
"Safha" teriak Grenli yang tak lain adalah kekasih Safha. Safha menoleh ke arah lelaki itu dan mata nya langsung membulat saat melihat lelaki itu meskipun kekasih nya tapi dia malas bertemu dnegan nya karna setiap bertemu kekasih nya itu selalu meminta berhubungan dengan nya biarpun itu di sekolah sekali pun.
"Shht lelaki ini" umpat Safha kesal saat melihat kekasih nya itu.
Grenli berjalan ke arah Safha dan semua orang yang ada di depan kelas itu. "Ada apa?" tanya Safha dengan senyuman nya kepada kekasih nya itu.
"Ikut aku" ajak Grenli kepada Safha dan menarik tangan Safha berlalu dari sana, Safha tidak bisa menolak itu dan hanya mengikuti nya karna Grenli adalah sumber uang nya dan dia harus selalu menuruti ucapan lelaki itu. Grenli membawa Safha menuju ke toilet dan masuk ke dalam toilet lelaki bersama.
"Sayang kau beberapa hari ini menghindar dari ku, Aku merindukan mu" bisik Grenli tepat di telinga Safha, Safha memang beberapa hari ini menghindari lelaki itu karna kelelahan dan bosan dengan kekasih nya itu. Grenli langsung ******* bibir kekasih nya itu dan Safha hanya pasrah dan membalas hal itu, Tangan Grenli tidak hanya diam dan meremas buah dada wanita itu hingga membuat wanita itu mendesah enth karna sakit atau enak. Setelah puas dia bermain dengan bibir wanita itu mulut nya beranjak ke buah dada Safha yang cukup besar tapi kendor itu dan langsung ******* nya dan Safha kembali mengeluarkan suara desahan nya, Tangan nya menyusuri bagian bawah milik Safha dan itu sangat membuat Safha hanyut dalam kenikmatan.
Di dalam kelas.
"Kak Rendi selalu ada bersama mu, Jangan menangis" ucap Ryhan dan mengusap bahu wanita nya yang sedang menangis Karna jujur dia tidak bisa membujuk orang menangis dan hanya bisa membujuk Nana saat kecil dengan eskrim tapi Nana sekarang sudah besar dan tidak mungkin ingin di bujuk dengan eskrim.
"Apa benar?" tanya Nana dan menatap lekat lelaki yang sudah menjadi suami nya itu. Ryhan tersenyum dan langsung mengangguk mengiyakan ucapan istri nya itu.
"Jika benar di mana dia?" tanya Nana lagi dengan menatap lekat wajah lelaki itu sungguh seperti anak kecil saja Nana seperti itu.
"Kak Rendi ada di hatimu" jawab Ryhan dengan tersenyum menatap wanita itu dengan tangan yang mengusap kepala nya. Nana memejamkan mata nya dan menarik nafas panjang untuk mencoba menenangkan diri nya supaya tidak menangis lagi. Ryhan hanya menatap nya karna dia tau jika wanita nya itu sedang mencoba menenangkan diri.
"Makanlah nanti kau sakit" ucap Ryhan saat melihat wanita itu sudah tenang. Nana tidak menjawab nya dan kembali memasang wajah datar nya dan sifat asli nya yakni diam dan acuh kepada siapapun, Nana langsung melahap makanan yang di berikan Ryhan kepada nya itu dengan sangat lahap karna dia kelaparan makanya dia makan selahap itu. Ryhan tersenyum melihat wanita itu makan dengan lahap sedangkan dia tidak makan karna hanya membawa itu dan dia tidak tega ingin menghentikan istri nya yang sedang makan itu. Nana menoleh ke arah Ryhan.
"Kau tidak makan?" tanya Nana dengan menatap suami nya itu.
"Kau saja yang makan" jawab Ryhan dengan tersenyum menatap wanita itu. Nana tidak menjawab nya dan beralih menatap ke arah Ryhan.
"Kita makan bersama" ucap Nana dan menyodorkan satu sendok lagi yang ada di dalam bekal itu. Ryhan tidak menolak nya dan ikut makan bersama dengan Nana dan dia makan sedikit karna dia tau istri nya itu tengah kelaparan. Beberapa menit mereka makan akhirnya selesai, Ryhan menyodorkan minuman yang juga ia bawa tadi kepada Nana sang istri dan Nana pun meminum minuman itu dan setelah itu baru dia. Ryhan kembali ke belakang ke tempat nya karna bel masuk juga sudah berbunyi dan seluruh murid masuk ke dalam kelas itu. Nana hanya bisa memasang wajah datar nya karna sungguh dia malas bergurau lagi jika di sekolah karna itu membuang buang waktu bagi nya.
"Hem" jawab ibu itu tanpa menatap Nana dan hanya pokus ke pelajaran nya. Nana tidak melanjutkan ucapan nya lagi dan langsung berlalu keluar dari kelas nya itu dan di perhatikan oleh Qori. Nana berjalan menuju ke toilet dan masuk ke dalam toilet wanita, Dia mencuci wajah nya dan menatap lekat wajah nya yang ada di pantulan kaca itu dan sangat nampak wajah nya itu bakup akibat menangis.
"Kak Rendi akan selalu di hatimu" kata kata itu membuat nya semangat dan tersenyum menatap pantulan wajah nya dari cermin itu. Nana keluar dari toilet itu dan ingin menuju ke kelas nya tapi saat dia ingin menuju ke kelas dan melewati toilet lelaki dia mendengar suara desahan wanita di tambah lagi dengan suara seperti teput tangan, Nana mendengar nya dan tidak beranjak dari sana tapi makin lama suara itu semakin kencang dan cepat.
"Suara apa itu?" guman Nana dan berjalan menuju ke toilet lelaki, Nana melihat beberapa pintu toilet itu terbuka dan hanya satu yang terutup dan itu membuat nya mendekat ke arah pintu itu dan suara yang ia dengar tadi semakin kencang dan cepat.
"Lihat atau tidak?" guman Nana yang sedikit ragu karna takut ada kekerasan di sana.
"Ah" teriakan itu sangat jelas terdengar di telinga nya dan membuat mata nya membulat, Jujur dia tidak tau apa yang terjadi itu dan di pikiran nya hanya ada kekerasan yang terjadi bukan hal lain.
"Terima kasih sayang" suara lelaki yang mengucapkan terima kasih terdengar jelas di telinga nya dan membuat dahi nya mengerut.
"Kenapa berterima kasih?" guman Nana yang semakin bingung akan itu. Safha yang berada di dalam itu segera mencuci bekas cairan yang ada di milik nya itu begitupun dengan Grenli yang juga ikut mencuci milik nya dan setelah itu mereka kembali merapikan baju mereka yang sedikit berantakan itu dan beranjak keluar dari toilet itu.
"Nana" ucap Safha saat melihat Nana berdiri di dekat nya, Mata Nana membulat saat melihat Safha dan Grenli keluar bersamaan dari toilet itu tapi dia belum mengerti apa yang terjadi.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Safha dengan sedikit bentakan nya.
"Aku mendengar suara orang meraung makanya aku ke sini" jawab Nana dengan wajah datar nya akan pertanyaan Safha dan jawaban itu membuat Safha sedikit takut begitupun dengan Grenli yang juga sedikit ketakutan jika Nana mengadu kepada guru atau mengatakan masalah ini kepada anak anak lain.
"Aku ini" bentak Safha yang ingin menarik rambut Nana tapi dengan segera Nana yang menarik tangan wanita itu.
"Kenapa kau malah marah? aku hanya berniat ingin membantu tadi" jawab Nana dengan wajah datar nya.
"Perasaan ku kenapa jadi tidak enak?" guman Qori dnegan memegang dada nya karna Nana tidak kembali ke ruangan saat izin keluar tadi.