
"Ah" Nana memegang kepala nya yang sakit membuat ucapan Andra terpotong.
"Sayang kau kenapa?" tanya Febri yang langsung mendekat ke arah wanita yang saat ini menjadi istri nya.
"A-aku tidak apa apa, Hanya sedikit pusing saja" jawab Nana.
"Itu karna otak mu terlalu keras berpikir dan mencoba mengingat apa yang terjadi saat papa bercerita, Namun percaya tidak percaya yang papa katakan benar ada nya dan kau dan Febri sudah berencana merayakan pernikahan kalian" jelas Andra kembali dengan senyum nya.
"Mana buku nikah dan juga cincin kawin? Aku ingin melihat nya" ucap Nana.
"Pernikahan yang di dasari atas perjodohan membuat kalian tidak memiliki semua nya, Namun beberapa bulan lalu kalian sudah menyiapkan seluruh nya hingga tinggal menunggu hari H saja untuk pernikahan resmi kalian" jawab Andra dengan senyum nya membuat Anggi semakin emosi akan hal tersebut.
"Tapi...."
"Kau tidak perlu hawatir, Pernikahan mu dan Febri waktu itu sah di mata agama jadi kau melakukan kesalahan apapun, Pernikahan mu di wakili oleh wali mu yakni almarhum kakak mu" potong Andra.
"Papa masih banyak kerja di kantor, Papa pamit ya sayang, Papa akan sering sering bermain ke sini menemui kau dan cucu papa" pamit Andra dengan senyum nya dan tangan yang mengusap kepala menantu nya.
Nana hanya diam dan tidak menjawab ucapan Andra. "Sayang kakek pulang ya, Jaga mama baik baik" ucap Andra kepada Devan dan langsung berlalu dari sana.
"Aku permisi" pamit Anggi dan langsung mengikuti Andra sedangkan Nana dia hanya diam seribu bahasa di kursi roda nya.
"Om" teriak Anggi. Andra menghentikan langkah kaki nya dan Anggi langsung mendekat ke arah nyaa.
"Apa yang om katakan kepada Nana? Kenapa tidak mengatakan yang sebenar nya kepada Nana?" tanya Anggi dengan wajah bingung nya menatap Andra.
"Kau pasti tau apa alasan nya tanpa om jelaskan" jawab Andra dengan senyum nya dan langsung masuk ke dalam mobil nya.
"Bagaimana aku bisa tau?" tanya Anggi kembali dengan suara yang sedikit meninggi.
"Anggi kau bersama dengan Nana bukan satu atau dua tahun melainkan sudah belasan tahun, Kau pasti tau alsan Ryhan meninggalkan Nana bersama dengan Febri, Om akan pulang" ucap Andra.
"Jalan" perintah Andra.
Sopir langsung melajukan mobil dengan kecepatan sedang menuju ke kediaman Andra. "Febri terlalu lancang dengan Nana, Mereka menipu Nana yang tidak ingat apa apa" guman Anggi.
"Ah kepala ku sedikit sakit" ucap Nana yang terus saja memegang kepala nya.
"Istirahat ya jangan banyak pikiran" ucap Febri.
"Apakah benar kau adalah suami ku?" tanya Nana dengan menatap lekat wajah Febri.
"Jelas saja iya, Kita sudah menikah empat tahun lalu dan sudah memiliki anak" jawab Febri.
"Bagaimana bisa aku di jodohkan dengan mu?" tanya Nana kembali.
"Karna kakak mu adalah teman ku, Sudah ya jangan memikirkan itu lagi nanti kepala mu tambah sakit" ucap Febri yang sudah tidak yakin untuk menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang terlontar dari mulut Nana.
"Baik" jawab Nana dan memposisikan tubuh nya untuk istirahat dengan Febri yang membantu nya.
"Kau menyuruh ku istirahat bukan karna kau mengelak untuk menjawab pertanyaan ku kan?" tanya Nana dengan menatap lekat Febri.
Febri yang nampak panik langsung tersenyum menatap wanita itu. "Jelas saja tidak, Untuk apa aku mengelak? Aku hanya takut sakit kepala mu semakin parah makanya aku menyuruh mu untuk istirahat dan nanti saat kau sudah merasa baik baik lanjutkan saja bertanya mu" jelas Febri dengan tersenyum lebar menatap wanita itu dan mendudukkan tubuh nya di sudut ranjang itu.
Nana nampak memasang wajah sedih nya menatap Febri dan Febri tau akan hal itu. "Sudah istirahatlah agar nanti kau bisa bertanya sepuas nya" ucap Febri dengan mengusap kepala wanita itu.
"Papa aku tidak lapar, Jika aku lapar aku akan keluar sendiri" jawab Weny dari dalam tanpa membuka pintu kamar nya.
"Biarpun Weny tidak pernah bercerita apapun kepada ku, Aku bisa tau jika dia menyukai Febri dan cemburu saat mendengar ucapan Febri kemarin terhadap Nana" ucap Hanah dan mendudukkan tubuh nya di atas kursi yang ada di depan kamar Weny.
"Sayang yang seharus nya kau lakukan adalah mengembalikan ingatan Nana bukan malah menyiksa diri mu seperti ini dengan berkurung di kamar, Itu tidak akan membuahkan hasil sedikit pun, Jikapun iya Nana tidak akan ingat apapun kau ikhlaskan saja Febri mungkin dia bukan jodoh mu sayang" jelas Hanah dengan menempelkan wajah nya di pintu kamar anak nya.
"Aku tidak cemburu, Aku memang tidak lapar mama dan papa tidak usah memikirkan hal itu, Jika Nana kembali mengingat seperti semula dia akan sedih, Dia kehilangan Ryhan yang paling di cintai nya aku tidak mau itu terjadi" jelas Weny pula dengan mata berbinar hingga tidak dapat lagi menahan air mata nya dan menetes dengan sendiri.
"Kau memiliki hati yang baik, Kau mengorbankan perasaan mu demi teman mu tapi mama mohon jangan mengurung diri seperti ini dan keluar ya sayang" ucap Hanah kembali mencoba membujuk anak nya yang belum juga berniat untuk keluar.
"Aku akan keluar setelah semua nya selesai" jawab Weny.
"Tapi nak......"
"Sudah biarkan saja dia sendiri beberapa menit" potong Hanah saat suami nya hendak membujuk anak nya kembali.
"Aku sedikit tidak nyaman di perhatikan seperti ini oleh nya" guman Nana.
"Nama mu Febri kan?" tanya Nana.
"Iya nama mu Febri, Kenapa kau belum istirahat juga?" tanya Febri sedangkan Zea dia mengintip di pintu kamar Nana. Nana memegang tangan Febri hingga hal tersebut membuat Febri kebingungan.
"Aku tidak memiliki perasaan apapun saat melihat nya ataupun menyentuh nya" guman Nana.
"Ada apa?" tanya Febri dengan nada sangat lembut.
"Aku tidak memiliki rasa apapun saat menyentuh mu ataupun menatap mu, Saat aku menyentuh mu juga terasa sangat asing apakah aku harus percaya kau ini adalah suami ku?" tanya Nana yang masih saja tidak percaya akan ucapan Andra tadi.
"Iya aku benar benar suami mu, Pesta akan di adakan saat kau sembuh, Pesta sudah di siapkan langsung perayaan ulang tahun Devan" jawab Febri.
"Kau tolong percaya kepada ku, Aku benar benar suami mu, Pernikahan karna perjodohan waktu itu memang tidak meninggalkan bukti apapun itu sebab nya aku tidak bisa membuktikan apapun mau itu dengan cincin pernikahan ataupun buku nikah, Kau dahulu sama sekali tidak menyukai ku makanya kita tidak mengurus semua itu namun saat kita saling mencintai kita sudah tidak memikirkan itu lagi" jelas Febri yang mencoba meyakinkan Nana yang masih ragu.
"Kenapa aku tidak yakin dengan ucapan nya? Dia sangat asing bagi ku dan malah lelaki yang meninggal kemarin terasa sangat dekat dengan ku, Apakah mereka semua membohongi ku?" guman Nana dengan wajah masih bingung menatap Febri yang nampak mencoba meyakinkan nya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.