Dear D

Dear D
Episode 146



"Shit bagaimana bisa Nana sampai hamil?" umpat Merri yang nampak kesal dan tengah berada di dalam kamar nya sendiri dengan Andra yang masih bermain dengan Zylan cucu nya.


"Jika dia hamil bagaimana cara nya aku memisahkan kedua nya?" tanya Merri dan mendudukkan tubuh nya dengan kasar di atas ranjang yang ada di dalam kamar nya.


"Tapi kehamilan nya belum pasti, Apa benar dia hamil atau tidak belum ada yang tau" ucap Merri dengan senyum nya saat mengingat Ryhan yang mengatakan belum tau benar atau tidak nya Nana yang hamil.


"Jika begitu..." Merri mengangkat salah satu kaki nya dan melipat di atas kaki yang lain dengan senyum licik nya.


"Aku benar dia hamil dan belum di ketahui oleh Ryhan dengan mudah aku menghabisi janin nya itu, Nanti jika Ryhan sudah tau tentang kehamilan nya akan lebih susah karna dia pasti akan lebih berhati hati" ucap Merri dengan bibir yang membentuk senyuman licik di wajah nya itu.


”Mari kita mencari cara lain agar bisa bertemu langsung" guman nya dan mengambil ponsel nya dan menghubungi orang yang harus di hubungi.


Ryhan menurunkan istri nya tersebut di atas ranjang dan melepaskan sepatu nya. "Lepaskan jas mu" ucap Ryhan. Nana tidak menjawab nya dan melepaskan jas milik nya dan jas suami nya dan memberikan nya kepada suami nya tersebut.


Ryhan langsung masuk ke dalam ruang ganti dan meletakkan dua jas itu di tempat seharus nya begitupun dengan sepatu nya dan juga sepatu istri nya. Setelah selesai dia kembali lagi keluar dari ruang ganti dan mendudukkan tubuh nya di samping istri nya tersebut. Ryhan menselonjorkan kaki nya dan menyandarkan tubuh nya di sandaran ranjang. "Kemari" ucap Ryhan dengan memukul paha nya agar istri nya berbaring di atas paha nya.


Nana membalikkan pandang nya dan terlihat suami nya tengah bersandar dan tersenyum menatap nya. Nana tidak menjawab nya dan langsung memeluk erat tubuh kekar yang masih berbalut kemeja itu. "Kenapa malah memeluk? Aku menyuruh mu berbaring dan istirahat" ucap Ryhan dengan mengusap rambut wanita nya tersebut.


"Ini juga istirahat" jawab Nana dan memperat pelukan nya


"Baik terserah kau saja" ucap Ryhan dan terus saja mengusap kepala istri nya yang berada di perut nya itu.


"Ryhan" panggil Nana.


"Em, Iya sayang?" jawab Ryhan dengan nada rendah dan lembut nya.


"Kau berjanji akan menemani ku mengejar mimpi ku kan?" tanya Nana dengan mendongakkan kepala nya menatap suami nya.


"Tidak boleh berjanji, Tapi akan aku usahakan" jawab Ryhan dengan senyum mencoba menggoda istri nya yang nampak sedari tadi hanya diam.


"Jawaban yang menyakitkan, Jika tidak mau bilang saja tidak mau, Sok sokan bilang bakal usahain, Memang nya kau sesibuk itu hingga tidak bisa menemani ku?" ketus Nana dan kembali membuang pandang nya tanpa melepaskan pelukan nya terhadap istri nya tersebut.


Ryhan tersenyum saat mendengar sedikit ocehan itu. "Aku memang sangat sibuk, Tidak ada waktu untuk menemani mu selalu" jawab Ryhan.


"Yasudah pergi saja kau sekarang, Urus urusan mu" ketus Nana yang semakin kesal menyuruh suami nya pergi tapi dia tidak melepaskan pelukan nya.


"Bagaimana aku akan pergi jika kau memelukku terus seperti ini?" tanya Ryhan. Nana mendongakkan kepala nya dan menatap ke arah suami nya tersebut dengan tatapan kesal.


Tangan nya langsung mendorong tubuh suami nya tersebut. "Yasudah sana kau pergi saja, Pergi menemui tuhan jika perlu" ketus Nana dan membaringkan tubuh nya dan membelakangi suami nya yang masih bisa menahan tubuh agar tidak terjatuh.


"Kau yakin? Nanti jika aku menemui tuhan kau menangis tujuh hari tujuh malam nanti" ucap Ryhan.


"Bodoh sekali aku membuang air mata hanya untuk menangisi mu" ketus Nana.


"Kau yakin Del?" teriak Ryhan dengan menatap nya. Nana masih belum menjawab nya dan juga menatap ke arah nya.


"Selamat tinggal" ucap Ryhan.


"Jangan bodoh" teriak Nana dan langsung duduk dari baring nya tadi dan terlihat suami nya tengah memejamkan mata menikmati udara yang menghembus nya.


"Kembali kemari dan tutup jendela itu" ketus Nana. Ryhan masih belum menjawab nya dan tidak membuka mata nya hingga hal tersebut membuat Nana geram dan berdiri dari duduk nya tadi. Dia melangkahkan kaki nya mendekat ke arah suami nya tersebut dan langsung menuju ke balkon dan menarik tangan lelaki itu.


"Kembali" ketus Nana dengan sedikit kesusahan menarik tangan itu. Ryhan tidak menjawab ataupun membuka mata nya tapi tangan nya juga memegang pergelangan tangan istri nya agar istri nya tidak terjatuh.


"Cepat kembali ke belakang Ryhan" ucap Nana yang kembali berusaha menarik tangan suami nya tersebut. Ryhan menarik balik tangan istri nya hingga istri nya tersebut berada di pelukan nya.


Ryhan memejamkan mata nya membairkan istri nya tenang kembali di dalam dekapan hingga beberapa menit mata nya kembali terbuka dan pandang nya menunduk menatap wanita nya. Nana terdengar membuang nafas panjang, Bagaimana tidak? Dia lega akhir nya suami nya tidak melakukan hal yang akan membuat nya menyesal seumur hidup. Dengan perlahan tangan kecil itu naik dan membalas pelukan suami nya dan ikut memejamkan mata nya.


Ryhan tersenyum saat mendapatkan balasan pelukan dari istri tercinta nya dan langsung menggendong tubuh kecil yang masih tegak itu kembali ke dalam tanpa menutup jendela Ryhan kembali membaringkan istri nya di atas ranjang begitupun dengan diri nya.


"Mulut dan hati mu sangat berbeda" bisik Ryhan dan mencium pucuk kepala istri nya.


"Tidak berbeda, Jelas jelas sama" balas Nana.


"Mulut mu bilang terserah jika aku ingin menemui tuhan atau tidak tapi hati mu tidak bisa berbohong, Mulut mu terlalu lincah berbohong tapi tidak dengan hati mu. Ingatlah dengan hal itu, Aku mengenal mu dari kecil" ucap Ryhan dengan merenggangkan pelukan nya menatap istri nya tersebut.


"Mereka yang kadang berbicara kasar adalah mereka yang paling memiliki hati lembut sama seperti kau" sambung nya lagi.


"Kenapa bisa seperti itu?" tanya Nana yang juga bingung dengan diri nya sendiri.


"Mereka yang dahulu nya sangat perduli terhadap orang lain tapi di abaikan makanya bisa menjadi seperti itu" jawab Ryhan.


"Hah? Aku tidak pernah merasa dulu aku pernah peduli terhadap siapapun" ucap Nana.


"Kau yakin?" tanya Ryhan dengan menatap tajam wajah wanita nya yang juga menatap nya saat ini.


.


.


.


.


.