
Pria itu berumur lebih dari 50 tahun, rambutnyapun mulai beruban, tapi dia terlihat masih gagah. Berdiri menatap kearah pantai dari ruangannya di sebuah gedung bertingkat yang menjulang tinggi.
Tampak seorang wanita sedang membuka tabloid Bisnis duduk di sofa dengan santai. Seorang pria yang lebih muda sedikit dari pria yang berdiri itu, berdiri di dekat meja kerja yang besar, bertuliskan direktur utama, Bpk. Louis Direja
“Sampai mana pencarian putriku?” tanya Pria yang sedang menatap keluar gedung itu. Terlihat ombak bergulung gulung di pantai.
“Maaf Pak Louis, orang-orang kita belum berhasil menemukan Nona Hanna,” jawab pria yang berdiri dekat meja itu.
“Coba kau buat pengumuman orang hilang diseluruh pelosok negeri, di berbagai media masa. Aku ingin putriku segera di temukan,” kata pria itu, yang dipanggil Pak Louis.
“Saya mendengar Bpk. Cristian sudah menulis di surat kabar di ibukota,tapi sampai saat ini belum ada kabar tanda-tanda keberadaan nona Hanna,” jawab Pria itu.
Pak Louis, membalikkan badannya mentap pria itu.
“Aku ingin pencarian secara intensif, aku tidak peduli biayanya. Aku tidak mau masalah ini berlarut-larut, putriku harus segera ditemukan. Aku memberikan kewenangan penuh padamu bagaimanapun caranya, kalau putriku berontak, kau boleh bersikap keras padanya, aku hanya ingin dia kembali, kau mengerti?” kata pak Louis.
“Baik Pak, saya mengerti,” jawab pria itu.
“Mana proposal itu? Katamu ada pengusaha dari ibukota yang akan membangun real estate di daerah kita,” kata Pak Louis.
“Ada di meja pak,” jawab pria itu.
Pak Louis menghampiri meja kerjanya, lalu duduk di kursinya, membuka sebuah map dimejanya.
“Siapa nama pemilik perusaaan ini?” Tanya Pak Louis sambil membaca proposal itu.
“Pak Damian, seorang pengusaha muda dari perusahaan besar di ibukota. Dia mengajak kita bekerja sama untuk pembebasan lahan-lahan yang akan dijadikan real estate,” jawab pria yang masih bediri itu.
Pak Louise tampak mengangguk angguk.” Kau boleh pergi” ucapnya. Pria itu membalikkan badannya, tapi kemudian berbalik lagi saat dipanggil pak Louis.
“Pak Dodi, bilang pada Bu Eva, kalau Pak Sony datang, suruh langsung ke ruanganku,” kata pak Louis.
“Baik pak,” jawab pria yang bediri tadi yang dipanggil dengan nama pak Dodi.
Wanita yang sedari tadi duduk di sofa itu menoleh ke arah pak Louis.
“Pak, menurutmu putri kita pergi kemana ya? Aku sangat khawatir dengan keadaannya, dia pergi tanpa membawa uang seperpun, dia naik mobil yang lewat itu, entah kemana. Bagaimana kalau pemilik mobil itu orang jahat?” tanya wanita itu.
“Itu akibatnya karena kau terlalu memanjakannya. Jadi dia susah diatur dan bertingkah,mempermalukan kita di acara pernikahannya, benar-benar anak tidak tahu diri!” gerutu pak Louis.
“Kau juga terlalu keras padanya, mungkin dia sebenarnya tidak mau menikah dengan Cristian,” kata wanita itu, yang tiada lain adalah ibunya Hanna.
“Tidak mau menikah bagaimana? Mereka berteman dari kecil, mereka pacaran bertahun-tahun. Saat lamaran dia menerimanya. Kenapa dihari pernikahannya malah kabur? Sebenarnya apa yang dia mau? Kalau anak itu ditemukan, aku akan benar-benar mengurungnya. Aku tidak mau pernikahannya dengan Cristian gagal lagi, aku malu pada pak Sony, Cristian juga sangat baik, kenapa dipermalukan seperti itu?” jawab pak Louis.
“Jangan terlalu keras padanya Pak, dia putri kita satu-satunya,” kata ibunya Hanna.
Sambil menatap wajah suaminya, dia bicara lagi.
“Aku sangat merindukannya. Ada dimana dia sekarang? Aku sangat khawatir,” ucapnya dengan sedih. Pak Louis tidak bicara apa-apa lagi.
Ibunya Hanna kembali membuka tabloid bisnis itu yang biasa terbit mingguan, dibolak baliknya tabloid itu.
“Apa tabloid baru belum terbit?” tanya ibunya Hanna.
“Entahlah, aku tidak sempat membacanya,” jawab Pak Louis.
Ibunya Hanna meneruskan membaca beberapa artikel, tiba-tiba matanya tertuju pada salah satu artikel penikahan pengusaha muda di ibukota, yang bernama Damian dengan seorang wanita yang bernama Hanna. Hatinya seakan berhenti berdetak saat membaca nama itu tapi sayang tidak ada nama kepanjangannya. Dilihatnya foto pengantin itu yang sangat cantik. Apakah dia Hanna putrinya? Sekilas foto itu mirip Hanna, tapi make up nya sangat membuatnya terlihat cantik dan pangling.
Dibacanya lagi artikel itu siapa tahu ada nama orangtuanya. Disitu tertulis Sanjaya dan sulastri. Sedangkan nama orangtua Hanna, Louis dan Astrid. Berarti bukan Hanna putrinya. Difoto ada pendamping pengantin wanita juga, berarti orangtuanya. Berarti memang bukan Hanna, putrinya.
Pak Loise mengambil handphonenya, mencari kontak seseorang dan menelponnya.
“Ya Paman,” jawab suara pria disebrang.
“Bagaiamana kabarmu, Cristian?” tanya Pak Louise.
“Baik Paman,” jawab pria itu yang ternyata Cristian. Saat itu dia sedang berada dikamarnya disebuah hotel berbintang di dekat pantai di Bali, tapi bukan hotel tempatnya meeting bersama Damian. Dia sengaja memilih kamar yang benar-benar dekat pantai di tempat wisata yang ramai, supaya dia bisa melihat lebih dekat pantai itu dari kamarnya.
Di tangannya ada sebuah foto pernikahan, foro prewednya dengan Hanna.
“Kau sudah ada kabar tentang Hanna?” tanya pak Louis.
“Belum paman. Aku sudah menulis berita orang hilang di surat kabar ibu kota, tapi belum ada yang menghubungiku. Sekarang aku ada di Bali,” jawab Cristian.
“Kau ada di Bali?” tanya pak Louis.
“Kau pasti merindukannya, iya kan?” tanya Pak Louis.
“Iya Paman, aku sangat merindukannya,” jawab Cristian.
“Kau bersabar ya. Paman sudah menambah orang untuk mencari Hanna. Semoga dia cepat ditemukan,” kata Pak Louis.
Tidak berapa lama, telponpun ditutup. Cristian menatap kembali foto itu. Diusapnya foto Hanna. Dia sangat bersedih kehilangan wanita yang dicintainya.
Cristian berjalan kearah jendela, melihat kearah pantai yang ramai. Tiba-tiba matanya melihat seseorang yang sekilas mirip Hanna.
“Hanna! Benarkah itu Hanna?” serunya. Wanita itu tampak berjalan sambil meneteng topi lebarnya, dia berjalan dengan seorang pria dan seorang pria lagi dibelakangnya.
Cristian segera masuk ke kamar, mengambil teropongnya dan kembali ke arah jendela, kemuddian menggunakan teropongnya, mencari sosok wanita yang mirip dengan Hanna. Tapi dicarinya diberbagai sudut dengan teropong itu, tidak ada wanita yang tadi, apalagi kondisi pantai yang sangat ramai.
Diapun menyimpan teropongnya. Mengambil hanpdhonenya, keluar dari kamarnya. Bergegas ke pantai untuk memastikan apakah wanita itu Hanna atau bukan. Tetapi setelah dicarinya kesana kemari dia tidak bisa menemukan wanita itu. Cristianpun kembali ke hotel dengan kecewa.
Cristian kembali teringat pada istrinya Damian, kenapa dia merasa istrinya Damian itu Hanna, tapi kan nama Hanna itu banyak, meskipun sebenarnya suaranya mirip Hanna, tapi ah tidak mungkin istri Damian adalah Hannanya. Cristian menggeleng-gelengkan kepala menepis segala yang ada di fikirannya.
**************************
Pagi-pagi sekali Damian sudah berdandan rapih. Mobil di halaman rumahpun sedang di panaskan, beberapa menit lagi tinggal berangkat.
Dilihatnya Hanna masih tidur dengan nyenyak, padahal kini matahari sudah meninggi.
Damian duduk dipinggir tempat tidur menatap Hanna, kemudian memegang kakinya.
“Hanna! Hanna! Bangunlah! Kita akan berangkat sekarang,” ucap Damian sambil menggerak gerakkan kaki Hanna.
Tidak ada jawaban, bergerakpun tidak. Akhirnya Damian mencondongkan tubuhnya lebih dekat pada Hanna, menepuk nepuk bahunya beberapa kali.
“Hanna! Ayo bangun! Kita akan berangkat sekarang,” ucapnya berulang ulang.
“Aku masih mengantuk,” jawab Hanna denagan mata terpejam.
“Kita akan berangkat , sekarang sudah siang,” ucap Damian, berusaha bersabar.
“Aku masih ngantuk, semalam kau mengigau, aku memelukmu semalaman,” kata Hanna dalam tidurnya.
Damianpun terdiam, jadi dia semalam mengigau dan Hanna masih memeluknya? Dia sama sekali tidak ingat apa-apa, dia hanya terbagun dengan wanita itu tidur meringkuk disisinya seperti ini.
“Kalau kau tidak bangun, aku tinggal!” ancam Damian.
“Tinggal saja,” jawab Hanna, membuat Daniam kesal, tidak mungkin dia meninggalkan wanita itu.
“Aku tidak mungkin meninggalkanmu,” kata Damian.
“Kalau begitu kau bisa menggendongku,” ucap Hanna.
“Bilang saja kalau kau ingin aku gendong. Aku kan sudah bilang tidak mau menggendongmu terus,” keluh Damian.
“Aku masih ngantuk, Damian,” ucap Hanna lagi, malah menarik selimutnya menutupi wajahnya.
Damian menghela nafas panjang. Sepertinya menggendong wanita ini akan menjadi pekerjaan sampingannya selama Hanna masih bersamanya. Diapun menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal.
Dilihatnya Jam sudah siang, dia harus segera menemukan ibunya sebelum ibunya keburu meninggalkan kampung halamannya. Diliriknya lagi pada yang berbaring itu. Apa yang akan dia katakan pada ibunya nanti soal Hanna? Apakah dia akan memperkenalkan Hanna sebagai istrinya? Mungkin pada keluarga yang lain dia bisa berbohong, tapi kepada ibu kandungnya? Sepertinya dia tidak akan bisa berbohong, terus apa yang akan dikatakan pada ibunya? Pacarnya? Kekasihnya? Calon istri? Sangat membingungkan.
Diapun beranjak keluar rumah, membuka pintu mobil belakang, dibubarkan terbuka, kemudian kembali lagi ke rumah dengan pintu-pintu yang sengaja dia buka. Kembali ke kamarnya, wanita itu masih menggulung dirinya dengan selimut seperti kepompong. Didekatinya kepompong itu lalu kedua tangannya mengangkat tubuh Hanna yang digulung selimut tebal itu, membawanya keluar kamar, melewati tangga dan ruang tengah, lalu dimasukkan ke dalam mobil. Entah sudah berapa kali dia mengangkat tubuh wanita itu dari pertemuan pertamanya? Pintu mobil itupun ditutup.
Setelah menelpon seseorang untuk membereskan rumah dan menjaganya, diapun masuk ke dalam mobil. Menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, meninggalkan rumah di tepi pantai itu.
********************
Readers kalian pasti sudah bosan kan, kita mulai ke konflik ya…
Cos skr author ada waktu nulisnya malem jadi ga dapat lucu-lucuannya.
Jangan lupa like, vote dan komen
Yang belum baca “ My Secretary” seasaon 2(Love Story in London) dan “Kontes menjadi Istri Presdir” buruan baca..