
"Nana" panggil Anggi dan langsung memeluk adik nya tersebut. Nana nampak langsung memasang wajah bingung dan masuklah Andra, Merri dan juga Ferisa ke dalam bersama dnegan Devano juga yang sudah tenang.
"Anda siapa?" tanya Nana dengan langsung melepaskan pelukan panggil dari nya.
"Ini kakak sayang, Kakak" ucap Anggi dengan wajah sedikit bingung nya hingga membuat Nana kembali bingung.
"Maaf tuan, Saya belum menyampaikan tentang nona yang amnesia saat ini, Dia kehilangan seluruh ingatan nya bahkan dia tidak tau nama nya sendiri" ucap dokter hingga membuat seluruh orang yang berada di dalam itu menoleh ke arah nya.
"Apa amnesia nya permanen?" tanya Anggi.
"Tergantung tuan, Jika nona terus di bawa mengunjungi tempat tempat berharga dia akan segera kembali mengingat masalalu nya" jawab dokter dengan senyum nya.
Merri berjalan mendekat ke arah Nana tapi tangan nya di tarik oleh Andra. Andra menatap tajam istri nya tersebut. "Kau keluar" ucap Andra dengan wajah datar nya menatap istri nya tersebut.
"Tapi pa..."
"Aku bilang keluar" tegas Andra kembali dengan melototkan mata nya menatap istri nya tersebut.
"Ma, Ayo kita keluar" ajak Ferisa terhadap ibu nya tersebut.
"Kemarikan Devan" ucap Andra dan mengambil alih Devan dari Ferisa hingga membuat Nana yang menyaksikan hal tersebut bertambah bingung.
Ferisa memberikan nya dan setelah itu dia keluar bersama dengan ibu nya. "Hah, Hah, Aku dengar Nana kecelakaan bagaimana kabar nya?" tanya Febri yang datang bersama dengan keluarga nya dan juga kedua sahabat Nana.
Ferisa tidak menjawab pertanyaan Febri dan menatap ke ruangan adik nya yang tidak ada satupun orang di depan nya. Febri yang tidak mendapatkan jawaban langsung membukakan pintu dan hendak masuk ke dalam tapi Ferisa melarang.
"Jangan masuk" ucap Ferisa dengan wajah datar nya saat Febri hendak masuk ke dalam ruangan Nana.
"Ak-aku ing-ingin bertemu dengan feb-Febri" ucap Ryhan dengan suara terputus putus hingga membuat dokter mendekatkan telinga ke bibir nya baru bisa mendengar.
"Baik tuan" jawab dokter.
"Tuan Febri, Tuan Ryhan ingin menemui anda" ucap dokter. Nana datang bersamaan dengan Anggi dan berhenti tepat di hadapan ruangan Ryhan.
"Saya boleh masuk?" tanya Merri. Sedangkan Nana menatap lekat wajah yang tersenyum menatap nya, Wajah yang tidak berdaya yang saat ini sudah banyak alat melekat di tubuh nya dan masih saja tersenyum menatap nya.
"Maaf nyonya hanya bisa dua orang" jawab dokter akibat Ryhan tidak mengizinkan ibu nya masuk.
"Papa sam-sampaikan ma-maafku kep-kepada ma-ma, Ma-maaf ak-aku tidak meng-mengizinkan nya masuk ke-ke sini" ucap Ryhan sebelum Febri datang.
"Kau ingin bertemu dengan ku? Ada apa?" tanya Febri dengan wajah datar nya.
"De-Delina na-nampak ba-baik baik saja, Di-Dia menatap ku deng-dengan tatapan bingung, A-apa terjadi sesuatu kepada nya?" tanya Ryhan yang susah untuk berbicara.
"Dia lupa ingatan sayang" jawab Andra sedangkan Febri nampak menatap keluar ke arah Nana.
"Ah syukurlah, Pak Febri tolong jaga dia untukku dan jaga anakku juga" ucap Ryhan dengan nada rendah dan mata yang terbuka tutup dan nafas yang sesengal.
"Ryhan apa yang kau bicarakan?" ketus Andra hingga menbuat Nana yang mendengarkan nya bertambah bingung begitupun seluruh orang yang melihat Andra sedikit mengamuk.
"Kau mengatakan apa? Nana hanya mencintai mu hingga kapanpun" ucap Febri.
"Di da-dalam ingatan nya yang su-sudah hilang dia sudah tidak lagi men-mencintaiku, Di-dia tersenyum saja tidak mau kepada ku..........., Kau dan keluarga mu menerima dan memperlakukan wanita ku dengan sangat baik sangat berbeda dengan keluarga ku...... yang terus saja mencoba menghancurkan........... kebahagiaan ku hingga mencoba mencelakai anak dan...... istriku dan mungkin saja kecelakaan ini ada hubungan........ nya dengan keluarga ku..... Aku menitipkan nya dengan mu dengan harapan yang sangat sangat tinggi,......... Berharap dia akan baik baik saja jika bersama mu,......... Berharap dia akan bahagia bersama mu dan keluarga mu yang tulus........ mencintai nya" Ryhan nampak berbicara terus terhenti namun dengan cepat ia sambung kembali.
Ingatan yang masih sangat baik tentang beberapa kali bertemu dengan keluarga Febri yang ramah dan juga baik dengan dia maupun istri nya membuat nya yakin dengan keputusan nya sendiri.
"Lihatlah wajah kebingungan nya" ucap Ryhan dengan senyuman nya menatap istri nya hingga membuat Nana semakin di buat bingung sedangkan seluruh orang nampak haru.
"Kau bisa mengatakan kepada nya jika ka-kau adalah suami nya dan jujur tentang Devan yang benar benar anak nya.........tapi berbohong tentang......... kau adalah ayah dari Devan.......... Jika kau melakukan nya saat ini semua nya pasti akan baik baik saja............, Dengan Devan yang masih sangat kecil dan belum tau siapa ayah dan ibu nya dan kau bisa mengatasi...... itu semua,"
"Jaga mama baik baik sayang......Maafkan papa yang tidak bisa menemani kau tumbuh besar" guman nya.
"Aku percaya kepada mu Febri...."
Tuttt...tutttt
Detak jantung yang sudah berhenti membuat alat yang menghubungkan antara jantung itu berbunyi kencang. Mata yang sudah terpejam dan tangan yang sudah melepaskan anak nya membuat Andra langsung menangkap Devan yang hampir saja terjatuh itu. Devan yang kaget akibat hampir terjatuh langsung menangis histeris.
"Ryhan" teriak Merri dan langsung berlari masuk ke dalam ruangan itu tanpa di cegah.
"A-adikku" ucap Ferisa pula yang berjalan dengan kaki yang bergemetar lemah saat melihat mata adik tercinta nya yang sudah tertutup.
"Kakak menangis juga?" tanya Nana dengan wajah bingung nya memanggil Anggi dengan sebutan kakak itu terlintas saja di pikiran nya.
Anggi dengan segera langsung menghapus air mata nya. Seluruh orang yang ada di ruangan itu menangis histeris sedangkan Nana dia kebingungan namun hati nya ikut sedih melihat banyak nya orang menangis akan kepergian orang yang tidak di kenali oleh nya saat ini. "Yatuhan bagaimana bisa Ryhan pergi secepat ini?" teriak Merri dan memeluk anak nya tersebut.
"Ryhan bangun sayang, Bangun" ucap Andra pula dengan juga menangis histeris kehilangan anak nya sedangkan Devan sudah di ambil oleh Febri.
"Shut, Shut sayang jangan menangis" ucap Febri yang mencoba menenangkan anak nya kecil itu agar tidak menangis.
"Catat tanggal, Jam, dan detik nya setelah itu segera siapkan seluruh nya" ucap dokter dengan wajah datar nya.
"Baik dok" jawab perawat dan langsung mengurus semua nya.
"Maaf bisakah untuk kita semua keluar? Jenazah tuan akan di urus oleh petugas" ucap dokter dengan sopan nya.
"Anakku masih baik baik saja kau tidak berhak berbicara seperti itu Hikssss" ucap Andra yang tidak terima akan ucapan dokter itu.
"Tuan....."
Hiksssss
Tangisan Devan yang kencang membuat Andra menoleh ke arah cucu nya tersebut. "Sayang jangan menangis" ucap Febri dengan menggoyangkan tubuh Devan agar tidak menangis.
"Cucuku" ucap Merri yang mengambil alih Devan dari Febri namun Andra langsung menghalangi nya dengan mengambil cucu nya tersebut.
"Sudah ya sayang jangan menangis lagi, Kakek akan membawa mu keluar" ucap Andra dan membawa cucu nya tersebut keluar dari ruangan Ryhan.
Nana menoleh ke arah Andra yang baru saja keluar bersamaan dengan Devan dan juga Febri sedangkan Ferisa masih meratapi jasad adik nya dan Merri yang terus saja menangis. "Nana benar benar tidak ingat apapun" guman Febri saat melihat Nana yang masih saja memasang wajah bingung.
.
.
.
.
.
.
.
.