
"Letakkan barang barang ku di sana" ucap Nana dengan wajah datar dan hati sesak nya. Beny menghentikan langkah kaki nya dan mengikuti perintah dari istri bos nya. Bi Ana yang mendengar ucapan Nana langsung keluar dari dapur dan terlihat suami nya berada di dalam.
"Keluar dari rumah suamiku" ucap Nana dengan wajah datar dan nada bicara yang masih rendah.
Bi Ana dan juga pak Beny langsung terdiam, Tidak mengikuti ucapan Nana hingga membuat Nana geram. "Kalian tidak mendengar? Sudah aku bilang keluar" teriak Nana hingga membuat Devan yang sedari tadi mengintip keluar kamar terkejut.
"Mama marah kepada orang itu? Apa yang terjadi?" guman Devan yang tidak pernah melihat ibu nya itu marah.
"Nona kami...."
"Kalian tidak memiliki telinga? Apa kalian tidak mendengar ucapan ku?" tegas Nana kembali dengan menatap tajam ke arah bi Ana dan juga pak Beny.
"N....."
"Apa mau aku panggilkan polisi agar kalian keluar hah?" teriak Nana kembali.
"Nona anda....."
"Kalian hanya berpura pura baik padahal kalian ada suruhan mama Merri kan? Kalian di utus oleh untuk kemari untuk membunuhku dan anakku pula, Iyakan?" bentak Nana saat sedari tadi ucapan nya tidak di dengar oleh bi Ana ataupun pak Beny.
"K-kami tidak pernah bertemu nyonya Merri sejak kepergian....."
"Kepergian siapa? Suami ku masih hidup" teriak Nana yang tidak menerima kenyataan bahwa lelaki nya sudah tiada meskipun sudah tau namun hati kecil nya sama sekali tidak menerima hal tersebut.
"Papa..."
"M-maafkan kami nona, Kami akan pergi" pamit Beny yang mengetahui suasana hati wanita itu yang saat ini masih belum bisa menerima kenyataan pahit yang terjadi.
Devan yang melihat dua orang tadi sudah melewati ibu nya berjalan mendekat ke arah ibu nya dengan melewati bi Ana dan pak Beny tanpa bertegur sapa. "Suamiku masih hidup, Dia baik baik saja, Hiksssss" tangisan yang sedari tadi di tahan nya di hadapan anak nya seketika pecah saat mendengar orang lain yang mengatakan suami nya yang sudah tiada meskipun bi Ani tidak mengatakan nya secara langsung namun langsung di mengerti oleh Nana.
Bi Ana dan pak Beny yang baru saja melangkahkan kaki keluar dari rumah itu mengurungkan niat mereka untuk pergi dan membalikkan tubuh untuk melihat keadaan Nana. "Tuan muda" ucap bi Ana saat melihat Devan yang berjalan mendekat ke arah Nana.
"Suamiku benar benar masih hidup, Dia berjanji akan kembali dengan selamat saat berpamitan dengan ku, Dia baik baik saja, Dia hanya belum kembali kemari karna urusan nya, Suami ku masih hidup, Hiksssss, Hiksss" menangis histeris di antara tangga dan juga dapur dengan kaki yang berlutut dan kepala yang menunduk dia meluapkan seluruh isi hati nya mengenai kepergian lelaki yang sangat di cintai nya.
"Apa yang terjadi ini?" guman Devan yang sama sekali tidak mengerti. Di umur yang seharus nya bahagia anak kecil itu malah di buat memiliki beban pikiran terhadap hidup wanita yang paling di cintai nya siapa lagi jika bukan ibu nya.
"R-Ryhan kau ada di atas? Kau bersembunyi dari ku?" teriak Nana yang langsung berlari menaiki anak tangga menuju ke atas.
"Mama" teriak Devan namun teriakan anak itu tidak mengurungkan niat Nana ataupun menghentikan langkah kaki Nana hingga membuat Nana terus saja berlari ke atas.
"Teriakan Nana" ucap Anggi dan langsung keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah yang tidak di tutup itu.
"Nana" panggil Anggi saat sudah masuk hingga membuat bi Ana dan pak Beny menatap ke arah nya. Devan uang tidak mendapatkan jawaban dari ibu nya dan kaki ibu yang terus melangkah menaiki anak tangga langsung menyusul nya.
Kaki yang pendek membuat anak kecil itu memerlukan banyak waktu untuk sampai ke atas. Anggi yang melihat Devan menaiki tangga langsung menyusul keponakan nya itu. "Sayang kau kenapa naik?" tanya Anggi dan langsung menggendong Devan naik ke atas.
"Hah? Poto poto ku?" ucap Nana saat melihat kamar tersebut penuh dengan poto poto nya yang tengah melakukan banyak aktivitas.
Kaki wanita itu perlahan berjalan masuk me dalam kamar itu. Layak nya takjub tubuh itu berputar melihat sekeliling yang di penuhi oleh banyak nya poto dan poto poto itu adalah poto diri nya. "Ini saat aku kecil dahulu, Dia menyimpan nya" ucap Nana saat melihat poto nya saat masih kecil.
"Sayang kau mendapatkan poto ku dari mana?" teriak Nana dengan mendudukkan tubuh nya di atas kursi di jendela. Tidak ada jawaban yang di harapkan nya membuat Nana membuka jendela kamar itu di tengah nya gelap dan menghidupkan lampu belajar yang terletak rapi di sana.
"Pantas saja kau sangat betah di sini, Ternyata bisa melihat ke kamar ku dahulu" guman Nana dengan senyum nya saat bisa melihat kamar nya yang terletak di rumah yang sudah di perbaiki itu.
"Apakah saat kau belajar di sini kau selalu memperhatikan ku?" tanya Nana kembali.
"Jelas saja iya, Bayangan saja yang pintar mencari tempat dan berbohong jika kau belajar padahal kau selalu memperhatikan ku" jawab nya akan pertanyaan sendiri.
"Ryhan bodoh kenapa kau tidak mengatakan nya langsung kepada ku jika kau mencintai ku hem?" tanya Nana dengan mengusap poto yang ada di hadapan nya.
"Seperti nya kebodohan mu ini harus di berikan hukuman" ucap Nana.
"Apa ya hukuman yang bagus?" ucap Nana yang nampak berpikir.
"Ah iya, Kau harus menemuiku sekarang juga dan tidak boleh nanti karna kau.... hikssss Ryhan" wanita itu kembali menangis mengingat kenyataan yang menyatakan bahwa Ryhan sudah tiada membaut hati yang sedikit gembira melihat diri nya di dinding kembali bersedih.
"Ryhan sayang, Kau berjanji waktu itu untuk kembali dengan selamat, Kau waktu itu juga berjanji untuk menemani pertumbuhan Ryhan kecil bukan?" tanya Nana dengan menatap lekat poto lelaki nya yang selalu memasang wajah datar itu.
"Wajah datar ini aku yang membengkokkan nya sedikit namun dia meninggalkan ku, Apa kau hanya berpura pura mencintai ku selama ini?" tanya Nana yang masih saja berbicara dengan poto mendiang suami nya layak nya orang sungguhan hingga ekspresi wajah nya tidak bisa terelakkan dan berbicara dengan terlihat sangat sungguh sungguh.
"Om, Siapa itu Ryhan?" tanya Devan kepada Anggi akibat sedari tadi mendengar nama itu. Anggi terdiam saat mendapatkan pertanyaan tersebut.
"Eh buku yang selalu dia larang aku membuka nya" ucap Nana saat melihat buku yang terus saja ia coba untuk buka namun tidak bisa.
Tangan yang lincah dan perasaan penasaran membuat wanita itu mengambil buku tersebut. "Tapi jika aku membuka nya apa lelaki bodoh itu akan marah?" tanya Nana.