Dear D

Dear D
Episode 126



"Aku masuk terlebih dahulu, Dah" ucap Nana dan melambaikan tangan nya kepada suami nya yang masih berada di dalam mobil.


"Sedikit aneh kelakuan istri ku hari ini" guman Ryhan yang sangat merasakan keanehan pada istri nya.


"Pagi" sapa Nana dengan ramah nya kepada orang orang kantor.


"Pagi" sapa balik pekerja kantor kepada Nana. Nana yang nampak ceria langsung masuk ke dalam lift. Saat membalikkan tubuh nya menatap ke depan dia langsung melihat suami nya yang mendekat ke lift.


"Sebentar tunggu aku" guman Ryhan yang berharap lift menunggu nya tapi dia tidak mau terlihat tergesa gesa.


"Tunggu" teriak Ten dari sebelah dan menahan lift menggunakan tangan nya. Ten langsung melihat Nana di dalam lift tersebut sendirian.


"Hanya kau sendiri?" tanya Ten dan masuk ke dalam lift dan berdiri di samping Nana.


Hati yang nampak panas saat melihat Ten yang tersenyum kepada istri nya dan istri nya yang juga tersenyum menatap Ten membuat Ryhan langsung masuk ke dalam lift. Wajah yang sangat kesal sangat terlihat di wajah Ryhan jika orang orang benar benar memperhatikan nya.


Ryhan langsung menyelip di antara istri nya dan juga Ten. "Tidak boleh dia berdua dengan lelaki manapun" guman Ryhan dan menatap ke arah Ten dengan tatapan kesal dan setelah itu menatap ke arah istri nya dengan tatapan tajam nya.


"Pagi pak" sapa Nana dengan senyum nya saat melihat wajah kesal suami nya.


Ryhan menatap lekat wajah istri nya. Wajah yang sedang tersenyum tepat di hadapan nya membuat hati Ryhan yang terbakar tadi kembali sejuk. "Selamat pagi" balas Ryhan dengan senyum nya.


"Bapak tidak biasa nya tersenyum dengan karyawan manapun, Tapi dengan Nana bapak nampak...."


"Ah" Nana mencubit pinggang Ten yang hendak merusak mood suami nya itu hingga membuat Ryhan tidak tau apa yang terjadi tapi curiga dan menatap tajam ke arah istri nya.


"Tidak pak, Maksud Ten bapak sangat tampan jika tersenyum seperti ini" ucap Nana dan melepaskan tangan nya yang ada di pinggang Ten. Hanya beberapa hari untuk Nana beradaptasi di kantor itu dan membuat seluruh karyawan menjadi teman nya. Tidak peduli umur nya berapa tapi yang penting seluruh karyawan adalah teman nya.


Ryhan masih saja menatap tajam ke arah nya hingga membuat Nana melototkan mata nya menatap suami nya. Ryhan tidak membalas pelototan mata istri nya dan kembali menghadap ke depan sedangkan Ten hanya diam saja.


Ting


Lift terbuka dan ketiga orang yang berada di dalam nya langsung keluar. Tempat bekerja Ten yang paling awal membuat Ten langsung mendudukkan tubuh nya di atas kursi kerja nya dan tinggallah Nana dan juga Ryhan yang sedang berjalan bersama berdua.


Nana menghentikan langkah kaki nya tepat di tempat nya yang berada di hadapan ruang suami nya sedangkan Ryhan berbelok masuk ke dalam ruangan nya. Nana mendudukkan tubuh nya di atas kursi kerja nya dan menatap sekeliling yang nampak banyak orang sedang bekerja.


Fany yang sibuk masuk ke dalam ruangan Ryhan. "Pak hari ini kita ada meating dengan klien penting dan jika kita mendapatkan kerjasama dengan klien ini maka akan untung besar kita maupun klien tersebut" ucap Fany dan menyodorkan berkas kepada Ryhan.


"Baik tidak masalah mari kita berangkat" ucap Ryhan.


"Klien yang akan ke sini pak" ucap Fany.


"Ah baiklah" jawab Ryhan dan menatap ke depan dan terlihat istri nya sedang pokus bekerja.


"Pekerjaan tidak terlalu banyak, Seluruh nya sudah aku periksa, Membosankan jika melihat komputer selalu" guman Nana dan menyandarkan tubuh nya.


Tangan nya tanpa sadar mengambil buku nya yang ada di bawah dan mengambil pulpen yang ada di samping nya. Akibat pekerjaan nya yang sudah selesai membuat Nana yang suka mencoret coret nampak mencoret buku, Entah apa yang di buat oleh nya tapi nampak nya wanita itu cukup pokus dalam menggambar.


"Pak klien sudah sampai" ucap Jony asisten pribadi nya.


"Ah baik" jawab Ryhan dan berdiri dari duduk nya. Ryhan, Jony dan juga Fany langsung keluar dari ruangan itu tanpa Ryhan yang melihat apa yang di lakukan istri nya dan terus saja melangkahkan kaki menuju ke ruang meating.


"Menjadi desainer seperti tidak terlalu buruk untukku" ucap Nana dan yang menggambar gaun di buku nya.


"Tidak terlalu buruk" ucap Nana dengan senyum nya saat melihat desain nya sendiri.


"Tapi ini belum terlalu sempurna, Lanjutkan saja" ucap Nana dan melanjutkan menggambar gaun yang ada di otak nya.


"Akhir nya waktu makan siang" ucap Ten dan menggerakkan tubuh nya yang sedikit kaku akibat terlalu lama duduk.


Ten menoleh ke arah Nana dan nampak wanita itu sedang menundukkan kepala. Ten berdiri dari duduk nya dan berjalan mendekat ke arah Nana. "Na apa yang kau tulis?" tanya Ten dan hal tersebut sontak membuat Nana langsung menutup buku nya dan menatap ke arah Ten.


"T-tidak, Aku tidak menulis apa apa" jawab Nana dengan senyum nya dan setelah itu menoleh ke depan.


"Ryhan dimana?" guman Nana saat tidak menemukan suami nya di dalam ruangan nya.


"Sudah waktu nya makan siang, Ayo kita ke kantin" ajak Ten kepada Nana.


"Ah" Nana menatap jam yang melingkar di tangan nya dan benar saja sudah jam dua belas. "Mari" Nana menerima ajakan dari Ten itu karna dia juga lapar. Mereka berdua mulai melangkahkan kaki menuju ke kantin yang berada di lantai dua sedangkan mereka berada di lantai sepuluh.


"Di mana Ryhan?" guman Nana yang cukup bingung saat tidak menemukan suami nya. Saat lift terbuka banyak nya orang yang di dalam lift langsung keluar begitupun dengan Nana dan Ten.


Mereka semua menuju ke kantin dan memesan makanan terlebih dahulu. Setelah beberapa lama mengantri akhir nya Nana mendapatkan makanan dan mendudukkan tubuh nya di atas kursi yang tidak jauh dari kaki nya berdiri.


"Terima kasih atas kepercayaan anda kepada prusahaan kami pak" ucap Ryhan dan berjabat tangan dengan klien nya.


"Sama sama pak, Saya harap ini akan berjalan dengan lancar hingga proyek selesai" jawab klien.


"Saya akan mengusahakan yang terbaik" jawab Ryhan dengan senyum nya.


"Kami mempercayai bapak, Jika begitu kami pamit" pamit klien.


Ryhan menganggukkan kepala nya. "Hati hati pak" ucap Ryhan. Klien langsung berlalu dari ruang meating dengan asisten yang mengikuti dari belakang.


"Akhir nya meating berjalan dengan lancar" ucap Ryhan yang nampak senang dan langsung melangkahkan kaki nya berlalu dari sana.


Ryhan langsung menuju ke dekat ruangan nya tapi dia sudah tidak lagi menemukan istri nya. "Mana Delina?" guman Ryhan saat tidak menemukan istri nya atau siapapun di depan ruang kerja nya.


.


.


.