
Setelah ibunya pergi, Hanna tidak sabar menunggu Damian pulang. Bibirnya terasa pegal karena dia senyum terus, dia benar-benar bahagia ayahnya mau membantu Damian dan dia yakin Damian bisa meyakinkan ayahnya.
Pria yang ditunggunya itu membuka pintu rumah. Begitu mendengar suara pintu itu, Hanna langsung keluar kamarnya dan menyambut.
Damian menatap wanita yang menghampirinya itu dengan senyum mengembang dibibirnya.
“Ada apa? Tumben sekali kau menyambutku dengan senyuman,” ucap Damian.
“Kau selalu begitu, tentu saja aku menyambutmu dengan senyum karena ada kabar gembira buatmu,” ucap Hanna.
“Kabar apa?” tanya Damian, sambil berjalan masuk ke kamarnya, tangan kirinya melonggarkan dasinya, dia terlihat sangat lelah.
“Kau sepertinya lelah sekali,” kata Hanna.
“Iya aku sangat lelah,” jawab Damian. Hanna mengikuti langkahnya.
“Aku bisa menghilangkan lelahmu,” ucap Hanna.
“Apa benar begitu? Yang aku tahu kau membuatku capek,” jawab Damian, dia duduk disofa lalu membuka sepatunya.
“Bagaiman kalau aku memijat bahumu, sambil aku bercerita tentang kabar gembira itu,” ucap Hanna, berjalan mendekati Damian, tanpa disuruh dia duduk disamping Damian dan memijat bahunya.
“Pijatanmu kurang keras,” kata Damian.
Hanna mengeluarkan tenaganya lagi memijat lebih keras.
“Kau kurang makan atau gimana, tidak ada tenaganya,” keluh Damian.
“Kau selalu bicara kurang keras, aku sudah memijatmu dengan sekuat tenaga ini,” Hanna jadi menggerutu. Niatnya menghilangkan lelahnya Damian malah dia diomeli begitu.
“Tidak terasa, yang disini pegal,” kata Damian sambil menunjuk bahu kanannya. Hanna memijatnya dengan kedua tangannya.
“Lebih keras lagi,” kata Damian. Hanna kembali mengeluarkan tenaganya.
“Kurang keras,” ucap Damian. Hanna kembali mengeraskan pijatannya.
“Ya itu lumayan,” kata Damian.
“Setelah kita menikah, aku tidak mau memijatmu lagi,” ucap Hanna.
“Kenapa? Justru kalau sudah menikah kau harus sering memijatku, memijat seluruh tubuhku,” kata Damian.
“Seluruh tubuhmu? Yang benar saja, memijat bahu saja aku harus mengeluarkan tenaga extra,” ucap Hanna.
“Ada yang memijat yang tidak perlu keras keras,” kata Damian.
“Memijat apa?” tanya Hanna, wajahnya menoleh ke samping wajahnya Damian.
"Aku beritahu kalau kita sudah menikah," jawab Damian. Hanna langsung mencibir.
"Hemm pasti kau berfikir yang macam-macam," keluh Hanna, wajahnya masih berada dipipinya Damian.
“Menoleh itu tidak perlu dekat-dekat, biasa saja,” jawab Damian, karena wajahnya Hanna sampai hampir menempel dipipinya.
“Kenapa? Kau takut aku gigit hidungmu lagi?” tanya Hanna. Dia langsung membuka mulutnya dan slup! Sebuah kain masuk ke mulutnya.
Puih! Hanna mengeluarkan kain itu yang ternyata dasinya Damian.
“Kau tega ya padaku,” keluh Hanna. Pria itu malah tertawa, sambil membalikkan badannya, Damian langsung menarik tubuhnya Hanna sampai jatuh kepelukannya.
“Kau selalu menggodaku,” gumam Damian, menatap wanita yang sekarang ada dalam pelukannya.
“Kau membuatku kaget,” keluh Hanna, memegang tangannya Damian, dia kaget tidak menyangka Damian akan memeluknya.
“Kabar gembira apa?” tanya Damian.
“Tadi ibuku kesini,” jawab Hanna, membuat Damian terkejut.
“Ibuku menyampaikan kalau ayah akan membantumu dalam proyek itu, tapi ayah minta kau menemuinya dan minta restu padanya tentang pernikahan kita,” lanjut Hanna, diapun menatap wajahnya Damian.
Damian terkejut mendengarnya.
“Kenapa ayahmu berubah tiba-tiba?” tanya Damian.
“Karena ayahku mengira aku benar-benar hamil, jadi ayah akan merestui pernikahan kita asal kau menemuinya besok dan minta restunya. Bukankah itu kabar yang bagus?” jawab Hanna, menyandarkan kepalanya ke dada Damian. Dada yang dulu dia kata-katai sekeras batu itu tapi sekarang rasanya sangat nyaman, membuatnya ngantuk dan ingin tidur dalam pelukannya Damian.
“Jangan tidur, aku sudah bisa menebak kau akan tidur dipelukanku!” kata Damian. Hanna langsung tertawa.
“Aku lupa kalau kau bisa telepati, kau bisa membaca fikiranku,” ucap Hanna, malah terkekeh.
“Telepati, bukan telepati! semua wanita juga akan tertidur jika ku peluk,” ucap Damian. Mendengarnya membuat Hanna menjauhkan tubuhnya dari Damian.
“Apa maksudmu semua wanita? Wanita siapa?” bentak Hanna, menatap Damian dengan tajam.
Damian terkejut melihat sikap Hanna itu.
“Tidak ada, hanya kau saja,” ralat Damian.
“Awas kau kalau macam macam dibelakangku!” maki Hanna.
Kini Damian yang tertawa.
“Tapi cuma pelukanmu yang membuatku nyaman,” ucap Damian, senyum di bibir wanita itu langsung mengembang lagi.
“Kau sangat curigaan,aku belum selesai bicara langsung marah saja,” gumam Damian. Damian langsung membuka mulutnya mengarah kewajahnya Hana.
“Kau mau apa?” tanya Hanna. Menutup mulut Damian dengan telapak tangannya.
“Mau menggigit hidungmu!” jawab Damian.
“Jangan! Hidungku sangat kecil, nanti habis kalau kau gigit,” seru Hanna sambil tertawa, membuat Damian hanya memencet hidungnya Hanna lalu kembali memperat pelukannya, Hanna kembali bersandar ke dadanya.
“Jadi kau akan menemui ayahku?” tanya Hanna.
“Besok aku akan menemuinya,” jawab Damian.
“Perlu aku temani?” tanya Hanna.
“Tidak, tidak perlu, ini antara aku dan ayahmu,” jawab Damian.
“Tapi kau harus janji padaku, jangan bertengkar dengan ayah, kau harus membuatnya menyukaimu, ayahku sangat khwatair kau bukan pria yang baik dan akan menyakitiku,” ucap Hanna.
“Aku mencintaimu,” ucapnya.
“Aku juga” jawab Hanna, dirasakannya Damian semakin kuat memeluknya.
*************
Kesokan harinya…
Bu Wina memberitahu Pak Louis kalau Damian sudah datang.
“Selamat pagi!” sapa Damian pada ayahnya Hanna.
Pak Louis menatap Damian sebentar, sebenarnya dia masih kesal pada pria itu tapi dia teringat kalau putrinya sedang mengandung anak dari pria yang baru masuk keruangannya itu.
“Duduklah!” kata Pak Louis., sambil bangun dari kursi kerjanya. Bersamaan dengan Damian duduk dikursi yang ada di ruangan itu.
Keduanya terdiam, belum memulai bicara. Akhirnya Damian mencoba bicara duluan.
“Aku kesini dengan dua alasan,” kata Damian.
Pak Louis belum bereaksi, dia menatap pria yang ada didepannya itu.
“Alasan yang pertama, masalah pekerjaan dan alasan yang kedua tentang putri Bapak,” lanjut Damian.
Pak Louis masih mendengarkan. Melihat Pak Louis diam, Damian menenangkan hatinya, ternyata rasanya memang beda kalau bicara dengan calon mertua. Kalau dalam bisnis dia bisa sangat percaya diri tapi kalau dengan mertuanya? Kalau sampai dia bertengkar dengan Pak Louis, Hanna bisa marah. Dia sudah janji untuk mendapatkan restunya Pak Louis.
“Ya lanjutkan,” ucap Pak Louis, karena Damian malah terdiam.
“Untuk urusan pekerjaan, saya mohon Bapak tidak membatalkan perjanjian kerjasama kita, karena proyek ini sudah terlanjur berjalan, dan untuk yang kedua tentang putri Bapak,” kata Damian, menghentikan bicaranya.
Damian menatap wajahnya Pak Louis. Dia menilai apakah Hanna mirip Pak Louis atau Bu Astrid?
“Sejujurnya aku menyukai putri Bapak,” ucap Damian dengan serius.
Pak Louis terdiam.
“Aku benar-benar mencintainya. Aku minta maaf telah berbuat hal yang tidak baik soal pernikahan kami. Aku ada rencana akan menikah ulang dengan Hanna, tentunya pernikahan ini dengan restu darimu,” kata Damian.
Dia mengatakan pernikahan ulang padahal sebenarnya dia belum menikah sekalipun dengan Hanna, Hanya berdiri berjajar diacara resepsi saja.
Pak Louis menatap Damian.
“Aku ingin tahu kenapa waktu kau menikahi putriku, kau tidak menemuiku dan malah membuat acara resepsi sendiri dengan mengundang orangtua palsu untuk putriku?” tanya Pak Louis.
“Maaf Pak, waktu itu Hanna kabur di hari pernikahannya, dia masih takut tidak mendapat restu dari Bapak, mohon dimaafkan kesalahan kami itu. Tapi sejujurnya, aku memang menyayangi putrimu,” jawab Damian.
Pak Loiis menatap Damian dengan tajam. Ada keringat dingin yang keluar dari kening Damian, kenapa dia segugup ini bicara dengan calon mertuanya? Apa karena kata-katanya ada kebohongan disana? Soal pernikahannya dia berbohong tapi soal mncintai Hanna, dengan tulus dia sangat mecintainya dan tidak main-main dengan perasaannya ini.
“Satu lagi tentang proyek itu, proyek itu aku dedikasikan buat putrimu, sebagai tanda rasa cintaku peda putrimu,” lanjut Damian.
Pak Louis masih terdiam menimbang-nimbang apa yang dikatakan Damian. Sepertinya memang Damian serius dengan kata-katanya. Dan tentu saja dia juga tidak bisa tidak merestui apalagi Hanna sedang hamil.
Pak Louis pun menatap Damian.
“Baiklah, aku akan merestui kalian, demi putriku dan demi cucuku,” ucap Pak Louis, mendengarnya membuat Damian merasa lega, diapun tersenyum, wajahnya yang tadi pucat kini sudah mulai terlihat cerah lagi.
“Aku juga setuju kau mengadakan pernikahan ulang dengan putriku, karena kerabat dan rekan bisnisku tidak menghadiri pernikahan Hanna denganmu diwaktu yang lalu,” jawab Pak Louis.
Damian mengangguk.
“Tapi mungkin bukan pernikahan ulang, tapi resepsi di tempat mempelai wanita, aku juga perlu bertemu dengan orangtuamu,” kata Pak Louis.
“Ayahku sudah meninggal dan aku hanya punya ibu tiri, sebenarnya aku masih mencari ibuku, tadinya aku ingin pernikahanku dihadiri ibuku tapi sampai sekarang ibuku belum ditemukan, jadi aku terpaksa menikah tanpa ibuku,” kata Damian.
“Bertemu dengan ibu tirimu juga tidak apa-apa, dia tetap keluargamu kan,” kata Pak Louis.
Damian terdiam, sebernarnya dia tidak suka dengan ibu tirinya dia masih mengangap ibu tirinya yang menyebabkan perpisahan kedua orangtuanya.
“Baiklah kalau begitu,” jawab Damian, mengangguk.
“Baiklah, kau atur kapan aku bisa bertemu dengan ibu tirimu,” jawab Pak Louis.
Damianpun mengangguk.
************
Ditempat yang berbeda… Dikantornya Cristian.
Terdengar dering handphone-nya berbunyi. Cristian cepat cepat mengangkatnya.
“Halo!” sapanya.
“Pak Cristian?” tanya suara disebrang.
“Iya,” jawab Cristian.
“Sudah ada hasilnya Pak,” jawab orang yang di seberang itu.
“Benarkah? Jadi Damian dan Hanna menikah dimana?” tanya Cristian.
“Tidak ditemukan dimanapun Pak,” jawab suara disebrang.
“Apa? Tidak ditemukan? Apa maksudnya?” tanya Cristian, dia sangat terkejut.
“Di semua daerah se-nasional tidak tercatat adanya pernikahan atas nama Damian dan Hanna,” jawab suara yang disebrang itu.
Cristian benar-benar terkejut, apa maksudnya ini? Tidak tercatat disemua daerah se-nasional? Jadi Hanna dan Damian tidak menikah dimanapun? Mana mungkin?
“Kau serius? Bagaimana kalau menikahnya diluar negeri?” tanya Cristian, dia benar-benar terkejut.
“Tidak ada permintaan ijin pernikahan diluar negeri, di ibukota juga tidak ada pernikahan yang tercatat atas nama Damian dan Hanna,” jawab orang itu lagi.
“Baiklah Pak, terimakasih atas kerjasamanya, saya benar-benar sangat berterimakasih,” kata Cristian. Telponpun ditutup.
Cristian menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Dia sangat terkejut dengan kabar itu. Jadi pernikahan Hanna dan Damian tidak tercatat se-nasional. Berarti mereka tidak melagsungkan pernikahan secara hukum. Tapi sangat aneh,meskipun sibuk tidak mungkin Damian tidak mengurus pernikahannya secara hukum. Bahkan mereka mengadakan resepsi, masa pernikahannya tidak tercatat? Ada apa ini? Apa mungkin sebenarnya mereka itu belum menikah? Tapi Hanna, Hanna kenapa Hanna bisa hamil? Apa benar Hanna hamil? Perutnya terlihat rata-rata saja.
Kepala Cristian terasa begitu pusing memikirkannya. Dia semakin bingung dengan statusnya Hanna. Apa yang harus dikatakannya pada Pak Louis tentang hasil pencarian data ini? Bagaimana kalau ternyata Hanna memang belum menikah dengan Damian? Apa itu artinya Hanna masih calon pengantinnya?
************