Dear D

Dear D
1. Pertama Jumpa



Dear D


Saat itu aku sangat terkejut, ketika mama dan papa tiba-tiba akan menikahkan ku dengan lelaki yang tidak ku kenal, lelaki itu adalah kamu. Dan pernikahan inilah yang menjadi awal kisah kita dimulai.


"Astagaah! Omaygat! Ampun dah! Mama sama papa gak lagi bercanda kan?" Tanya Vey yang terkejut dengan penuturan kedua orang tuanya. Bagaimana tidak? Tanpa ada petir tanpa ada hujan, tiba-tiba mereka akan menikahkan Vey. Ayolah, ini bukan lagi jaman Joseon atau Siti Nurbaya.


"Kita serius Vey, minggu depan kamu menikah" Ucap Rendra lembut, sedangkan Alika hanya mengangguk lalu tersenyum.


Mata Vey membulat sempurna, Vey baru saja lulus SMA 2 bulan yang lalu dan sekarang ia sudah harus menikah? Oh tidak, Vey tentu saja tidak mau, ia masih ingin bersenang-senang menikmati masa mudanya. "Vey gak mau, Vey masih mau seneng-seneng"


"Setelah nikah, kamu juga masih bisa seneng-seneng Vey. Kami nikahin kamu bukan buat bikin hidupmu menderita, ini semua karena mama dan papa sayang kamu Vey", Alika mengelus punggung tangan Vey, sebisa mungkin ia tetap bersikap lembut pada anak gadisnya itu, ia tidak mau terkesan terlalu memaksa karena semakin dipaksa maka semakin kekeuh juga Vey menolak. Vey itu tipe orang yang keras kepala dan susah diatur.


"Iya Vey, tolong kali ini nurut apa kata orang tua" Timpal Rendra.


"Intinya Vey gak mau!" Vey masih bersikukuh dengan keputusannya.


"Papa mohon Vey... Ini demi perusahaan kita" Ucap Rendra.


Vey kesal, jadi ini hanyalah pernikahan bisnis? Demi memperbesar perusahaan, kedua orang tuanya tega menikahkannya dengan laki-laki asing yang tidak ia kenal. Ckck Vey yakin kedua orang tuanya akan menikahkannya dengan om-om mesum. "Kalau gitu kenapa gak perusahaannya aja yang dinikahin? Kenapa harus Vey?"


"Vey, jangan keras kepala. Kita ngelakuin ini semua demi kamu" Sahut Alika.


"Vey gak mau di atur-atur gini, Vey udah gede" Vey menatap kedua orang tuanya secara bergantian. Nada bicaranya sedikit menyentak perasaan Alika.


"Berhenti mengatasnamakan Vey atas sesuatu yang sebenernya kalian lakukan buat bisnis!" Bentak Vey. Ia benar-benar tidak bisa menahan emosi nya lagi.


"Apa Vey gak pengin liat mama bahagia? Apa perlu mama mohon- mohon ke Vey?" Alika tiba-tiba terisak dalam tangis. "Mama gak nyangka Vey bisa setega itu. Mama kecewa sama Vey".


Setelah mengatakan itu Alika keluar dari kamar Vey, meninggalkan sejuta rasa bersalah pada diri Vey. Apa Vey salah telah menolak pernikahan itu? Vey hanya tidak mau menikah tanpa dasar cinta.


Dan pada akhirnya Vey memutuskan untuk menerima pernikahan itu. Semata-mata demi menebus rasa bersalahnya pada sang mama.


***


Dean Brilliand Geraldo, lelaki berwajah tampan membelah tujuh lautan itu masih terduduk di kursi kerjanya. Pikirannya sedikit kacau, tak lain karena orang tuanya secara tiba-tiba akan menikahkannya.


Dean mengscroll akun instagram @VEY_raa18, yang kata mamanya adalah akun milik wanita yang akan menikah dengannya. Dan jujur Dean merasa kecewa, bukan karena Vey tidak cantik hanya saja wanita itu sangat alay di medsos, bayangkan saja hampir setiap hari Vey mengupload foto bukan hanya sekali atau dua kali, melainkan bisa sampai lima kali dalam sehari.


"Kenapa gak Artha aja yang dinikahin? Kenapa harus gue?" Dean mematikan ponselnya, kemudian berjalan menuju sofa dan merebahkan dirinya diatas sofa.


"Bang.." Seorang lelaki tiba-tiba masuk kedalam ruangan Dean.


Dean yang baru saja akan terbawa ke alam mimpi pun mendekus kesal, ia membuka matanya, dan didapatinya sang adik yang tengah berdiri di samping sofa. "Apa?"


"Kata mama lu suruh balik, calon istri lu mau main kerumah" Ucap Artha. Lalu ia berjalan menuju kursi kerja Dean dan duduk di atasnya, kedua kakinya ia letakkan diatas meja, sesekali Artha membuka berkas-berkas milik Dean dan kembali menutupnya karena tidak mengerti dengan isi berkas-berkas itu. "Ogah amat gue kerja di perusahaan" , gumam Artha lirih namun masih bisa Dean dengar.


"Siapa yang bolehin lu duduk disitu?" Sarkas Dean. Ia lalu berdiri, merapikan kerah bajunya dan kembali mengenakan jam hitam yang sebelumnya ia lepas.


"Yaelah bang, cuma numpang duduk... pelit nya minta ampun" Cerocos Artha. Menurunkan kakinya dari meja.


"Jangankan numpang duduk, lu masuk ke ruangan aja gak gue restuin" Dean menatap sinis Artha, ia berpura-pura ketus padahal dalam hati ia sedang tertawa terbahak-bahak. Dean memang sangat senang membuat adik satu-satunya itu kesal, dan Artha sangat senang membuat Dean marah.


Bahkan Artha juga menjadi bagian dari 1 juta followers Vey, Artha juga mengkoleksi foto-foto Vey, bukan berarti Artha menyukai Vey, ia hanya mengagumi kecantikan Vey. Lebih tepatnya ia pengagum wanita-wanita cantik, tidak percaya? Cek saja galeri ponselnya.


"Vey cantik ya bang, body nya aduhai bohai, ternyata selera kita sama bang"


"BANGKE LU!" Gertak Dean seraya menarik paksa ponselnya dari tangan Artha.


"Vey emang cantik bang, haduhh cewek SMA jaman sekarang emang menggoda banget, bang Dean mau cari cewek SMA an?" Goda Artha, sedangkan Dean hanya diam untuk menutupi rasa malunya. Semenjak putus dengan Rena 3 tahun yang lalu, Dean memang tidak pernah dekat dengan wanita lagi, Dean takut untuk memulai sebuh hubungan baru.


Dean takut mempercayai seseorang lagi, ia takut mencintai seseorang lagi, ia tidak mau tersakiti untuk yang kedua kalinya.


"Kok lu kenal sama Vey?" Tanya Dean, kepo.


"Makannya jadi orang jangan gaptek, Vey itu selebgram terkenal, udah cantik bohai lagi. Siapa yang gak kenal coba? Kayaknya cuma lu doang deh bang"


Dean tidak gaptek, Dean hanya paling malas berselancar di sosmed apalagi hanya untuk mencari informasi tentang gadis-gadis cantik. Ayolah, Dean bukanlah pengangguran yang akan melakukan kegiatan tidak berguna seperti itu. "Gue gak gaptek, lu suka sama Vey?"


Artha terperanjat, apa tadi kakaknya baru saja menanyakan perasaannya? Apa Dean sedang ngelindur? Bukan apa-apa, hanya saja Dean itu orang yang cuek dan sering kali tidak peduli dengan sesuatu yang orang lain rasakan, jadi pantas saja jika Artha kaget. "Suka sih bang, tapi sadar diri aja lah, palingan dia juga kagak mau sama gue. Entar yang ada kayak beauty and the beast"


"Nah tuh sadar" Dean meraih kunci mobilnya yang tergeletak di atas meja. Kemudian berjalan keluar dari ruangan.


"Bangsatt lu bang!" Teriak Artha, kesal.


"Adik kurang ajar" Batin Dean dalam hati.


Dean sudah berada di depan rumah. Ia menghembuskan nafas kasar saat melihat mobil berwarna merah sudah terparkir didepan rumah juga, ini pasti mobil milik calon istrinya, dan jujur saja Dean belum siap untuk bertemu Vey.


"Kamu cantik banget, manis, imut....pasti Dean bakalan suka deh" Puji wanita paruh baya, namun masih terlihat cantik dan segar pada Vey.


Vey menyentuh tengkuk lehernya sendiri, "e-emm makasih tante"


"Panggil 'mama', oke? tante kan bentar lagi jadi mama kamu" Desis Hana, mamanya Dean. Lalu mengelus punggung Vey.


"Iya mama" Ucap Vey, canggung.


"Hmmm pernikahan impian Vey kayak apa?" Tanya Hana.


"Vey pengin pernikahan ala disney ma. Trus disitu Vey jadi cinderella ckck. Tapi itu cuma mimpi ma... Gak akan jadi nyata haha" Jawab Vey sambil tertawa, tentu tanpa Vey sadari jika sang calon mertua berniat untuk mewujudkannya.


"Ma aku pulang" Seorang lelaki bertubuh tinggi, berhidung mancung dengan pahatan wajah yang sempurna masuk ke dalam rumah, kemudian mencium punggung tangan Hana.


"Wah akhirnya kamu pulang juga"


Mata Vey berbinar dengan mulut yang sedikit terbuka, apa dia sedang bermimpi? Wajah lelaki itu sangat tampan, se tampan pangeran di negeri dongeng. Tubuh Vey tiba-tiba mendingin, hatinya berdesir sangat cepat saat Dean tersenyum ke arahnya, senyuman yang begitu memabukkan.


Kalau dinikahin sama cogan begini, siapa yang bisa nolak? Gadis paling keras kepala seperti Vey pun yang awalnya menolak pernikahan ini, mendadak menerimanya dengan senang hati.


"Dean" Lelaki itu mengulurkan tangannya pada Vey.


Vey menerima uluran tangan Dean. "Vey"