
"Malam" jawab Nana dengan senyum nya dan kembali melangkahkan kaki nya menuju ke dapur tapi langkah kaki nya terhenti ke kotak yang ada di atas meja ruang utama tersebut.
"Kotak apa ini? Milik Ryhan?" tanya Nana kepada bodyguard.
"Ah itu adalah brosur yang di suruh tuan kami mencetak nya tadi nona" jawab bodyguard tersebut.
"Oh baiklah saya akan ke dapur terlebih dahulu" pamit Nana dengan senyum nya dan kembali melangkahkan kaki nya menuju ke dapur.
"Eh nona" ucap pelayan saat melihat Nana datang.
"Bibi sedang memasak apa?" tanya Nana dengan melihat ke dalam taplon yang berisi makanan.
"Sedang masak makan malam nona" jawab pelayan tersebut dengan senyum nya.
"Eh nona, Anda kenapa masuk ke dapur? Kenapa tidak menunggu di meja makan saja?" tanya pelayan lain yang datang dengan membawa beberapa barang.
"Saya ingin memasak bi" jawab Nana dengan senyum nya.
"Tidak usah nona, Biarkan kami saja yang memasak" ucap pelayan yang tengah memasak tadi.
"Tapi saya ingin masak bi" balas Nana.
"Nona mohon jangan, Jika anda mengerjakan pekerjaan kami, Kami takut kami akan di pecat oleh tuan nanti" jawab pelayan tadi berharap Nana tidak ngotot untuk memasak.
"Tapi bi....."
"Kau tidak mendengar ucapan mereka tadi?" Ryhan tiba tiba bertiak kepada istri nya yang tidak mendengar ucapan pelayan yang melarang nya.
Nana dan beberapa pelayan langsung menoleh ke arah suara dan terlihat Ryhan datang. Ryhan kembali melangkahkan kaki nya dan berjalan mendekat ke arah mereka. "Kau tidak mendengar ucapan mereka tadi? Kau mau aku memecat mereka semua?" tanya Ryhan dengan wajah datar nya dan tatapan tajam menatap istri nya.
Nana menatap ke arah beberapa pelayan yang nampak menundukkan kepala akibat takut dengan Ryhan yang tidak pernah marah dan tidak pernah tersenyum kepada mereka dan hanya terus saja memasang wajah datar dan memasang tatapan tajam pula. "Tidak ayo ke meja makan" jawab Nana dan menarik tangan suami nya tersebut untuk menuju ke meja makan.
Nana memundurkan kursi dan mendudukkan tubuh suami nya di atas sana, Dengan wajah datar nya dia mendudukkan tubuh nya pula di atas tempat duduk di samping suami nya dan menatap ke sembarang arah. Pelayan yang berada di dapur langsung membawakan makanan yang sudah matang ke meja makan dan mempersiapkan seluruh nya sedangkan Nana hanya memasang wajah datar nya begitupun dengan Ryhan.
"Permisi tuan, Nona" pamit pelayan pelayan itu dan langsung berlalu meninggalkan Nana dan juga Ryhan di ruang makan.
Nana melebarkan senyum nya kepada para pelayan tersebut dan menatap ke makanan yang ada di atas meja. Wajah yang awal nya senang melihat banyak makanan langsung bersedih dan menurunkan sendok dan garpu yang ada di tangan nya.
"Tidak ada makanan lain?" tanya Nana saat tidak berselera makan makanan yang ada di atas meja.
"Kenapa? Kau tidak menyukai makanan makanan ini?" tanya Ryhan yang mendengar pertanyaan istri nya.
"Em, Tapi tidak apa apa" jawab Nana dan mengambil ayam yang ada di atas meja itu dan memakan nya dengan perlahan.
"Jika kau tidak mau makan makanan ini suruh pelayan membuatkan makanan lain untuk mu jangan di paksa" ucap Ryhan dengan mengambil piring yang berisi makanan.
"Tidak aku mau makan ini" jawab Nana dan mengambil kembali piring dan memasukkan sambal lebih banyak ke dalam piring nya tersebut.
"Hey jangan makan sambal terlalu banyak" ucap Ryhan dengan menjauhkan sambal dari istri nya yang tidak mengira makan sambal itu.
"Aku menginginkan nya" ucap Nana dengan memasang wajah memelas berharap suami nya membiarkan nya.
"Shit ini baru sedikit" umpat nya dan melahap makanan tersebut akibat malas berdebat. Ryhan meletakkan sambal tersebut kembali di hadapan nya dengan menatap tajam ke arah istri nya dan setelah itu ikut melahap makanan nya.
Keesokan hari nya.
"Sayang aku hari ini harus bekerja, Kau tidak apa apa di rumah?" tanya Ryhan kepada istri nya yang tengah duduk di meja belajar dan apa lagi pekerjaan nya jika bukan menggambar.
"Em, Aku tidak apa apa" jawab Nana dengan senyum nya menatap suami nya. Ryhan nampak sedikit kesusahan mengenakan dasi di leher nya hingga Nana yang melihat nya berdiri dari duduk nya dan berjalan mendekat ke arah suami nya tersebut.
"Jika memerlukan bantuan itu bilang" ucap Nana dengan mengambil alih dasi tersebut dari tangan suami nya dan menaikkan kerah leher dan melingkarkan dasi tersebut di leher suami nya.
"Shit kau ini tinggi sekali" umpat Nana yang sedikit kesusahan untuk memasang dasi tersebut.
"Kemari" ucap nya dan menarik dasi itu hingga hal dekat ranjang. Nana naik ke atas ranjang tersebut.
"Seperti ini baru bisa memasang dasi mu" ucap nya dan mengenakan dasi di leher suami nya dengan sedikit membungkuk akibat sedikit ketinggian.
Ryhan tersenyum melihat istri nya yang sangat memperhatikan nya dan terus saja menatap wajah cantik yang selalu di lihat nya beberapa minggu ini. Dasi yang sudah terpasang rapi di leher suami nya membuat Nana kembali membenarkan kerah baju suami nya. "Sudah" ucap Nana dengn wajah tersenyum dan tangan yang memegang bahu suami nya.
Ryhan langsung melingkarkan tangan nya di paha istri nya dan langsung menggendong wanita itu turun dengan tubuh yang masih tegap. Nana tidak melarang nya dan malah senang dengan hal tersebut tapi Ryhan tidak melepaskan nya sama sekali hingga membuat raut wajah yang awal nya senang langsung kesal.
"Kenapa kau tidak menurunkan ku?" ketus Nana dengan wajah kesal menatap suami nya tersebut.
Bukan nya menjawab Ryhan malah tersenyum dan memejamkan mata nya. Nana langsung di buat bingung akan tingkah lelaki itu dan memundurkan kepala nya tapi tidak lama tangan yang aktif langsung memukul dahi suami nya.
"Ah shit kenapa kau malah memukul ku?" tanya Ryhan.
"Kau yang kenapa tersenyum dengan mata yang terpejam hah?" ketus Nana pula.
"Kau tidak mau memberikan ku ciuman saat ingin pergi?" tanya Ryhan dengan tersenyum menggoda istri nya yang masih ia gendong itu.
"Sudah besar tidak memerlukan itu" jawab Nana dan langsung membuang pandang nya dari suami nya tersebut.
"Kenapa memang nya jika sudah besar? Bukankah itu kewajiban mu mencium ku saat hendak berangkat bekerja seperti film film kebanyakan" tanya Ryhan dengan senyum nya dan terus saja membujuk istri nya agar mencium nya.
"Tidak, ini bukan film, Cepat turunkan aku dan berangkat bekerja" jawab Nana dengan menggerakkan kaki nya agar terlepas tapi Ryhan malah semakin menaikkan gendongan nya.
"Kau benar tidak mau? Bagaimana jika ada yang memberikan ciuman nya kepada ku saat setiap aku berangkat bekerja?" tanya Ryhan dengan senyum nya kembali mencoba mengancam istri nya dengan hal tersebut.
.
.
.
.
.