Dear D

Dear D
4. Dia kenapa?



Dean sudah tiba di rumahnya, bergegas menaiki tangga menuju kamarnya untuk beristirahat.


Sebelum memasuki kamar, Dean melongok kamar adiknya yang kebetulan sedikit terbuka, sama sekali tidak ada niatan untuk mengintip hanya penasaran dengan apa yang sedang Artha lakukan. 


Dean menghembuskan nafas lega saat tau Artha sedang bermain PS, Dean pikir adiknya itu akan depresi dan bunuh diri karena wanita yang didambakan malah menikah dengannya.


Mungkin saja, mengingat Artha memiliki sifat alay seperti Vey. 


Guyuran shower mulai membasahi tubuh Dean, ini yang sedari ia butuhkan, yaa.. kesegaran, setelah seharian ini dibuat pusing oleh gadis bau kencur, siapa lagi kalau bukan Vey.


Sehari bersama Vey saja sudah membuat kepala Dean sakit apalagi jika ia harus bersama Vey seumur hidup? Mungkin saat sedang malam pertama nanti, Vey akan melakukan siaran langsung di instagram. Ah...Shit! Kenapa Dean bisa memikirkan sejauh itu? 


Dean menyelesaikan cepat ritual mandinya, lalu mengenakan handuk kimono berwarna hitam sebelum keluar dari kamar mandi. Sebuah handuk kecil ia gosok-gosokkan pada rambutnya yang basah dan melemparkan asal handuk kecil itu ke lantai setelah berhasil mengeringkan rambutnya.


drrt drrt


Terdengar suara dering telfon, Dean mencari-cari letak ponselnya, namun yang ia temukan malah ponsel milik Vey.


Sepertinya ia lupa mengembalikan ponsel itu kepada pemiliknya. Dean menatap layar ponsel milik Vey, ternyata itu bukan dering telfon melainkan dering alarm yang di setting pukul 8 malam.


Dean mengerutkan keningnya, apa yang akan Vey lakukan pada pukul 8 malam? Apa itu alarm jadwal siaran langsung Vey di instagram?


Entah apa yang sedang Dean pikirkan, tiba-tiba saja ia ingin tau dengan isi ponsel Vey. Dean membuka galeri foto Vey, namun segera menutupnya lagi, ia rasanya tidak tertarik melihat foto-foto gadis itu.


Dan kali ini Dean membuka aplikasi whatsapp, Dean yakin akan terdapat banyak chat dari para lelaki, tapi kenyataan? Tidak ada satu pun chat dari lelaki, hanya ada chat dari teman-teman wanita Vey dan tentu saja Dean tidak tertarik untuk membacanya. 


"Huh... Tidak masuk akal" Dengus Dean, tidak percaya. Mana mungkin gadis alay seperti Vey yang notabane nya memiliki banyak fans lelaki tidak ada satu pun chat dari mereka?


Namun disisi lain terdapat banyak notifikasi dari instagram milik Vey, insting keingintahuan Dean mendadak terdorong lebih besar.


"Salah siapa tuh bocah alay gak minta hp nya ke gue...gue kerjain mampuss dia hahaha!" Sinis Dean dengan smirk muncul di ujung bibir.


Dimulai dari menghapusi postingan-postingan alay Vey hingga membalas direct messages(DM) dari para fans pria nya. Semua itu Dean lakukan dengan begitu antusias, entahlah Dean sampai lupa kapan terakhir kali dia merasa sesemangat ini.


Dan lihatlah dalam waktu kurang dari 15 menit, Dean sudah berhasil menghapus ribuan foto milik Vey. 


Dean tertawa penuh kemenangan, semangatnya kali ini sangatlah menggebu-gebu. Bahkan Dean sampai tidak sadar jika ada seseorang dibalik pintu yang tengah memperhatikannya.


"****" Umpat Dean, ia baru tau jika selama ini Artha selalu mengirimkan DM kepada Vey, namun mirisnya tak pernah Vey balas, jangan dibalas...dibuka pun tidak.


Muncullah keinginan Dean untuk menjahili Artha sebagai wujud pembalasan dendamnya selama ini.


Vey_raa18


Iya sayang


Sungguh menajubkan, baru beberapa detik Dean mengirimkan pesan tersebut. Artha sudah membalas.


Arthaantara23


Hah? Maksudnya?


Dedek Vey sayang sama  aku?


"Cihh...mimpi apa gue punya adik model begini" Dean bergidik jijik.


Vey_raa18


Iya kakak, Vey sayang sama kakak...


Terdengar teriakan histeris Artha dari kamar sebelah yang terdengar sangat bahagia.


Lalu Dean kembali mengirim pesan tambahan untuk adiknya itu. Seketika tawa renyah milik adiknya itu sudah tidak terdengar lagi dan disusul dengan suara barang yang dibanting.


Vey_raa18


Tapi sebagai adik ipar. hehe


Kini giliran Dean yang tertawa, dan tanpa Dean sadari sosok di balik pintu tersenyum sumringah sembari menggelengkan kepalanya.  


***


Tanpa pikir panjang  Vey memutuskan untuk pergi ke rumah Dean. Ditemani oleh Mang Asep~supir pribadinya, jarak rumah Vey dan Dean memang tidak terlalu jauh, hanya membutuhkan waktu tempuh sekitar 20 menit jika keadaan jalanan tidak macet. 


Satu jam kemudian  Vey sudah berada  di rumah Dean, ya mau bagaimana lagi, namanya Jakarta tidak pernah absen dari kata macet.


ting tong ting tong


"Tante..."Rengek Vey manja saat Hana membukakan pintu.


"Kenapa sayang?" Hana merengkuh bahu Vey dan menuntunnya agar masuk ke dalam rumah.


"HP Vey di ambil  kak Dean"


"Lho kok bisa?!" Sentak Hana, berpura-pura kaget.


Vey pun menceritakan kejadian yang menyebabkan ponselnya kini berada di tangan Dean, tidak lupa ia memberi bumbu-bumbu penyedap pada ceritanya sehingga terkesan Dean yang bersalah.


Setelah memahami situasi yang terjadi, Hana merasa kasihan pada calon menantunya itu, ia pun meminta Vey untuk segera menuju ke kamar Dean yang terletak di lantai dua.


Vey membuka pintu kamar Dean secara perlahan, gelap sekali, dengan ragu Vey berjalan masuk ke dalam kamar dan mencari skalar lampu.


Tiba-tiba ada seseorang yang menarik tangan Vey dan membuatnya histeris, Vey kembali teringat memori kelamnya, memori yang selalu membuat Vey ketakukan.


"Ahhh jangan....jangan...Tolongin Vey...." Vey membekap kedua telinganya dengan telapak tangan.


Air mata bergelimang di pelupuk mata Vey dan kini sudah mulai membasahi pipinya, ia benar-benar ketakutan. Dean buru-buru menyalakan lampu, ia menghampiri Vey yang tengah meringkuk di lantai, "Vey lu kenapa?...Vey?"


"Pergi...pergiii....." , Vey masih menangis sembari meletakkan wajahnya diatas kedua lutut yang ditekuk ke arah dada. 


Dean masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada Vey. Kenapa tiba-tiba Vey menangis histeris? Apa yang terjadi sebenarnya? Tanpa pikir panjang Dean kemudian memeluk tubuh Vey, gadis itu terus meronta dan mendorong-dorong kasar dada bidangnya.


Tapi seolah kekuatan Vey bukanlah masalah bagi Dean, Dean pun mengeratkan pelukannya seraya mengelus rambut Vey dengan lembut. 


"Vey, lu kenapa? Hey ini gue Dean".  Suara bariton lelaki itu berhasil menenangkan tangisan Vey,  Vey mendongakkan kepala ke arah sumber suara.


Pandangannya bertemu dengan tatapan Dean, tatapan yang seakan mampu melumpuhkan persendiannya. 


Vey masih sesenggukan, wajahnya yang cantik kini nampak sembab. Vey membenamkan wajahnya pada dada bidang Dean, "gu-gue takut kak" ucap Vey dengan suaranya yang nyaris menghilang. 


Takut, takut kenapa ? Dean benar-benar tidak mengerti dengan semua ini, apa ini ada hubungannya dengan masa lalu Vey? Apakah gue harus cari tau?  Batin Dean dalam hati.


Hana dan Artha masih berdiri di ambang pintu kamar Dean, namun beberapa saat kemudian masuk setelah Dean memberi kode bahwa Vey sudah tertidur. 


"Lu apain Vey bang?" Sarkas Artha.


"Gue gak apa-apain dia" Dean sedikit kesal, karena Artha seolah-olah menyalahkannya atas kejadian yang menimpa Vey.


"Kalau lu ga apa-apain dia kenapa dia sampe histeris gitu?" Sergah Artha dengan oktaf bicaranya naik satu tingkat.


"Gue juga gak tau!" Sentak Dean. 


Hana menatap kedua anaknya yang mulai berdebat, jelas sekali jika wanita berumur 40 tahunan itu kecewa, ia mencoba menghentikan perdebatan kedua anaknya itu.


"Sudah-sudah ....apa yang kalian lakukan? Biarkan Vey istirahat, mungkin nanti kita bisa tanyakan kepada vey langsung kalau dia sudah bangun".


Setelah mengucapkan itu Hana langsung menarik tangan Artha untuk keluar bersamanya. Hana menengok ke arah Dean sebelum kembali melangkah keluar, "Dean kamu jagain Vey".


Setelah kepergian Hana dan Artha, Dean duduk di sisi ranjang sebelah kiri, pandangan matanya terarah pada Vey yang tertidur pulas dengan wajah yang masih sembab namun tetap terlihat cantik.


Dean  mengelus lembut kepala vey, "sebenernya lu kenapa sih?".


Kenapa Dean merasa khawatir pada Vey? Bahkan tadi dia langsung memeluk Vey? Dean yakin ini bukanlah perasaan cinta, ia tidak semudah itu mencintai wanita.


Dan Dean juga tidak akan mencintai wanita seperti Vey, gadis kecil itu sama sekali tidak masuk ke dalam tipe ideal Dean.


Ah yaa, mungkin ini hanyalah insting  Dean sebagai seorang pria, dia akan menenangkan setiap wanita yang menangis, bukan hanya Vey.


Wajar bukan jika seorang pria akan berusaha menenangkan gadis yang menangis dan tampak lemah?