
Mata yang bakup dan hidung yang memerah sangat terlihat di wajah Ryhan menandakan lelaki itu baru saja menangis. Tidak ada yang berani meminta bayi yang baru datang ke dunia saat melihat raut wajah dari Ryhan. "R-Ryhan bagaimana keadaan Nana sayang?" tanya Andra yang sedikit ragu.
"Kita temui mama ya sayang" ucap Ryhan kepada anak dan melangkahkan kaki menuju ke ruangan istri nya.
"Maaf sus, Bagaimana keadaan menantu saya?" tanya Andra kepada suster yang keluar dari ruangan operasi tadi.
"Belum bisa di pastikan tuan, Namun kabar baik nya adalah cucu anda baik baik saja dan lahir dengan keadaan sehat" jawab suster tersebut.
Aoooooo
Bayi yang menangis saat ini berada di gendongan Ryhan. "Shut, Shut sayang mama akan baik baik saja tidak usah menangis ya" ucap Ryhan dengan menggoyangkan kesana kemari anak nya mencoba menenangkan nya.
"Nak biarkan mama yang menggendong cucu mama sayang" ucap Merri yang mengambil alih bayi yang belum di berikan nama itu dari Ryhan.
"Tidak." ucap Andra yang melarang istri nya untuk menggendong cucu nya membuat Ferisa semakin bingung.
"Biarkan mama saja sayang yang menggendong nya" ucap Rania pula dan mengambil alih bayi tersebut dari Ryhan dan tidak ada yang melarang nya.
"Keponakan bibi" ucap Weny dengan mencium bayi tersebut hingga membuat seluruh orang yang tidak berani berbicara saat melihat ekspresi Ryhan tadi mendekat ke arah Rania untuk melihat bayi mungil itu.
Ckleek
Pintu ruangan terbuka membuat Ryhan langsung mendekat ke arah dokter. "Bagaimana keadaan istriku?" tanya Ryhan dengan wajah yang sangat hawatir.
"Nona kehilangan banyak darah sebelum dan setelah operasi, Namun untung nya golongan darah nona mudah di dapatkan dan masih banyak stok di rumah sakit ini hingga membuat nya kembali baik baik saja" jelas dokter.
"Boleh saya masuk?" tanya Ryhan.
"Silahkan tuan" jawab dokter.
Ryhan mengambil anak nya dari Rania. "Kita bertemu mama ya sayang" ucap Ryhan dengan mencium anak itu dan membawa nya masuk ke dalam ruangan istri nya.
Ryhan berjalan mendekat ke arah wanita nya yang masih tidak sadarkan diri dengan diikuti oleh seluruh orang yang berada di luar begitupun dengan dokter. "Nak biar papa yang menggendong nya" ucap Andra dan mengambil bayi itu dari Ryhan.
Ryhan menundukkan sedikit tubuh nya dan memegang wajah pucat tersebut. "Kenapa dia belum bangun?" tanya Ryhan dengan mengusap wajah yang masih memucat itu.
"Akibat pengaruh obat membuat nona belum sadar tuan" jawab dokter.
Ryhan membuang nafas panjang. "Sayang bangun, Kau tidak ingin melihat pangeran kita?" tanya Ryhan dengan mengusap kepala wanita nya tersebut agar dia bangun namun itu tidak membuahkan hasil sedikit pun.
Mata Nana masih terpejam dan sama sekali tidak ada tanda tanda untuk bangun. "Kapan dia akan bangun?" tanya Ryhan dengan tatapan sedih menatap dokter.
"Aku belum pernah melihat Ryhan sesedih ini" guman Merri saat bisa melihat dengan sangat jelas mata yang tidak bisa berbohong itu.
"Sampai reaksi obat habis nona akan bangun" jawab dokter.
Ryhan membalikkan tubuh nya dan mendudukkan tubuh nya di samping wanita nya tersebut. Membuang nafas panjang dan setelah itu menundukkan kepala nya dengan mata terpejam dan tangan yang menggenggam tangan yang beberapa bulan ini besar namun sudah kembali normal. "Aku mohon bangunlah, Dengan kehadiran putra kecil kita seharus nya kita berbahagia tapi kenapa kau malah terbaring lemah seperti ini?" guman Ryhan dengan mengangkat kepala nya kembali dan menatap lekat mata yang masih saja terpejam.
Mata yang sama sekali tidak pernah di lihat nya mengeluarkan air mata saat ini tengah menangisi wanita yang sangat di benci oleh nya. Apakah benar mereka saling mencintai? Atau Ryhan hanya berpura pura itu yang di pikirkan Merri saat melihat anak nya yang menangis saat ini.
"Ah tapi jikapun berpura pura Ryhan tidak akan mengeluarkan air mata nya" guman Merri.
"Maaf tuan bolehkah saya mengambil tuan kecil untuk di bawa ke tempat nya?" tanya suster kepada Andra membuat Ryhan menoleh ke arah nya.
"Jaga dia baik baik, Saat istriku bangun dia akan baik baik saja seperti saat ini" ucap Ryhan dengan wajah datar nya dan kembali menatap wanita nya yang tak kunjung bangun.
"Baik tuan" jawab suster dan membawa bayi tersebut ke tempat banyak nya bayi yang baru lahir namun bayi tersebut di letakkan di tempat sedikit istimewa yang di khususkan oleh dia sendiri begitupun dengan nama yang di namakan nama Ryhan akibat belum memiliki nama.
"Ini sudah larut kalian pulanglah, Aku akan menjaga anak dan istrku" ucap Ryhan tanpa menatap banyak nya orang di samping nya.
"Baik nak, Kami akan pulang" ucap Hanah.
"Cepatlah bangun sayang, Mama mencintai mu" ucap Hanah dan mencium pucuk kepala Nana dan berlalu bersama Weny sedangkan Wuqi tidak ikut.
"Kami pamit sayang" ucap Rania pula dan berlalu bersama Weny.
"Nak..."
"Papa juga pulanglah, Aku bisa menjaga keluarga mu sendiri" potong Ryhan dengan wajah datar nya dan merapikan rambut istri nya yang tidak berantakan itu.
"Baiklah" jawab Andra dan melangkahkan kaki keluar begitupun dengan Merri yang di seret nya tanpa perdebatan di hadapan anak nya.
"Hem, Wanita cantikku bangunlah, Anak tampan mu ingin di gendong oleh mu" ucap Ryhan dengan menempelakan dahi nya di tangan istri nya sangat berharap wanita nya tersebut bangun.
"Papa, Kenapa papa menyeretku?" tanya Merri.
"Kau tidak pantas ada di dalam, Sekarang pulang" ucap Andra dan kembali menyeret istri nya tersebut keluar dari rumah sakit itu.
Nampak beberapa penjaga yang menjaga di depan ruangan bayi Ryhan dan juga Nana menundukkan tubuh saat melihat Andra melihat mereka hingga membuat Andra kembali menyeret istri nya.
"Papa kenapa seperti itu kepada mama? Apa ini semua ada hubungan nya dengan mama?" guman Ferisa yang juga menghadiri fashion week tadi.
"Sayang ayo bangun, Hiksss" Ryhan langsung menangis dengan tangan istri nya yang ada di dahi nya. Menangis saat membayangkan betapa susah perjuangan wanita nya untuk melahir tadi meskipun melahirkan dengan operasi namun hal tersebut tetaplah hampir saja menghilangkan nyawa wanita nya dan sangat di untungkan hanya tidak sadar akibat obat saja.
Sudah beberapa menit dia menangis di hadapan wanita nya hingga dia menghentikan tangis nya dan kembali menatap lekat wajah wanita nya selama istri nya belum bangun.
.
.
.
.