
Damian masih memeluk Hanna, begitupun Hanna memeluknya dengan erat.
“Cepat katakan, apa yang terjadi? Kau menghilang begitu saja, aku sangat mengkhawatirkanmu,” ucap Damian.
Kini tangannya melepas pelukannya lalu meraih kedua tangan Hanna sambil menatapnya.
“Kau bertanya begitu seperti aku kekasihmu saja,” ucap Hanna.
“Hanna! Aku serius!” bentak Damian, yang kesal karena Hanna malah bercanda.
“Aku juga serius,” jawab Hanna.
“Ya kau kekasihku,” ucap Damian, membuat hati Hanna berbunga-bunga, wajahnya langsung memerah merasa malu.
“Jangan sok manis begitu, biasa saja,” gerutu Damian.
“Siapa yang sok manis, aku memang manis, kalau tidak manis kau tidak akan menciumku,” kata Hanna sambil tertawa, membuat Damian kesal.
“Kau tidak mau cerita? Aku serius mengkhawatirkanmu,” ucap Damian, memberengut, sambil melepaskan genggaman tangannya, menggerakkan tubunya kelain arah tidak lagi menghadap Hanna.
Gantian Hanna meraih tangannya Damian lalu digenggamnya.
“Aku bertemu ayahku, orang-orang ayahku menemukanku di mall,” kata Hanna mulai bercerita, kepalanya menunduk, tangannya memainkan jari-jarinya Damian yang besar, diukur-ukurkannya dengan jari-jari tangan yang kecil.
“Kenapa jari-jarimu sangat besar?” gumamnya.
Damian yang akan bicara jadi melihat kearah jarinya.
“Sudah jangan bicarakan jariku, apa katamu tadi, kau bertemu ayahmu?” tanya Damian, badannya kembali menghadap Hanna, menatapnya lekat-lekat.
“Iya, bertemu ibuku juga,” jawab Hanna. Damian terdiam, dia mendengarkan dengan serius.
“Terus kenapa kau kembali padaku?” tanya Damian.
“Ya tentu saja karena aku merindukanmu, aku memikirkanmu, bagaimana kau bisa tidur tanpa ku peluk? Kau masih mengigau, aku tidak bisa meninggalkanmu,” jawab Hanna. Masih menunduk sambil memainkan jari-jarinya Damian.
“Terus?” tanya Damian.
“Ayahku menginginkanku menikah lagi dengan Cristian,” jawab Hanna, membuat Damian terkejut.
“Apa?” tanyanya.
“Kau serius?” tanyanya lagi, masih menatap Hanna.
Hanna mengangguk.
“Apa jawabanmu?” tanya Damian.
Kini Hanna mengangkat kepalanya menatap Damian. Mata mereka bertemu.
“Aku tidak mau menikah dengan Cristian,” jawab Hanna.
Damian menatap wanita yang sedang menatapnya itu, tangannya menyentuh pipinya, mengusapnya lembut.
“Apa kau bilang pada orangtuamu kalau kau sudah menikah?” tanya Damian, dengan pelan.
“Tidak, aku tidak mau berbohong pada mereka,”jawab Hanna.
“Seharusnya kau mengatakannya supaya kau tidak disuruh menikah dengan Cristian lagi,” kata Damian.
“Tadi kan aku sudah bilang, aku tidak mau berbohong,” ucap Hanna.
Damianpun terdiam, begitu juga Hanna.
“Kau bisa kesini bagaimana caranya?” tanya Damian.
“Aku kabur dari rumah,” jawab Hanna.
Damian mengulurkan tangannya, menarik tubuh Hanna ke pelukannya, memeluknya dengan erat. Diapun sedang berfikir untuk menikahinya, tapi bagaimana caranya? Lalu dia melepas pelukan Hanna lagi. Ditatapnya lagi wajah gadis yang dicintainya itu.
“Kau ingin aku melamarmu pada orangtuamu?” tanya Damian.
Mendengarnya membuat Hanna terkejut. Tadinya dia berfikir akan sulit bicara dengan Damian soal melamarnya.
“Apa kau akan melakukannya?” tanya Hanna, menatap Damian.
“Tentu saja, aku akan melamarmu pada orangtuamu,” jawab Damian.
Hanna sangat terharu mendengarnya, dia tidak menyangka ternyata Damian berfikir untuk melamarnya.
“Kau serius?” tanyanya, masih tidak percaya.
“Tentu saja, aku serius,” jawab Damian, menyentuh pipi Hanna lagi dengan lembut. Mata Hanna langsung berkaca-kaca.
“Kau mau bertemu ayahku untuk melamarku?” tanya Hanna lagi, mencoba meyakinkan lagi.
Damian mengangguk dengan mantap. Melihatnya membuat Hanna semakin terharu. Pria setampan dan setajir Damian akan melamarnya, sesuatu yang tidak pernah terfikirkan olehnya. Pria itu tidak seperti pria kaya kebanyakan, Damian sangat baik dan penyayang. Butiran-butiran airmata haru mulai menetes dipipinya. Tangan Damian menghapus airmata itu.
“Bukankah harusnya kau senang, kenapa kau malah menangis?” tanya Damian.
“Aku senang mendengarnya, aku hanya terharu,” jawab Hanna, ikut menghapus airmatanya. Damian hanya tersenyum melihatnya.
Hanna kembali mentap Damian, dia tidak percaya ternyata dia tidak perlu bersusah payah untuk mengajak pria ini menikah. Hannapun langung memeluknya, mendekapnya dengan erat. Pria itu balas memeluknya.Tapi tiba-tiba Hanna melepas pelukannya.
“Ada apa?” tanya Damian, keheranan dengan reaksi Hanna yang tiba-tiba.
“Jadi kita akan menikah?” tanya Hanna dengan bersemangat.
Damian mengangguk.
“Tapi kau belum melamarku!” kata Hanna.
Damian berfikir sejenak.
“Kau benar,” ucapnya.
“Seharusnya kau melamarku ditempat yang romantis, kau bertanya Hanna apakah kau mau menikah denganku? Harusnya begitu,” kata hanna.
“Harus begitu ya?” tanya Damian seperti kebingungan.
“Iya, seperti yang di film film, bukankah itu sangat romantis?” jawab Hanna.
“Dimana tempat yang romantis? Direstaurant seafood itu bukan?” Tanya Damian.
“Ya terserah kau saja,” jawab Hanna.
“Baiklah nanti malam kita makan malam ditempat yang romantis,” kata Damian.
“Tapi jangan lupa cincinnya ya, aku mau cincin yang lebih cantik dari ini,” kata Hanna sambil memperlihatkan jarinya.
“Kenapa harus nawar-nawar segala? Terserah aku mau memberi cincinmu apa? Kalau dikasih tau kan tidak romantis lagi,” keluh Damian.
“Ya terserah saja kalau begitu,” ucap Hanna.
“Aku membeli cincin 1 gram saja ya,” kata Damian.
“Apa? Cincin 1 gram? Masa cincin 1 gram? Kecil amat, itu sih buat jari bayi,” Protes Hanna, bibirnya langsung memberengut.
“Ya tidak gitu-gitu amat dong Damian, itu sih namanya pelit. Tidak ah aku tidak mau,” ucap Hanna, mulai memberengut.
“Kalau 10 gram itu artinya ada 10 wanita jadi bukan kau satu satunya lagi,” kata Damian, bersikeras.
“Tidak ah tidak mau, masa 1 gram,” keluh Hanna lagi, wajahnya semakin ditekuk saja.
“Yang pentingkan artinya, makna dari cincin itu,” kata Damian.
“Bilang saja kau pelit, pake alasan wanita satu-satunya segala,” gerutu Hanna.
“Ya sudah, mau tidak aku lamar dengan cincin 1 gram?” tanya Damian menatap Hanna. Dalam hatinya sudah dari tadi menahan tawa melihat Hanna cemberut saja.
“Ya sudah aku mau, tidak apa-apalah 1 gram juga, tapi deposito atas namaku yang banyak ya,” kata Hanna, dengan lesu.
Damian langsung saja tertawa, dia kembali memeluk Hanna dan mencium keningnya. Wanita itu tidak tahu berapa Milyar uang yang dia keluarkan hanya dalam beberapa jam untuk mengosongkan mall itu demi menemukannya.
Beberapa saat kemudian Damian bangun, berdiri menatap Hanna yang masih duduk di tempat tidur.
“Aku mau mandi, aku mau berangkat kerja, aku masih banyak pekerjaan, nanti malam kita makan malam,” ucap Damian.
Hanna menengadah menatap pria itu, diapun tersenyum dan mengangguk.
Damian kembali mendekatkan wajahnya kearah Hanna dan mengecup keningnya lagi. Cup!
Ciuman dikening juga rasanya sangat membahagiakan. Damian tahu dia tidak akan bisa mencium bibirnya Hanna, mungkin ciuman itu tertunda sampai pernikahannya nanti.
Setelah itu Damian pergi menuju kamar mandi. Saat melewati meja rias, dia menghentikan langkahnya dan menatap cermin, melihat bayangan dirinya memakai baju tidur Tom&Jerry itu.
“Kenapa?” tanya Hanna, melongokkan kepalanya melihat Damian yang malah berdiri didepan cermin.
“Norak! Seperti anak kecil,” gerutu Damian.
“Emang Norak!” seru Hanna sambil tertawa. Damian memberengut, lalu dia berbegas menuju kamar mandi, tapi langkahnya terhenti saat Hanna memanggilnya.
“Tunggu tunggu tunggu!” Teriak Hanna sambil berlari mengejar Damian.
“Ada apa? Kau mau mandi denganku?” tanya Damian.
“Bukan, sini, sini, sini!” Hanna menarik tangan Damian yang akhirnya menuruti keinginan Hanna.
Hanna berhenti di depan cermin, begitu juga Damian.
“Kau lihat itu?” Tanya Hanna menunjuk ke cermin. Disana ada bayangan Hanna dan Damian dengan baju tidur yang samaan.
“Kenapa?” tanya Damian, menatap Hanna lewat cermin.
“Kita Norak,” jawab Hanna sambil tertawa. Damianpun jadi ikut tertawa, wanita disampingnya itu tingkahnya ada-ada saja.
“Norak, tapi aku suka,” jawab Damian, tiba-tiba sebuah ciuman menempel dipipi Hanna, ah pria itu semakin sering menciumnya, batin Hanna, tapi membuatnya semakin cinta saja.
Damian kembali menatap Hanna.
“Aku mau mandi, kalau kau mau ikut menggosok punggungku boleh,” kata Damian.
“Huuuu,” gerutu Hanna. Damianpun tersenyum, sebuah ciuman lagi dipipinya Hanna. Barulah dia pergi masuk ke kamar mandi.
Hanna menoleh ke cermin lagi, kedua tangannya memegang pipinya kanan dan kiri yang tadi Damian
cium. Ciuman-ciuman kecil itu sangat membahagiakannya. Apalagi, hemmm Damian akan melamarnya nanti malam. Tapii…masa sih cincin 1 gram, ih Damian pelit, batinnya.
Seharian ini Hanna begitu berbunga-bunga, dia sangat senang, Damian akan melamarnya. Setelah itu dia akan membawa Damian kepada orang tuanya.
*************
Pagi ini Pak Louis akan berangkat bekerja, dia terus marah-marah gara-agra Hanna kabur lagi dari rumah.
“Penjaga-penjaga itu benar-benar tidak becus, masa menjaga Hanna saja tidak bisa,” gerutu Pak Louis. Bu Astrid hanya diam saja.
Tiba-tiba terdengar suara handphone-nya berdering. Segera diambilnya ponselnya itu yang ada disakunya.
“Halo! Ada apa?” teriaknya dengan kesal.
“Ada informasi Non Hanna, pak!” jawab suara disebrang.
“Hanna? Apa maksudmu?” tanya Pak Louis.
“Ada yang laporan kalau sering melihat Non Hanna di kantor ‘Hanna Grand Lakeside’,” jawab suara di sebrang.
“Apa maksudmu? Kapan orang itu melihatnya?” tanya Pak Louis.
“Beberapa hari yang lalu,“ jawab pelapor itu.
“Beberapa hari yang lalu? Apa maksudmu? Putriku ditemukan diibukota dan kemarin sudah kabur lagi,” kata Pak Louis.
“Tapi menurut sumber sudah lama melihat Non Hanna disekitar kantor itu.”
“Disekitar kantor itu? Mungkin itu istrinya Damian,” kata Pak Louis.
“Tapi kata sumber memang non Hanna suka terlihat disekitar kantor itu,” yang menelpon tetap bersikukuh.
Pak Louis mengerutkan keningnya. Apa benar Hanna ada di sekitar kantor itu? Kalau istrinya Damian dia juga pernah bertemu. Namanya memang sama Hanna tapi masa istri Damian itu putrinya? Waktu itu dia tidak terlalu memperhatikan istri damian yang nyentrik itu, berambut berwarna dan berkacamata hitam.
“Kalau begitu, coba kau suruh orang untuk mengintai lokasi kantor itu, atau tanya-tanya, kalau benar dia Hanna, tolong difoto, apakah itu putriku atau bukan, karena kemarin putriku di temukan di ibukota,” kata Pak Louis.
“Baik Pak,” kata si penelpon, telpon pun ditutup.
“Ada apa?” tanya Bu Astrid.
“Ada yang melihat Hanna tapi beberapa hari yang lalu di sekitar kantor yang membangun real estate yang sekarang bekerjasama danganku,” jawab Pak Loius.
“Tapi kan Hanna ditemukan di ibukota,” kata Bu Astrid, menatap suaminya.
“Justru itu aku bingung. Mungkin istrinya Damian,” kata Pak Louis.
“Siapa Damian?” tanya Bu Astrid.
“Pengusaha muda dari ibukota yang membangun real estate di dareah kita,” jawab Pak Louis.
“Ooh”
“Mungkin orang itu salah lihat, istrinya Damian itu memang namanya Hanna, sekilas dia juga mirip dengan putri kita, tapi penampilannya berbeda. Istrinya Damian itu terlalu nyentrik, dia mengecat rambutnya dan memakai kacamata hitam,” jelas Pak Louis.
“Kau pernah bertemu dengannya?” tanya Bu Astrid.
“Iya, tapi aku tidak terlalu memperhatikannya. Sepertinya yang dilihat itu istrinya Damian,” kata Pak Louis.
“Lagipula kalau putri kita sudah menikah pasti dia memberitahu kita kan? Kemarin dia tidak bilang sudah menikah, hanya menyukai pria lain, itu saja,” ucap Bu Astrid.
“Iya, mungkin yang dilihat itu istrinya Damian, bukan putri kita,” jawab Pak Louis.
Bu Astrid hanya mengangguk, dia mengantar suaminya sampai teras.
************