
Ferisa menatap kamar tersebut dan sedikit terkejut begitupun dengan Merri. "Mama, Mama melakukan rencana apa lagi? Apa mencoba memisahkan Nana dan juga Ryhan lagi?" tanya Ferisa yang mengetahui tentang ibu nya yang sudah di terima kembali oleh Ryhan.
"Tidak sayang, Mama tidak melakukan apapun" jawab Merri dengan wajah yang terlihat sangat tulus dan tidak berbohong.
Ferisa menatap tajam ibu nya tersebut mencoba melihat apakah ibu nya benar jujur atau tidak tapi dia tidak bisa membaca ekspresi ibu nya tersebut.
"Yasudah Ferisa masuk ke kamar dahulu ingin istirahat" pamit Ferisa dan kembali ke bawah mengambil koper nya dan masuk ke dalam kamar nya.
"Apakah benar mama tidak melakukan apapun?" guman Ferisa yang nampak bingung harus percaya atau tidak.
"Tapi jika mama tidak melakukan apapun bagaimana bisa papa semarah tadi?" guman nya kembali yang memikirkan apa yang terjadi beberapa bulan dia tidak berada di rumah.
"Ayo turun" ucap Ryhan dengan turun terlebih dahulu dan menggenggam tangan wanita nya hingga wanita nya tersebut turun dari mobil.
Nana menatap ke arah butik yang nampak semakin ramai saja. "Sudah tidak boleh melihat kemana mana, Ayo masuk ke dalam dan istirahat" ajak Ryhan kembali.
"Em" Nana hanya mengiyakan saja perkataan suami nya dan masuk ke dalam rumah dan setelah itu masuk ke dalam kamar untuk membersihkan tubuh nya yang sedikit berkeringat tadi.
Ryhan mengunci dengan rapat pintu kamar nya tersebut dan berjalan mendekat ke arah istri nya. Di peluk nya tubuh wanita nya tersebut dari belakang dengan hidung nya yang mencium leher wanita nya tersebut. Nana tidak menjawab ataupun melarang kelakuan suami nya tersebut akibat sudah biasa bagi nya.
"Sayang aku sudah menahan nya satu minggu ini, Apa aku boleh melakukan nya?" tanya Ryhan dengan nada sangat rendah dan mencium lebih dalam bau yang keluar dari tubuh istri nya, Tangan yang sudah merayap membuka dres yang di kenakan oleh istri nya dan saat ini sudah berada di inti.
"Hey kau jangan macam macam" ketus Nana dengan membalikkan tubuh nya akibat suami nya yang macam macam terhadap nya.
"Sebentar saja, Aku tidak akan menyakiti kalian, Aku akan melakukan nya dengan sangat perlahan nanti" ucap Ryhan dengan memasang wajah memelas nya berharap istri nya menyetujui keinginan yang sudah cukup lama di tahan nya.
"Sebentar saja ak...."
Ryhan yang mendapatkan persetujuan langsung ******* bibir yang sangat di rindukan nya itu, Dengan sentuhan yang sangat lembut akhir nya membuat istri nya menerima dan membalas perlakuan tersebut. Saat mendapatkan balasan lelaki itu mulai mengangkat tubuh wanita nya menuju ke tempat permainan yakni ranjang.
Dengan kelembutan yang sangat lembut di berikan suami nya membuat hasrat wanita itu bangkit. Menginginkan lebih dari ciuman sedangkan Ryhan dia hanya terus saja mencium nya tanpa bertindak lain. "Kau ini lama sekali" ketus Nana dengan sedikit kesal saat melepaskan ciuman nya.
"Hah? Kau..."
"Shit" Nana kembali menarik leher suami nya dan kembali mencium nya, Tidak mengizinkan suami nya untuk mengomentari keinginan nya hingga akhir nya Ryhan yang tau wanita nya juga menginginkan lebih mulai melakukan hal lebih pula, Dengan ciuman yang turun ke leher, Telinga dan setelah itu ke buah dada wanita nya membuat Nana menggeliat dan sedikit mendesah.
Setelah bermain di tubuh bagian atas Ryhan membuka seluruh benang yang melekat di tubuh wanita nya hingga tidak tersisa satupun dan mencium seluruh lekuk tubuh yang di rindukan nya tersebut. "Papa tidak akan menyakiti mu dan mama" bisik nya dengan mencium pusar wanita nya dan kembali naik untuk memulai hal yang di tahan nya.
"Ah" teriak Nana yang sedikit kesakitan saat Ryhan memasukkan milik nya di kedalam milik nya.
"Apa aku menyakiti kalian?" tanya Ryhan dengan wajah hawatir dan jika di jawab dengan iya dia akan menghentikan nya.
"Tidak, Hanya sedikit sakit saja" jawab Nana dengan wajah sedikit menahan sakit nya.
"Jika sakit kita hentikan saja" ucap Ryhan dengan masih mamsang wajah hawatir nya.
"Shit, Lebih baik jangan mengeluarkan suara apapun saat melakukan nya" umpat Nana yang sudah tau apa yang akan terjadi, Baik itu saat dia hamil ataupun tidak Ryhan selalu saja hendak menghentikan nya saat dia merasakan kesakitan.
"Kau yakin? Jika kau kesakitan tidak apa apa kita hentikan saja, Aku tidak apa apa" ucap Ryhan kembali yang tidak yakin dan tidak mau untuk menyakiti wanita nya.
"Lanjutkan saja, Aku tidak apa apa" ketus Nana kembali akibat hasrat nya yang sudah di ubun ubun sedangkan Ryhan seenak nya saja hendak menghentikan nya.
"Baiklah" jawab Ryhan dan menggoyangkan perlahan pinggul nya diikuti oleh Nana.
Kamar yang awal nya dingin seketika menjadi panas dengan pasangan suami istri itu yang bermandikan keringat melakukan hal tersebut di siang hari hingga membuat ac yang menyala pun tidak mempan untuk mendinginkan kedua nya.
Dritttt
Ponsel Nana berbunyi hingga membuat wanita itu yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung mengambil nya dan terlihat Yura yang menghubungi nya. "Halo, Ada apa?" tanya Nana dengan melepaskan handuk di kepala nya.
Ryhan keluar pula dari kamar mandi dan terlihat wanita nya tengah menelpon.
"Mama mengajak makan malam di rumah, Apa kau dan Ryhan bisa kemari?" tanya Yura.
"Siapa yang menelpon sayang?" tanya Ryhan dengan mengambil handuk yang ada di tangan wanita nya dan mengusap usapkan handuk itu di rambut basah wanita nya.
"Aku tanyakan sebentar" ucap Nana.
"Mama Yura mengajak kita makan malam di rumah nya, Apa kau mau?" tanya Nana kepada suami nya. Ryhan langsung menoleh ke arah jam yang ada di kamar tersebut.
"Jika kau mau kenapa tidak" jawab Ryhan dengan senyum nya dan melepaskan handuk dari kepala istri nya dan berlalu dari sana masuk ke dalam ruang ganti.
"Ryhan mau, Nanti kami akan ke sana" ucap Nana dengan senyum nya kepada Yura di balik telpon.
"Baiklah kami menunggu kalian" jawab Yura dengan suara terdengar senang dan langsung mematikan telpon begitupun dengan Nana.
"Kemarilah" ucap Ryhan dengan mencolokkan heardrayer ke colokan. Nana tidak menjawab nya dan mendudukkan tubuh nya di hadapan suami nya tersebut.
Ryhan langsung menghidupkan heardrayer tersebut dan memulai mengeringkan rambut nya. "Aku dengan kak Ferisa kembali ke indonesia hari ini" ucap Ryhan dengan tangan yang membuka rambut lain agar kering seluruh nya.
"Sudah sampai di indonesia?" tanya Nana.
"Entahlah, Dia belum mengabari" jawab Ryhan.
"Dia ingin kembali ke indonesia mengabari mu kapan?" tanya Nana tanpa menatap suami nya tapi mata nya hendak menatap suami nya tersebut.
.
.
.
.