
Hanna mulai mengiris iris lagi steaknya, dimakannya satu suap satu suap. Benar saja tidak ada cincin di dalamnya. Jadi dimana Damian menyimpan cincinnya? Wajahnya lama kelamaan yang tadinya berseri jadi cemberut.
“Kau kenapa?” tanya Damian, melihat wajah yang cantik itu berubah muram.
“Tidak apa-apa,” jawab Hanna.
“Kau menebak-nebak dimana aku menyimpan cincinnya?” tanya Damian.
“Tidak, buat apa kau memberiku cincin?” jawab Hanna dengan ketus.
“Tentu saja untuk melamarmu,” jawab Damian.
“Aku tidak percaya kau akan melamarku!” kata Hanna, menghabiskan steaknya, suapan terakhir.
Damian malah tersenyum melihat wanita di depannya itu makin cemberut saja.
“Sepertinya aku mau ke toilet,” ucap Hanna, sambil minum air putih, diapun berdiri meninggalkan Damian.
Di dalam toilet Hanna melamun, kenapa fikirannya terlalu jauh? Kenapa harus membayangkan Damian memberinya cincin dan melamarnya? Semua itu hanya hayalannya belaka. Pria itu tidak menyatakan cinta padanya, itu artinya tidak akan ada lamaran buatnya, benar-benar permikiran yang bodoh, batinnya.
Dilihatnya lagi wajah dalam cermin itu. Dia terlihat cantik dengan gaun dan perhiasan yang Damian belikan, tapi itu bukan berarti Damian menyukainya kan? Mungkin saja Damian memang sering melakukannya pada wanita-wanita lain di tempat persinggahannya jika bekerja diluar kota.
Di meja makan, Damian mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah. Disimpannya kotak itu di atas meja, ditatapnya sebentar lalu dibukanya, ada sebuah cincin yang cantik disana. Apa dia yakin untuk melamar Hanna menjadi istrinya yang sebenarnya? Tidak lagi main-main seperti sekarang ini? Bukankah dia tidak mengenal Hanna? Dimana rumahnya, siapa orangtuanya? Bukankah Hanna tidak seperti wanita yang biasa dikencaninya?
Mungkin masih banyak wanita yang lebih cantik dari Hanna,tapi wanita ini membuatnya merasa terikat, dan dia sadar dia tidak mungkin hanya mengikat wanita ini dalam sebuah perjanjian kontrak memeluk saja selama setahun. Dia tidak tega jika harus terus terusan mengikatnya dalam hubungan yang tidak jelas. Dia bisa tahu wanita ini menyukainya, meskipun Hanna tidak pernah jujur mengakuinya. Dia tahu wanita ini terluka dengan hubungan yang tidak jelas ini. Mungkin memang sudah saatnya dia melamar Hanna. Mau mencari wanita seperti apa lagi? Jika dia merasa sudah nyaman berada disamping wanita itu?
Hanna kembali menatap wajahnya di kaca. Mencoba menata kembali hatinya yang merasa sedih dan kecewa. Dihilangkannya hayalan tingginya tentang Damian. Pria itu tidak mungkin melamarnya, ini hanya kencan biasa, tidak ada yang istimwa. Hanna terus mencoba menenangkan dirinya, dan berusaha biasa saja di depan Damian.
Setelah agak lama, setelah yakin dia sudah lebih tenang, akhirnya Hanna keluar dari toilet wanita itu. Berjalan menyusuri lorong menuju ruang restaurant dimana Damian menunggunya.
Saat berjalan sendiri itu, tiba-tiba ada yang memanggilnya.
“Hanna!” panggil suara seorang laki-laki.
Deg! Jantung Hanna tiba-tiba berhenti berdetak. Di tidak mau melihat ke arah suara, dia tidak mau.
“Hanna!” panggil suara itu lagi. Terdengar langkah-langkah menghampirinya.
“Aku tahu kau Hannaku,” ucap suara itu.
Hanna terdiam tidak bicara, tangannya tiba-tiba saja menjadi gemetar, keringat dingin membasahi keningnya. Dia benar-benar tidak ingin membalikkan badannya.
“Benarkan kau Hannaku?” tanya suara itu lagi.
Hanna mencoba menguasai dirinya dan bersikap setenang mungkin, diapun berbalik dan menatap orang yang bicara padanya itu. Dia sudah menebak siapa orang itu, dia sangat hafal suaranya, teman dekatnya sedari kecil yang hampir menjadi suaminya, pria itu adalah Cristian.
Matanya bertemu dengan mata Cristian.
“Bapak Cristian?” sapanya sambil tersenyum yang dipaksakan.
Cristian balas menatapnya, dia tahu wanita itu sangat terkejut bertemu dengannya.
Setelah dari salon itu, Cristian terpaksa mengintai rumahnya Damian dengan sabar, dia mencari kesempatan supaya bisa bertemu langsung dengan Hanna dan memastikan bahwa istrinya Damian itu adalah Hannanya.
“Senang bertemu dengan anda disini. Maaf aku harus kembali ke meja, suamiku sedang menungguku,” ucap Hanna dengan formal.
“Kenapa kau meninggalkanku?” tanya Cristian.
“Maaf, aku tidak mengerti maksudmu. Maaf aku harus kembali pada suamiku,” jawab Hanna, lalu berbalik dan buru-buru meninggalkan Cristian.
Cristian hanya mematung menatapnya. Dia tahu itu adalah Hanna, Hannanya ternyata istrinya Damian. Jadi selama ini benar dugaannya, istrinya Damian adalah Hannanya, kenapa semua ini bisa terjadi? Kenapa pengantin wanitanya bisa menjadi istri orang? Ada apa ini? Apa yang sebenarnya yang telah terjadi? Kenapa Hanna tidak mau berbicara padanya dan pura-puara tidak mengenalnya dan tidak menganggapnya? Apa yang disembunyikan Hanna darinya?
Hanna berjalan dengan lesu, hatinya terasa sedih bertemu dengan Cristian, wajahnya langsung memerah dan ingin sekali menangis. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Apakah dia harus kembali pulang? Dia yakin Cristian sudah mengetahui siapa dirinya, meskipun tadi dia pura-pura mengenalnya sebagai rekan bisnis Damian. Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Tangannya terasa semakin gemetar, wajahnya pucat, dia menghampiri meja Damian dengan gugup, apakah Cristian akan menyusulnya ke meja ini?
Melihat Hanna datang, Damian kembali menyimpan kotak cincin itu ke dalam saku celannya.
“Kau sudah selesai?” tanya Damian.
“I iya,” jawab Hanna dengan gugup.
Wanita itu akan duduk, tapi karena gugup dan gemtar, tangan kanan Hanna menyenggol gelas dan membuat gelas itu terguling ke meja dan airnya tumpah. Karena kaget dengan gelas yang tumpah, Hanna mengambil gelas itu dan malah terlepas dari tangannya, jatuh ke lantai sampai pecah menimbulkan suara yang nyaring.
Hanna terkejut, ketika akan menahan gelas yang tadi akan terjatuh itu, tangan kirinya malah menyenggol lilin yang ada di meja dan lilin itu jatuh kemeja, dia buru-buru memberdirikan lilin itu dengan gugup, jangan sampai lilin itu membakar taplak meja.
“Maaf, maaf,” ucapnya dengan gugup entah pada siapa dia bicara begitu, dan Praay! Sebuah gelas terjatuh lagi, Hanna semakin panik. Diapun berjongkok dan mengumpulkan gelas-gelas pecah itu dengan tergesa-gesa dan karena tidak hati- hati, tangannya tergores pecahan kaca dan berdarah.
“Hanna! Kau kenapa?” tanya Damian, kaget melihat sikap Hanna seperti itu.
“Aku memecahkan gelasnya,” jawab Hanna dengan gugup sambil mengumpulkan pecahan gelas dilantai, tidak dirasanya perih dari luka ditangannya, darahnya menetes netes dilantai.
Damian segera bangun mendekatinya dan berjongkok.
Dilihatnya tangan Hanna berdarah darah dan dia masih mengumpulkan gelas- gelas itu, tidak menghiraukan lukanya.
“Hanna, apa yang kau lakukan? Hentikan!” teriak Damian, membuat Hanna terkejut dan tersadar. Orang orang di sekitar tampak terkejut dengan kejadian itu dan menoleh kearah mereka.
Damian menarik tangan Hanna, supaya berdiri, lalu mengambil saputangan di dalam sakunya dan melilitkan sapu tangan itu pada tangan Hanna yang terluka.
Beberapa pelayan berdatangan dengan membawa alat-alat kebersihan.
Damian melihat Hanna yang tampak kebingungan.
“Ayo kita pulang!” ajak Damian. Diambilnya tas Hanna, diselempangkan ke bahu wanita itu, dan memeluknya keluar dari restaurant itu.
Di dalam mobil Hanna tidak banyak bicara, Damian kebingungan dengan sikapnya ini, tapi dia tidak bisa berkata apa-apa, melihat kondisi Hanna yang seperti itu sepertinya dia tidak mungkin menanyainya.
Sesampainya di rumah, Satria masih ada diruang keluarga, dia heran kakaknya dan kakak iparnya pulang dengan cepat, diperhatikannya mereka menaiki tangga yang menuju kamar mereka. Seklias dia bisa melihat tangan Hanna berdarah karena terlihat dari saputangan yang berbercak merah.
Satria merasa terkejut. Apa yang terjadi? Kenapa tangan Hanna berdarah? Dan kakaknya memeluknya seperti itu?
“Maaf, aku mengacaukan makan malamnya,” ucap Hanna, saat Damian mendudukkannya di sofa.
“Tidak apa-apa. Sepertinya kau lelah. Aku obati lukamu, kau langsang istirahat ya,” kata Damian. Hanna tidak menjawab. Pria itu mengambil sebuah kotak obat dan mengoleskannya dengan obat luar juga membalutnya dengan perban.
Hanna hanya memperhatikan pria itu mengobatinya, tiba-tiba airmata menetes dipipinya, apakah sebentar lagi dia akan benar-benar berpisah dengan Damian? Kalau Cristian bicara dengan ayahnya, dan ayahnya mengajaknya pulang, apa yang akan terjadi selanjutnya? Apa yang akan dia jelaskan tentang Damian pada ayahnya? Ayahnya pasti marah dan tidak menyukai dengan semua ini. Ayahnya tidak mungkin menerima Damian, dia pasti menginginkannya kembali menikah dengan Cristian.
Damian menatapnya, Hanna buru-buru menghapus airmatanya, jangan sampai Damian melihatnya menangis.
“Ayo tidurlah,” kata Damian.
“Iya,” jawab Hanna, mengangguk.
Saat mengobati lukanya Hanna, Damian melihat kalau Hanna menangis, itu terlihat dari bayangan di kotak obat yang atasnya transparant, dengan jelas Hanna buru-buru mengusap airmatanya saat dia mendongak menatapnya.
Damian membukakan gelang ditangan Hanna juga kalung dan antingnya. Hati Hanna semakin terasa tersayat-sayat dengan perhatiannya Damian dia semakin merasa berat jika harus meninggalkannya.
Damian menyimpan perhiasan itu diatas meja.
“Ayo tidurlah,” ucapnya. Hanna hanya mengangguk dan pergi ke tempat tidur, berbaring miring supaya tidak melihat Damian.
Damian berdiri menatapnya. Dia masih keheranan apa yang sebenarnya terjadi? Diambilnya selimut, lalu diselimutkan pada tubuh Hanna. Diapun duduk di pinggir tempat tidur, menatap wanita itu. Apa yang terjadi di toilet? Apakah Hanna bertemu seseoang? Siapa? Kenapa dia terlihat sangat gugup dan cemas? Jelas terlihat dari tanganya yang gemetar sampai menyenggol gelas dan lilin yang menyebabkan tangannya berdarah. Apa yang sebenarnya terjadi?
Damian keluar kamar menekan sebuah kontak, dan menghubungi kontak itu.
“Apa ada yang melihat istriku berbicara dengan seseorang atau ada kejadian di toilet wanita? “ tanyanya pada Manager restaurant. Dia berfikir mungkin ada yang melihat suatu kejadian yang membuat Hanna berubah sikapnya.
“Maaf Pak, di toilet tidak terjadi apa-apa, semua aman-aman saja,” jawab Manager restaurant itu. Damianpun mematikan handphonenya.
“Ada apa dengan Hanna?” gumamnya, semakin penasaran. Diapun kembali masuk ke dalam kamar, dilihatnya Hanna masih berbaring, tapi dia bisa tahu kalau Hanna tidak tidur. Diapun naik ke tempat tidur.
“Kau belum tidur?” tanyanya. Hanna tidak menjawab, dia pura-pura tidur. Damian bisa menebaknya. Dipeluknya tubuh wanita yang tidur membelakanginya itu.
“Kau tidak perlu memelukku, aku yang akan memelukmu,” ucapnya. Melingkarkan tangannya ke tubuh Hanna yang berselimut.
*************
Readers, mulai ke konflik ya.., pasti pada bosan kan lebay lebayan terus.
Jangan lupa like vote dan komen