"Mama itu suara papa, Kenapa tidak membiarkan nya masuk?" tanya Devan. Nana tidak menjawab nya dan hanya tersenyum menatap putra nya dengan tangan nya yang mengenakan baju anak nya tersebut.
"Febri sudah jangan mengganggu nya lagi" ucap Anggi dengan wajah datar nya dan berjalan menjauh dari rumah itu.
"Nana sudah sepatut nya marah kepada kita, Kita sudah membohongi nya jadi tidak ada guna nya membujuk nya saat ini" ucap Anggi dan masuk ke dalam mobil nya. Dia mengaktifkan kaca hitam bagian depan mobil nya dan menyandarkan tubuh nya di dalam mobil nya tersebut.
"Mama, Papa" panggil Febri yang langsung memeluk ibu nya. Weny nampak diam namun tangan nya bergerak hendak mengusap punggung Febri namun di urungkan nya.
"Bagaimana ini? Kak Febri sangat mencintai Nana, Apakah Nana tidak akan melanjutkan pernikahan ini?" guman Weny yang menghawatirkan nasib Febri.
"Kita baru kembali ke rumah hari ini jadi tidak ada makanan di lemari es, Kita makan di luar atau membeli bahan makanan untuk di masak di rumah?" tanya Nana kepada anak nya dengan Devan berada di gendongan nya.
"Kita makan di luar saja ma" jawab Devan.
"Siap pangeran" jawab Nana pula dan mengambil ponsel nya dan langsung keluar dari kamar dengan Devan masih saja berada di gendongan nya.
"Papa" teriak Devan hingga membuat Febri yang berlutut di hadapan ayah dan ibu nya langsung menoleh ke arah suara anak yang sudah di besarkan nya itu.
"Hey jangan sembarangan memanggil orang papa mu" ucap Nana yang dengan segera langsung masuk ke dalam mobil begitupun dengan Devan yang di masukkan nya terlebih dahulu.
"Nana" teriak Febri dan langsung mendekat ke arah mobil itu mencoba untuk menghentikan nya namun Nana terus saja mengendarai mobil tersebut menerobos Febri yang mau mengalah.
Anggi hanya menyaksikan nya hingga akhir nya Nana sudah sedikit menjauh dia langsung melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang untuk mengikuti adik nya itu. "Kakak yakin jika kau tidak akan mencelakai diri mu sendiri di tambah Devan bersama mu, Namun kakak mengikuti mu karna ada beberapa orang yang masih mengincar mu setelah kepergian Ryhan" guman Anggi yang terus saja mengikuti adik nya itu.
"Kak sudah jangan seperti ini" ucap Weny dengan memegang bahu Febri yang saat ini berlutut akibat sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk menghampiri Nana.
"Kak kita pulang ya nanti aku takut akan terjadi hal buruk kepada kakak" ucap Weny kepada Febri yang masih belum berdiri.
"Tapi Nana....."
"Nana saat ini dia masih marah, Jikapun ada kesempatan untuk kita menjelaskan nya dia akan tetap marah, Ini bukan waktu nya untuk membujuk nya, Biarkan dia sendiri dahulu, Biarkan dia tenang." jelas Weny yang mencoba membujuk Febri yang saat ini tengah lemah itu.
"Yang di katakan Weny itu benar sayang, Ayo kita pulang" ajak Zea pula yang tidak tega dengan anak nya yang saat ini tengah lemah.
"Sudah aku duga"
Cittttttt
"Ah untuk tidak di tabrak, Jika sempat tertabrak akan jadi seperti itu" ucap Anggi yang langsung keluar dari mobil nya yang sedikit tergeser mobil yang di serempet oleh nya.
.
.
.
.
.
.
.
.