Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-40 Ibu Shezie masuk rumah sakit



Saat bangun, Shezie kebingungan karena mendapati dirinya tidur lagi di tempat tidur, apakah dia berjalan sambil tidur lagi? Dilihatnya Henry sudah tidak ada di kamar itu. Melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul 9 siang, diapun terkejut. Kenapa dia tidur lama sekali?


Terdengar ponselnya berdering. Shezie segera turun dari tempat tidur dan mengambil ponselnya yang ada di atas meja. Dilihatnya nomor itu tidak dikenal. Diangkatnya meskipun tidak tahu siapa yang menelponnya.


“Siang Bu!” sapa si penelpon.


“Siang, kau siapa?” tanya Shezie.


“Saya Firman Bu, saya pengacara yang diutus Pak Henry untuk mengurus pembelian café. Sekarang saya sudah ada di Sabuga café bersama pengacara pemilik café ini, ada beberapa yang harus dijelaskan tentang café ini, apa ibu bisa datang kesini?” tanya Pak Firman.


Shezie merenung sebentar, ternyata Henry benar-benar membeli café itu.


“Baiklah, sebentar lagi aku kesana,” jawab Shezie. Sambil menutup telponnya muncul dilayar wallpaper pernikahannya dengan Henry, diapun tersenyum dan menyentuh foto itu.


“Ternyata kau pria yang sangat baik,” gumamnya.


“Aku pasti akan kehilangan kalau kita bercerai nanti,” lanjutnya.


Setelah itu Shezie segera bersiap-siap pergi ke café.


Saat akan berangkat, dia mematung dulu diteras, Pak Andi sudah siap dengan mobilnya.


“Kita berangkat sekarang Bu?” tanya Pak Andi.


Shezie menatap supir itu, dia ingat kalau Henry menyediakan mobil dan supir untuk dirinya.


“Kita berangkat ke Sabuga café,” jawab Shezie, dengan hati yang ragu karena dia menggunakan mobil mewah itu. Bagaimana kalau teman-temannya ada yang melihatnya? Diliriknya juga baju yang dikenakannya, dia menggunakan dress dari Butik yang Henry pesan.


“Kita jadi berangkat sekarang Bu?” tanya Supir, sambil membukakan pintu mobil untuknya karena Shezie malah diam saja.


“Iya,” jawabnya, lalu masuk kedalam mobil.


“Terimakasih,” ucapnya pada Pak Andi yang kembali menutup pintu mobilnya.


Shezie duduk didalam mobil itu, benar-benar serasa menjadi orang kaya. Mobilpun melaju meninggalkan rumahnya Henry.


Sesampainya di cafe itu, terlihat sudah mulai ada aktiiftas karena memang jam bukanya mulai dari jam 9 pagi.


Anita tampak sedang merapihkan meja-meja bersama beberapa temannya, pengunjung juga hanya beberapa orang saja. Di dekat kasir berkumpul beberapa orang yang tidak dikenalnya bersama Manager cafe.


Anita menoleh kearah kaca café itu, dia melihat sebuah mobil mewah parkir didepan café dan seseorang turun dari mobil itu. Dia terkejut saat melihat siapa yang turun.


“Shezie? Dia benar-benar jadi orang kaya sekarang?” gumamnya, membuat teman-temannya menoleh kearah kaca. Mereka terkaget-kaget apalagi melihat penampilannya yang berbeda dari biasanya.


Shezie menuju pintu masuk café dengan ragu, tapi tidak ada lagi yang harus dilakukannya selain menjalani nasibnya sebagai istri seorang konglomerat.


Saat sampai dipintu, satpam membukakan pintu dan menyapanya dengan sopan. Dia merasa risih dengan perlakuan berlebihan seperti ini.


“Selamat Siang, Bu,” sapa Pak Satpam.


“Siang Pak Agus, aku bisa membuka pintu sendiri,” ucap Shezie sambil tersenyum. Dia tidak terbiasa mendapat perlakuan istimewa ini.


Anita dan teman-temannya tampak menatapnya dan saling berbisik.


Anita akan menghampiri tapi seorang temannya menariknya.


“Shezie pemilik café ini sekarang, kau harus menjaga sikap,”ucapnya, membuat Anita menoleh pada temannya dengan terkejut karena dia belum tahu kabar ini. Temannya itu mengangguk. Anita terpaku saja dalam kebingungan, dia kembali menoleh kearah Shezie yang berjalan masuk melewati mereka.


“Siang Bu!” sapa temannya Anita.


“Siang Bu,” ucap yang lainnya.


Anita hanya terdiam, temannya mencoleknya.


“Siang Bu,” akhirnya Anita menyapanya dengan bingung, apa benar ini Shezie temannya itu?


Shezie mengerti arti tatapannya Anita, dia hanya tersenyum.


“Siang,” jawabnya juga dengan risih ditatap teman-temannya seperti itu, sekarang teman-temannya menjaga jarak padanya.


Manager café langsung menghampiri saat melihat Shezie masuk.


“Bu Shezie, selamat siang!” sapanya, sambil mengulurkan tangannya, tersenyum ramah, padahal kemarin dia marah-marah akan memecatnya.


“Siang Pak Erik,” jawab Shezie, menerima uluran tangannya Pak Erik.


“Tamu-tamunya sudah menunggu Bu,” kata Pak Erik, sambil menoleh pada beberapa pria yang menghampirinya.


“Siang Bu, saya Firman, pengacara yang ditunjuk Pak Henry,” kata pak Firman sambil bersalaman diikuti yang lain.


“Biaklah, kita bicara dimana?” kata Pak Firman.


“Silahkan ikut saya Pak,” kata Manager café, berjalan mendahului mengantar mereka menuju kantor café itu. Shezie mengikutinya bersama tamu-tamu itu. Setelah menyelesaikan berbagai hal administrasi pengalihan pemilik cafe, tamu-tamunya pulang meninggalkan cafe. Sekarang cafe itu sudah sah menjadi miliknya Shezie.


Hari ini adalah hari pertama Shezie menjadi pemilik Sabuga Café, banyak sakali hal yang harus diurus, karena dia tidak berpengalaman memegang usaha bisnis, kuliahnya saja belum tamat, untunglah Henry langsung mengirimkan konsultan ke cafenya yang bisa memberinya banyak arahan untuk memulai bisnis ini.


Shezie dan konsultannya juga ditemani Manager cafenya yang dulu atasannya kini berubah menjadi bawahannya, berkeliling kesemua bagian café sambil mendengarkan arahan-arahan dari konsultannya.


****


Di rumah Shezie…


“Bu, non Shezie tidak bisa dihubungi, telponnya tidak diangkat, mungkin sedang sibuk,” kata ARTnya yang usianya sekitar 40 tahunan. Ditangannya masih memegang ponselnya Bu Vina.


“Di coba lagi Bi Ijah,” kata Bu Vina dengan lirih.


“Sudah Bu,tetap tidak diangkat,” ujar Bi Ijah.


Ditatapnya majikannya itu yang terbaring dengan wajah pucatnya.


“Bagaimana kalau kita kerumah sakit saja?” saran Bi Ijah.


Bu Vina tidak menjawab, dia tidak bisa langsung ke rumah sakit, dia tidak tahu apakah Shezie mempunyai uang untuk membayar biaya rumah sakitnya. Kemarin saat kemo saja sudah berapa banyak yang dibayarkan Shezie belum sebagian uangnya itu hasil menghutang pada temannya yang bekerja di travel. Wajah Bu Vina semakin pucat, menahan sakit, dia mulai terbauk batuk. Bi Ijah memegang tangannya Bu Vina dengan bingung akan meminta bantuan siapa lagi.


“Bu ada saudara yang bisa dimintai bantuan ga Bu? Ibu harus ke rumah sakit,” kata Bi Ijah.


Bu Vina merasakan kepalanya yang terasa semakin sakit, dia bingung Shezie tidak bisa dihubungi, yang terbersit didalam benaknya adalah Martin.


“Martin, telpon Martin,” kata Bu Vina.


“Pak Martin?” tanya Bi ijah, Bu Vina mengangguk.


Bi Ijah mencari kontak yang bernama Martin, diapun menelponnya.


“Maaf Pak, saya ART nya Bu Vina. Bu Vina sekarang kesakitan Pak di rumah, harus dibawa ke rumah sakit,” kata Bi Ijah.


“Kau sudah menelpon Shezie?” tanya Martin, dia sedang berada dikantornya.


“Sudah tapi telponnya tidak diangkat,” jawab Bi Ijah.


“Baiklah aku kesana sekarang!” ucap Martin sambil menutup telponnya.


“Telpon dari siapa?” tanya Yesi saat melihat kakaknya menerima telpon.


“Ibunya Shezie harus dibawa ke rumah sakit,” jawab Martin.


“Biarkan saja anaknya yang mengurus, kenapa menelpon kakak? Mau minta duit?” taya Yesi.


“Shezie tidak mengangkat telponnya,” jawab Martin, sambil mendial nomornya Shezie, benar saja berkali kali menelpon tidak diangkat juga, dia heran kemana Shezie?


“Telponnya tidak di angkat juga,” ucap Martin.


“Belum menikah saja sudah bikin repot, apalagi kalau sudah menikah? Kenapa tidak mati saja itu ibunya!” gerutu Yesi.


Martin tidak menjawab, dia juga sebenarnya sudah gerah harus bersabar terus dengan kondisinya Shezie yang memiliki ibu berpenyakit keras. Kalau  bukan dia terlanjur penasaran pada gadis itu tidak mau dia harus bersusah-susah begini.


“Awas jangan buang-buang uang! Biaya pengobatan kanker itu mahal!” kata Yesi.


“Kau berisik, aku masih membutuhkan ibunya untuk mendapatkan Shezie,” ujar Martin.


“Lah emang dia secantik apa, mengejar-ngejar dia segitunya, banyak yang cantik diluar sana! Cantik, kaya  dan tidak punya ibu yang penyakitan,” kata Yesi dengan kesal.


Terdengar ponsel Martin berbunyi lagi.


“Pak, Ibu pingsan!” kata Bi Ijah dengan panik.


“Kau tunggu, aku kesana sekarang!” kata Martin.Yesi langsung mencibir mendengarnya.


Martinpun segera meninggalkan ruangannya, berjalan bergegas keluar dari gedung itu.


“Shezie, kau harus membayar semua pengorbananku,” batinnya dengan kesal.


Sepanjang jalan Martin menggerutu saja, dia bukannya tidak suka dengan Shezie, dia sangat menyukai gadis itu, hanya saja kondsi ibunya yang sakit-sakitan membuatnya merasa kesal dan merepotkan, kalau bukan karena dia belum mendapatkan Shezie, dia juga tidak mau harus berusah payah begini mengurus ibunya Shezie. Kalau sudah menikah sih masa bodoh, ogah harus mengurus penyakit ibunya yang akan menguras uangnya.


Sesampainya dirumah Shezie, Martin membawa ibunya Shezie ke rumah sakit bersama Bi Ijah.


“Bagaimana keadaan Bu Vina Dok?” tanya Martin pada Dokter Arfan yang menangani pengobatan Bu Vina.


“Harus dirawat, kita juga harus menjadwalkan kemo selanjutnya,” kata Dokter Arfan.


Mendengar jawaban Dokter Arfan, membuat Martin eneg saja, pasti Shezia tidak punya uang buat kemo selanjutnya. Apa dia harus terpaksa membayarnya? Diliriknya Bu Vina yang terlihat lemah diatas tempat tidur pasien.


“Benar-benar merepotkan, menikah juga belum sudah butuh biaya saja,” batinnya.


Tapi kemudian terbesit sesuatu didalam benaknya. Mungkin ini saatnya dia memanfaatkan Shezie, dia harus mengeluarkan uang untuk kemo selanjutnya ibunya Shezie, dengan begitu Shezie akan terus berhutang budi padanya, dan menurut kalau harus mempercepat pernikahannya, Shezie tidak akan bisa menolaknya lagi, ya keadaan ini harus dimanfaatkan.


“Baiklah Dok, tolong buatkan jadwal kemonya, biayanya nanti saya yang bayar,” kata Martin.


“Baiklah,” jawab Dokter Arfan, sambil keluar dari ruangan itu.


Martinpun tersenyum senang, sepertinya sekarang Shezie tidak akan bisa menghindar lagi darinya, dia tidak bisa mengulur-ulur lagi pernikahannya.


********