Dear D

Dear D
Episode 213



"Sama sama, Terima kasih juga sudah hadir dan bertahan hingga saat ini" ucap Nana pula dengan mencium anak nya yang ada di antara nya dan juga suami nya.


"Shit kenapa malah jadi bersedih seperti ini?" ucap Nana dan melepaskan pelukan suami nya tersebut.


"Tidak ada yang bersedih hanya saja sedang mengucapkan terima kasih sudah hadir di kehidupan satu sama lain, Iyakan sayang?" tanya Ryhan dengan mencium anak nya tersebut.


"Besok kita rayakan di panti bagaimana ulang tahun Devan?" tanya Nana.


"Bukan merayakan namun sedikit berbagi" jawab Ryhan.


"Iya iya itu, Butik juga sudah maju jadi tidak apa apa kan kita berbagi?" tanya Nana kembali.


"Jelas saja tidak apa apa" jawab Ryhan dengan senyum nya.


"Baiklah aku akan menyiapkan semua nya" jawab Nana dengan senyum nya dan mengambil ponsel nya untuk menelpon panti terdekat dan menelpon katring untuk memesan banyak makanan.


"Lihatlah mama mu dari dahulu tidak pernah lupa untuk memberikan hasil keringat nya kepada orang lain" ucap Ryhan yang mengerti betul wanita nya tersebut.


"Papa harap kau akan menjadi seperti mama mu juga yang tidak segan berbagi apapun dan tidak memilih teman nanti nya" ucap Ryhan dengan mencium anak nya yang terus saja menggoyangkan mainan sendirian.


Ryhan menggendong anak nya itu dan mendekat ke arah istri nya yang ada di jendela. "Aku ingin hidup lebih lama bersama mu" guman Ryhan dengan senyum nya menatap wanita nya yang tidak menatap nya itu.


"Sudah selesai semua jadi tinggal menunggu besok" ucap Nana dengan senyum nya.


"Istriku memiliki hati yang mulia" guman Ryhan dan mencium pucuk kepala wanita nya setelah itu langsung tersenyum menatap wanita nya tersebut.


Keesokan pagi nya.


"Semua nya sudah siap?" tanya Nana dengan Devan yang ada di dalam gendongan nya.


"Sudah nona" jawab bodyguard.


"Yasudah ayo, Kalian bawa ini dan ikuti mobil kami dari belakang" ucap Ryhan dan masuk ke dalam mobil nya yang sudah di ambil nya dari rumah ayah nya.


Ryhan langsung melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang menuju ke panti terdekat yang sudah di ketahui oleh nya. "Kau cantik sekali berhijab seperti ini" ucap Ryhan dengan senyum nya saat melihat wanita nya yang sangat cantik menggunakan hijab nya.


"Lihatlah papa mu memuji seperti ini biasa nya ada mau nya, Tapi kau tenang saja mama tidak akan mudah tergoda dengan pujian nya" ucap Nana dengan senyum nya mengadu kepada anak nya dan turun dari mobil.


Ryhan sedikit tertawa akan wanita nya yang mengadu dan ikut turun dari mobil nya. "Pak, Bu" sapa ibu panti saat melihat Ryhan dan juga Nana. Bagaimana bisa ibu panti tidak mengenali mereka, Mereka adalah donatur terbesar panti itu makanya seluruh penghuni panti mengenali mereka berdua.


"Saya dan Ryhan kemari membawakan banyak makanan" ucap Nana dengan senyum nya saat mobil yang membawakan banyak nya nasi kotak datang.


"Ini cukup merepotkan bu seharus nya tidak usah" jawab ibu panti.


"Tidak apa apa, Kemarin Devan berumur satu tahun dan kemarin juga tepat dia memanggil kami mama dan papa jadi tidak apa apa kan jika kami membawakan makanan?" tanya Nana dengan senyum nya sedangkan Devan nampak tidak nyaman dengan sekitar nya.


"Devan sudah bisa memanggil mama dan papa ya?" tanya ibu panti yang juga gemas akan anak itu.


"Iya" jawab Nana yang meniru suara anak kecil.


"Semua nya sudah selesai tuan" ucap bodyguard yang sudah selesai meletakkan seluruh makanan.


"Baiklah terima kasih" ucap Ryhan.


"Ayo kita masuk" ajak Ryhan. Nana menganggukkan kepala nya begitupun dengan ibu panti dan mereka berjalan masuk ke dalam panti tersebut.


"Kenapa ada bau asap?" guman kepala pekerja di butik itu.


"Hey siapa yang...."


"Astaga api" teriak kepala pekerja itu dan langsung berlari keluar dari butik itu.


Seluruh pekerja yang berada di rumah Ryhan langsung keluar saat mendengar teriakan dari luar.


Butik yang berisikan kain membuat api dengan sangat cepat melahap seluruh benda yang ada di dalam nya. "Cepat hubungi pemadam kebakaran" teriak salah satu bodyguard. Orang yang mendengarkan nya pun langsung menghubungi pemadam kebakaran dengan banyak nya orang lain yang ada di sana mencoba menyiram api itu dengan alat seada nya dan para pelanggan nampak menyelamatkan kendaraan mereka dan langsung pergi dari sana.


"Ah" tangan Nana tertusuk pentul saat membenarkan jilbab nya.


"Astaga sayang hati hati" ucap Ryhan dan membersihkan bekas darah yang hanya keluar sedikit itu.


"Kenapa perasaan ku jadi tidak enak seperti ini ya?" tanya Nana dengan mengulum telunjuk nya itu.


"Kenapa?" tanya Ryhan.


"Tidak ada apa apa, Cepat jalankan saja mobil nya" jawab Nana.


"Baik" jawab Ryhan dan langsung melajukan mobil dengan kecepatan sedang menuju kembali ke rumah nya.


"Tiba tiba sekali jalanan menuju ke rumah macet seperti ini" ucap Nana saat melihat banyak nya mobil di jalan masuk ke area rumah nya.


Devan yang tertidur nampak menggeliat membuat Nana menepuk sedikit bokong nya menenangkan nya. "Tunggu sebentar ya sayang, Sebentar lagi akan sampai di rumah" ucap Nana dan memeluk erat anak nya itu.


"Aku jalan kaki saja menuju ke rumah, Kasihan Devan" ucap Nana.


"Hey jangan, Ini sudah lancar kembali jalan nya" ucap Ryhan yang kembali melajukan mobil nya menuju ke kediaman nya namun mobil nya kembali terhenti saat tidak bisa menerobos mobil pemadam kebakaran yang ada tiga di dekar rumah nya.


"Apa yang terjadi?" tanya Nana dan berusaha melihat keluar namun dia tidak bisa melihat nya karna terhalang mobil pemadam kebakaran yang sangat besar.


"Asap ini dari....."


"Butik?" potong Nana saat bisa melihat asap yang keluar dari butik. Mata yang membulat dan mulut yang menganga saat ini terekspresikan sangat jelas di wajah Nana.


"Ah tidak mungkin hanya ada pemanggangan yang terbakar mungkin kan, Tidak mungkin butik, Kau jaga Devan sebentar ya aku akan turun memastikan nya" ucap Nana dan turun dari mobil itu dengan meninggalkan Devan dan juga Ryhan di mobil.


"Hah?" tubuh kecil itu langsung melemah saat melihat butik atau rumah ayah nya yang di jaga nya dengan baik dan di rawat nya selalu saat ini sudah tinggal puing puing saja. Usaha yang di bangunnya dari Nol dengan kerja keras nya sendiri hancur seketika


Kaki yang lemah dan gemetaran membuat tubuh itu langsung berlutut. "Rumah ayah" air mata yang seharus nya tidak keluar di hari bahagia langsung menetes.


"Bawa Devan ke dalam rumah" ucap Ryhan dengan memberikan anak nya kepada pelayan.


"Baik tuan" jawab pelayan. Ryhan langsung berlari dan menghampiri wanita nya.


"Sayang berdiri" ucap Ryhan dengan memegang bahu istri nya untuk membantu nya berdiri. Nana langsung menghapus air mata nya saat mendengar suara suami nya tersebut.


"Astaga, Iya ayo kita masuk ke rumah" jawab Nana yang tidak tau apa yang di katakan suami nya. Dengan tersenyum dia berjalan menuju ke rumah nya, Dengan tubuh lemah dia berjalan masuk ke dalam rumah.


Ryhan belum terlalu memikirkan tentang kebakaran itu karna istri nyalah yang terpenting saat ini. Ryhan langsung menyusul nya dan menghampiri wanita nya tersebut. "Sudah sore ya? Aku akan mandi dahulu" ucap Nana dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuh nya tanpa menangis sedikit pun.


.


.


.


.


.


.


.