
Hanna masih menatap wajahnya di cermin. Fikirannya masih pada Cristian yang masih ada di taman belakang dengan suami palsunya. Diapun membandingkan antara Cristian dan Damian.
Kalau pada Cristian perasaan sayang adik pada kakaknya, terus bagaimana dengan perasaannya pada Damian? Dia bukan tidak ingat kalau Damian akan menciumnya di pantai. Dia hanya pura-pura menganggapnya mimpi buruk. Karena dia merasa takut untuk mengakui kalau perasaannya mulai berbeda pada Damian. Dia tidak boleh jatuh cinta pada Damian. Karena akan sakit nantinya. Dia belum benar-benar tahu seperti apa perasaan Damian padanya. Dia akan kecewa kalau ternyata Damian tidak mencintainya. Atau bagaimana kalau suatu hari dia ditemukan oleh orangtuanya dan harus kembali melanjutkan pernikahannya dengan Cristian? Sebaiknya dia memang harus menjaga hatinya dari rasa suka pada Damian.
Entah berapa lama Hanna hanya termenung menatap kaca itu. Lamunannya hilang saat seseorang membuka pintu kamarnya.
“Katamu kamu pusing, sakit, kenapa masih ada disitu, kau juga belum mengganti pakaianmu. Kau sangat aneh hari ini,” kata Damian, menatap Hanna.
“Tidak apa-apa,” jawab Hanna, kemudian menoleh pada Damian.
“Malam ini kita tes mimpi burukmu ya? Apakah kau masih mengigau atau tidak,” kata Hanna. Dalam hati Hanna sebenarnya dia tidak ingin kalau Damian sembuh karena itu artinya dia harus pergi dari kehidupan Damian. Entah kenapa dia merasa berat untuk meninggalkannya. Dia pasti akan merindukan menatap wajahnya tiap malam.
Mendengar Hanna bicara begitu, Damian terdiam. Beberapa hari belakanan ini dia memang tidak merasakan mimpi buruk, tapi dia belum tahu kalau Hanna tidak memeluknya lagi, apakah masih mengigau atau tidak. Sebenarnya dia ingin sembuh tapi itu artinya dia akan berpisah dengan Hanna, dan dia merasa berat kehilangan Hanna. Sungguh aneh perasaannya ini, tapi dia belum yakin apakah dia jatuh cinta pada Hanna atau hanya karena kebersamaan mereka saja?
“Kalau kau mau tidur duluan, tidur saja. Nanti kalau aku mau tidur, aku akan membangunkanmu,” kata Damian, kembali keluar dari kamarnya.
Malam semakin larut, Hanna mendegar suara mobil-mobil meninggalkan halaman rumah, sepertinya Cristian dan yang lainnya sudah pulang.
Damian masuk ke kamarnya, dilihatnya Hanna sedang mengotak atik hpnya sambil tiduran di sofa pavoritenya yang empuk itu.
“Kau belum tidur?” tanya Damian.
“Aku kan menunggumu tidur. Mau melihat kau mengigau atau tidak,” jawab Hanna. Damian terdiam, diapun memutar otak supaya tidak tidur malam ini. Kira-kira apa yang harus dia kerjakan? Dia takut kalau ternyata dia sudah tidak mimpi buruk lagi meskipun tidak dipeluk oleh Hanna, itu artinya Hanna akan meninggalkannya. Kalau dia rindu pada Hanna, dia akan mencarinya kemana? Dia menemukan Hanna seaka-akan muncul tiba-tiba dari perut bumi.
Akhirnya dia memilih duduk di karpet berselonjor, menonton tv, punggungnya bersandar ke sofa tempat Hanna berbaring.
“Kau belum mau tidur?” tanya Hanna pada Damian, tanpa lepas dari handphonenya.
“Belum,” jawab Damian.
“Belum mengantuk?” tanya Hanna.
“Belum,” jawab Damian.
“Kalau kau mau tidur, tidur saja,” lanjut Damian.
“Tidak,” jawab Hanna, tanpa menoleh.
Damian memindah mindah chanel tv, ada film kartun Tom Jerry. Di film itu si Tom sangat mengantuk tapi disuruh berjaga makanan oleh majikannya jangan sampai dimakan si Jerry. Supaya tidak dipukul majikannya dan dia tidak kelihatan tertidur. Si Tom mengganjal kelopak matanya dengan korek api supaya matanya terbuka terus.
Damian menggaruk-garuk kepalanya, masa dia harus melakukan seperti si Tom, mengganjal matanya dengan korek api?
“Kau masih belum mengantuk? Kenapa kau menonton kartun?” tanya Hanna, merasa aneh Damian malah menonton kartun, diapun jadi ikutan menonton.
“Belum,” jawab Damian. Padahal sebenarnya dia mengantuk. Tapi mencoba untuk tidak tidur.
Hanna tiba-tiba tertawa, membuat Damian menoleh.
“Kau kenapa?” Tanya Damian.
“Jangan katakan kalau kau akan mengganjal matamu dengan korek api seperti si Tom itu,” jawab Hanna masih tertawa, membuat Damian sebal.
“Buat apa aku mengganjal mataku segala?” tanya Damian dengan ketus, wajahnya langsung saja di tekuk.
“Ya supaya kau tidak tidur, kau takut tidur kan?” tebak Hanna, diapun menggeser tubuhnya, kepalanya mendekati wajah Damian. Menatap pria yang sedang menonton si Tom Jerry itu. Melihat Damian dari samping itu membuatnya menjadi ingat pada Cristian, tadi dia sampai mengira Cristian itu Damian, mereka memiliki rahang yang sama, bahkan kalau dibanding Satria sepertinya Cristian malah lebih mirip Damian. Kenapa sekarang dia melihat banyak pria mirip Damian? Apa karena dia terlalu sering melihat wajah Damian?
“Kau ini asal bicara, buat apa aku takut tidur?” ucap Damian, sama sekali tidak menoleh.
“Ya kau takut kalau kau tidak mengigau lagi kan? Kau takut kehilangan aku ya?” goda Hanna.
“Kau ini asal bicara. Aku tidak tahu kau siapa, kenapa harus takut kehilangan?” elak Damian.
“Huu kau begitu, di pantai kau kan ingin menciumku,” kata Hanna.
“Tidak, itukan cuma mimpimu saja,” jawab Damian, tidak mengaku. Membuat Hanna mencibir, lalu menoleh pada televisi lagi.
“Jangan terlalu dekat menatapku, kau akan jatuh cinta padaku. Nanti kalau kontrakmu habis, kau akan menangis,” ucap Damian. Membuat Hanna semakin cemberut.
Pria ini menuduh dia akan jatuh cinta, jelas-jelas di pantai dia ingin menciumnya, hem, dasar pria hidung belang, runtuk Hanna dalam hati. Sekarang dia merobah lagi posisi tidurnya, dibiarkannya kepalanya menjuntai kebawah sofa, sampai rambutnya mengenai karpet.
Damian menoleh ke arahnya.
“Kau ini apa-apaaan?” tanya Damian.
“Aku sedang berfikir,” jawab Hanna.
“Berfikir, tidak perlu jumpalitan seperti itu,” kata Damian sambil mengangkat kepala Hanna supaya tidur di sofa. Hanna menepis tangan Damian.
“Kau mengganggu kesenanganku saja,” ucap Hanna. Kini mengganti posisi tidurnya miring ke luar sofa, kembali mendekatkan kepalanya ke samping Damian.
“Damian, ada yang ingin aku tanyakan,” kata Hanna.
“Apa?” tanya Damian.
“Apa kau punya pacar? Kau belum menjawab pertanyaanku waktu itu,” kata Hanna, dengan serius menatap Damian.
“Kenapa? Kau mau daftar jadi pacarku?” tanya Damian, tanpa menoleh.
“Tidak, aku tidak mau jadi pacarmu,” jawab Hanna,Damian langsung menoleh dengan cepat.
“Kenapa?” tanyanya hampir berteriak, membuat Hanna kaget melihat reaksi Damian begitu.
“Kau kenapa?” tanya Hanna, terkejut, membuat Damian tersadar reaksinya berlebihan, dia merasa kaget wanita itu tidak mau menjadi pacarnya, padahal banyak wanita yang mengantri ingin menjadi pacarnya.
“Iya kenapa kau tidak mau jadi pacarku?” tanya Damian dengan suaranya yang pelan, sambil kembali menonton tv.
“Karena aku kan istrimu hehhehe..” jawab Hanna sambil tertawa dengan senangnya.
“Kau ngerjain aku ya?” gerutu Damian, dia fikir mau menjawab apa. Rona wajahnya langsung memerah, menoleh pada Hanna, ingin rasanya menggelitiki wanita itu sampai menangis. Wanita itu malah tertawa-tawa menyebalkan.
“Daripada kau menggangguku, lebih baik kau tidur!” gerutu Damian.
“Aku belum mengantuk, kau saja yang tidur,” jawab Hanna.
“Bagaimana kalau kita begadang saja malam ini,” usul Hanna.
“Begadang? Kau mau begadang?” tanya Damian, menatap Hanna.
“Melihat tatapanmu kau sangat mencurigakan! Kau membuatku takut!“ seru Hanna.
“Kalau suami istri begadang biasanya melakukan apa?” tanya Damian.
“Aku tidak tau,” jawab Hanna, perasaannya mulai tidak enak.
“Kau kan yang mengajak begadang,” ucap Damian, kembali menonton tv.
“Bagaimana kalau kita main kartu saja. Main gapleh saja, kaya yang di pos ronda,” seru Hanna.
“Aku tidak punya kartu domino,” kata Damian.
“Sebentar!” Hanna langsung bangun, dia pergi ke meja rias, mengambil kertas dan alat tulis, kemudian kembali lagi duduk disamping Damian sambil bersila.
“Kau mau apa?” tanya Damian, saat Hanna mulai menulis.
“Aku menggambar kartu,” jawab Hanna. Dia meomotong motong kertas itu menjadi beberapa bagian dan menggambar bulat-bulat diatas kertas itu.
“Kau tidak ada kerjaan,” protes Damian.
“Kita kan akan begadang malam ini. Yang kalah harus dihukum,” ucap Hanna masih menulis.
“Apa suami istri kalau begadang, main kartu ya?” gerutu Damian.
Hanna langsung menghentikan tulisannya, menatap pria itu.
“Memangnya suami istri begadang harus ngapain?” tanya Hanna.
“Ya yang lain lah,” jawab Damian.
“Apa maksudmu yang lain? Kau mau berbuat mesum maksudnya? Hem?” maki Hanna, tangannya meraih batalan sofa dan ditekannkan ke wajah Damian, yang terkejut dan langsung mengambil bantal itu.
“Kau ini kenapa? Sensitif sekali..”gerutu Damian.
“Hapus fikiran mesummu itu!” teriak Hanna, sambil cemberut.
“Fikiran mesum apa? Aku juga tidak tahu suami istri kalau begadang ngapain, aku juga kan belum menikah,” kata Damian, sambil membalas menempelkan bantal itu ke wajah Hanna. Membuat Hanna semakin cemberut, dan kembali menulis bulat-bulat.
Tiba-tiba handphone Damian yang ada disampingnya berdering.
“Siapa malam-malam telpon?” tanya Hanna.
“Aku juga tidak tahu,” jawab Damian, lalu diangkatnya telponnya.
“Halo!” sapa Damian.
“Hem, benarkah? Kapan? Baiklah, besok pagi aku akan kesana,” jawab Damian lalu telponpun ditutup.
“Ada apa?” tanya Hanna, melihat reaksi Damian yang terkejut begitu.
“Besok kita akan melakukan perjalanan,” jawab Damian.
“Kemana? Keliling Eropa lagi?” tanya Hanna.
“Tidak, “Damian menggelang. Membuat Hanna semakin penasaran.
“Orang-orangku mendapat informasi ibuku datang berkunjung ke makam kakek nenekku di kampung,” jawab Damian. Hanna terdiam, mendengarkan.
“Bahkan ibuku menginap beberapa hari disana. Kita kesana besok,” lanjut Damian.
“Aku ikut?” tanya Hanna.
“Tentu saja ikut, kau kan masih harus memelukku,” kata Damian.
“Kalau ketemu ibumu kau mau memperkenalkan aku sebagai apa?”tanya Hanna.
“Tentu saja istriku, apalagi?” keluh Damian. Membuat Hanna diam. Lalu tiba-tiba dia berseru mengagetkan.
“Hore!” seru Hanna dengan keras.
“Apa sih? Kau selalu mengagetkan begitu!” gerutu Damian.
“Kartunya sudah selesai, ayo kita bermain sampai pagi,” seru Hanna.
“Tidak sampai pagi, aku besok menyetir, perjalanan kita lumayan jauh,” jawab Damian.
“Oh kalau begitu kau tidur saja,” kata Hanna.
“Tidak, belum mengantuk, kita main kartu sebentar, kalau kau ngantuk kau tidur saja,” ucap Damian pada Hanna.
“Ya, ayo kita main. Yang kalah harus dihukum,” seru Hanna, mulai membagikan kartu.
“Apa hukumannya?” tanya Damian. Hanna menatapnya dengan senyum yang lebar.
“Kau tersenyum seperti itu, aku langsung curiga,” kata Damian, menatap Hanna penuh kecurigaan. Hanna malah tertawa. Dia akan menyiapkan hukuman yang lucu buat Damian.
****************
Santai saja ceritanya ya readers…biar otaknya tidak berkerut…
Yang belum baca karya author yang lain :
“ My Secretary” season 2(Love Story in London) dan "Kontes menjadi istri Presdir" yuk baca yuuuuk!!
Jangan lupa like, vote dan komen