
Henry menghentikan langkahnya dan menatap Shezie yang memunggunginya.
“Kau ini bicara apa?” tanya Henry.
“Ini bajumu setelah itu kau keluar dari ruangan ini!” jawab Shezie.
Melihat sikap Shezie yang seperti itu membuat Henry tersenyum, kenapa juga dia merasa malu pada Shezie dan membuat dirinya tersiksa. Ini kamar kamarnya, bukan kamar Shezie, biarkan saja Shezie yang merasa tersiksa karena tidak mau melihat tubuhnya.
“Kau tidak bisa mengusirku, ini kan kamarku! Aku bebas melakukan apa saja disini!” jawab Henry, tangannya meraih baju yang ada ditangan Shezie yang terulur kebelakang.
“Awas kalau kau macam-macam!” maki Shezie.
Henry melihat pakaian yang diberikan Shezie itu.
“Kau ini bisa memilih baju tidak? Masa celana sama baju beda warna? Kau payah!” keluh Henry.
“Aku belum selesai memilih,” jawab Shezie.
“Memangnya kau ngapain saja disini? Kalau kita benar-benar suami istri, kau gagal menjadi istri dihari pertama! Memilih baju buat suami saja tidak bisa!” ujar Henry.
“Tadi kan aku belum selesai memilih, kenapa kau mengataiku istri yang gagal?” keluh Shezie merasa tidak terima dengan perkataannya Henry, dia masih membelakanginya.
“Apa lagi kalau bukan gagal? Seharusnya kau tahu pakaian yang pantas untuk dipakai suamimu,” ucap Henry.
Shezie mendengar suara Henry menjauh dan suara lemari yang dibuka, sepertinya pria itu mengambil bajunya yang lain. Shezie tidak berani membalikkan badannya.
“Aku kan baru sekarang menjadi istri, aku tidak pernah mengurusi pakaian laki-laki,” kata Shezie.
“Sepertinya kau memang harus banyak belajar!” ucap Henry.
“Hei! Kenapa kau menghakimiku? Aku kan bukan benar-benar istrimu! Kau protes saja!” keluh Shezie baru sadar kalau mereka tidak benar-benar suami istri.
“Sebelum kau menikah dengan yang benar-benar suamimu, tidak ada salahnya kau belajar dari sekarang!” ucap Henry.
“Kau sangat berisik! Kau sudah dibaju belum?” tanya Shezie, matanya masih terpejam, dia tidak mau melihat sesuatu yang tidak pantas lagi.
“Aku sedang telanjang, jangan berbalik!” kata Henry, apalagi mendengar perkataannya Henry itu, Shezie semakin merasa jantungnya berdebar-debar. Dia sedang dalam satu kamar dengan pria yang tidak memakai apapun, ya ampun, kenapa dia tidak memikirkan hal ini?
Dirasakannya ada gerakan dibelakangnya, mendengar suara lemari lagi dibuka.
“Jangan berbalik! Aku masih telanjang!” kata Henry.
Shezie diam saja tidak bergerak, dia sudah berkeringat saking takutnya.
Henry tersenyum melihat Shezie mematung dan tidak berani menoleh kearahnya. Diapun berpakaian.
“Sudah belum?” tanya Shezie.
“Belum! Tapi kalau kau mau berbalik, tidak apa-apa,” ucap Henry, padahal dia sudah berpakaian.
“Kenapa kau dibaju lama sekali?” tanya Shezie.
Henry duduk disebuah kursi pendek di tengah ruangan itu, dia memaki sapetunya.
“Aku memang lama kalau berpakaian,” jawab Henry.
“Tapi terlalu lama!” ujar Shezie, dia keheranan kenapa Henry dibaju sangat lama.
“Aku selalu ingin penampilan yang perfect!” Jawab Hnery, dia sengaja membuat Shezie keki, karena tadi sudah membuatnya menunggu dikamar mandi.
Shezie menghela nafas panjang, dia merasakan kakinya pegal.
“Sudah belum?” tanya Shezie.
“Belum!” jawab Henry.
Shezie diam lagi, masa masih belum? Diapun penasaran dan membuka matanya sedikit, dia melirik ke sebuah lemari kaca dan terlihat Henry sedang berkaca sambil memakai jam tangannya. Diapun langsung memberengut dan membalikkan badannnya.
“Kau mengerjaiku?” makinya.
Henry tidak menjawab dia masih bercermin dan menyelesaikan memakai jam tangan itu.
Shezie menatap pria itu, pria itu sudah berpakaian rapih dan seperti biasa dia terlihat begitu mempesona.
“Kau benar-benar tidak seperti supir Henry, kau terlalu tampan untuk jadi supir!” batinnya.
Henry membalikan badannya menghadap Shezie.
“Apa yang kau lakukan? Kenapa kau malah diam saja?” tanya Henry.
“Ah tidak apa-apa,” ucap Shezie padahal dalam hatinya sedang memuji pria itu.
“Untung kau bukan istriku, apa jadinya kalau setiap bangun pagi aku harus menunggu lama memilihkan baju untukku?” tanya Henry.
“Aku mencari seragam supirmu, aku tidak menemukannya! Aku bingung kenapa supir harus memakai jas segala?” ujar Shezie terus terang
Henry terdiam, gadis ini lagi-lagi menganggapnya supir.
“Kita sarapan, setelah itu aku mengantarmu pulang. Kita tidak perlu bicara apa-apa pada ibu. Tapi setelah mengantarmu pulang, aku tidak akan menjemputmu, pekerjaanmu selesai!” kata Henry.
Shezie menatapnya. Jadi perkerjaan selesai setelah dia pulang dan tentu saja tidak akan melihat wajah tampan ini lagi.
“Kau kenapa?” tanya Henry.
“Tidak apa-apa,” jawab Shezie.
“Kau dengarkan apa yang aku katakan? Pekerjaanmu selesai, kau tidak perlu kembali lagi kerumah ini,” kata Henry.
“Iya, aku mengerti,” jawab Shezie.
Henry menatap Shezie sekali lagi.
“Kau harus meluangkan waktumu ke salon, rambutmu tidak terawat, bajumu juga kurang cantik untuk gadis seusiamu,” kata Henry, membuat Shezie terkejut diapun melihat pada dirinya sendiri. Dia jadi tersenyum dalam hati, jangankan untuk ke salon, yang ada dalam benaknya adalah mengumpulkan uang untuk berobat ibunya.
“Ayo kita turun! Jangan lupa rapihkan rambutmu,” kata Henry, tangannya menyentuh rambutnya Shezie yang sebagian menutup keningnya Shezie. Melihat sikap Henry begitu , membuat Shezie menahan nafas. Dia tidak menyangka pria itu sangat memperhatikannya.
Henry membalikkan badannya keluar dari ruangan itu, Shezie segera mengikutinya sambil mengusap rambutnya. Apa benar rambutnya sangat kusut? Lalu dia menyentuh wajahnya, apa benar dia harus ke salon? Tapi uangnya sayang kalau digunakan untuk ke salon, bantinnya.
Melihat Henry sudah keluar dari ruangan itu, Sheziepun segera keluar, ternyata di kamarpun Henry sudah tidak ada. Shezie bercermin dulu sebentar, menyisir rambutnya lagi, lalu keluar dari kamar itu.
Shezie langsung mencari Henry ke ruang makan, disana ada Hanna dan Damian yang sepertinya sudah selesai sarapannya.
“Duduklah sayang, cepatlah makan,” ucap Hanna, tersenyum saat Shezie muncul dipintu.
Shezie langsung duduk disamping Henry.
“Aku akan mengajak Shezie keluar. Aku akan terlambat ke kantor,” kata Henry, sambil menyantap makanannya.
Hanna menatap putranya itu.
“Kau baru menikah, masa langsung bekerja?” tanyanya, dia sangat bingung dengan sikap putranya yang menurutnya sangat aneh. Lalu menoleh pada suaminya.
“Sayang, apa Henry tidak bisa libur dulu bekerja?” tanya Hanna.
Damian menatap Henry.
“Kalau kau ada acara dengan istrimu tidak apa-apa, seharusnya kau libur dan pergi bulan madu,” kata Damian.
Mendengar kata bulan madu membuat Shezie semakin pusing, dia tidak mungkin ikut bersama Henry, dia harus mengurus ibunya.
“Nyonya, Tuan. Henry hanya akan mengantarku saja aku ada perlu sedikit, lagi pula Tuan pasti membutuhkan tenaganya Henry, tidak apa-apa,” kata Shezie.
“Shezie benar, aku belum ada rencana apa-apa,” ucap Henry.
“Baiklah kalau begitu, hari ini kau yang memimpin rapat, ayah ada urusan ke luar kota. Tapi jangan terlalu lama bekerja, kasihan istrimu kalau ditinggal lama-lama,” kata Damian.
Mendengar perkataan majikan Henry, membuat Shezie bingung. Hebat benar seorang supir memimpin rapat segala. Bukankah seharusnya Henry mengantar majikannya keluar kota?
“Henry tidak ikut keluar kota?” tanya Shezie, menatap Damian.
“Tidak, Suamimu mengurus pekerjaan yang disini, nanti aku diantar supir saja,” jawab Damian. Mendengarnya membuat Shezie terkejut lagi dan menatap Henry.
Shezie menoleh pada Henry.
“Kau, bukan supir?” tanya Shezie menatap Henry yang masih menyantap makanannya.
“Kau ini bicara apa sayang? Tentu saja bukan, kau sangat lucu! Henry putra kami satu-satunya, tidak mungkin memberi pekerjaan supir,” kata Hanna sambil tertawa.
Shezie merasakan pusing yang amat sangat sekarang, jadi Henry bukan supir? Dia..jadi Henry benar-benar putra dari Tuan dan Nyonya ini? Jadi pria yang dia nikahi ini seorang pria yang kaya raya? Kenapa Henry diam saja saat dirinya menganggapnya supir?
Melihat raut muka Shezie yang terkejut semakin membuat Hanna keheranan.
“Apa kalian baik-baik saja?” tanya Hanna.
“Iya kami baik-baik saja,” ucap Shezie, diapun ikut melanjutkan makannya tanpa bicara apa-apa.
Shezie masih shock dengan kenyataan ini. Pantas saja Henry sangat berbeda.Apa yang dia lakukan? Kenapa dia melakukan kesalah fahaman ini? Tapi mau supir atau pria kaya juga tidak ada bedanya, dia tetap harus pergi dari rumah ini, pekerjaannya telah selesai.
Diliriknya lagi pria disampingnya itu yang sama sekali tidak bicara dan mengacuhkannya, tapi Shezie tidak bicara apa-apa lagi, dia kembali melanjutkan sarapannya.
**************