
Plaakkkk
Nana memukul pundak Yura yang nampak menatap tajam suami nya, Rasa tidak suka saat suami nya di lihat terasa dan terlihat sangat jelas di raut wajah nya. "Jangan berani berani kau memuji nya di hadapan ku, Dia suami ku" ketus Nana dengan wajah kesal nya.
Yura dan juga Weny langsung menoleh ke arah nya begitupun dengan Ryhan yang juga bisa melihat jelas wajah cemburu dan kesal istri nya. "Shit, Hanya sedikit memuji kau sudah marah seperti ini" ucap Yura dengan wajah kesal nya.
"Tidak ada yang boleh memuji ny kecuali aku, Kalian mengerti?" ketus Nana dengan melototkan mata nya menatap kedua teman nya tersebut.
Suara tawa kecil yang cukup terdengar oleh telinga bumi Nana pun membuat nya langsung menoleh ke arah suara tersebut dengan memasang tatajam dan menyeramkan nya menatap lelaki nya tersebut. "Berani nya yang menertawakan ku" ketus Nana.
"Tidak sayang, Aku tidak tertawa hanya bernyanyi sedikit tadi, Aku sebenar nya ingin menemani mu di sini agar tidak ada yang memeluk mu dengan erat tapi apakah kau mengizinkan jika ketampanan suami mu ini di tatap wanita lain?" tnya Ryhan dengan berpose layak nya lelaki penggoda pada umum nya dengan siku nya yang di letakkan nya di sudut pintu.
"Shit tidak usah sok ganteng kau" ketus Nana dan setelah itu menatap kedua teman nya yang menatap ke arah suami nya.
"Kalin hanya ingin melihat suami ku makanya datang kemari?" ketus Nana kepada kedua teman nya yang sedari tadi berpokus kepada suami nya.
"Ah bukan Na, Awal nya ingin mengobrol saja tapi seperti nya di rumah mu di depan nampak sibuk, Barang barang apa yang ada di dalam nya?" tanya Weny yang baru saja ingat ingin menanyakan hal tersebut kepada sahabat nya tersebut.
"Iya na, Aku juga baru ingat ingin menanyakan hal ini dan tadi aku lihat seperti alat alat menjahit, Apa kau menjadikan rumah sebagai butik?" tanya Yura pula dengan mengalihkan perhatian ataupun pandang dari Ryhan.
Ryhan yang melihat semua nya sudah teralih dari nya langsung berjalan ke kursi single dan mendudukkan tubuh nya di atas kursi tersebut. "Hem, Aku menemukan uang dan beberapa kain dan gambar desain di gudang yang di larang kak Rendi untuk kita masuki" jawab Nana dengan senyum nya.
"Uang?" Yura nampak bingung saat mendengar jawaban tersebut.
"Em iya" jawab Nana yang masih tersenyum meskipun malas untuk nya membahas hal tersebut.
"Jadi kak Rendi meninggalkan wasiat untuk mu agar menjadi desainer?" tanya Weny pula.
"Iya makanya dia meninggalkan beberapa kain dan desain untuk aku belajar membuat nya terlebih dahulu dan satu mesin jahit dan beberapa peralatan lain Ryhan yang menyiapkan nya" jelas Nana kembali.
"Jadi nanti jika aku menikah kau yang akan membuat gaun untuk ku iyakan? Tapi aku mau gaun yang tidak pernah di pakai oleh orang lain" ucap Yura dengan percaya diri nya mencoba mencairkan kembali suasana yang membeku itu.
"Memang nya kau sudah memiliki calon untuk di ajak menikah?" tanya Nana dengan melototkan mata nya menatap Yura.
"Kau tidak tau jika dia...."
"Emmm" Yura membekap mulut wanita itu dengan kasar nya hingga membuat Nana kebingungan.
"Kau menyembunyikan sesuatu dari ku Yura?" tanya Nana dengan menatap tajam wanita itu.
"Tidak, Memang nya aku menyembunyikan apa? Ayo kita lihat bagaimana dalam butik mu" ajak Yura dan berdiri dari duduk nya.
"Shit awas saja jika kalian menyembunyikan sesuatu dari ku" ucap Nana dengan tatapan tajam menatap kedua sahabat nya.
"Tidak nanti jika dia benar benar sudah menjadi milikku baru aku katakan kepada mu" jawab Yura tanpa sadar.
"Hah? Kau menyukai seseorang?" teriak Nana yang kaget mendengar jawaban tersebut.
Ryhan mengikuti nya, Dia tidak melarang istri nya tersebut mengunjungi butik yang belum resmi di buka itu. "Jangan teruskan jalan" ucap Ryhan dengan menarik tangan wanita nya yang hendak terus melangkahkan kaki masuk saat terdengar suara gesekan alat alat dengan lantai di telinga nya.
Nana langsung menoleh ke arah nya begitupun dengan Yura dan juga Weny yang ikut menoleh ke arah Ryhan. "Kenapa?" tanya Nana dengan wajah sedikit bingung.
"Di dalam masih di bereskan dan masih di susun nanti kau terkena barang barang yang ada di dalam" jawab Ryhan dengan wajah datar nya dengan kembali menarik istri nya hingga berdiri di hadapan nya dengan tangan nya yang tidak melepaskan tangan istri nya tersebut.
"Oh" Yura mengangguk mengerti akan Ryhan yang melarang Nana masuk ke dalam.
"Berjenis kelamin apa keponakan ku?" tanya Weny dengan wajah nampak berharap di jawab oleh Nana.
"Em, Dokter bilang belum bisa di pastikan" jawab Nana akan pertanyaan dari Weny tersebut.
"Hem, Padahal ingin aku beritahu mama apa jenis kelamin keponakan ku" ucap Weny yang nampak kecewa saat belum mengetahui jenis kelamin anak yang di kandung sahabat nya tersebut.
"Hey kalian belum memberitahu ku siapa mama Hanah?" tanya Ryhan yang baru ingat pertanyaan nya yang belum di jawab.
"Mama nya Weny" jawab Nana.
"Kau memiliki hubungan apa dengan mama nya?" tanya Ryhan.
"Kau tidak tau jika dia adalah saudara ku? Kau tidak tau jika mama sangat menyayangi nya?" ketus Weny dengan melototkan mata nya menatap Ryhan. Ryhan yang di pelototi langsung menoleh ke arah istri nya.
"Hem, Ibu nya adalah ibuku, Begitupun ayah, Kakak dan juga adik nya sama seperti kak Rendi yang juga kakak mereka" jelas Nana saat melihat wajah bingung suami nya.
Ryhan nampak mengangguk perlahan saat mendengar penjelasan istri nya tersebut. "Pantas saja tidak terlalu kesepian, Ternyata memiliki teman yang orang tua nya menyayangi nya" guman Ryhan dengan senyum nya menatap istri nya tersebut.
"Tuan semua nya sudah selesai" ucap pekerja saat melihat Ryhan yang berada di depan butik tersebut.
"Terima kasih" ucap Nana dengan senyum nya.
"Ayo" ajak Yura dengan menarik tangan wanita itu dan masuk ke dalam.
"Terima kasih" ucap Ryhan dengan senyum nya saat banyak nya pekerja yang keluar dari butik tersebut dan langsung melangkahkan kaki nya masuk menyusul istri nya yang saat ini ada di dalam butik.
"Hah? Tuan Ryhan tersenyum dan mengatakan terima kasih dengan begitu tulus?" guman salah satu pekerja yang tidak percaya setelah beberapa tahun dia bekerja di Alexander grup dan tidak pernah melihat Ryhan tersenyum seperti saat ini.
.
.
.
.
.