
Ryhan langsung menutup pintu kamar itu dengan pelan dan Nana mendengar nya tapi tidak memperdulikan nya. Ryhan kembali mendudukkan tubuh nya di atas kursi sofa yang ada di ruang tengah dan menatap pintu kamar wanita nya itu. "Ini hal yang paling aku takuti saat kau kehilangan kak Rendi" guman Ryhan dan langsung membuang nafas panjang, Jujur dia sangat tidak ingin Nana menjadi pendiam dan datar sama seperti nya cukup dia saja yang bersifat seperti iru asalahkan tidak dengan Nana.
"Kembalilah bersifat seperti semula, Aku akan menjadi kak Rendi untuk mu" ucap Ryhan dengan menatap pintu kamar istri nya itu.
Drittt
Ponsel Ryhan yang terletak di atas meja berbunyi dan membuat Ryhan menoleh ke arah ponsel nya itu dan tertera nama. "Kak Ferisa" Ferisa kakak perempuan nya, Ryhan memang tiga bersaudara dan dia anak terakhir makanya dia tidak bekerja dan hanya menerima hasil dari kakak kakak nya. Ryhan langsung mengambil ponsel nya itu dan langsung mengangkat telpon dari kakak nya itu.
"Ada apa?" tanya Ryhan langsung dengan nada yang selalu datar karna sudah menjadi ciri khas nya.
"Shht anak ini, Langsung bertanya ada apa, Kau tidak rindu dengan kakak mu ini hem?" tanya Ferisa kepada adik nya itu.
Ryhan membuang nafas panjang saat mendengar ucapan kakak nya itu. "Katakan apa perlu mu, Aku sibuk" ucap Ryhan berbohong padahal dia tidak sibuk sama sekali.
"Aku merindukan mu makanya aku menghubungi mu, Minggu aku akan main ke rumah nenek sekaligus bertemu dengan Nana dan kakak nya yang tampan itu" jelas Ferisa yang memang mengenal Nana dan keluarga dan menyukai mereka karna selalu bisa membuat orang tertawa tapi tidak dengan ibu Ryhan dan kakak lelaki Ryhan yang tidak suka dengan Nana dan kakak nya akibat status Nana yang tidak jelas karna Nana tidak memiliki ibu dan drajat nya juga jauh di bawah keluarga Ryhan yang terkenal kaya hanya saja Nana belum pernah bertemu dengan ibu dan kakak lelaki Ryhan makanya dia belum sakit hati kan keluarga Ryhan dan hanya Ferisa yang selalu berkunjung dan bermain ke sana, Umur Ferisa satu bulan lebih muda dari Rendi makanya dia sedikit tertarik akan Rendi dan dia juga tidak tau akan Rendi yang sudah tiada.
"Kak Rendi sudah meninggal dan aku..." ucap Ryhan yang terpotong karna dia tidak ingin mengatakan tentang perlangsungan pernikahan nya dengan Nana Karna takut ada ibu atau Kakak lelaki nya.
"Hah? Rendi sudah meninggal? kau jangan berbohong Ryhan" ucap Ferisa yang sedikit berteriak di balik ponsel itu.
"Jika kau sedang di indonesia ke rumah lah dan langsung ke rumah Nana, Aku di rumah Nana" ucap Ryhan tanpa menjawab ucapan kakak nya itu dan langsung memutuskan telpon yang terhubung itu. Ferisa melanjutkan study nya di london makanya dia jarang bertemu dengan adik nya itu di karna kan sibuk akan kuliah nya di london tapi saat ini dia sudah berlibur makanya dia kembali ke indonesia.
"Ah anak ini" ketus Ferisa dan menatap ponsel nya yang sudah tidak terhubung panggilang dengan Ryhan adik nya.
"Aku harus ke sana" guman Ferisa dan langsung mengambil tas nya dan langsung keluar kamar dan menuruni anak tangga.
"Mau kemana kau?" tanya Merri ibu Ryhan, Ferisa dan juga Andra.
"Aku ingin keluar sebentar bertemu teman" jawab Ferisa dengan melebarkan senyuman nya dan setelah itu bersalaman dan langsung keluar dari rumah itu. Sedangkan ayahnya sedang bekerja di kantor bersama dengan Andra yang membantu. Ferisa langsung masuk ke dalam mobil nya dan langsung melajukan mobil dnegan kecepatan sedang menuju ke tempat nenek nya.
Beberapa menit dia menempuh jalanan akhirnya dia sampai di depan rumah nenek nya dan juga di depan rumah Nana dan Rendi. Ferisa melihat ada bendera kuning di halaman rumah Rendi dan Nana itu dan dia pun langsung turun dari mobil dan membuka pagar rumah itu dan masuk ke dalam pekarangan rumah itu.
Tok...tok..tok
Ferisa mengetuk pintu rumah itu dan Ryhan pun kembali beranjak berdiri dari duduk nya dan langsung membuka pintu. "Cepat sekali kau ke sini" ucap Ryhan saat melihat kakak nya yang sudah berada di hadapan nya.
"Di mana Nana? bagaimana keadaan nya? apa dia baik baik saja?" tanya Ferisa kepada adik nya itu dengan menatap lekat adik nya itu, Sungguh dia sangat hawatir akan kondisi Nana saat kepergian Rendi meskipun dia juga sedih akan Rendi yang sudh tiada.
"Dia di dalam kamar nya" jawab Ryhan dengan wajah datar nya. Ferisa tidak melanjutkan ucapan nya dan langsung menuju ke kamar Nana yang juga sudah ia ketahui di mana tempat nya. Ferisa membuka pelan pintu kamar itu supaya tidak mengganggu Nana hang kemungkinan sedang beristirahat.
Saat pintu terbuka dia melihat Nana sedang duduk di hadapan meja belajar dengan kepala yang menunduk. "Na" panggil Ferisa kepada Nana. Nana tidak menjawab atau pun menoleh ke arah suara dan masih pokus akan buku nya. Ferisa berjalan mendekat ke arah wanita itu dan melihat wajah wanita itu sama sekali tidak terlihat kesedihan tapi dia masih melihat perbedaan di wajah wanita itu. Ryhan hanya bisa melihat apa reaksi yang akan di lakukan oleh istri nya itu saat melihat kakak nya.
"Hey" ucap Ferisa lagi dan memegang dagu wanita itu untuk menatap nya. Nana langsung menoleh ke arah Ferisa, Nana menatap lekat wajah wanita itu jujur hati nya senang saat bertemu dengan Ferisa yang mengerti akan nya dan selalu menghibur nya sama seperti Rendi. Mata wanit itu nampak sedikit berair saat menatap lekat wajah Ferisa dan dia langsung membuang pandang nya dari Ferisa dan air mata yang tertahan tadi pun menetes di buku nya.
"Kakak" ucap Nana dengan senyum nya, Ryhan menatap lekat senyum yang sangat berbeda dari senyum sebelum nya sungguh itu adalah senyum paksaan supaya dia terlihat baik baik saja.
"Adikku sudah besar sekali" ucap Ferisa dan langsung memeluk Nana, Dia juga sangat merindukan wanita itu. Nana menerima pelukan itu dan membalas pelukan itu hingga dia merasa kehangatan dan kenyamanan saat berada di pelukan Ferisa sama saat dia berada di pelukan Rendi sang kakak.
"Kakak turut berduka cita atas kepergian kakak mu" ucap Ferisa dengan mengusap kepala Nana. Nana mendongakkan kepala nya dan menatap lekat wajah Ferisa dan membalas ucapan itu dengan senyuman.
"Kau sedang belajar apa? rajin sekali" ucap Ferisa dan melihat banyak buku yang terbuka dan banyak juga tulisan di dalam sana.
"Tidak seperti biasa nya" ucap Ferisa saat melihat buku buku itu sudah di isi oleh tinta pena.
"Aku bukan Nana yang pemalas seperti dulu" jawab Nana akan ucapan Ferisa itu. Ferisa menoleh ke arah wanita itu dan tersenyum mendengar jawaban itu.
"Kau menjadi lebih baik saat kakak tidak ada" ucap Ferisa, Nana yang mendengar itu langsung kembali teringat akan Rendi yang sudah tiada dan dia sudah berubah jauh lebih baik tapi Ferisa tidak berniat ingin menyinggung atau apa kepada Nana. Ryhan bisa melihat wajah yang kembali di tekuk itu dan seperti nya ucapan Ferisa tadi menyinggung hati Nana meskipun dia tau Ferisa tidak berniat ingin menyinggung Nana.
"Kak" panggil Ryhan dan itu membuat Ferisa menoleh ke arah Ryhan tapi tidak dengan Nana yang masih memikirkan ucapan Ferisa dan kembali memikirkan Rendi.
"Ada apa?" tanya Ferisa kepada adik nya itu.
"Bisa kita bicara berdua?" tanya Ryhan kepada kakak nya itu. Ferisa menatap bingung dan setelah itu dia menatap Nana yanga hanya termenung seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Kakak keluar sebentar" ucap Ferisa kepada Nana dan mengusap lembut kepada wanita itu. Nana tidak merespon nya dan Ferisa pun berlalu dari sana dan mendekat ke arah adik nya. Ryhan berjalan dan mendudukkan tubuh nya di ruang tengah begitupun dengan Ferisa yang juga duduk di hadapan Ryhan.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Ferisa kepada adik nya itu.
"Ucapan mu tadi menyinggung Nana" jawab Ryhan dengan wajah datar nya. Dahi Ferisa mengerut saat mendengar itu.
"Maksud mu?" tanya Ferisa dengan menatap lekat adik nya itu.
"Kau seharus nya tidak berbicara seperti tadi, Ucapan mu itu menyinggung hati nya dan membuat dia kembali teringat akan kak Rendi" jawab Ryhan akan pertanyaan kakak nya itu.
Ferisa masih belum mengerti akan ucapan adik nya itu dan masih memikirkan apa yang di maksud adik nya itu. "Ucapan yang mana memang nya? aku tidak menyinggung nya" ucap Ferisa dengan menatap lekat adik nya itu.
"Ucapan mu yang mengatakan dia rajin saat kakak tidak ada, Kau tau secara tidak langsung dan tidak sengaja kau mengatakan tentang kak Rendi kepada nya, Karna dia baru hari ini mulai rajin belajar saat kak Rendi tidak ada" jelas Ryhan yang nampak kesal akan kakak nya itu tapi dia tidak berbicara keras takut Nana mendengarkan nya. Ferisa memikirkan apa yang di jelaskan adik nya itu hingga dia mengerti akan penjelasan itu, Nana malas sejak dulu dan saat di tinggalkan oleh Rendi untuk selama nya dia menjadi rajin seperti sekarang saat dia melihat buku Nana yang penuh dengan pelajaran tidak seperti dulu.
"Astaga jadi dia?" tanya Ferisa dengan menatap lekat adik nya.
"Iya, dia belajar dan menulis itu hari ini" jawab Ryhan yang mulai stabil akan emosi nya.
"Bodoh sekali kau ini Ferisa salah bicara kepada Nana, Kau taukan jika Nana itu mudah tersinggung" guman Ferisa dan memukul dahi nya dan merasa bodoh sudah membuat Nana kembali bersedih.
Ryhan membuang nafas untuk memulai pembicaraan yang lain kepada kakak nya itu. "Kak" ucap Ryhan yang ingin mengatakan tentang pernikahan nya dengan Nana. Ferisa menoleh ke arah adik nya itu yang nampak serius.
"Ada apa?" tanya Ferisa.
"Aku dan Del sudah menikah" ucap Ryhan dengan memejamkan mata nya karna dia takut Kakak nya itu akan marah saat mendengar kabar itu. Mata Ferisa membulat saat mendengar itu dan mulut nya juga sedikit ternganga akibat kaget mendengar ucapan adik nya itu, Ryhan kembali membuka mata nya karna tidak mendapatkan jawaban dia pun menatap kakak nya yang sedang termenung kaget mendengar ucapan nya itu. Rasa takut mulai menyelimuti hati lelaki itu, Takut akan kakak nya yang meminta nya bercerai dengan Nana dan takut akan kakak nya yang tidak setuju dengan Nana dan takut kakak nya akan menyakiti Nana, Dan banyak lagi ketakutan yang menyelimuti hati lelaki itu. Ryhan langsung duduk dengan kaki yang di lipat dan tumit kaki yang beradu dengan bokong nya dan langsung menundukkan kepala nya di hadapan Ferisa.
"Aku mohon jangan pisahkan aku dengan nya, Aku juga mohon jngan menyakiti nya atau memarahi nya tentang pernikahan yang tiba tiba ini" ucap Ryhan yang memohon kepada kakak nya itu karna dia takut sekali jika di pisahkan dari wanita nya itu.
.
.