Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-16 Prosesi Pernikahan



Mobil-mobil iringan pengantin itu memasuki sebuah gedung yang ternyata begitu ramai disambut dengan acara prosesi pernikahan yang disiapkan WO.


Shezie tertegun melihat kemeriahan acara pernikahannya. Ada perasaan terharu dihatinya, sebenarnya ini adalah pernikahan pertamanya yang baru dia alami. Benar kata ibunya seharusnya dia tidak mempermainkan pernikahan, tapi apa mau dikata, semua ini demi ibunya, dia sudah mendapat bayaran dari Henry tentu saja dia juga harus melakukan kewajibannya sekarang.


Semua orang yang ada dalam mobil iringin pengantin itu sudah mulai turun. MC WO meminta pasangan pengantin berdampingan untuk melewati karpet merah yang terbentang menuju gedung dengan tari-tarian yang sudah siap menyambut mereka.


Hanna menarik Henry supaya berdiri di ujung karpet itu. Belum apa-apa Henry sudah merasa jenuh.


“Kenapa acaranya ribet begini?” tanyanya pada ibunya yang berdri di sampingnya.


“Acara pernikahan ya begini, memangnya harus bagaimana?” jawab Hanna.


“Aku fikir langsung acara saja tidak ada begini-beginian segala,” keluh Henry lagi. Tentu saja dia protes karena tidak merasa ini adalah pernikahan yang serius.


“Sayang menikah itu sekali seumur hidup, sayang kalau cuma acara mengikat janji terus selesai, seperti tunangan saja. Ini menikah sayang,” kata ibunya, sambil memeluk lengan Henry dan mengusapnya.


“Kau hanya gugup, ikuti saja acara dari WO,” kata Hanna lagi, membuat Henry menekuk wajahnya.


MC dari Wo meminta pengantin wanita bersanding dengan pengantin pria.


Para pengiring pengantin wanita membawa pengantin kesamping Henry.


Henry masih memasang wajah cemberut, untuk melihat pengantinnya saja sudah enggan, dia ingin acara ini cepat selesai, dia hanya menatap lurus kedepan mengabaikan Shezie yang dibawa kesampingnya.


Dirasakannya ada yang memeluk lengan kirinya, Henry hanya melirik sekilas kearah sikunya sebuah tangan dengan jarinya yang bercat kuku merah memeluk lengannya, diapun kembali menatap kedepan, malas dia harus melihat gadis itu.


Setelah acara penyambutan kedua mempelai dengan tari-tarian, sepasang pengantin itu memasuki gedung melangkah dikarpet merah. Henry tampak berkeringat karena gerah dan merasa kesal dengan acara yang terasa lama ini, beberapa kali perias merapihkan riasan di wajahnya. Hatinya semakin memberengut saja, wajahnya serasa jadi sangat tebal, benar-benar tidak ada senyum dibibirnya.


Hanna tersenyum senang membalas tatapan tamu undangan yang hadir waktu itu, sempat dilihatnya teman-teman arisannya juga hadir dan melambaikan tangannya bahkan Bu Yogi juga hadir bersama Andrea dengan wajah yang cemberut saja.


 Andrea merasa kesal karena Henry menikah dengan orang lain. Apalagi dengan melihat prosesi pernikahan semewah ini, belum para tamu undangan yang kebanyakan dari kalangan elit para pengusaha dan pejabat-pejabat. Dia terus memberengut kecewa seharusnya dia yang bersanding dengan Henry.


Ini saatnya kedua pengantin ini akan mengikat janji. Henry sama sekali tidak mau melihat pengantinnya, meliriknya saja tidak, dia terus mengeluh saja dalam hatinya karena acaranya begitu bertele-tele dan membosankan. Bahkan saat mengucap janji pernikahannya dengan Shezie, Henry dengan cepat mengucapkannya seakan terburu-buru dan ingin cepat selesai.


Kini tibalah memasang cincin pernikahan. Henry membalikkan tubuhnya berhadapan dengan Shezie yang menunduk saja, memegang tangan itu yang sudah dihiasi dengan lukisan indah ditangannya.


Saat melihat tangan itu dalam hati Henry berkata, kenapa ibunya membuat acara pernikahan begitu sama dengan aslinya acara pernikahan? Padahal dia hanya ingin orangtuanya tidak merasa malu saja.


Cincin itu sudah melingkar dijari manisnya Shezie, gantian Shezie yang memasangkan cincin ke jarinya Henry.


“Sekarang pengantin pria boleh mencium pengantin wanita,” terdengar suara MC yang dijawab riuh oleh tamu undangan.


Henry terkejut mendengarnya, dia tidak memperkirakan kalau dia harus  mencium pengantin wanita. Apalagi dengan suara-suara candaan dari yang hadir.


Shezie juga terkejut dengan perintah MC pada Henry untuk menciumnya, dia langsung mendongak menatap pria itu saking terkejutnya, begitu juga dengan Henry yang sedikit menunduk menatap Shezie.


Henry tertegun saat menatap wajah pengantin wanitanya itu. Sedari acara dimulai dia sama sekali tidak mau melihat pasangannya. Baru sekarang dia bisa menatapnya langsung dengan jelas dan…Shezie sangat cantik, begitu cantik.


Henry masih terpesona dengan kecantikan pengantinnya, dia merasa seperti melihat artis-artis ditv, para perias itu benar-benar sangat profesional menyulap pengantin wanitanya secantik ini.


Dia tidak menyangka pengantin wanitanya begitu cantik. Matanya terlihat begitu indah dengan bulu matanya yang lentik, yang membuatnya tertarik adalah bibir tipisnya yang berlipstik merah, bibir itu terlihat begitu ranum dan menggoda, jantungnya langsung berdebar kencang saja.


Siapa prianya yang tidak terbius melihat gadis cantik didepannya itu apalagi gadis cantik itu adalah istrinya sekarang, miliknya, apa dia akan melepasnya begitu saja? Keringat dingin langsung saja menyerangnya.


Terdengar lagi perkataan MC untuk mencium pengantin wanitanya, membuyarkan lamunannya Henry. Diapun maju satu langkah lebih dekat pada Shezie, menatapnya, apakah dia benar-benar akan menciumnya?


Shezie manatapnya dengan wajah yang langsung memucat. Dalam perjanjian kerjasama dengan Henry, sama sekali tidak dibicarakan kalau menikah itu ada acara pengantin pria mencium pengantin wanaita. Bagaimana ini? 100 juta belum termasuk dengan dicium Henry atau memang sudah termasuk dengan dicium juga? Hah?  Seharusnya dari awal ini harus dibicarakan lebih dulu. Kalau begini dia jadi kecolongan. Bagaimana ini? Apakah dia harus minta tambahan uang? Tapi dia bukan wanita yang menjual diri.


“Lama amat, ngapain aja?” terdengar candaan dari MC yang diikuti tawa riuh penonton.


“Henry! Ayo kau bisa!” terdengar suara teman-temannya nyeletuk.


Henry menatap Shezi yang juga menatapnya, dia juga sangat gugup. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Dia juga tidak terfikirkan kalau ada acara beginian segala.


“Cium! Cium!” semua yang hadir merasa kesal, karena pengantin malah terdiam saja.


Henry menatap bibir yang merah itu, apakah dia memang harus menciumnya? Tidak mungkin dia menolak mencium pengantin wanitanya di depan orang banyak. Akhirnya dia mendekatkan wajahnya perlahan ke wajahnya Shezie, tatapan mereka sempat bertemu dan saling pandang, jantung mereka sama-sama berdebar kencang, semua diluar rencana mereka.


Lagi-lagi MC memberikan perintah lewat micnya, sepertinya tamu juga sudah tidak sabar, bahkan mereka sudah merangseg maju kedepan untuk memfoto dan memvideo mereka dengan ponsel ditangannya.


Henry kembali menatap bibir itu, sebenarnya kalau tidak mengingat mereka memiliki perjanjian sendiri, mungkin tidak perlu lama untuk menciumnya, apalagi bibir itu begitu menggodanya.


Dengan perlahan Henry semakin mendekatkan bibirnya pada bibir merah itu dan cup! Sebuah kecupan menempel dibibir merah itu. Henry merasakan lembutnya bibir merah yang sedari tadi menggodanya. Shezie langsung menahan nafas, hanya sebuah kecupan saja rasanya sudah membuatnya sport jantung dan panas dingin.


Tiba-tiba ada celetukan dari MC yang membuat Henry tersadar.


“Saya minta dicium keningnya! Bukan bibirnya! Main nyosor saja!” seru MC yang langsung disambut tawa yang riuh oleh para tamu.


Wajah Henry langsung merah padam, kenapa MC tidak bilang kalau yang dicium itu keningnya? MC benar-benar mempermainkannya! Henry merasa kesal dikerjain MC jadi dia terlanjur mencium bibir Shezie tapi dalam hatinya dia malah masih merasakan lembutnya bibir gadis itu. Hanya sebuah kecupan manis tapi rasanya masih menempel dibibirnya.


Shezie tertegun saat mendapat kecupan dari Henry, bukan di kening tapi di bibir. Dia tidak menyangka pria itu benar-benar menciumnya, dia merasa malu dan langsung salah tingkah saja, apalagi dengan suara ledekan dari para tamu undangan yang begitu riuh, serasa tidak memiliki muka saja.


Terdengar lagi suara MC meminta pengantin untuk duduk di pelaminan mengikuti presesi acara selanjutnya.


Gara-gara ciuman itu, mereka jadi semakin canggung dan tidak ada yang bicara, semua diam saja.


Hanna sampai kebingungan melihat pengantin  itu yang seperti  bermusuhan.


Dia menoleh pada Damian.


“Apa?” tanya Damian, menatap istrinya.


“Apa mereka bertengkar?” tanya Hanna.


“Aku tidak tahu, tapi mereka tidak bertemu tadi pagi kan?” jawab Damian.


“Tidak, tadi Shezie langsung dirias belum sempat bicara dengan Henry,” kata Hanna.


“Mungkin mereka gugup,” ucap Damian, yang diangguki Hanna.


Acara prosesi pernikahanpun dilanjutkan.


****************