Dear D

Dear D
Episode 32



"Ryhan" ucap Andra dan itu membuat seluruh orang yang ada di depan ruangan Nana menoleh ke arah nya begitupun dengan Ryhan.


"Papa?" ucap Ryhan dengan nada pelan nya saat melihat ayah nya ada di belakang nya. Andra tersenyum menatap anak nya itu dan mendekat ke arah anak nya itu sedangkan Ryhan masih menatap bingung kenapa ayah nya bisa datang ke rumah sakit.


Ckleek


Pintu ruangan itu terbuka dan keluarlah dokter yang memeriksa Nana. "Tuan" ucap dokter itu saat melihat Andra sedangkan pak Asmawi biasa saja dan ketiga teman Ryhan dan Nana masih belum mengerti akan orang orang yang nampak hormat akan ayah Ryhan.


"Bagaimana keadaan nya?" tanya Ryhan kepada dokter tanpa memperdulikan ayh nya dan nada bicara nya itu sangat jelas menandakan jika dia hawatir.


"Nona tidak apa apa tuan hanya saja nona terlalu ketakutan makanya dia tidak sadarkan diri" jawab dokter tadi.


"Syukurlah" ucap Ryhan yang lega akan Nana yang baim baik saja.


"Apa sudah boleh di jenguk?" tanya Yura kepada dokter itu.


"Silahkan" jawab dokter itu dan meminggirkan sedikit tubuh nya, Yura pun masuk ke dalam ruangan itu begitupun dengan Qori, Weny dan juga pak Asmawi.


"Nana anak tidak jelas itu?" guman Merri yang mendengar penjelasan dari dokter mengenai kondisi Nana.


"Jika memang benar tidak akan aku biarkan kau dekat dengan anak ku" guman Merri kembali dan langsung berlalu dari sana.


"Saya permisi tuanx pamit dokter itu kepada Ryhan dan juga Andra, Andra mengangguk mengiyakan nya dan dokter itupun langsung berlalu dari sana kembali ke ruangan nya.


"Apa yang papa lakukan di sini?" tanya Ryhan dengn wajah datar nya menatap ayah nya itu.


"Kau tidak ingin masuk?" tanya Andra yang mengalihkan percakapan anak nya itu. Dahi Ryhan mengerut saat mendapat pertanyaan itu dan dia pun langsung masuk ke dalam ruangan itu. Saat masuk ke dalam rumah itu Nana yang sudah sadar pun menoleh ke sana dan terlihat suami nya lah masuk ke dalam ruangan itu dengan orang yang tidak ia kenal.


"Bagaimana perasaan mu?" tanya Ryhan dengan wajah datar nya tapi menatap lekat istri nya itu. Nana langsung mengalihkan pandangan nya karna malas menjawab pertanyaan itu di tambah lagi banyak orang di dalam ruangan itu. Ryhan hanya bisa membuang nafas panjang saat melihat wanita itu mengalihkan pandang nya ke arah Yura dan juga Weny yang berada di samping kanan.


"Apa kau merasa sudah baik baik saja?" tanya Yura dengan nada pelan nya menatap sahabat nya itu. Nana langsung menganggukkan kepala nya menandakan jika dia baik baik saja tanpa mengeluarkan suara apapun.


"Dia sangat berbeda dengan dahulu" guman Andra yang bisa melihat jelas perbedaan dari Nana.


"Ah lebih baik kita keluar saja, Untuk Qori, Weny dan juga Yura mari kita kembali ke sekolah" ajak pak Asmawi yang merasa ada kecanggungan di dalam ruangan itu.


"Saya ingin menemani Nana pak" jawab Yura yang tidak terima dan tidak ingin meninggalkan Nana di rumah sakit sendiri.


"Yura" tegas pak Asmawi dengan melototkan mata nya kepada Yura.


"Nanti pulang sekolah kita ke sini lagi, Sekarang ayo kita pulang" bisik Weny dan menarik tangan Yura ke luar.


"Nanti aku akan ke sini lagi" ucap Yura kepada Nana, Nana tidak menjawab nya dan hanya memasang wajah datar nya dan tatapan yang entah kemana.


"Aku titip Nana kepada mu" ucap Yura kepada Ryhan, Ryhan tidk menjawab nya dan mendudukkan tubuh nya tepat di atas kursi yang ada di samping ranjang istri nya itu dan mereka berempat keluar dari ruangan itu begitupun dengan Qori yang percaya akan Ryhan yang bisa menjaga Nana.


"Mau aku belikan makanan?" tanya Ryhan dengan menatap lekat wanita yang tidak menatap nya itu. Nana langsung menggelengkan kepala nya karna dia tidak lapar menurut nya. Ryhan tidak tau lagi apa yang harus ia bicarakan dan dia pun memilih untuk diam dan menatap wajah istri nya dari samping. Andra bisa melihat ketidak akraban kedua orang itu dahi nya mengerut akan hal itu, Dia bingung akan hubungan mereka yang tidak tau apa itu.


"Ryhan bisa ikut papa sebentar?" tanya Andra kepada anak nya itu.


"Papa?" guman Nana yang bisa mendengar ucapan itu.


"Mau kemana?" tanya Ryhan dengan wajah datar nya.


"Ikut saja, Ada yang ingin papa bicarakan kepada mu" jawab Andra lagi.


"Aku akan keluar sebentar, Jika terjadi apa apa hubungi aku atau dokter" ucap Ryhan kepada Nana, Nana tidak menjawab ataupun menoleh ke arah Ryhan dan dia memilih untuk diam dan Ryhan pun keluar bersama dengan Andra.


"Huh" Nana membuang nafas panjang dan kembali mengalihkan pandang nya.


Ckleeek


Pintu ruangan itu kembali terbuka tapi Nana tidak menoleh ke sana dan masih berada di pikiran nya. "Delina narselia" ucap orang yang masuk ke dalam ruangan itu dan suara itu terdengar seperti suara perempuan. Nana yang awal nya tidak memperdulikan nya pun langsung menatap ke sebelah dan melihat wanita paruh baya masuk ke dalam ruangan nya itu.


"That is your name?" tanya wanita itu lagi kepada Nana. Nana masih belum menjawab dan menatap heran akan wanita itu.


"Kau ini bisu ya tidak bisa menjawab?" tanya wanita itu lagi dengan menatap kesal akan Nana yang tidak menjawab ucapan nya.


"Anda siapa?" tanya Nana dengan wajah datar nya kepada wanita itu.


"Kau tidak tau aku siapa?" tanya wanita itu lagi. Nana tidak menjawab nya dan hanya memasang wajah datar nya.


"Aku Merri ibu Ryhan, Lelaki yang kau dekati hanya untuk harta itu" jawab wanita itu. Itu adalah ibu Ryhan yang memang belum pergi dari rumah sakit itu.


"Apa maksud anda?" tanya Nana dengan wajah datar nya karna dia tidak mnegerti akan ucapan wanita itu.


"Kau mendekati anakku hanya untuk harta bukan? Kau itukan orang miskin dan keluarga mu juga tidak jelas, Siapa ibu mu kau tidak tau bukan? dan kau mendekati anakkku hanya untuk harta nya kan?" tanya Merri dengan menatap lekat wajah Nana.


"Jaga ucapan anda" jawab Nana yang tidak terima akan tuduhan itu.


"Bukankah benar?" tanya Merri dan mendekat ke arah Nana.


Merri memegang erat dagu wanita itu dan menatap lekat wajah wanita itu begitupun dengan Nana yang juga menatap lekat wajah Merri. "Kau ini terlalu polos untuk menjadi jalang, Jadi aku harap kau menjauh dari anakku karna dia akan menikah setelah selesai sekolah nya" ucap Merri dan menghempas dagu Nana yang ia pegang itu.


"Kau menginginkan uang? ini aku berikan kau uang" ucap Merri dan menghempaskan amplop berwarna coklat ke wajah Nana sungguh harga diri wanita itu sudah seperti di injak injak.


"Kau pikir aku mau dengan uang mu itu?" tanya Nana dengan wajah kesal nya.


"Wanita miskin seperti mu ini mendekati orang kaya pasti hanya karna uang, Jadi aku berikan kau uang dan kau jauhi anakku" ucap Merri dengan melototkan mata nya kepada Nana. Nana menatap kesal akan itu tapi dia berusaha menahan emosi nya dan mengontrol emosi nya itu.


"Apa masih kurang? ini aku tambahkan" ucap Merri dan kembali melempar uang kepada Nana. Nana masih bisa menahan emosi nya dengan tangan yang menggepal dan ingin sekali menghabisi wanita yang sudah menginjak harga diri nya itu.


"Apa hubungan mu dengan Nana nak?" tanya Andra dengan menatap lekat wajah anak nya itu. Dahi Ryhan mengerut akan itu.


"Maksud papa?" tanya Ryhan lagi.


"Kau serumah dengan Nana dan pasti kalian memiliki hubungan kan?" tanya Andra dengan menatap lekat anak nya itu.


"Papa tau dari mana?" tanya Ryhan yang sedikit takut jika di pisahkan oleh Nana.


"Papa mengetahui semua nya" jawab Andra. Ryhan terdiam akan itu dan memikirkan alasan menjawab pertanyaan ayah nya itu.


"Jawablah dengan jujur, Jika pun kau memiliki hubungan dengan Nana papa akan merestui kalian" ucap Andra dan itu membuat Ryhan yang sedari tadi menatap ke sembarang arah menatap ke arah ibu nya.


"Aku tidak akan mudah percaya dengan ini" guman Ryhan.


"Papa berjanji akan merestui hubungan kalian dan papa tidak menyetujui kau dengan Dira, Papa berjanji" ucap Andra yang bisa melihat keraguan di wajah anak nya itu.


Ryhan menatap lekat wajah ayah nya itu dan Andra pun tersenyum meyakinkan anak nya. "Aku dan Nana sudah menikah" jawab Ryhan dengan menundukkan kepala nya. Mata Andra membulat saat mendengar jawaban itu tapi hati nya senang meskipun sedikit kecewa akan anak nya yang menikah tidak mengundang nya ataupun meminta restu kepada nya.


"Kapan kalian menikah? dan kenapa tidak memberitahu papa?" tanya Andra dengan menatap lekat anak nya itu.