
"Ini pak ada yang ingin melamar menjadi pekerja paruh waktu" jawab Tina dan meminggirkan sedikit tubuh nya supaya Febri melihat Nana. Febri menatap Nana dari atas hingga bawah dengan tatapan datar nya karna memang dia terkenal datar dengan wanita dan susah untuk jatuh cinta akibat pernah di sakiti oleh mantan kekasih nya. Nana sedikit tak nyaman akan tatapan itu tapi dia berusaha tersenyum menatap lelaki itu.
"Kau boleh keluar" ucap Febri menyuruh Tina keluar, Tina mengangguk mengiyakan nya dan setelah itu dia pun langsung berlalu keluar dari ruangan itu.
"Anda yakin ingin menjadi pekerja paruh waktu di sini?" tanya Febri dengan menatap lekat wajah Nana.
"Saya yakin pak" jawab Nana mengangguk mengiyakan nya karna dia memang yakin akan itu.
"Feb" sapa Anggi saat masuk ke dalam ruangan itu. Febri menoleh ke arah suara tapi tidak dengan Nana yang masih menatap calon bos nya.
"Siapa ini?" tanya Anggi kepada Febri dan berusaha melihat siapa wanita yang ada di hadapan Febri itu.
"Nana?" ucap Anggi saat tau jika itu adalah Nana. Nana menoleh ke samping dan melihat ada Anggi.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Anggi dengan memegang pundak adik nya itu.
"Kau kenal dengan nya?" tanya Febri kepada Anggi.
"Dia adik teman ku, Sedang apa kau di sini hem?" tanya Anggi kembali kepada Nana.
"Aku sedang mencari kerja di sini" jawab Nana akan pertanyaan Anggi itu.
"Bukannya kau masih sekolah?" tanya Anggi lagi kepada adik nya itu.
"Justru aku masih sekolah aku ingin mencari uang untuk melanjutkan biaya sekolah" jawab Nana dengan tersenyum lalu menundukkan kepala nya. Febri menatap gadis yang belum ia ketahui itu dengan tatapan aneh.
"Kau masih sekolah?" tanya Febri kepada Nana. Nana mendongakkan kepala nya dan menatap ke arah Febri.
"Iya pak" jawab Nana mengiyakan nya.
"Kau yakin ingin bekerja dari jam delapan hingga jam dua belas malam?" tanya Febri lagi dengan menatap lekat wajah wnita itu.
"Iya pak saya yakin di tambah lagi saya siang kan sekolah dan hanya bisa bekerja malam" jawab Nana akan pertanyaan itu.
"Kasihan sekali kau, Tidak ada orang yang menemani hidupmu dan di umurmu yang seharus nya bersenang senang kau malah bekerja" guman Anggi yang kasihan akan Nana yang sudah ia anggap sebagai adik itu.
"Kau tinggal di rumah kakak saja, Di sana juga ada Dira yang menemani mu" ucap Anggi, Dira adalah adik sepupu nya yang menumpang hidup dengan keluarga nya bukan Dira yang kaya tapi keluarga Anggi lah yang kaya raya sedangkan Dira hanya menumpang.
"Tidak usah kak, Bagaimana apa saya di terima pak?" tanya Nana kepada Febri. Febri menatap ke arah Anggi dan Anggi langsung menganggukkan kepala nya menyetujui Nana yang ingin bekerja karna wanita itu jika sudah mengatakan tidak ya tidak. Nana sudah sangat jarang bertemu dengan Dira dan terakhir mereka bertemu saat mereka sama sama berumur lima tahun dan saat itu Dira belum mengenal Ryhan, Kedua orang tua wanita itu sudah berpisah dan pergi entah kemana dan itu membuat nya harus tinggal bersama Anggi dan keluarga dan nama nya juga sudah tercantum di dalam kartu keluarga keluarga Anggi.
"Baiklah kau boleh bekerja di sini" jawab Febri akan pertanyaan Nana. Wajah yang awal nya nampak di tekuk langsung tersenyum bahagia meskipun itu pertama kali untuk nya.
"Terima kasih pak" ucap Nana dengan senyum yang mengembang menatap Febri, Febri menatap lekat wajah wanita itu begitupun dengan Anggi yang juga ikut tersenyum melihat senyum yang sempat hilang itu.
"Datanglah sesuai jadwal mu" ucap Febri dengan wajah datar nya.
"Baik pak, Jika begitu saya permisi'' pamit Nana kepada Febri, Febri tidak menjawab ucapan wanita itu dan hanya memasang wajah datar nya.
"Aku pamit kak" pamit Nana kepada Anggi.
"Hati hati, Jika terjadi apa apa hubungi kakak" ucap Anggi dengan mengusap kepala anak itu. Nana mengangguk mengiyakan nya dengan senyum yang melebar dan setelah itu dia pun langsung berlalu dari sana dan kembali menuju ke rumah nya.
"Hey" ucap Ryhan dan menarik tangan istri nya itu. Nana yang di tarik pun menghentikan langkah kaki nya dan menoleh ke belakang. Nana langsung memasang wajah datar nya saat melihat Ryhan, Entahlah saat melihat lelaki itu Nana selalu teringat akan ucapan Merri sang ibu lelaki itu.
"Kau kenapa bisa keluar dari cafe itu?" tanya Ryhan dengan wajah datar nya menatap istri nya itu. Nana tidak menjawb nya dan masih berusaha untuk lepas dari Ryhan.
"Jawab pertanyaan ku, Apa yang kau lakukan di sana?" tanya Ryhan yang kembali mencengkram kuat tangan wanita nya itu.
"Ini urusan ku" bentak Ryhan dan untung saja di sana sepi.
"Apa..." ucap Nana yang terpotong oleh Ryhan.
"Aku ini suami mu dan kau harus meminta izin jika ingin pergi dan melakukan sesuatu, Kau tau itu ha" ketus Ryhan dan membuat Nana terdiam akan itu dan menatap lekat wajah nya dengan tatapan kesal nya.
"Pernikahan ini hanya permintaan kak Rendi bukan keinginan ku jadi kau tidak perlu ikut campur urusan ku" jawab Nana dengan nada yang tidak kalah tinggi.
"Apa yang ribut ribut itu?" tanya pekerja cafe tadi karna mereka berdiri tidak terlalu jauh dari cafe tadi.
"Apa yang Kalian lakukan?" tanya Febri dengan wajah datar nya menatap para pekerja yang menyaksikan perkelahian Nana dan juga Ryhan.
"Tapi aku ini tetap suami mu" jawab Ryhan.
"Astaga itu Nana" ucap Anggi dan langsung berlari menuju ke dekat adik nya itu.
"Kau memang suami ku tapi kau tidak perlu ikut campur urusan ku" jawab Nana dengan mata sedikit berair sungguh hati nya sakit saat mengingat kata kata mertua nya saat di rumah sakit tadi.
"Hey apa yang kau lakukan?" ketus Anggi yang belum mengenal Ryhan dan menepis tangan Ryhan yang memegang tangan Nana.
"Kau tidak apa apa?" tanya Anggi dengan menatap lekat wajah adik nya itu. Nana langsung menundukkan kepala nya karna dia takut menangis.
"Aku tidak apa apa" jawab Nana dan menatap lekat Anggi.
"Siapa kau?" tanya Ryhan dengan wajah datar nya menatap Anggi.
"Aku kakak Nana, Kau yang siapa?" ketus Anggi dan berdiri di hadapan Nana dan melindungi nya dari Ryhan.
"Ayo kita pulang" ajak Ryhan yang malas menjawab ucapan Anggi. Nana tidak menjawab nya dan kembali berlindung di belakang Anggi.
"Aku tidak mau pulang bersama nya kak" bisik Nana karna dia tidak mau mengikuti Ryhan.
"Apa nya yang tidak mau? kak Rendi menitipkan mu dengan ku, Ayo kita pulang" ajak Ryhan lagi kepada wanita nya itu.
"Apa benar itu Na?" tanya Anggi dengan menatap lekat Nana yang berdiri di belakang nya itu. Nana menundukkan kepala nya dan belum menjawab ucapan Anggi.
"Ayo kita pulang" ajak Ryhan lagi yang mencoba menggunakan kelembutan kepada istri nya itu. Nana langsung menggelengkan kepala nya menandakan jika dia tidak ingin pulang bersama dengan Ryhan. Anggi kembali menatap heran ke arah Ryhan.
"Ikut kakak saja ya?" ucap Anggi dengan menatap lekat wajah Nana. Nana langsung mengangguk mengiyakan nya tanpa menatap wajah Ryhan.
"Aku akan mengantar kan Nana pulang nanti" ucap Anggi dan langsung berlalu dari sana dan kembali masuk ke dalam cafe. Ryhan hanya menatap kepergian wanita nya itu dan juga lelaki yang belum ia ketahui siapa itu.
"Siapa dia?" guman Ryhan yang sedikit tidak yakin ingin meninggalkan istri nya itu kepada lelaki itu.
"Duduklah" ucap Anggi mempersilahkan Nana untuk duduk di atas kursi di hadapan nya. Nana tidak menjawb nya dan langsung mendudkkan tubuh nya di kursi yang ada di hadapan Anggi itu.
"Dia siapa Na?" tanya Anggi dengan menatap lekat wajah Nana.
"Dia orang yang di nikahkan oleh kak Rendi dengan ku, Dia adalah tetangga ku" jawab Nana dengan menundukkan kepala nya.
"Rendi menjodohkan kalian?" tanya Anggi yang tidak percaya. Nana langsung menganggukkan kepala nya menandakan iya perkataan Anggi itu.
"Di usia mu semuda ini?" tanya Anggi lagi yang tidak percaya akan Rendi yang menjodohkan Nana yang masih sekolah itu dengan lelaki yang belum ia ketahui siapa itu.
"Kak Rendi menyuruh nya menjaga ku, Tapi..." ucap Nana terpotong akibat ragu ingin mengatakan nya atau tidak.