
"Ke bandara xxxx pak" ucap Ryhan kepada pak sopir.
"Baik" jawab sopir. Sopir langsung melajukan mobil dengan kecepatan sedang menuju ke bandara yang di katakan oleh Ryhan. Nana membuang pandang nya dan menatap jalanan sepanjang perjalanan tanpa mengeluarkan suara ataupun menatap Ryhan sedari tadi.
Ryhan menoleh ke arah istri nya dan nampak wanita itu hanya diam dan memperhatikan jalanan yang mereka lewati saja. Dia tidak berniat untuk mengajak nya berbicara dan memilih ikut menatap jalanan yang di lewati dari arah berseberangan.
Mobil terparkir tepat di depan bandara yang mereka tuju. Ryhan membawa ongkos taxi dan keluar bersamaan dengan Nana dengan tangan kedua nya masih saja menggenggam erat tangan satu sama lain. Ryhan memegang kepala wanita supaya tidak terbentur ke mobil sedangkan sopir mengeluarkan barang barang penumpang nya. "Terima kasih pak" ucap Nana dengan sopan nya.
"Sama sama" jawab sopir. Ryhan kembali menarik tangan istri nya dan juga menyeret koper dan masuk ke dalam bandara.
Kedua nya langsung masuk ke tempat khusus. "Kau tunggu di sini jangan kemana mana" ucap Ryhan dan melepaskan tangan istri nya dan juga koper. Nana tidak menjawab nya dan mendudukkan tubuh nya di atas kursi yang ada di sana.
Ryhan nampak berbincang dengan pekerja di sana. "Ah Yura dan Weny" ucap Nana yang baru ingat dengan kedua sahabat nya. Nana langsung menelpon kedua nya bersamaan.
"Ada apa na?" Yura.
"Loh bertiga?" Weny.
"Aku dan Ryhan akan pergi berlibur ke bali, Kalian tidak mau ikut?" tanya Nana.
"Hah? Hanya kalian berdua?" tanya Weny.
"Em" Nana mengangguk mengiyakan nya.
"Kapan?" tanya Yura.
"Sekarang, Aku dan Ryhan sudah berada di bandara" jawab Nana dengan santai nya.
"Hah? Kenapa baru memberitahu nya kepada kami sekarang? Bagaimana bisa kami menyusul?" tanya Yura yang sedikit berteriak membuat kedua teman nya menjauhkan ponsel dari telinga mereka.
"Aku juga tidak tau, Ryhan saja baru pagi tadi memberitahukan nya kepada ku, Seluruh barang barang dia yang menyiapkan nya" jawab Nana.
"Kau bertelpon dengan siapa? Cepatlah kita sebentar lagi akan pergi" ucap Ryhan dengan mengambil koper.
"Sebentar" jawab Nana.
"Aku akan memberikan alamat vila yang kami tempati nanti kepada kalian, Aku matikan dulu" ucap Nana dan langsung mematikan telpon nya.
"Ayo" Ryhan kembali meraih tangan wanita itu dan membawa nya masuk ke dalam dan berjalan ke arah pesawat. Nana yang baru pertama melihat pesawat secara langsung memasang raut wajah biasa saja seperti orang yang selalu bepergian pada umum nya dan itu membuat Ryhan agak kebingungan.
"Biasa nya orang yang melihat pesawat untuk pertama kali akan takjub tapi kau malah biasa saja" ucap Ryhan.
"Aneh" ucap Ryhan dan mendudukkan tubuh nya di atas kursi paling depan. Nana tidak menjawab nya dan mendudukkan tubuh nya di samping suami nya di dekat jendela.
"Hem" Nana tidak tau akan menjawab apa dan memilih mendehem saja.
"Ponsel mu jangan lupa matikan" ucap Ryhan.
"Sudah" jawab Nana dan mengenderkan tubuh nya di sandaran kursi pesawat tersebut.
"Tanpa di beritahu dia sudah tau, Bagaimana bisa?" guman Ryhan dengan bingung nya akan tingkah istri nya. Dia tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut dan ikut menyenderkan tubuh nya di sandaran.
Nana menatap ke luar jendela pesawat tersebut dan pesawat sudah mulai terbang. "Kenapa hanya kita berdua?" tanya Nana dengan tatapan bingung nya akan suami nya padahal masih banyak lagi kursi di jet tersebut yang di kira nya adalah pesawat umum.
"Hem?" Ryhan langsung menatap ke arah istri nya.
"Tidak ada penumpang lain selain kita berdua?" tanya Nana.
"Tidak ada yang pergi ke bali hari ini menggunakan pesawat ini makanya tidak ada penumpang. Sudahlah jangan hiraukan, Sini istirahat bersama ku sebelum sampai di bali" ucap Ryhan dan menyenderkan kepala wanita nya di dada bidang nya.
Nana masih bingung akan hal tersebut tapi dia tidak terlalu memperdulikan nya dan menyenderkan tubuh nya di tubuh suami nya dan menatap ke luar jendela. "Pemandangan awan yang tidak asing padahal aku baru kali ini menaiki pesawat" ucap Nana saat melihat awan dengan jarak cukup dekat.
Ryhan yang sedang memejamkan mata pun langsung membukakan mata nya dan menatap istri nya. Bukan dapat menatap wajah nya melainkan dia tersium pucuk kepala wanita itu. "Sedikit aneh bukan?" tanya Nana dengan mendongakkan kepala nya menatap suami nya.
"Sudah aku bilang tidak usah memikirkan nya, Nikmati saja liburan kita" jawab Ryhan dan mencium pucuk kepala nya. Merasa sudah terbiasa akan suasana seperti itu meskipun jarang di lakukan tapi itu tidak membuat kedua nya merasa canggung.
Hubungan yang memang sejak kecil selalu memperhatikan satu sama lain dan mengurus satu sama lain hingga saat ini membuat kedua tidak terlalu jauh dan susah mengenali karakter satu sama lain. Ryhan yang benar benar mengenali Delina nya begitupun dengan Nana yang benar benar mengenali Ryhan nya. Hati yang sudah menyatu meskipun perasaan yang belum pasti apa cinta atau tidak tapi hubungan seperti itu sangat nyaman bagi kedua nya.
"Pantas saja tuan Andra sangat merestui hubungan kedua nya, Nona Delina seperti ini, Dia bisa merubah tuan Ryhan dan dia juga sangat dekat dengan tuan Ryhan" guman pramugari yang menyamar yang sebenar nya adalah asisten rumah tangga yang memang selalu di tugaskan untuk ikut menggantikan pramugari sesungguh nya.
"Ingin makan dan minum tuan, Ah maksud saya pak bu?" tanya pramugari tersebut.
"Kau mau makan cemilan atau minum?" tanya Ryhan kepada istri nya yang sedang bersandar di dada nya.
"Em" Nana tidak mengangguk atau apapun tapi jawaban itu menandakan iya.
Ryhan mengambil cemilan yang di bawa begitupun dengan minuman dan meletakkan nya di tempat yang ada di sana di mana letak nya di antara istri nya dan juga dia. "Terima kasih" ucap Ryhan dengan tersenyum lebar. Mengetahui siapa wanita itu membuat nya ingin tersenyum jika tidak mungkin dia tidak akan mengucapkan terima kasih. Pramugari tersebut membalas senyuman dari anak tuan nya dan berlalu dari sana.
Ryhan mengambil minuman dan meminum nya. Nana mengangkat tubuh nya dan duduk menghadap suami nya.
"Aku terbang tinggi seperti ini apa bisa bertemu ayah dan kak Rendi?" tanya Nana dengan menatap lekat wajah lelaki nya dengan mata yang nampak menghadap jawaban yang baik.