Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-81 Donatur misterius



Martin mengumpat sepanjang jalan, dia sebenarnya tidak rela uangnya dipergunakan untuk pengobatan ibunya Shezie apalagi dengan jumlah yang sangat besar dan itupun tidak bisa dipastikan ibunya Shezie akan sembuh. Pasti akan ada lagi pengeluaran untuk pengobatan selanjutnya.


Tapi untuk merelakan Shezie pada Henry dia merasa tidak rela, dia merasa jadi pecundang  kalau dalam hal ini kalah dari Henry selain Shezie yang menolaknya terus, dalam keuangan juga kalah dari Henry dia merasa benar-benar pecundang.


Martin menemui kasir yang langsung menanyakan nama pasien.


“Untuk proses pengobatan Bu Vina selanjutnya, kira-kira berapa biayanya?” tanya Martin.


“Ditunggu sebentar. Akan Deposit berapa?” tanya kasir.


“10 juta saja,” kata Martin.


“ Biaya awal 20 juta Pak, jadi bapak masih kurang 10 juta lagi,” kata Kasir.


“Apa? 20 juta? Malah amat,” keluh Martin.


“Ini sudah termasuk estimasi biaya kamar beberapa hari ke depan Pak. Kamar yang digunakan juga kamar paling bagus,” kata kasir.


Martin memberengut, dia gengsi kalau meminta kamar yang murah, tentu saja biayanya jadi bengkak, dia fikir tidak akan ada biaya tambahan lagi setelah ada deposit dari orang yang tidak menyebutkan nama itu.


10 juta saja dia merasa berat apalagi 20 juta, benar-benar membuatnya bangkrut ibunya Shezie ini. Meskipun dia banyak uang, sangat sayang uangnya dihambur-hamburkan untuk biaya pengobatan penyakit yang akhirnya kebanyakan berujung pada kematian, hanya membuang-buang uang saja, keluh Martin.


“Baiklah aku bayar 20 juta,” jawab Martin, dia benar-benar kesal, diapun mengeluarkan kartunya untuk membayar biaya pengobatan ibunya Shezie.


Untung saja kemarin ada deposit tanpa nama itu, kalu tidak sudah ratusan juta dia mengeluarkan uang, ogah amat, menikah juga belum sudah buntung duluan.


Martin menerima kembali kartunya lalu berjalan meninggalkan kasir sambil mengeluarkan kertas yang ditanda tangani oleh Shezie itu.


“Aku benar-benar ingin mengakhiri semuanya, semua uangku terkuras habis. Setelah menikah dengan Shezie, aku putuskan semua pengobatan ibunya, mati mati,” runtuknya, kembali melipat kertasnya.


Langkah Martin terhenti saat tida-tiba mendengar seseorang bicara dengan kasir.


“Saya mau deposit untuk biaya pengobatan pasien yang bernama ibu Vina,” kata pria itu.


Martin meruncingkan telinganya, apakah yang dimaksug adalah Bu Vina ibunya Shezie? Diapun menoleh pada pria itu. Pria itu bertubuh tidak terlalu tinggi, tingginya sedangg dengan perawakan kurus menggunakan jaket kuit dan juga topi.


“Mau deposit berapa Pak?” tanya kasir.


“Kira-kira berapa biaya yang diperlukan untuk semua pengobatannnya sampai sembuh?” tanya pria itu.


“Kami belum tahu Pak, karena pengobatannya masih berjalan,” jawab kasir.


“Baiklah kalau begitu saya deposit dulu 100 juta, seminggu lagi saya kesini lagi untuk membayar jika ada biaya yang kurang. Saya minta pengobatan yang bagus,” kata pria itu.


“Untuk itu Bapak bisa bicara langsung dengan Dokter Pak,” ujar kasir.


“Apa rumah sakit ini ada link untuk pengobatan keluar negeri?” tanya pria itu.


Martin semakin tertarik saja mendengarnya, pengobatan ke luar negeri? Berari pria ini sangat kaya, sebenarnya siapa pria ini? Apakah ayahny Shezie? Tapi ayahnya Shezie sudah meninggal.


“Baik  nanti bapak hubungi Dokter yang menangani Bu Vina, Dokter Arfan namanya, mungkin Dokter Arfan memiliki koneksi dengan rumah sakit yang bagus diluar negeri  untuk penanganan penyakitnya Bu Vina,” kata kasir.


“Baiklah,” jawab pria itu.


“Deposit 100 juta ya Pak?” tanya kasir, memastikan.


“Iya,” jawab pria itu.


“Atas nama siapa Pak?” tanya kasir lagi.


Martin semakin meruncingkan telinganya, dia ingin tahu siapa yang membayar biaya pengobatan Bu Vina, jangan-jangan yang kemarin deposit 100 juta itu juga pria ini yang baru dilihatnya dan bukannya Henry?


“Tidak perlu dicatatkan namanya,” kata pria itu.


“Baiklah,” jawab kasir sambil mengetikkan pembayaran deposit.


Martin terkejut mendengarnya, pria yang membayar itu tidak mau menyebutkan namanya, kalau tahu begitu harusnya dia tidak perlu deposit 20 juta segala, sayang sekali uangnya.


Martin melihat pria itu merapihkan topinya, meninggalkan kasir dan berjalan melewatinya. Diapun penasaran apa ada pria lain selain pria itu? Bisa saja pria itu suruhan orang, kalau melihat dari penampilannya begitu.


Dengan tergesa-gesa dan berpura-pura dia juga berjalan dengan pejalan lainnya, Martin menyusuri lorong menuju halaman parkir rumah sakit itu. Diapun berhenti dan bersembunyi dibalik tembok, memperhatikan pria yang tadi itu. Dilihatnya pria itu memasuki sebuah mobil hitam dan menjalankan mobilnya, ternyata pria itu datang sendiri. Siapa sebenarnya pria itu? Kalu dari wajahnya tidak ada miripnya dengn Shezie ataupun Bu Vina.


Tapi kalau ada hubungan keluarga, buat apa membayar biaya rumah sakit tanpa bilang bilang pad Bu Vina apalagi dengan jumlah uang yang besar, belum menanyakan pengobatan ke luar negeri segala? Sunguh pensaran siapa sebenarnya yang membayar ini? Martin kembali berjalan memasuki Lorong-lorong menuju ruangan rawat inapnya Bu Vina.


Martin terus memikirkan pria itu, tapi kalau difikir-fikir bukankah itu suatu yang menguntungkan buatnya? Dia tidak perlu mengeluarkan untuk pengobatan ibunya Shezie, yang membayar orang  tanpa menyebutkan nama itu, dia bisa berpura-pura dia yang membayarnya.


Uangnya tidak perlu keluar tapi Shezie dan Bu Vina merasa berhutang budi padanya. Benar-benar hari yang sangat mujur, batin Martin. Diapun terus berjalan degan senyum dibibirnya, ternyata segala urusannya berjalan dengan mulus. Tapi sayang 20 juta sudah keluar ke kasir, keluhnya.


************


Henry sedang berada di kantornya dengan gelisah. Dia sudah menelpon ibunya dan meminta ibunya untuk  pulang melamar Shezie pada ibunya Shezie.


Henry menatap pada ponselnya , tumben sekali Shezie tidak menelponnya, mungkin dia sedang sibuk dengan ibunya. Henry menghela nafas panjang, mencoba memahami kondisinya Shezie. Pasti dia sedang terus terusan membujuk ibunya untuk merestui pernikahan mereka.


Henry menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kerjanya,  diatas mejanya ada bingkai foto, foto pengantin dirinya dan Shezie, lalu diambilnya bingkai itu, dan disentuhnya.


“Kau sangat cantik, “ gumamnya, dia sangat merindukan istrinya itu.


Henry tidak  membayangkan sebelumnya akan menikah dengan Shezie dan sepakat untuk melanjutkan pernikahan ini meskipun masih ada rintangan di depan, setidaknya hatinya sudah merasa tenang dia sudah menemukan jodohnya meskipun lewat jalan yang tidak terduga.


Baru dua hari semalam saja rasanya seperti sudah lama tidak bertemu dengan Shezie. Dilihatnya lagi foto itu, membuatnya semakin merindukannya. Sejak dia pergi dari rumah Shezie, istrinya itu sama sekali tidak ada kabar.


 Terdengar suara bunyi ponselnya. Buru-buru dlihatnay, dikiranya Shezie yang menghubungi ternyata ada pesan dari ibunya.


“Sayang, ibu akan pulang segera untuk menemui ibunya Shezie, tapi ayah tidak bisa ikut karena tidak bisa meninggalkan pekerjaan,” tertulis seperti itu diponselnya.


Henry langsung melakukan panggilan pada nomor ibunya.


Hanna yang masih berada dikamarnya, melihat ponselnya berbunyi, dilihatnya Henry menelpon.


“Ya sayang,” sapa Hanna.


“Mana ayah Bu?” tanya Henry.


“Ayahmu sedang mandi,” jawab Hanna.


“Ayah tidak bisa ikut pulang?” tanya Henry.


“Iya sayang, sepertinya ibu saja yang pulang kalau kau ingin cepat- cepat melamar,” jawab Hanna.


Henry sebenarnya dia ingin kedua orang tuanya datang.


“Halo!” panggil Hanna.


“Ya Bu,” jawab Henry.


“Kalau menunggu ayahmu, mungkin harus menunggu sekitar 2 sampai 3 minggu baru pulang. Kalau ingin cepat melamar Shezie, hanya ibu saja yang bisa pulang, Ibu juga tidak ada kerjaan disini,” kata Hanna dengan lesu, dia membayangkan Damian menelpon tadi.


“Ibu kenapa? Apa ibu sedang sakit?” tanya Henry, merasakan  suara berbeda pada suara ibunya.


“Tidak, tidak apa-apa, ibu baru pulang lari pagi, ibu kecapean dan lelah, “ jawab Hanna berbohong.


“Oh aku fikir ada apa, apa semuanya baik-baik saja Bu?” tanya Henry.


Entah kenapa dalam pendengarannya ibunya itu sedang sedih dan tidak bersemangat.


“Tidak apa-apa sayang,” ucap Hanna, padahal dia merasa sedih, dia kecewa pada Damian, tapi masalah Henry lebih penting. Putranya baru menjalani rumah tangganya, dia harus memprioritaskannya.


“Baiklah Bu, kalau begitu tidak apa-apa kalau melamra Shezie dengan ibu dulu, nanti kalau ada ayah dengan ayah. Yang penting ibunya Shezie tahu niat baikku Bu,” kata Henry dengan suara yang lirih, Hanna bsia merasakan kalau hati putranya sedang galau.


“Kau sangat mencintainya sayang?” tanya Hanna.


“Iya Bu, aku fikir saling mencintai sudah cukup untuk membuat suatu hubungan pernikahan ternyata butuh perjuangan jaga dari orang-orang selitar,” jawab Henry.


“Itu benar sayang, setiap hubungan itu tidak selalu berjalan mulus, semoga ibunya Shezie  akan menerimamu jika ibu datang langsung melamarmu,” ucap Hanna.


“Iya, Bu,” kata Henry.


“Baiklah sayang, ibu juga harus mandi, ayahmu mandi sangat lama, Nanti ibu suruh menelponmu,” ucap Hanna.


 “Iya Bu,” jawab Henry.


Telponpun ditutup bersamaan dengan Damian yang keluar dari kamar mandi.


“Kau bicara dengan siapa?” tanya Damian


“Henry , dia menanyakanmu apa ayahnya bisa pualng,” jawab Hanna.


Damian terdiam,


“Kau jawab apa?” tanya Damian.


“Ya seperti tadi, ayahnya  sibuk tidak bisa pulang, paling nanti kalau urusannya sudah selesai baru menemui ibunya Shezie,” jawab Hanna.


Damian terdiam lagi.


Hanna bangun dari duduknya di pinggir tempat tidur.


“Aku heran, putra kita itu sangat tampan juga kaya, putra kita juga baik, masa ditolak oleh ibunya Shezie? Dia lebih setuju pada pria lain sebelum Shezie mengenal Henry,” kata Hanna.


“Jadi ibunya Shezie menolak Henry?” tanya Damian hampir tidak terdengar, perkataannya seakan seperti sebuah keluhan.


“Iya, kata Henry begitu,” jawab Hanna.


Damian kembali diam.


“Aku mau mandi, aku hanya heran saja, apa mungkin ada alasan lain? Bukankah biasanya seorang ibu itu sangat gampang memaafkan kesalahan anaknya?” kata Hanna, sambil beranjak dan masuk ke kamar madi.


Damian tidak bicara apa-apa lagi, apa yang dikatakan Hanna ada benarnya juga, apa ada alasan lain Ibunya Shezie menolak Henry?


***********


Readers kalau aku up beberapa bab, likenya ditiap bab ya jangan ujung doang.


*******