
"Tapi aku..."
"Ah kepala ku sakit" ucap Ryhan yang memotong ucapan Nana yang hendak berbicara. Nana langsung mendongakkan kepala nya dan menatap ke arah Ryhan.
"Kepala mu kembali sakit?" tanya Nana dengan wajah polos nya tanpa berpikir hal aneh.
Ryhan menenggelamkan kepala nya di bagian tubuh wanita itu dan langsung menganggukkan kepala nya. "Lepaskan aku supaya aku bisa mengobati nya" ucap Nana yang kembali meminta di lepaskan.
"Aku hanya memerlukan istirahat" jawab Ryhan dengan nada rendah tanpa membuka mata nya yang terpejam menikmati kenyamanan tubuh wanita nya meskipun sudah berkeringat banyak tapi tubuh wanita itu tidak mengeluarkan bau masam atau sebagai nya.
"Iya istirahat tapi lepaskan aku" ucap Nana lagi.
"Aku ingin istirahat bersama mu, Berbaringlah dengan baik" ucap Ryhan dengan membenarkan posisi tidur istri nya dengan menaikkan kedua kaki wanita itu ke atas ranjang dan setelah itu dia langsung memeluk erat tubuh itu supaya tidak pergi.
"Ryhan" ucap Nana yang sedikit canggung akan pelukan itu.
"Jika tidak nyaman pejamkan mata nya dan mulailah istirahat" ucap Ryhan yang kembali memeluk lelaki itu. Nana tidak menjawab nya dia mengikuti ucapan suami nya dan mulai memejamkan mata nya. Tubuh yang kelelahan akibat bekerja membuat nya mudah untuk tertidur dan membalas pelukan dari lelaki nya tanpa di sadari oleh nya. Ryhan yang mendapatkan balasan langsung membuka mata nya dan melihat apa wanita nya sudah tidur atau tidak dan ternyata wanita nya sudah tidur.
Bibir tipis nya langsung membentuk sebuah senyuman menandakan hati nya senang akan itu. Di peluknya kembali dan di cium pucuk kepala wanita nya yang sedang terlelap di dalam pelukan nya itu dan setelah itu dia mencoba memejamkan mata nya pula untuk ikut tertidur.
Keesokan pagi nya.
"Mobil siapa ini?" tanya Yura dan juga Weny yang sudah sampai pagi pagi di rumah Nana untuk melihat keadaan Nana.
"Ayo masuk dahulu, Saat di dalam baru bertanya" jawab Weny dan menarik tangan Yura dan masuk ke dalam rumah. Saat Yura hendak mengetuk Weny langsung membuka dan ternyata rumah tidak di kunci oleh Nana.
"Shit Nana ini selalu saja tidak mengunci rumah nya" umpat Weny kesal dan langsung masuk ke dalam rumah. Saat masuk ke dalam rumah mata nya langsung tertuju kepada kamar yang masih tertutup.
"Suami istri itu masih tertidur?" tanya Yura dengan nada tinggi agar terdengar hingga ke dalam. Weny berjalan mendekat ke arah kamar itu dan mencoba membuka nya tapi pintu kamar terkunci.
"Pintu utama tidak di kunci pintu kamar di kunci" ucap Weny dengan wajah kesal nya.
"Kau kenapa nampak kesal hah?" ketus Yura dengan tatapan bingung nya akan Weny yang sedari tadi kesal.
Tok..tok..tok
Weny tidak menjawab pertanyaan Yura dan memilih untuk mengetuk pintu kamar dengan kencang. "Nana" teriak Weny.
"Shit, Nana" teriak nya kembali saat tidak mendapatkan jawaban dari dalam. Nana membuka mata nya pelan saat mendengar ada yang memanggil nya dan yang pertama kali di lihat nya siapa lagi jika bukan Ryhan.
"Pantas saja nyaman sekali tidur ku tadi malam" ucap Nana dan berusaha lepas dari Ryhan. Ryhan yang merasa ada yang hendak lepas dari pelukan nya kembali mendekap nya dan membuat Nana kembali tertempel di tubuh nya.
"Shit" umpat wanita itu kesal. Nana tidak pantang menyerah dan kembali berusaha bangkit kembali dari tidur nya.
Ryhan membuka mata nya dan itu di ketahui oleh Nana. "Mau kemana kau?" tanya Ryhan dengan nada serak khas orang baru bangun tidur.
"Aku mau keluar" jawab Nana.
"Ini masih pagi" sambung nya kembali.
"Ada yang memanggil di luar, Itu seperti suara Weny" jawab Nana yang hafal suara kedua teman nya dan kembali berusaha keluar dari pelukan itu.
"Nana" teriak Weny lagi yang sangat jelas terdengar di kedua telinga orang itu. Ryhan menatap ke arah pintu sedangkan Nana menatap ke arah nya dengan wajah berharap agar di lepaskan.
Ryhan melepaskan nya dan ikut berdiri, "Kau mau kemana?" tanya Nana kepada Ryhan yang hendak mengikuti nya dan itu terdengar oleh Weny yang menempelkan telinga nya di pintu kamar itu.
"Mengikuti mu untuk memastikan apa itu benar kedua teman mu atau tidak" jawab Ryhan dengan wajah datar nya dan itu sangat terdengar jelas oleh Weny.
"Tidak usah, Nanti mereka akan tau jika aku dan kau memiliki hubungan, Aku tidak mau mereka berdua tau" jawab Nana dan mendorong lelaki itu mundur.
"Hah?" Weny nampak tidak suka akan ucapan Nana tapi tidak dengan Yura yang hanya diam akibat tidak mendengar apapun. Nana berjalan mendekat ke arah pintu dan membuka pintu kamar sedangkan Ryhan mengikuti nya dari belakang tanpa di ketahui oleh Nana. "Ada apa?" tanya Nana dengan wajah yang masih masam akibat baru bangun.
Kedua wanita yang menunggu di depan di buat terdiam saat melihat Ryhan yang ada di belakang Nana. "Kalian tidur bersama?" tanya Yura dengan polos nya. Nana langsung membalikkan pandang nya menatap ke belakang dan ternyata Ryhan mengikuti nya dan setelah itu dia kembali menatap ke depan.
"A..."
"Shit, Mereka kan sudah menikah" ucap Weny dengan menyenggol bahu Yura. Dahi Nana mengerut saat mendengar jawaban dari Weny yang mengetahui tentang pernikahan nya dan juga Ryhan.
"Kau tau dari mana?" tanya Nana dengan wajah bingung nya. Pertanyaan yang keluar dari mulut Nana itu membuat kedua sahabat nya menatap tajam ke arah nya begitupun dengan Ryhan yang menatap nya.
"Aku yang memberitahu mereka" jawab Ryhan dengan wajah datar nya dan kembali masuk ke dalam kamar. Dia langsung menghempaskan tubuh nya kembali ke atas ranjang dengan menelungkup akibat mengantuk hanya beberapa menit dia berbaring dia langsung tertidur.
Nana menatap dengan wajah biasa saja ke arah Ryhan yang nampak kembali tidur itu menurut nya. "Kemari kau" ucap Yura dan juga Weny bersamaan dan setelah itu langsung menarik tangan Nana berlalu dari sana.
"Hey ini sakit" ketus Nana dan menepis kedua tangan itu. Yura dan Weny menatap ke arah nya dan melihat di.mana tempat mereka dan mereka sudah berada di dapur.
"Kenapa tidak memberitahu kami jika kau sudah menikah dengan Ryhan hah?" ketus Weny dengan melototkan mata nya menatap Nana.
"Tidak apa" jawab Nana dengan wajah datar nya.
"Kau tidak mempercayai kami sebagai saudara mu hingga kau menikah dengan Ryhan kau memberitahu nya kepada kami?" tanya Yura. Wajah yang awal nya datar berubah menjadi ekspresi bersalah di tatap nya kedua sahabat nya yang nampak kecewa terhadap nya.
"Jawab Na, Kau tidak mau kami tau tentang ini?" ketus Weny kembali yang memang sngat kecewa akan Nana yang menyembunyikan hal besar ini dari nya dan juga Yura.
"A-aku...."
"Kau sudah tidak mempercayai kami? Kau sudah mulai rahasia rahasiaan dengan kami? Kau tidak menganggap kami ini keluarga mu?" ketus Weny yang memang sakit hati akan itu hingga air mata nya keluar akibat kekecewaan yang mendalam terhadap Nana.
.
.
.