Dear D

Dear D
Episode 133



"Iya? Ada apa sayang?" tanya Ryhan dengan nada lemah lembut menjawab panggilan istri nya.


Nana membalikkan tubuh nya dan menatap ke arah suami nya. "Aku merindukan rumah, Aku sudah lama tidak pulang ke rumah" ucap Nana dengan menatap dengan tatapan menginginkan hal tersebut yakni kembali ke rumah nya.


Ryhan terdiam saat melihat tatapan dari istri nya itu. "Bagaimana? Apa kau membolehkan ku kembali ke rumah atau kita bersama kembali tinggal di rumah?" tanya Nana kembali saat tidak mendapatkan jawaban dari suami nya.


"Turun dulu, Kita sudah sampai, Nanti kita membahas nya lagi" ucap Ryhan yang sudah mematikan mesin mobil akibat sudah sampai di apartemen.


"Seperti nya dia tidak setuju" guman Nana saat melihat suami nya yang sudah keluar dari mobil. Ryhan membukakan pintu untuk istri nya saat tidak melihat istri nya keluar.


"Ayo keluar, Mau di gendong?" tanya Ryhan saat melihat istri nya yang masih duduk di mobil. Nana menggelengkan kepala nya dan langsung turun dari mobil tanpa membawa apapun kecuali jas suami nya yang masih di gunakan nya untuk menutup tubuh nya yang terbuka yakni paha.


Ryhan mengambil tas, Sepatu dan barang barang milik istri nya yang ada di dalam mobil. Kedua nya langsung masuk ke dalam apartemen dan masuk ke dalam lift. Nana nampak murung sepanjang perjalanan hingga dia masuk ke dalam apartemen dan langsung masuk ke dapur untuk menyiapkan makanan untuk suami nya. "Kau tidak mau membersihkan tubuh mu dulu?" tanya Ryhan yang sudah selesai mandi.


"Makanan untuk mu lebih penting" jawab Nana dan meletakkan makanan yang sudah di masak nya di atas meja makan.


"Makan lah hingga kenyang, Aku masuk ke kamar" ucap Nana dengan senyum paksa nya dan langsung masuk ke dalam kamar nya.


Nana masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuh nya terlebih dahulu sedangkan Ryhan masih menatap ke pintu kamar nya. "Apa dia marah karna aku belum menjawab ajakan nya?" guman Ryhan.


Ryhan memilih mengalihkan pikiran nya dari istri nya terlebih dahulu dan mendudukkan tubuh nya di atas kursi dan memakan makanan yang di masakkan istri nya tadi untuk nya.


Hingga menghabiskan waktu setengah jam kedua nya berdiaman tidak melihat kegiatan satu sama lain. Ryhan sedari tadi menatap ke kamar berharap istri nya keluar, Tapi harapan nya tidak menjadi kenyataan, Istri nya sama sekali tidak melihat keluar sejak masuk ke dalam kamar. "Dia benar benar marah" guman Ryhan dan berdiri dari duduk nya. Ryhan mematikan ponsel nya yang ia mainkan dan masuk ke dalam kamar.


Saat masuk ke dalam kamar dia melihat pula istri nya baru saja keluar dari ruang ganti. "Kau sudah selesai maksn ?" tanya Nana kepada suami nya.


"Em, Kau baru selesai mandi?" tanya Ryhan.


"Seperti yang kau lihat" jawab Nana dan berjalan ke arah ranjang. Nana langsung mendudukkan tubuh nya di atas ranjang dan melepaskan sendal santai dan setelah itu merebahkan tubuh nya di atas ranjang tersebut.


Nana menatap ke arah suami nya yang juga menatap nya. Ryhan membuang nafas panjang dan ikut mendudukkan tubuh nya di samping istri nya. Nana yang melihat Ryhan duduk di atas ranjang langsung membalikkan tubuh nya membelakangi suami nya. "Kenapa kau membelakangi ku?" tanya Ryhan.


"Tidak kenapa kenapa" jawab Nana tanpa membalikkan kembali tubuh nya menatap suami nya.


Ryhan membuang nafas panjang. Dia langsung membaringkan tubuh nya dan mendekat ke arah istri nya, Ryhan langsung memeluk tubuh yang membelakangi nya. Tangan Ryhan melingkar tepat di pinggang istri nya dan tangan nya mengusap perut datar istri nya yang belum di ketahui oleh nya berisi atau tidak."Kau benar benar ingin tinggal kembali di rumah?" tanya Ryhan dengan nada rendah dan menyingkirkan rambut yang menghalangi hidung nya mencium leher wangi milik istri nya.


"Jika kau keberatan tidak apa apa, Kita tinggal di apartemen saja" jawab Nana dengan nada rendah. Dia merindukan rumah nya, Dia merindukan suasana hangat di rumah nya dan yang paling penting dia merindukan orang orang yang pernah tinggal di sekitar nya.


"Hanya saja apa?" potong Nana dengan mencoba membalikkan tubuh tapi tidak bisa.


"Hanya saja aku sedikit takut meninggalkan mu sendiri di rumah nanti nya" sambung Ryhan.


"Akukan bekerja di kantor bersama mu, Bagaimana cara nya kau meninggalkan ku di rumah?" tanya Nan yang cukup bingung akan ucapan suami nya.


"Nanti jika kau hamil tidak mungkin kau bekerja dan kau sama sekali tidak boleh bekerja makanya aku takut untuk meninggalkan mu di rumah, Di area rumah kita keamanan sangatlah tidak baik, Berbeda dari apartemen yang sangat aman" jelas Ryhan dan menenggelamkan wajah nya di leher istri nya.


"Aku saja belum hamil kau sudah berpikir sejauh itu" jawab Nana.


"Lamban laun kau pasti akan hamil dan aku yakin kau tidak akan mau meninggalkan tempat itu" balas Ryhan.


"Em kau benar, Aku ingin ke sana karna aku terpikir dengan gudang yang di larang kak Rendi siapapun memasuki nya" ucap Nana. Ryhan yang mendengar itu kembali menegapkan kepala nya dan menatap istri nya.


"Aku ingin melihat apa isi di dalam nya, Aku penasaran dan mungkin saja di dalam itu ada poto ibuku dan petunjuk mengenai ibu" ucap Nana dengan menatap suami nya yang sudah bisa ia lihat.


Ryhan terdiam dan mengingat kembali isi dari gudang itu apa pantas istri nya melihat nya atau tidak. "Tidak apa apa bukan jika menerima pemberian kakak nya dan juga ayah nya? Itu warisan bukan?" guman Ryhan hingga hal tersebut membuat Nana bingung.


"Hey kenapa kau hanya diam?" tanya Nana dengan menyenggol perut suami nya menggunakan siku nya.


"Jika kau hanya ingin melihat itu besok aku temani kau ke sana, Tapi untuk tinggal aku belum yakin apa lagi dengan keadaan sekarang" jawab Ryhan. Nana langsung memasang wajah kecewa nya saat mendengar jawaban dari suami nya.


"Tapi nanti jika aku memiliki uang, Kita akan membongakar rumah itu dan membuat nya menjadi jauh lebih aman hingga nanti aku bisa tenang melepaskan mu sendiri dengan di temani pembantu ataupun satpam" sambung Ryhan saat melihat kekecewaan di wajah istri nya.


"Rumah nenek mu kan bagus, Untuk apa lagi membangun rumah baru?" tanya Nana yang ingat akan rumah nenek yang besar, Memiliki empat lantai dan hanya di tempati oleh Ryhan dengan perlengkapan yang sangat lengkap seharus nya mereka tidak perlu lagi membongkar rumah almarhum ayah Nana dan tinggal di sana saja.


.


.


.


.


.