Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-100 Benarkah Istri Damian itu, Hanna?



Malam telah larut, hujan malam ini mengguyur bumi dengan deras. Terdengar bunyi bel  di pintu rumahnya pak Louis.


Bu Astrid yang sedang bersantai dengan suaminya sambil menonton televisi, bangun dari duduknya.


“Apa kau sedang menunggu tamu?” tanya Bu Astrid pada suaminya.


“Tidak,” jawab Pak Louis, sedang serius menonton news di televisi.


“Coba aku lihat siapa yang bertamu,” jawab Bu Astrid. Kakinya melangkah menuju pintu rumahnya yang jaraknya lumayan jauh, karena rumahnya sangat luas.


Dibukanya pintu itu. Disana sudah berdiri seorang pria yang seumuran dengan suaminya.


“Malam Bu, Saya mau bertemu Pak Louis,” kata pria itu.


“Apa ada yang penting Pak Fery? Hujan hujan begini kau datnag kerumah,” tanya Bu Astrid menatap Pak Fery.


“Iya, ini tentang Non Hanna,Bu,” jawab Pak Fery.


Bu Astrid mengerutkan keningnya, saat Hanna kabur itu, putrinya tidak ada menghubunginya lagi. Apakah ada kabar buruk tentangnya? Hatinya menjadi gelisah.


“Silahkan duduk, saya panggilkan dulu Bapak,” kata Bu Astri, sambil membuka pintu rumahnya dengan lebar.


Pak Fery mengangguk, lalu masuk dan duduk dikursi tamu yang ada di ruangan itu.


Bu Astrid membalikkan badannya, ternyata suaminya datang keruang tamu.


“Siapa Bu?” tanya Pak Louis. Belum juga bu Astrid menjawab, Pak Louis sudah melihat siapa yang datang.


“Pak Fery? Hujan-hujan begini kau datang, kenapa tidak menelpon?” tanya Pak Louis.


“Maaf Pak, saya fikir lebih baik bicara langsung,” jawab Pak Fery.


“Iya ada apa?” tanya Pak Louis sambil duduk di kursi. Bu Astria yang tadi mau masuk kedalam rumah berubah arah, dia pun mengkuti suaminya duduk di kursi tamu menghadap Pak Fery. Bu Astrid samakin gelisah saja, dia takut ada kabar buruk tentang Hanna.


“Tentang Non Hanna, Pak,” ucap Pak Fery, dia menghentikan bicaranya, seperti menimbang-nimbang.


“Ya katakan saja, apakah putriku sudah ditamukan?” tanya Pak Louis.


“Bukan Pak, hanya saja informasi ini membuat saya bingung,” jawab Pak Fery.


“Bingung? Katakan saja,” kata Pak Louis, dia semakin penasaran saja dengan kabar yang akan dibawa Pak Fery. Orangtua Hanna itu menatapnya dengan cemas.


“Begini Pak, setelah orang-orang saya mencari Non Hanna di sekitar pantai, mereka dapat informasi kalau Non Hanna mirip dengan istrinya Pak Damian, pengusaha dari ibukota itu, Bapak pasti mengenalnya,” ucap Pak Fery.


Pak Louis malah tertawa.


“Aku pernah bertemu dengan istrinya Pak Damian, dia bukan Hanna,” kata Pak Louis.


“Itu yang membuat aneh Pak, orang-orang saya menunjukkan foto Non Hanna pada satpam dan beberapa karyawan disana, mereka bilang itu istri Pak Damian, saya juga bingung,” kata Pak Fery.


Bu Astrid saling pandang dengan Pak Louis.


“Pak Fery, coba saya lihat foto yang Hanna yang orang-orang Pak Fery bawa,” pinta Bu Astrid.


Pak Fery mengeluarkan handphone-nya, lalu membuka galery dan memilih fotonya Hanna, diberikannya pada Bu Astrid.


Bu Astrid menatap foto itu, dan benar itu fotonya Hanna.


“Ini memang fotonya Hanna. Satpam dan karyawan disana benar-benar menyebut foto ini adalah istri pengusaha dari ibukota itu?” tanya Bu Astrid, masih kebingungan.


“Benar Bu,” jawab Pak Fery.


Bu Astrid memberikan foto itu pada suaminya.


“Ini foto yang bapak berikan pada Pak Fery?” tanya Bu Astrid.


Pak Louis mengambil handphone itu dan melihatnya.


“Iya ini, foto Hanna,” kata Pak Louis.


“Itu masalahnya Pak, satpam dan karyawan disana tetap mengatakan itu istrinya Pak Damian,” jawab Pak Fery.


Pak Louis menoleh pada istrinya, dia bingung dengan semua ini.


“Apa mungkin Hanna itu istrinya Pak Damian?” tanya Pak Louis pada bu Astrid.


“Bapak kan sudah bertemu dengan istrinya Pak Damian,” kata Bu Astrid.


“Iya, tapi istrinya Pak Damian itu tidak sama dengan fotonya Hanna, dia sangat nyentrik,  dari dandannya, rambutnya yang berwarna juga kaca mata hitamnya yang lebar, meskipun namanya sama, tapi Hanna tidak seperti itu. Tapi kalau kata orang-orang Pak Fery foto Hanna ini adalah istri Pak Damian, sangat membingungkan,” ucap Pak Louis.


“Mungkin waktu itu istrinya Pak Damian sudah dari salon mengecat rambutnya Pak,” kata Pak Fery.


“Entahlah aku tidak mengerti soal itu. Kalau istri Pak Damian itu Hanna, ah tidak tidak, aku tidak percaya putriku menikah diam-diam begitu tanpa restu orang tua,” Pak Louis mengeleng-gelengkan kepalanya.


“Tapi Pak, kemarin Hanna tidak bercerita kalau dia sudah menikah saat Bapak memintanya untuk menikah lagi dengan Cristian. Padahal seharusnya Hanna mengatakan kalau dia sudah menikah kalau tidak mau menikah dengan Cristian,” ucap Bu Astrid.


“Benar-benar membingungkan,” keluh Pak Louis.


“Kalau istrinya Pak Damian ada dirumahnya, kau bisa minta orang-orangmu untuk memfotonya kan? Berikan pada kami fotonya,” kata Bu Astrid sambil menatap Pak Fery.


“Beberapa hari ini Pak Damian dan istrinya sedang kembali ke ibukota, belum ada kabar kembali kesini kapan,” jawab Pak Fery.


Bu Astrid menoleh pada suaminya.


“Pak, apa mungkin hanya mirip saja, kan banyak orang yang mirip di dunia ini padahal bukan saudara,” kata Bu Astrid.


“Tapi namanya sama, Hanna. Rasanya jarang orang yang mirip dan namanya juga sama, Hanna,” jawab Pak Louis.


Tiba-tiba Bu Astrid ingat sesuatu. Dia teringat pernah membaca tabloid bisnis tentang pernikahan pengusaha di ibukota yang pengantin wanitanya mirip Hanna, tapi..


“Ada apa Bu?” tanya Pak Louis, melihat istrinya seperti mengingat sesuatu.


“Itu Pak, aku ingat pernah membaca tabloid bisnis yang ada dikantormu, resepsi pernikahan pengusaha yang pengantin wanitanya mirip Hanna,” kata Bu Astrid.


“Kapan itu?” tanya Pak Louis.


“Mungkin sekitar satu bulan setelah pernikahan putri kita yang gagal,” jawab Bu Astrid.


“Kau sangat aneh, apa hubungannya dengan putri kita?” tanya Pak Louis.


“Nama pengantinnya sama dengan nama putri kita,” jawab Bu Astrid.


“Nama kan bisa sama dengan yang lain,” kata Pak Louis.


“Iya, kan tadi Bapak bilang orang sama dan nama sama itu jarang, Ada juga orangnya mirip namanya berbeda,” kata Bu Astrid.


Pak Louis dan Pak Fery terdiam.


“Bapak bisa nyuruh satpam di kantor untuk mencari tabloid itu?” tanya Bu Astrid.


“Itukan sudah beberapa bulan yang lalu, pasti sudah masuk ruang pengarsipan, paling besok aku minta sekretarisku untuk mencarinya. Aku tidak terlalu memperhatikan berita pribadi pengusaha di ibukota,” jawab Pak Louis.


“Jadi apa yang harus saya lakukan Pak?” tanya Pak Fery.


“Kau suruh orang-orangmu berada disekitar rukan Pak Damian, nanti kalau melihat Pak Damian datang bersama istrinya, tolong foto dan berikan padaku,” jawab Pak Louis.


“Baiklah Pak, kalau begitu saya permisi dulu, nanti saya kabari kalau Pak Damian sudah datang dari ibukota,” kata Pak Fery.


Pak Louis mengangguk. Pak Fery pun bangun dari duduknya dan pamit pulang.


Pak Luois menatap istrinya yang masih terduduk kebingungan.


“Pak, apa mungkin putri kita itu istri pengusaha itu?” tanya Bu Astrid.


“Entahlah, semua sangat membingungkan,” ucap Pak Louis, diapun bangun dari duduknya, menatap kearah luar rumah yang diguyur hujan.


“Bagaimana kalau ternyata benar istri Pak Damian itu adalah Hanna?” tanya Bu Astrid.


“Aku tidak tahu, kenapa Putri kita sampai berbuat seperti itu? Aku masih berharap Hanna menikah dengan Cristian, aku ingin pria yang baik untuknya. Kalau selain Cristian, aku tidak tahu apakah pria itu baik atau tidak,” jawab Pak Louis, menerawang jauh.


“Bapak kan mengenal Pak Damian, itu bagaimana orangnya?” tanya  Bu Astrid, mengangkat kepalanya menatap suaminya yang masih berdiri.


“Dia baik, dari pekerjaan juga oke, dia pengusaha yang sangat enak untuk bekerjasama. Hanya saja, kalau urusan ribadi, kita tidak tahu dia baik atau tidak. Pengusaha-pengausah muda seperti dia kadang mereka bergaya hidup bebas, pacarnya dimana-mana, aku tidak mau Hanna  bersuami pria seperti itu, aku tidak mau pria yang akan menyakiti putriku meskipun dia kaya raya,” jawab Pak Louis.


Bu Astridpun terdiam. Dia juga berpendapat sama, dia juga ingin Hanna mendapatkan suami yang baik.


“Aku berharap Hanna bukan istrinya Pak Damian, aku akan malu pada Pak Sony. Apalagi Hanna menikah tanpa minat restu kita, aku sangat kecewa putriku berbuat seperti itu. Padahal tidak ada yang memaksa dia menikah dengan Cristian. Dia sendiri yang menerima lamaran Cristian, kenapa dia sendiri yang kabur? Sangat membuatku malu,” keluh Pak Louis.


Bu Astrid tidak bicara lagi, dia bertanya-tanya ada dimana Hanna sekarang, seharusnya kemarin itu dia meminta nomor telponnya, tapikan handphone-nya ditahan suaminya. katanya Hanna akan membawa pria yang disukainya itu kerumah, tapi sampai sekarang putrinya belum pulang ke rumah.


“Aku ingat sesuatu!” kata Pak Louis.


“Apa pak?” tanya Bu Astrid.


“Waktu aku bertemu dengan istrinya Pak Damian itu, Cristian juga ada. Aku akan menelponnya,” kata Pak Louis, diapun segera beranjak menuju ruang keluarga tempat dia tadi menonton televisi. Bu Astrid mengikutinya.


Pak Louis mengambil handphone-nya yang ada di atas meja, menekan nomornya Cristian.


“Ya Paman,” jawab Cristian disebrang sana.


“Nak, ada yang mau paman tanyakan,” kata Pak Louis.


“Tentang apa Paman?” tanya Cristian yang sedang berada di kamarnya. Menatap keluar jendela yang tertutup, menatap air hujan yang turun begitu deras.


“Apa kau sering melihat istrinya Pak Damian?” tanya Pak Louis.


Mendapat pertanyaan seperti itu membuat Cristian terkejut.


“Tidak Paman,” jawab Cristian.


“Waktu kita survey lokasi itu, kau bertemu istrinya Pak Damian kan?” tanya Pak Louis.


“Iya Paman,” jawab Cristian.


“Menurutmu dia mirip Hanna tidak?” tanya Pak Louis membuat Cristian keheranan.


“Maksudnya apa ya Paman?” tanya Cristian, dia semakin gelisah saja.


“Orang-orangnya Pak Fery bilang kalau Hanna itu mirip dengan istrinya Pak Damian, padahal waktu kita survey lokasi itu kan sangat berbeda dengan Hanna. Tapi kenapa satpam dan karyawan Pak Damian bilang foto Hanna itu adalah istri Pak Damian?” kata Pak Louis panjang lebar.


Cristian terdiam. Apakah ini pertanda akan terbongkarnya kalau Hanna adalah istrinya Damian? Hatinya bertanya-tanya.


“Aku tidak terlalu memperhatikannya Paman,” ucap Cristian.


“Baiklah kalau begitu aku hanya ingin menanyakan itu saja. Aku sudah menyuruh orang-orang Pak Fery untuk memfoto istri Pak Damian kalau mereka sudah kembali dari ibukota, aku sangat penasaran semirip apa Hanna dengn istri Pak Damian itu?” ucap Pak Louis.


Tidak berapa lama telponpun ditutup.


Cristian menatap telponnya. Apakah dia harus menelpon Hanna memberitahu kalau ayahnya mulai mencurigai kalau istri Damian adalah putrinya?


Cristian melakukan panggilan ke nomor Hanna, tapi tidak tersambung, berkali-kali dia melakukan panggilan itu masih tidak aktif. Tentu saja tidak aktif karena handphone Hanna dirampas Pak Louis.


************