
"Kakak jangan meninggalkan ku" ucap Nana dengan sedikit isakan nya dan memeluk Anggi.
"Kakak tidak akan meninggalkan mu, Tidurlah dengan nyenyak" jawab Anggi dan kembali mengusap kepala wanita itu. Ryhan hanya memperhatikan nya dan tidak berlalu dari sana karna dia takut jika Anggi macam macam kepada Nana.
Nana nampak sudah tidur nyenyak dan Anggi pun memindahkan kepala wnita itu dengan pelan ke bawah, "Jaga adikku dengan baik, Aku mempercayai mu" ucap Anggi dengan memegang bahu Ryhan dengan tersenyum lebar karna dia yakin akan Ryhan yang memang orang baik. Anggi pun langsung berlalu dari sana dan Ryhan mengikuti nya untuk menutup pintu rumah. Seteah itu dia kembali masuk ke dalam kamar istri nya, Dia menatap lekat wajah yang sedikit membengkak akibat menangis itu, Dia menjongkokkan tubuh nya di samping istri nya itu dan langsung mengusap wajah itu.
"Maafkan mama, Karna ucapan nya kau jadi sedih seperti ini" ucap Ryhan dengan mengusap wajah wanita itu.
"Tidurlah dengan nyenyak dan jangan memikirkan apa yang di ucapkan mama kepada mu" ucap Ryhan lagi dan langsung mencium pucuk kepala wanita itu. Setelah selesai mencium nya Ryhan langsung berdiri dan beranjak pergi dari kamar itu. Nana membuka mata nya karna dia tadi terbangun akibat Anggi memindahkan kepala nya.
"Bagaimana aku bisa melupakan nya, Ucapa mama mu tadi terlalu menyakitkan untukku" guman Nana yang kembali mengeluarkan air mata nya. Ryhan mendudkkan tubuh nya di tempat biasa dan menatap pintu kamar istri nya itu.
"Aku tidak menyangka mama bisa berbicara sekotor itu kepada nya" guman Ryhan.
"Ah" ucap Ryhan dan langsung memegang dada nya yang sedikit sesak akibat mengingat tangisan wnita nya di Karna kan ibu nya itu.
"Ini selalu terjadi saat dia bersedih" guman Ryhan yang merasa sesak akibat istri nya yang menangis. Ryhan kembali menatap ke dekat pintu kamar istri nya yang tertutup itu.
"Dia yakin ingin bekerja?" guman Ryhan yang mengetahui tentang niat istri nya yang ingin bekerja itu.
"Kenapa aku jadi tidak yakin akan niat nya yang ingin bekerja?" guman Ryhan lagi dengan menatap lekat pintu kamar itu.
Satu tahun kemudian
Rumah tangga Ryhan dan juga Nana seperti biasa, Tidak ada perkelahian, Pertengkaran ataupun hal semacam nya, Nana juga mulai kembali seperti dulu yang mulai ceria dan banyak bicara tapi meskipun seperti itu belajar nya tetap nomor satu di hidup nya saat ini. Pekerjaan nya juga berjalan lancar sama seperti orang pada umum nya dan Ryhan selalu menemani wanita nya itu hingga jam kerja nya selesai meskipun dia mengantuk. Hubungan mereka mungkin bisa di katakan lebih baik dari pada setahun lalu di mana Nana yang selalu marah sekarang tidak terlalu sering, Mama Ryhan juga sudah tidak terdengar lagi menghakimi Nana di telinga Ryhan entah itu benar atau tidak sedangkan Anggi dia setahun lalu selalu ada di sisi adik nya Nana dan belum mengetahui tentang Dira yang menyukai Ryhan, Sedangkan Qori dan Weny sudah perlahan melupakan orang yang mereka cintai dan mengikhlaskan nya demi kebahagiaan mereka dan malah Qori sekarang dekat dengan Yura entah dia suka atau cinta dengan Yura tidak ada yang mengetahui itu.
"Na" panggil Yura saat Nana dan juga Ryhan datang bersama. Hubungan mereka berdua mungkin belum di ketahui oleh seluruh orang tapi kedekatan Nana dan juga Ryhan sudah di ketahui oleh seluruh murid di sana tapi tidak ada yang mengetahui tentang pernikahan mereka. Nana dan Ryhan sudah sering berangkat ke sekolah bersama meskipun kadang berbeda sepeda karna mungkin Nana yang meninggalkan Ryhan begitupun saat pulang, Dan saat istirahat mereka selalu makan berdekatan dan orang orang mengira mereka hanya sepasang kekasih bukan sepasang suami istri.
"Tidak hanya menyapa, Aku sudah lama tidak menyapa mu" ucap Yura. Nana tidak menjawab nya dan hanya memasang wajah datar nya.
"Ayo kita ke kelas" ajak Yura dengan menarik tangan Nana.
"Aku ke kelas terlebih dahulu" ucap Nana kepada Ryhan. Ryhan mengangguk mengiyakan nya dan mereka berdua pun langsung berlalu dari sana dan masuk ke dalam kelas. Tempat duduk Nana masih di depan dan Ryhan ikut duduk di samping istri nya itu meskipun duduk berdua mereka berdua tetap pokus dalam belajar. Sesampai di kelas Yura langsung melihat Weny yang memang sudah datang terlebih dahulu dan dia juga melihat Qori sudah berada di tempat duduk nya.
"Yura, Nana" ucap pak Asmawi yang berada di belakang mereka.
"Ayo" ajak Yura kepada Nana, Nana pun langsung mendudkkan tubuh nya di tempat nya begitupun dengan Yura.
"Seperti biasa mari kita ke ruang praktek" ajak pak Asmawi yang tidak masuk lebih dalam ke dalam kelas itu dan hanya menyampaikan tujuan nya di dekat pintu. Nana dan yang lainnya tidak menjawab dan langsung berlalu dari sana mengikuti pak Asmawi. Mereka mengenakan baju untuk jurusan teknik dan setelah itu mereka masuk ke dalam ruang praktek yang memang akhir akhir ini sering di masuki. Ryhan yang baru saja sampai pun langsung berdiri di samping wanita nya dan memerhatikan pak Asmawi yang sedang berbicara di depan. Nana tidak memperdulikan nya dan dia hanya pokus ke pak Asmawi.
"Baik semua nya bisa di mengerti?'' tanya pak Asmawi.
"Mengerti pak" jawab seluruh murid serempak.
"Silahkan di mulai" ucap pak Asmawi. Seluruh murid menuju ke kelompok yang memang sudah di berikan sejak dahulu. Dan kelompok Nana ada Ryhan, Qori, Weny dan juga Yura di tambah Mahmud.
"Bagaimana ini?" guman Nana yang agak kebingungan menggunakan mesin itu untuk membuat aplikasi. Mereka memang di suruh praktek membuat aplikasi dan Nana yang di jadikan bagian itu bersama Ryhan. karna mereka adalah jurusan teknologi informatika makanya mencoba membuat aplikasi. Ryhan bisa melihat kesusahan dari raut Wajah wanita nya itu dan dia pun membantu nya sedangkan Qori dan yang lainnya mencoba hal lain yakni mencoba membuat sesuatu yang bermanfaat entah apa itu.
"Berbicaralah jika kesusahan" ucap Ryhan dan mengambil alih kursor yang ada di tangan wanita nya itu. Nana tidak menjawab nya dan beranjak berdiri dari duduk nya supaya Ryhan bisa duduk di kursi itu tapi Ryhan langsung memegang bahu nya dan mendudkkan tubuh Nana kembali di atas kursi.
"Jangan beranjak, Perhatikan apa yang aku kerjakan" ucap Ryhan dengan wajah datar nya dan mata menatap komputer, Nna tidak menjawab nya dan hanya memperhatikan Ryhan yang sedang menyesaikan tugas mereka. Ryhan memang selalu saja datar dari dulu hingga sekarang tidak pernah berubah sedangkan Nana tidak mempermasalahkan hal itu karna dia juga sudah mengerti dan tau bagaimana sifat Ryhan.