
Dear D
Maaf ada yang sedikit kurindukan di masa lalu...
"Vey, lu yakin mau makan disini?" Tanya suami gue, dengan sebelah alis terangkat.
Tanpa menjawab gue langsung tarik tangan kak Dean, memasuki kedai ramen yang ada di salah satu tepi jalanan kota Seoul. Oke, jadi sebenarnya, tadi kak Dean ngajak gue buat makan di restoran Hotel saja. Tapi gilaaa!!! Harganya mahal banget, otamatis gue gak mau lah.
"Ahjussi, ramennya dua yaa" Ucap gue. Si ahjussi pun mengangguk dan meminta gue sama Kak Dean buat menunggu di kursi panjang.
"Lu bisa bahasa Korea Vey?" Kak Dean kelihatan terkejut.
"Bisa lah hahaha.Gue sudah sejak lama belajar bahasa Korea, mungkin sudah sekitar 3 tahunan. Jadi sekarang, bahasa Korea gue bisa dibilang lumayan baik."
Kak Dean mengedikkan bahu, "oh."
Sebel banget! Gue sudah ngomong panjang kali lebar, ehhh malah cuma di jawab "Oh". Untung ganteng, kalau enggak, sudah gue jadikan rengginang tuh orang.
Gak selang lama, ahjussi datang dengan dua mangkuk ramen berukuran sedang di tangannya. " Selamat menikmati" Ucap ahjussi sambil tersenyum.
"Gomawo ahjussi"
POV author
"Setelah ini kita mau kemana kak?" Tanya Vey pada Dean selepas keluar dari kedai ramen.
"Namsan tower..." Dean mengamati maps yang ada di ponselnya, sungguh... Rasanya Dean pusing sekali, ini kali pertama ia ke Korea jadi wajar saja jika ia merasa bingung.
"Wahhh... Ayo kak cepetan!" Ucap Vey, kedua kakinya turut dihentak-hentakan diatas aspal karena saking senangnya.
Menurut maps yang Dean liat di ponselnya, jarak Namsan tower dari lokasinya sekarang hanya sekitar 1 km. Cukup dekat, jadi Dean putuskan untuk berjalan kaki saja, toh cuaca kota Seoul hari ini sedang bagus. Tidak terlalu panas, tidak juga mendung.
"Masih jauh ya kak?" Vey menyamai langkah sang suami yang sudah sekian senti didepannya.
"500 meter lagi"
Cling..
Dean meneguk kasar salivanya, saat mendapati notifikasi pesan dari seseorang yang pernah sangat berpengaruh dihidupnya.
+62 578 987 ---
Gimana honeymoon nya?? Aku harap kita ketemu di Korea ya sayang💕
-Rena
Ya itu adalah Rena, mengapa wanita itu masih saja mengusiknya? Dean tak habis pikir... Sebenarnya apa yang Rena inginkan lagi darinya?
Dean tidak takut dengan Rena, yang dia takutkan adalah Rena akan menyakiti Vey, ayolah menurut Dean disini Vey hanyalah gadis kecil yang tidak tau apa-apa.
Tidak mau ambil pusing dengan pesan singkat yang Rena kirim, Dean pun memasukkan ponselnya kedalam saku celana. "Vey bentar lagi nyampe..."
Dean memutar badannya kearah belakang, dimana gadisnya?
"Ya ampun, lu ilang kemana lagi sih bocah?" Gerutu Dean, lalu berjalan cepat menyusuri jalan yang sudah ia lalui sebelumnya.
Sepanjang jalan, sumpah serapah, nama hewan dan sebagainya tidak pernah absen Dean ucapkan. Kini ia sudah kembali berada di depan kedai ramen, namun Vey belum juga ia temukan.
Ponsel Vey pun tidak aktif, sebenarnya Vey pergi kemana? Dean juga tidak bisa bertanya pada orang-orang sekitar, karena keterbatasan bahasa.
Ditempat lain, seorang gadis cantik tengah menimang anak kucing berwarna putih yang sebelumnya tergeletak begitu saja di pinggir jalan. Vey rasa anak kucing itu lupa jalan pulang dan malangnya terpisah dari induknya.
"Dyvy Lucu banget sihh," Vey mengelus lembut anak kucing yang ia beri nama Dyvy tersebut.
Deg...
Panda jelek... Nama panggilan itu langsung membawa ingatan Vey pada seseorang yang sangat ia rindukan.
Suara itu, suara yang sudah lama tidak Vey dengar, namun tetap terdengar sama seperti saat terakhir kali mengucap kata perpisahan.
"Kris..." Gumam Vey ternganga, air matanya pun meluncur tanpa aba-aba.
Dengan sigap Kris menghalau air mata Vey dengan ibu jarinya, "apa kabar?"
Ada rasa sesak di hati Kris, ia ingin sekali memeluk Vey, menuntaskan rasa rindu yang ditahannya selama bertahun-tahun. Namun ia sadar, gadis itu kini telah menikah dan ia tidak berhak untuk memeluk Vey lagi.
Andai Kris datang lebih cepat, mungkin saat ini Vey sudah bersamanya. Mungkin Vey tidak akan menikah dengan pria lain.
Kris tidak ingin menyesal, tapi mau bagaimana lagi? Ia memang belum bisa mengikhlaskan semua yang telah terjadi.
"Kenapa baru balik? Lo tau gue rindu banget sama lo," Vey menepis tangan Kris dari pipinya.
Tubuh Vey luruh, kemudian ia memeluk kakinya sendiri yang ditekuk, bahkan membiarkan anak kucing yang tadi ia timang pergi menjauh.
"Lo kemana aja?" Vey menangis sesenggukan.
Kris berjongkok, lalu menggunakan salah satu tangannya untuk membelai surai indah milik Vey, "maaf..."
"Hidup gue hancur setelah lo pergi Kris, butuh waktu lama buat gue terbiasa tanpa lo..." Lirih Vey, dengan suara yang menyerak dan hampir menghilang.
Setelah kepergian Kris dulu, hidup Vey kembali seperti awal, ia kembali menjadi korban bully. Bahkan bully yang Vey alami lebih parah dari sebelumnya.
Vey pernah nyaris kehilangan penglihatannya, karena dilempari telur busuk oleh teman-temannya, untung saja Vey ditangani dokter dengan cepat, sehingga matanya dapat diselamatkan.
Sampai-sampai Vey harus mengkomsumsi obat-obatan untuk menghilangkan ingatan dan traumanya.
Hanya sementara, karena jika kambuh, ingatan buruk itu akan kembali dan membuat Vey tidak bisa mengkontrol emosinya.
"Mau makan ddeokpokki?" Tawar Kris, mencoba mengalihkan pembicaraan masa lalu, yang hanya membawa luka lama baginya dan Vey.
***
Keparat. Dean merasa kepalanya sebentar lagi akan pecah, ayolah... Dia sudah mengelilingi kota Seoul, bahkan ia juga hampir kesasar sendiri, namun ia belum juga menemukan keberadaan Vey.
Honeymoon yang begitu menyedihkan dan membawa sial, itulah yang Dean pikirkan. Sudah pukul 7 malam waktu Korea, dan Dean masih menyusuri jalanan kota Seoul yang sepertinya sudah ia lalui lebih dari 10 kali.
Dean bahkan tidak berani menyampaikan berita hilangnya Vey pada sang bunda dan mertua, sumpah... Dean takut, ia belum siap mati muda.
"Lo kemana sih bocah..." Desis Dean dengan nada putus asa.
Manik mata Dean kembali menajam, saat melihat seorang gadis yang sedang berada di kedai makanan.
Gadis itu mengenakan jaket tebal berwarna krem, persis seperti milik Vey.
Disebelah gadis itu ada seorang pria yang tidak Dean ketahui siapa. Dengan langkah kaki seribu, Dean buru-buru menuju kedai makanan tersebut.
"Kris pinjem handphone lo dong, buat ngabarin suami gue," pinta Vey. Sungguh demi apapun, Vey lupa tidak membawa ponselnya dan akibatnya ia tidak bisa menghubungi Dean.
Vey yakin Dean kini tengah rebahan santai, dan bersenang-senang di apartement. Mana mungkin juga kan seorang Dean yang begitu menyebalkan itu akan mencarinya?
"Oh iya lo gak dicariin sama suami lo?" Tanya Kris sembari menyerahkan ponselnya pada Vey.
"Gue rela tuh hapus akun IG gue yang udah dapet 1 juta followers, kalo suami gue nyariin gue hahaha," Kikik Vey.
"VEY!!!!"