
"Tapi tidak apa, Aku menyukai nya" ucap Ryhan dan mengusap kepala istri nya itu dengan lembut. Ryhan memindahkan tangan nya yang di pegang eh istri nya itu dengan sangat pelan supaya tidak membangunkan wanita nya itu.
"Mari kita ulangi" ucap Ryhan dan mendekatkan kepala nya ke kepala sang istri dan langsung mencium bibir yang sudah mencium nya terlebih dahulu itu.
Ryhan yang awal nya hanya mencium biasa pun langsung menikmati bibir istri nya yang sedikit terbuka akibat perlakuan nya makanya dia menikmati nya. Dia yang awal nya tidak tau bagaimana cara berciuman pun akhirnya menikmati hal itu. Ryhan langsung tersadar akan apa yang ia lakukan itu dan langsung melepaskan ciuman nya dari sang istri di tambah lagi dia hampir kehabisan nafas akibat hal itu. Ryhan menatap istri nya yang masih tertidur nyenyak itu.
"Em" ucap Nana dan langsung membalikkan tubuh nya dan itu membuat Ryhan sedikit bergeser ke belakang. Ryhan duduk seperti biasa dan melihat apa istri nya itu bangun atau tidak tapi wanita itu tidak bangun.
"Tidur yang nyenyak" ucap Ryhan dan mencium pucuk kepala wanita itu dan kembali berbaring seperti semula. Ryhan tidak bisa tidur siang karna dia tidak terbiasa tidur siang sedangkan Nana dia sudah terbiasa. Ryhan menatap dahi nya yang ia rasa tidak terlalu panas lagi.
"Aku tidak bisa tidur" ucap Ryhan dan mencari apa saja yang bisa menghilangkan kejenuhan nya kecuali tidur. Mata Ryhan yang sedari tadi memperhatikan kamar istri nya itu pun langsung teralih kepada buku yang lumayan tebal yang terletak di atas meja belajar istri nya itu. Ryhan menggerakkan sedikit tubuh nya untuk mengambil buku itu dengan sangat pelan supaya Nana tidak terbangun. Setelah dia dapat mengambil nya dia melihat ada tulisa di halaman depan buku itu.
"Lancang sekali kau menyentuh buku ku" Seperti itu tulisan nya dan itu membuat Ryhan tersenyum dan langsung membuka buku itu.
"Jelek sekali tulisan ini, Sangat berbeda dengan tulisan nya" guman Ryhan yang sadar akan buruk nya tulisan yang ada di buku itu. Ryhan membaca tulisan itu dan itu berisi keluhan hati Nana dan hampir semua nya keluhan tentang Nana yang membenci Ryhan karna Ryhan yang membuat diri nya tidur hingga larut, Ryhan hanya tersenyum saat membaca itu dan dia yakin akan tulisan itu adalah saat Nana masih kecil. Ryhan membaca halaman demi halaman dan di setiap halaman itu tulisan nya berubah ubah hingga dia menemukan tulisan Nana yang sekarang.
"**Bodoh bukan aku?
Aku selalu menangis saat malam sedangkan siang aku selalu saja ingin bertengkar dengan Ryhan suami ku, Aku kadang juga berfikir kenapa aku selalu menangis malam kadang banyak sekali hal yang aku pikirkan dan hal yang aku takuti juga ada. Aku memiliki beberapa alasan aku menangis setiap malam nya.
Aku merindukan ayah yang sudah sangat lama tidak aku temui tapi kesedihan itu timbul saat aku kehilangan kak Rendi, Saat kak Rendi masih ada bersama ku aku baik baik saja dan malah em...seperti orang gila.
Aku merindukan kak Rendi yang dulunya selalu ada bersma ku dan menemaniku sekarang dia sudah meinggalkan ku, Jahat sekali dia meninggalkan adik kecil nya sendiri.
Satu hal lagi yang sangat paling aku takuti selain kehilangan dua orang itu. Yakni kehilangan Ryhan**."
"Hah?" ucap Ryhan saat membaca lembaran terakhir tapi dia belum selesai membaca nya.
Ryhan melanjutkan membaca nya itu.
"**Aku sangat takut kehilangan nya karna aku mencintai nya di tambah lagi ibu nya tidak merestui hubungan ku dan dia, Kasta kami berbeda, Ah terlalu banyak perbedaan dan hambatan di antara aku dan dia, Tapi aku sungguh tidak ingin kehilangan nya Tuhan aku mencintai nya.
Hah, Aku egois sekali, Dia saja tidak pernah mencintai ku dasar Nana bodoh.
Tapi aku benar takut sekali kehilangan nya, Aku sangat ingin hidup bersama dia dan membangun rumah tangga bersama nya. Seharus nya keinginan ku itu terwujud tapi aku tidak yakin akan pernikahan paksaan ini bertahan lama toh Ryhan tidak mencintai ku, Aku kan juga tidak boleh egois hanya mementingkan perasaan sendiri tanpa mementingkan perasaan Ryhan.
Wanita yang berkencan kemarin dengan nya pasti adalah kekasih nya, Jelas saja kekasih ny mereka saja berkencan bodoh.
Seperti itu lah lembaran akhir buku itu. Ryhan menutup buku itu dan menatap lekat istri nya yang tengah tertidur itu. "Apa benar dia mencintai ku?" guman Ryhan yang tidak percaya akan hal itu.
"Ah" ucap Nana yang sudah terbangun dan menggerakkan tubuh nya yang kaku itu. Ryhan masih termenung memikirkan apa yang ia baca tadi dan tidak menyadari akan Nana yang terbangun.
"Ah punggung ku" teriak Nana yang kesakitan akan itu. Ryhan langsung tersadar dan meletakkan buku tadi kembali ke tempat dan setelah itu baru dia mendekat ke arah istri nya.
"Kenapa?" tanya Ryhan.
"Punggung ku sakit sekali, Ah" ucap Nana yang ingin memutarkan punggung nya itu tapi malah kesakitan.
"Membungkuklah kembali" ucap Ryhan kepada wnaita itu, Nana tidak menjawab nya dan hanya mengikuti ucapan suami nya itu dan Ryhan pun menekan pelan punggung hingga pinggang wanita nya itu.
"Jangan terlalu keras" teriak Nana yang sangat kesakitan akan apa yang di lakukan suami nya itu. Ryhan tidak menjawab nya dan menekan kembali dengan cukup keras hingga ada bunyi patah tulang tapi itu hanya bunyi letupan seperti kita meletupkan tangan.
"Ah" teriak Nana dengan wajah merah nya akibat kesakitan akan itu. Ryhan menjauh dari tubuh wanita itu.
"Duduk lah seperti semula" ucap Ryhan dengan tubuh yng menyender di sandaran ranjang itu. Nana tidak menjawab nya dan mencoba duduk seperti semula dan tidak sakit.
"Ah tidak sakit lagi" ucap Nana dengan tersenyum menatap Ryhan sedangkan Ryhan hanya menatap datar ke arah wanita itu tanpa mengeluarkan suara apapun.
"Tulang punggung ku tidak patahkan?" tanya Nana kepada suami nya yang menatap ke sembarang arah dengan tatapan datar nya itu.
"Em" jawb Ryhan dengan wajah datar nya dan memposisikan tubuh nya untuk kembali beristirahat. Ryhan membaringkan tubuh nya dan beralih menatap membelakangi Nana.
Jderrr
Petir menyambar dan itu menandakan jika hujan akan turun, Nana melihat jam yang sudah menunjuk pukul tujuh malam. "Jemuran" ucap Nana dan langsung berlari keluar dari rumah dan mengambil seluruh pakaian yang sudah kering di halaman rumah nya itu. Untung saja hujan turun saat diri nya sudah masuk ke dalam rumah, Nana pun kembali masuk ke dalam kamar dan meletakkan seluruh pakaian yang ia ambil dari jemuran yakni pakaian milik nya dan juga Ryhan ke atas tikar yang ada di dalam kamar nya itu.
Nana kembali berdiri dari duduk nya dan langsung menuju ke dekat jendela kamar itu, Nana menutup dan mengunci jendela kamar itu. "Kau ingin makan apa?" tanya Nana sambil menutup jendela kamar nya karna takut Ryhan kedinginan.
"Apa saja" jawab Ryhan tanpa menatap istri nya itu, Nana tidak menjawab nya lagi ataupun bertanya lagi dan dia pun langsung keluar dari kamar nya dan menuju ke dapur. Nana melihat apa saja yang ada di dalam peti es atau kulkas di dapur dan terlihat hanya tersisa telur satu butir.
"Tinggal satu" guman Nana karna dia juga kelaparan karna tadi siang tidak makan karna ketiduran.
"Untuk nya saja" guman nya kembali dan langsung memasakkan nasi goreng untuk Ryhan karna hnya itu bahan yang tertinggal ingin membeli hari hujan lebat untung nya beras masih banyak dan dia bisa makan nasi goreng saja tanpa telur. Setelah selesai masak Nana memasukkan makanan tadi ke dalam piring dan meletakkan nya di dalam nampan dan setelah itu dia kembali ke kamar nya.
"Makan lah" ucap Nana dan meletakkan makanan di atas kursi yang ia duduki tadi. Ryhan mengalihkan pandang nya ke belakang karna dia lapar, Ryhan mendudukkan tubuh nya di atas ranjang itu.
"Ini" ucap Nana dan menyodorkan makanan milik Ryhan yang ada telur di atas nya. Ryhan menerima nya dan Nana pun mengambil makanan nya, Ryhan menatap piring istri nya yang hanya berisi nasi saja tanpa ada telur tidak seperti milik nya.
"Telur untuk mu?" tanya Ryhan kepada istri nya itu.
"Telur hanya tersisa satu" jawab Nana dan melahap makanan nya dengn duduk di bawah. Ryhan beranjak berdiri dari duduk nya dan duduk di hadapan istri nya itu. Ryhan memotong telur itu dan di bagi nya menjadi dua.
"Makan lah, Tidak mungkin aku menggunakan telur kau tidak" ucap Ryhan dengan wajah datar nya tanpa menatap wanita itu dengan tangan yang memasukkan telur ke dalam piring istri nya itu.