Dear D

Dear D
Episode 79



Ryhan langsung menepis tangan wanita itu hingga terlepas dari tubuh nya. "Apa kau tidak sadar? Kau jalang sesungguh nya, Mulut yang tidak bisa di jaga dan mengaku ngaku menajdi kekasih ku sedangkan kau memiliki kekasih di luar bukan? Dan sekarang kenapa kau malah mengatakan wanita ku ini jalang hah?" pertanyaan dengan nada rendah dan wajah datar dari Ryhan membuat Dira terdiam.


"Kau tidak sadar hingga mengatai wanita ku?" Ryhan kembali bertanya tentang itu. Dia marah akan seluruh orang yang selalu saja mengatai istri nya jalang padahal istri nya tidak berbuat apa apa.


"Wanita mu?" tanya Qori yang nampak bingung akan ucapan Ryhan. Ryhan dan juga Nana menoleh ke arah Qori begitupun dengan Terie yang ada di samping nya.


"Sekali lagi kau berani mengatai nya jalang aku tidak akan diam lagi dan membiarkan mu tenang kau ingat?" Ryhan berbicara dengan nada rendah, Wajah yang datar membuat semua orang takut akan nya.


"Ayo kita pulang" Ryhan menarik tangan wanita nya dan berhenti tepat di dekat sepeda, Ryhan naik ke atas sepeda begitupun dengan Nana yang juga ikut naik ke atas nya di belakang.


"Pegangan" Ryhan meletakkan tangan wanita itu melingkar di pinggang nya dan setelah itu dia mulai mengayuh sepeda. Ryhan nampak masih memasang wajah nya sedangkan Nana sedari tadi menatap memperhatikan wajah yang selalu datar itu sepanjang jalan.


"Apa maksud lelaki itu mengatakan Nana adalah wanita nya?" tanya Qori dengan wajah kebingungan nya.


"Palingan wanita jalang itu adalah simpanan Ryhan" jawab Dira dengan wajah kesal nya. Qori langsung menatap tajam ke arah Dira yang mengatakan hal tersebut.


"Wanita jalang itu berani nya...."


"Kau tidak usah mengatai nya wanita jalang" Qori mencengkram dagu wanita itu dengan kuat. Rahang nya mengeras akibat tidak suka akan ucapan Dira.


"Mungkin kau yang wanita jalang bukan? Kau terlalu berani dengan Nana" Qori kembali mencengkram erat dagu wanita itu dan menatap tajam ke arah nya.


"Lepaskan" Dira langsung menepis tangan lelaki itu hingga terlepas dari dagu nya.


"Kenapa semua orang membela wanita jalang itu?" ketus Dira dengan kesal nya.


"Karna dia bukan wanita jalang seperti mu makanya semua orang membela nya dan menyayangi nya. Kau mengerti?" Qori menegaskan kata kata kau mengerti kepada Dira.


Bagaimana cara nya Nana menjadi wanita jalang atau wanita penggoda sedangkan dia tidak pernah menggoda lelaki. Hanya lelaki saja yang banyak tertarik kepada nya entah karna apa. Di katakan cantik dia sudah selalu di puji seperti itu padahal dia berusaha untuk tampil biasa saja agar lelaki tidak jatuh hati kepada nya. Goodlooking? Dia tidak pernah perawatan kemana pun dan menggunakan apapun akibat tidak mau dia terlalu cantik di mata lelaki yang tidak di sukai oleh nya berbeda dengan saat dia bersama Ryhan.


Seluruh perawatan tubuh di kenakan nya membuat nya yang sudah wangi menjadi lebih wangi begitupun dengan lipstik tapi Ryhan tidak menyukai nya dan malah mengacuhkan nya jadi semenjak itu dia berdandan.


"Menyeramkan sekali dia marah" guman Nana saat sepeda berhenti tepat di depan cafe. Ryhan berjalan masuk tapi tidak dengan Nana yang masih mematung di samping sepeda.


Saat hendak membuka pintu cafe dia sadar akan tidak ada nya yang mengikuti nya dari belakang. Dia membalikkan tubuh nya dan melihat wanita nya masih termenung di samping sepeda. "Tapi tadi dia nampak sangat membela ku" guman Nana dengan termenung menatap Ryhan.


"Apa yang terjadi dengan nya? Biasa nya dia membiarkan orang orang berbicara seperti itu kepada ku" guman nya kembali yang kebingungan akan suami nya sendiri.


"Apa jangan jangan dia..."


"Hah?" Nana nampak kebingungan akan diri nya sendiri dan menatap tajam ke arah Ryhan.


"Ayo, Kita belum makan" ucap Ryhan dan menarik tangan wanita itu. Mereka berdua masuk ke dalam cafe dan terlihat banyak pengunjung di sana. Kedua nya memilih tempat yang paling ujung tepat di dekat jendela. Nana mendudukkan tubuh nya begitupun dengan Ryhan yang juga mendudukkan tubuh nya di hadapan istri nya.


"Pesan apa yang kau mau, Aku sama dengan mu" ucap Ryhan dengan wajah datar nya dan menyenderkan tubuh nya di sandaran kursi. Mata lelaki itu beralih menatap keluar cafe tersebut, Pemandangan indah membuat nya sedikit tenang di tambah kehadiran wanita nya di hadapan nya saat ini.


"Apa salah Delina kepada banyak orang hingga banyak yang mencoba menyakiti nya ataupun berbicara buruk tentang nya" guman Ryhan dan menatap Nana yang sedang memesan makanan.


"Sudah itu saja, Terima kasih" Nana menutup kembali daftar menuju dan tersenyum menatap pelayan tadi.


"Padahal hati nya baik, Prilaku nya juga baik, Apa dia banyak memiliki kesalahan?" guman lelaki itu kembali.


Dritt


Ponsel Nana berbunyi menandakan ada yang menghubungi nya. Nana langsung mengambil ponsel nya tersebut dan mengangkat telpon dari Yura.


"Hey, Kau dimana?" tanya Yura.


"Aku sedang di luar" jawab Nana akan pertanyaan itu.


"Pantas saja aku dan Weny ke rumah mu kau tidak ada" ucap Yura.


"Kebahagiaan nampak nya juga tidak berpihak selalu kepada nya, Dia kehilangan ibu nya yang pergi entah kemana saat dia masih bayi. Kehilangan ayah nya saat balita dan saat remaja dia kehilangan kak Rendi keluarga satu satu nya yang tersisa. Orang banyak tidak berpikir tentang kebahagiaan dan hati nya hingga mudah sekali mengatakan nya ddengan perkataan buruk"


"Shit, Apa yang kau lakukan di rumah?" ucap Nana.


"Ingin menghabiskan waktu bersama mu bodoh, Satu minggu kita tidak bertemu karna Ryhan melarang" jawab Weny.


"Kalian merindukan ku? Ah senang sekali ada yang merindukan ku" ucap Nana dengan senyum nya yang nampak begitu tulus.


"Entah apa yang di pikirkan nya hingga dia selalu menutupi kesedihan nya dengan tersenyum. Apa ingin membuat orang sekitar juga ikut tersenyum? Entah benar dia sengaja menutupi luka hati dengan tersenyum atau memang hati nya yang sudah hancur dan tahan akan hinaan dan juga perkataan buruk. Aku belum tau tentang itu, Banyak harapan untukku bisa menyembuhkan hati nya tapi aku ttidak yakin akan itu, Banyak orang yang tidak menyukai aku dekat dengan nya termasuk mama"


"Ah apa yang harus aku lakukan?" Ryhan langsung menundukkan kepala nya. Tangan lelaki itu mengacak acak rambut nya. Nana yang melihat itu nampak bingung.


"Aku matikan dahulu" Nana langsung mematikan telpon dan kembali menatap Ryhan.


"Apa yang terjadi? Apa kau tidak setuju dengan pesanan ku tadi?" tanya Nana dengan wajah polos nya menatap Ryhan yang sedang menunduk itu.