Dear D

Dear D
Episode 110



"Nanti malam aku akan memanjakan mu di tempat yang enak, Jika kita melanjutkan nya di ranjang akan lebih lama" ucap Ryhan.


"Ah tuhan aku mohon kembalikan Ryhan yang dulu, Kembalikan Ryhan yang tidak mesum seperti ini tuhan" guman Nana dan menyenderkan kepala nya di bath up.


"Kau sudah siap?" tanya Ryhan kepada istri nya yang baru saja keluar dan menghampiri nya.


"Hem" jawab Nana dengan nada malas nya.


Ryhan yang mendengar itu langsung membalikkan tubuh nya dan menatap tajam ke arah istri nya, Wajah yang masam dan kesal sangat terlihat di wajah istri nya. "Kau tidak senang aku ajar ke pulau?" tanya Ryhan dengan wajah yang sedikit kesal melihat raut wajah istri nya.


"Siapa yang suka di ajak jalan jalan ke pulau?" ketus Nana dengan meletakkan kedua tangan nya di atas perut dan memasang wajah kesal nya.


"Jadi kenapa kau memasang raut wajah seperti ini?" tanya Ryhan dengan mencubit pipi wanita nya.


"Shit sakit" ketus Nana dengan memukul tangan lelaki itu hingga terlepas dari wajah nya.


Ryhan yang tidak pernah menyerah mengembalikan senyuman wanita nya menundukkan sedikit tubuh nya hingga sejajar dengan istri nya. "Kau marah kepada ku? Ada hal yang kau inginkan selain ke pulau? Atau kau memang tidak suka aku ajak ke pulau?" tanya Ryhan dengan nada sangat rendah mencoba menenangkan hati yang sedang emosi nampak nya.


"Iya aku marah kepada mu" ketus Nana dan membuang pandang nya.


"Hal apa yang membuat kau marah kepada ku?" tanya Ryhan yang menatap tajam dengan sedikit senyuman mencoba berbicara dengan penuh kasih sayang agar wanita nya tidak bertambah kesal.


"Kau selalu menyiksa ku, Kau...."


"Masalah tadi pagi?" tanya Ryhan.


Nana nampak ragu menjawab nya dan menatap tajam suami nya. "Itukan hak nya kenapa aku malah jadi marah kepada nya?" guman Nana saat menatap lekat wajah tampan yang sedang tersenyum menatap nya.


"Hey jawablah" ucap Ryhan yang belum mendapatkan jawaban.


"Sudahlah jangan di pikirkan, Kau bilang ingin mengajkku ke pulau kenapa kau malah mengajakku berbicara?" ketus Nana dengan kesal nya.


"Baiklah, Mari tuan putri" ucap Ryhan dengan menundukkan sedikit tubuh nya dan menyodorkan tangan nya layak nya pangeran yang mengajak tuan putri nya pergi berdua.


Nana nampak senang akan hal tersebut dan hendak tersenyum tapi senyuman nya di tahan hingga membuat Ryhan semakin melebarkan senyuman nya. Senyum yang di tahan nya akhir nya keluar juga dan dia langsung menerima tangan suami nya. Kebahagiaan yang di rasakan kedua nya saat akan menjadi abadi selama nya itu adalah harapan kedua nya.


"Berharap agar kebahagiaan ini tidak lenyap hanya karna adanya orang yang mencoba menghancurkan nya" guman Ryhan dengan tersenyum lebar dan membawa istri nya pergi dari vila.


Kedua nya menaiki mobil taxi yang sudah di pesan dan Ryhan yang mengatakan kepada sopir kemana tujuan mereka.


Saat sampai kedua nya turun, Nana terdiam tidak ada raut wajah kagum di wajah nya ataupun bahagia saat sampai di pulau yang indah itu. "Kita sudah sampai, Apa kau menyukai tempat nya?" tanya Ryhan kepada istri nya yang hanya diam.


Nana langsung menatap suami nya, Dia yang awal nya bingung langsung tersenyum dan menganggukkan kepala nya. "Jelas saja, Pemandangan bagus seperti ini siapa yang akan menolak? Di tambah bersama pasangan nya" jawab Nana dengan tersenyum lebar menatap suami nya. Mencoba menghilangkan keanehan saat melihat pulau tersebut dengan banyak tersenyum dan berbicara dengan suami nya.


"Baguslah, Ayo naik" ajak Ryhan yang menaiki kapal terlebih dahulu. Nana tidak menjawab nya dan menggapai tangan yang tersodor kepada nya dan saat ini mereka sudah berada tepat di atas kapal.


"Iya" jawab Ryhan dengan tersenyum lebar menatap wanita yang di cintai nya. Akibat cinta dia selalu saja tersenyum tulus kepada Nana.


"Jika berdua seperti ini kau selalu saja tersenyum tapi jika di dekat banyak orang kenapa kau selalu memasang wajah datar!" tanya Nana saat melihat senyum yang selalu di perlihatkan suami nya kepada nya.


"Karna senyuman ku hanya untuk mu" jawab Ryhan dan membuang pandang nya dari istri nya.


"H-hah?" ucap Nana yang nampak kebingungan. Memberikan banyak kode yang tidak di mengerti oleh wanita itu membuat Ryhan nampak lelah menunjukkan rasa cinta nya kepada wanita nya.


"Sudahlah, Kita ke sana" ucap Ryhan dan menarik tangan istri nya. Kedua nya berjalan menelusuri kapal hingga sampai tepat di depan.


Ryhan mendudukkan tubuh nya di sana dan Nana yang melihat ikut duduk. "Bicara mu akhir akhir ini seperti nya agak aneh" ucap Nana yang hanya beberapa detik duduk sudah mengajak mengobrol.


"Aneh bagaimana?" tanya Ryhan tanpa menatap wanita itu.


"Aneh saja, Tidak seperti biasa nya dan setauku kau tidak pandai berbicara dulu" jawab Nana dengan tersenyum menatap lelaki itu.


"Tuan, Nona ini makanan dan air untuk kalian" ucap pelayan dengan menyodorkan cemilan dan juga minuman.


"Terima kasih" jawab Nana dengan tersenyum.


"Kau percaya tidak jika lelaki yang pendiam akan menjadi lelaki yang banyak bicara jika bersama wanita nya?" tanya Ryhan tanpa memandang siapapun di sekitar nya. Nana menatap ke pelayan dan pelayan pun berpamitan untuk pergi meninggalkan kedua nya.


"Bukankah itu hanya perkataan orang banyak? Lelaki pendiam akan tetap pendiam mau itu saat bersama wanita nya atau tidak" jawab Nana yang memikirkan hal tersebut sesuai pengalaman nya membaca bukan mengalami.


"Kau belum sadar akan ada nya lelaki yang seperti itu hadir di hidup mu? Kau tidak sadar akan kau yang mengubah segala nya bagi lelaki itu? Setidak peka itukah kau?" tanya Ryhan dengan menatap tajam istri nya. Berharap jawaban yang indah akan di dengar oleh nya.


Nana terdiam, Tubuh nya sedikit memundur akibat Ryhan yang terus maju mendekat. "S-siapa memang nya?" tanya Nana dengan memasang wajah bingung menatap suami nya. Bukan hanya bingung tapi dia juga cukup takut saat melihat tatapan tajam yang di berikan suami untuk menatap nya.


Ryhan nampak kesal, Nafas yang terengah engah seperti orang yang baru saja selesai berlari dua puluh kilometer membuat Nana tambah bingung akan lelaki itu. "Del, Apakah kau tidak pernah memiliki kekasih sejak kau lahir ke dunia ini?" tanya Ryhan dengan wajah memerah akibat menahan sedikit kekesalan nya terhadap istri nya yang sama sekali tidak peka terhadap perasaan nya.


.


.


.


.


.


.