
Setelah menelpon ibunya, Henry melihat ponselnya lagi, dia heran kenapa Shezie tidak ada menelponnya? Kenapa? Akhirnya dia memilih dia yang akan menelpon Shezie, entah kenapa hatinya malah jadi cemas karena terlalu lama Shezie tidak memberi kabar, dia malah jadi khawatir terjadi sesuatu.
Di rumah sakit Martin masuk ke ruangannya Bu Vina. Dalam benaknya masih tanda tanya dengan siapa pria yang membayar biaya pengobatannya Bu Vina.
Rencana awal Martin akan memindahkan Bu Vina ke rumahsakit lain, tapi karena dirumah sakit ini ada deposit 100 juta, sayang kalau uang itu tidak digunakan, jadi terpaksa dia membiarkan Bu Vina dirawat saja disini sampai uang itu habis, setelah itu dia akan membawa Bu Vina keluar dari rumah sakit ini dan menyiapkan pernikahannya dengan Shezie.
Shezie duduk diskusi dekat Bu Vina, dia merasa senang ibunya sudah mau dibawa ke rumah sakit dan kembali melakukan pengobatan.
Tiba-tiba ponsel Shezie berbunyi, dilihatnya telpon masuk dari Henry. Shesie bangun dari duudnya dan akan keluar dari ruangan itu untuk menerima panggilan dari Henry, tapi tiba-tiba Martin mengambil ponselnya begitu saja.
“Martin!” teriak Shezie pada Martin.
Bu Vina tampak terkejut mendengar Shezie terteriak, diapun mengerjapkan matanya, dia tidak melihat kalau Martin merebut ponsel itu.
Martin melihat ponsel itu ada tulisan Henry, diapun langsung merejecnya dan mematikan ponselnya. Tangan Shezi akan mengambilnya lagi tapi Martin menjauhkannya. Tidak cuma itu saja, Martin juga mengeluarkan kartunya.
“Martin apa yang kau lakukan?” tanya Shezie dengan pelan, tidak mau membuat ribut di kamar ibunya. Shezie segera menyusul Martin akan merebut ponselnya itu, Martin mengacungkan ponselnya, membuat Shezie terdiam.
Martin mendekatkan tubuhnya mendekati Shezie lalu berbisik.
“Ingat, perjanjian kita,” ucap Martin lalu memberikan ponsel yang tebuka batrenya itu dan kartunya dimasukkan kedalam saku bajunya.
Shezie terkejut melihat ponselnya tanpa kartu, kalau begini bagaimana Henry bisa menghubunginya?
Martin menghampiri Bu Vina dan berbicara.
“Bu, Aku mau memberitahu kalau aku sudah Deposit 100 juta untuk biaya pengobatan ibu,” kata Martin membuat Shezie terkejut juga Bu Vina.
“Oh bukan 100 tapi 120 juta,” ucap Martin dengan bangga.
“Apa nak Martin? Kau memberikan deposit sebesar itu?” tanya Bu Vina, tidak menyangka pria itu sangat bermurah hati meskipun tahu Shezie masih menolaknya.
“Iya Bu, jadi ibu tidak perlu khawatir lagi soal biaya rumah sakit,” kata Martin.
“Nak terimakasih, kau selalu menbantu kami, ibu tahu kau adalah pria yang paling cocok untuk Shezie,” ucap Bu Vina.
“Iya Bu, aku menyayangi Shezie juga menyayangi ibu, jadi ibu jangan banyak fikiran, ibu tenang saja berobat,” kata Martin.
“Terimakasih banyak Nak,” ucap Bu Vina, airmatanya mulai membasahi pipinya, dia sangat terharu dengan kebaikan dan kesabarannya Martin.
Tangan Bu Vina menggapai gapai.
“Shezie,!” panggil nya. Shezie langsung menghampiri ibunya.
“Ini aku Bu,” ucapnya sambil duuduk di kursi dan memegang tangan ibunya.
“Menikahlah dengan Martin, dia pria yang sangat baik. Meskipun kau sudah menikah dengan Henry, Martin masih mau menerimamu, dia pria yang sangat baik, ibu akan tenang jika kau menikah dengan Martin,” kata Bu Vina.
Shezie terdiam mendengarnya, dia ingin protes tapi ini adalah perubahan yang baik, ibunya mau bicara dengannya, sedangkan Martin tersenyum senang merasa diri menang.
Shezie akan menolak tapi dia ingat perjanjiannya pada Martin.
“Ibu ingin melihatmu memakai gaun pengantin,” ucap Bu Vina.
“Iya Bu,”ucap Shezie dengan hati yang terasa pedih.
“Ibu ingin melihat kau menikah dengan Martin itu demi kebahagiaanmu juga, ibu juga merasa tidak enak dengan keluarganya Martin yang sudah melamarmu, menikahlah dengan Martin,” ucap Bu Vina lagi.
“Iya, Bu,” jawab Shezie dengan ragu.
Martin hanya tersenyum saja, dia menang sekarang, biaya berobat tidak perlu bayar, Shezie juga akan segera dia miiki.
Henry keheranan kenapa panggilannya di reject oleh Shezie, diapun melakukan panggilan lagi ternyata Shezie tidak bisa dihubungi membuatnya merasa gelisah. mungkin batrenya habis, batinnya.
Tapi menjelang sore hari, Henry mencoba menghubungi Shezie lagi ternyata tidak aktif juga, membuatnya menjadi curiga.
“Ko Shezie tidak bisa dihubungi? Ada apa ya?” gumamnya, hatinya sudah tidak enak saja.
Akhirnya Henry pergi ke rumahnya Shezie.
Saat sampai rumah dia bingung kerena rumahnya sangat sepi dan tertutup. Dia berkali- kali mengetuk pintu itu tidak ada yang membukanya. Kembali menelpon Shezie masih tidak bisa dihubungi, membuat Henry semakin tidak tenang.
Jadi kemana Shezie? Kemudian terbersit dalam benaknya adalah ke rumah sakit. Mungkin Bu Vina saki dan mau dibawa ke rumah sakit. Henrypun pergi kerumah sakit dan langsung bertanya ke receptionis.
“Apakah ada pasien yang bernama Bu Vina?” tanya Henry.
Petugas di receptionis mengecek keberadaan Bu Vina.
“Ada Pak,” jawab receptionis.
Henry merasa lega, jadi itu makanya Shezie tidak bisa dihubungi karena ibunya dirawat di rumah sakit. Tumben sekali Bu Vina mau dibawa kerumah sakit.
Setelah medapatkan nomor ruangan rawat inap Bu Vina. Henry langsung kesana.
Dia melihat ada Shezie juga Martin didalam ruangan itu, dia kesal kenapa Martin yang selalu ada di keluarganya Shezie padahal menantunya adalah dia.
Henry mengetuk pintu beberapa kali membuat semua orang menoleh kearanhnya.
Shezie terkejut saat melihat Henry tiba, senyum langsung mengembang di bibirnya. Diapun langsung menyambutnya.
“Sayang,” panggil Henry, dia juga senang melihat istrinya menyambutnya. Dia langsung memeluk Shezie dan mencium keningnya.
Martin langsung memerah mukanya, kenapa mereka malah bermesraan di depannya?
Bu Vina yang mendengar suara Henry datang, langsung diam tidak suka.
Henry menatap SHezie, tangannya menyibakkan rambut yang menutupi kening istrinya.
“Sayang aku menelponmu tapi ponselmu tidak bisa dihubungi, aku sangat khawatir,” kata Henry.
“Maaf batrenya
habis,” jawab Shezie berbohong.
“Bagaimana kabar ibu? Aku senang ibu sudah kembali menjalani pengobatan di rumah sakit,” kata Hennry, mencoba ramah pada ibu mertuanya.
“Ibu jangan khawatir tentang biayanya, aku akan menanggung semua biayanya,” kata Henry.
“Martin sudah membayarnya,” jawab Bu Vina, tanpa menoleh, karena matanyapun belum bisa melihat.
Henry terkejut dan langsung menoleh pada Martin lalu pada Shezie.
“Kenapa pada Martin? Aku suamimu, aku juga punya cukup uang untuk membiayai ibu, kenapa Martin?” tanya Henry menatap Shezie yang diam dengan hati yang tidak karuan, dia mulai merasa tegang dengan keadaan ini.
“Maaf Henry, aku…” Shezie tidak melanjutkan bicaranya.
“Kau kan bisa menelponku,” kata Henry, dia tidak mengerti, dia yang menjadi suami Shezie kenapa Martin yang bayar?
Martin menghampiri Henry.
“Sudah kau simpan saja uangmu, Bu Vina sudah tenang berobat, sebaiknya kau pergi saja,” ucap Martin.
“Ini maksudnya apa?” tanya Henry, tidak suka dengan pengusiran dari Martin.
Shezie menoleh pada Martin.
“Martin tolong, jangan buat keributan,” kata Shezie, membuat Martin kesal.
Martin menarik tangan Shezie keluar dari ruangan itu, membuat Henry terkejut dan segera mengikuti mereka keluar, dia benar-benar yakin pasti ada yang tidak beres.
“Kau sudah berjanji, saatnya kau bicara padanya, mumpung aku memberimu waktu atau kau tidak pernah bisa bicara apa-apa lagi padanya,” kata Martin dengan ketus.
“Sayang, ini ada apa?” tanya Henry menatap Shezie.
Shezie balas menatapnya dengan bingung, diliriknya lagi Martin.
“Ada apa sayang? Apa terjadi sesuatu?” tanya Henry kebingungan, dia merasa hatinya resah.
Shezie malah diam, Martin kembali bicara.
“Lama amat!” gerutunya, lalu berdiri di depan Henry dan menatapnya dengan angkuh.
“Shezie akan bercerai denganmu, pengacaraku sedang mengurus perceraian kalian, jadi mulai sekarang kau jauhi Shezie,” kata Martin, membuat Henry terkejut.
“Kau ini bicara apa?” bentak Henry, tangannya langsung menyingkirkan tubuhnya Martin dan menatap Shezie.
“Sayang, ini maksudnya apa?” tanya Henry , melangkah mendekati Shezie dan memegang bahunya. Shezie diam membisu cuma menatapnya.
Henry membalas tatapan istrinya.
“Apa yang terjadi?” tanya Henry.
Shezie masih membisu, dia tidak sanggup mengatakannya dan memang dia tidak mau mengatakannya. Tiba-tiba Martin sudah menghalanginya lagi.
“Aku tadi sudah mengatakan kalau kalian akan bercerai,” kata Martin.
Henry kembali mendorong tubuhnya Martin dan berbalik menghadap Shezie.
“Sayang, katakan padaku, ada apa ini?” tanyanya hampir berteriak.
Bu Vina terkejut didalam ruangan saat mendengar suara Henry berteriak.
“Bi! Bi ijah!” panggilnya pada Bi Ijah yang sedang duduk saja diujung sofa.
“Iya Bu!” jawab Bi Ijah langsung menghampiri dan membantu Bu Vina untuk duduk.
Henry menatap Shezie dengan tajam, Shezie malah menunduk, dia tidak sanggup menatap wajah suaminya.
“Tatap aku, tatap aku!” teriak Henry.
Shezie tetap tidak mau mengangkat kepalanya, matanya sudah memerah dan genangan airmata sudah memenuhi kelopak matanya.
“Tatap aku!” teriak Henry lagi, kedua tangannya menyentuh wajahnya Shezie supaya menengadah melihat wajahnya.
Mau tidak mau Shezie menatap wajahnya Henry. Henry melihat linangan airmata itu.
“Apa yang terjadi? Yang dikatakan si brengsek itu bohong kan?” tanya Henry.
Tidak ada jawaban dari Shezie, airmata malah menetes ke pipinya.
“Shezie, jawab aku!” teriak Henry.
“Maaf Henry, aku terpaksa harus bercerai denganmu,” kata Shezie membuat Henry terkejut.
“Apa? Jangan main-main!” bentak Henry.
“Iya,” jawab Shezie mengangguk, matanya menatap wajah suaminya.
“Ini apa-apaan sayang? Pasti ada sesuatu yang terjadi bukan?” tanya Henry.
Martin langsung menghampiri.
“Kau dengar sendiri kan kalau Shezie mau kalian bercerai, kau terima saja,” kata Martin.
“Sayang, Ini maksudnya apa? Kenapa kau tiba-tiba bicara begitu?” tanya Henry tidak mengerti.
Mata Henry tidak lepas menatap Shezie, dia benar-benar butuh penjelasan.
“Sayang aku sudah minta ibuku pulang cepat untuk melamarmu pada ibumu, besok ibuku akan melamarmu pada ibumu, tapi memang ayahku tida bisa datang karena sedang sibuk,” kata Henry, dia benar-benar merasa kaget dengan semua ini.
Shezie menatap Henry dalam diam, dia tidak sanggup berkata-kata. Sementara Martin tersenyum melihatnya, dia merasa puas dengan kemenangannya.
*************