Dear D

Dear D
Episode 66



"Siapa lelaki itu?" tanya Renia wanita tercantik di sana dan di sukai banyak lelaki tapi tidak dengan CEO nya.


"Hem" orang yang mengantar Ryhan tadi mengangkat kedua bahu nya menandakan tidak tau siapa lelaki itu dan setelah itu dia langsung berlalu untuk kembali ke tempat nya.


"Papa" sapa Ryhan saat masuk ke dalam ruangan ayah nya. Andra yang sedari tadi menunggu anak nya langsung membalikkan tubuh nya dan menatap lekat wajah anak nya dengan senyum yang mengembang.


"Anak papa akhir nya berkunjung" Andra langsung memeluk anak nya, Sedikit rindu akan putra nya itu yang sudah cukup lama tidak dia lihat. Ryhan tidak menjawab nya, Dia hanya membalas pelukan itu dengan senyum manis nya.


Andra melepaskan pelukan nya dari anak nya dan menatap lekat anak nya. "Duduklah nak" Andra mempersilahkan anak nya untuk duduk. Ryhan mengangguk mengiyakan nya dan mendudukkan tubuh nya di hadapan ayah nya.


"Kenapa kau tiba tiba menemui ayah dengan pakaian seperti ini?" tanya Andra yang sedikit kebingungan akan hal itu.


"Aku ingin bekerja" jawab Ryhan langsung dan itu membuat Andra sedikit kebingungan.


"Kenapa? Apa uang yang papa berikan tidak cukup memenuhi kebutuhan mu dan Nana?" tanya Andra.


"Bukan seperti itu pa tapi aku memang ingin bekerja, Nana saja bekerja tidak mungkin aku hanya di rumah saja" jawab Ryhan.


"Banyak perubahan" guman Andra dengan senyuman nya.


"Baiklah, Kau mau bekerja menjadi apa? Langsung menjadi pemimpin? Manager atau apa?" tanya Andra yang sangat senang jika anak nya mau bekerja di perusahaan nya toh Kevin bekerja di perusahaan nya sendiri dan tidak mungkin perusahaan itu di berikan kepada Ferisa yang mengurusi study nya sendiri dan mengambil jurusan yang berbeda tidak menyangkut tentang perusahaan.


"Ryhan mau jadi pekerja biasa saja" jawab Ryhan dengan santai nya.


"Maksud mu?" tanya Andra yang tidak mengerti.


"Aku mau menjadi pegawai biasa seperti banyak pekerja di sini" jawab Ryhan.


"Tidak manager ataupun yang lebih tinggi?" tanya Andra.


"Tidak pa, Ryhan juga harus belajar dari awal meskipun papa pemilik perusahaan tapi Ryhan tidak mau belajar dari awal dan memulai nya dari awal supaya nanti saat papa menyuruh Ryhan memimpin Ryhan sudah tau bagaimana cara mengurus nya dan tidak perlu di ajarkan lagi" jelas Ryhan dengan tersenyum lebar menatap ayah nya. Andra terdiam perkataan anak nya ada betul nya perusahaan pasti akan di berikan kepada Ryhan nanti nya mau bagaimanapun Ryhan lah tinggal anak lelaki satu satu nya yang belum memiliki pekerjaan lain.


"Kau yakin nak?" tanya Andra memastikan. Ryhan langsung menganggukkan kepala nya mengiyakan pertanyaan ayah nya.


"Baiklah terserah kau saja, Nanti jika ingin berpindah jabatan bilang saja kepada papa ya sayang" ucap Andra. Ryhan hanya tersenyum mendengar ucapan ayah nya itu.


"Kau boleh membawa kendaraan yang sudah di sediakan oleh kantor seperti mobil, Kantor juga menyendiakan fasilitas untuk pekerja nya tapi itu akan jauh dari sekolah mu dan dekat dengan kantor" ucap Andra.


"Seluruh pegawai kantor di berikan fasilitas?" tanya Ryhan.


"Tidak semua hanya ada beberapa tapi kau papa berikan fasilitas mobil saja tidak apa bukan?" tanya Andra dengan menatap lekat anak nya. Ryhan diam belum menjawab pertanyaan ayah nya.


"Jika aku membawa mobil ada untung nya, Rumahku kan juga cukup jauh dari kantor papa dan bisa membawa nya ke sekolah juga supaya aku lebih banyak bersama dengan Del" guman lelaki itu dengan tersenyum lebar.


"Baiklah, Ryhan menginginkan mobil saja, Tapi bukan mobil kantor pa" jawab Ryhan.


"Mau mobil mu?" tanya Andra.


"Itu terlalu mewah nanti aku harus menjawab apa jika Delina bertanya" jawab Ryhan.


"Jadi?" tanya Andra. Ryhan beranjak berdiri dari duduk nya dan menatap ke bawah melihat kendaraan seperti apa yang cocok untuk nya.


"Seperti itu" ucap Ryhan dengan menunjuk ke arah mobil aila berwarna putih di bawah. Andra berdiri dari duduk nya dan menatap mobil mana yang di inginkan oleh anak nya.


"Benar?" tanya Ryhan. Andra tersenyum lebar dan langsung menganggukkan kepala nya mengiyakan pertanyaan anak nya.


"Kapan pun kau mau mulai bekerja datanglah, Sebentar lagi kau juga tamat bukan?" tanya Andra.


"Iya pa, Seperti nya saat sore baru aku bisa datang, Tidak masalah kan pa?" tanya Ryhan.


"Tidak apa ini perusahaan ayah mu tidak masalah" jawab Andra.


"Baiklah mulai besok Ryhan akan mulai bekerja, Hari ini Ryhan pamit pulang dan akan membawa mobil" ucap Ryhan.


"Papa akan menemani mu ke bawah" ucap Andra.


"Oh iya pa, Jangan katakan kepada siapapun jika aku adalah anak papa" ucap Ryhan.


"Loh kenapa?" tanya Andra.


"Aku hanya mau orang menghormatiku sebagai diri ku sendiri bukan sebagai anak CEO perusahaan ini" jawab Ryhan.


"Baiklah papa akan menuruti kemauan mu" jawab Andra.


"Nana kau kenapa?" tanya Febri langsung kepada wanita itu.


"Saya tidak apa apa" jawab Nana dengan wajah datar dan malas nya.


"Masuk ke ruangan ku" perintah Febri dengan tegas nya dan masuk ke dalam ruangan nya. Nana menatap kesal akan Febri dan meletakkan nampan di tempat nya dan setelah itu langsung berlalu masuk ke dalam ruangan Febri.


"Kau memiliki masalah?" tanya Febri.


"Tidak" jawab Nana dengan wajah datar nya.


"Jika tidak kenapa kau datang terlalu cepat dan tidak mau menjawab pertanyaan ku tadi?" tanya Febri.


"Jika aku datang saat jam empat tadi aku kembali jam delapan malam?" tanya Nana dengan menatap lekat wajah Febri. Bukannya menjawab dia malah bertanya balik kepada Febri yang sedang menatap nya.


"Iya" jawab Febri akan pertanyaan itu.


Mata Nana beralih menatap jam dinding yang ada di ruangan itu. "Ini sudah jam delapan, Bolehkah aku kembali sekarang?" tanya Nana. Febri mengangkat tangan nya dan melihat jam di pergelangan tangan nya dan benar saja jam sudah menunjuk pukul delapan.


"Baiklah ini memang sudah jam delapan, Mau aku antarkan?" tanya Febri.


"Tidak usah pak, Saya bisa pulang sendiri, Permisi" pamit Nana dengan sopan nya dan langsung keluar. Nana memilih untuk ke belakang terlebih dahulu untuk melepaskan celemek dan mengambil tas nya setelah itu dia langsung keluar dari cafe itu.


Nana menaiki ojek untuk sampai ke rumah nya saat sampai dia sedikit kebingungan akan rumah nya yang gelap dan tidak ada tanda tanda orang di sana. "Kenapa gelap? Ryhan benar benar pergi?" guman Nana dan berjalan mendekat ke arah rumah nya. Dia membuka gerbang dan berjalan masuk ke dalam pekarangan rumah nya.


.


.


.


.