
Satria membolak balikkan Koran yang ada di tangannya. Sudah berhari-hari dia melakukan itu. Dia penasaran siapa yang mencari kakak iparnya lewat Koran itu. Tapi dia juga berfikir apakah dia tidak terlalu ikut campur kalau menyelidiki hal itu? Tapi rasa penasarannya dari hari ke hari semakin bertambah. Dia masih tandatanya kenapa kakaknya menikahi wanita yang bukan tipe kakaknya? Sungguh aneh.
Dilihatnya nomor kontak si pembuat berita, Cristian. Akhirnya Satria menelpon nomor itu.
Cristian yang masih dilapangan dengan Damian juga Pak Louis, segera menjauh, untuk menerima telpon yang terus berdering. Tampak Pak Indrapun menjauh karena handphonenya juga berdering.
“Halo,” sapa Cristian.
“Apa kau Cristian?” tanya Satria,saat mendengar suara laki-laki disebrang.
“Iya, apa kau mengenalku?” jawab Cristian.
“Aku membaca berita orang hilang,” kata Satria. Mendengarnya membuat Cristian bersemangat, semoga saja orang ini tahu keberadaan Hanna.
“Kau tahu keberadaan Hanna?” tanya Cristian.
“Mm tidak juga,” Satria mencoba menarik ulur, karena dia juga tidak tahu yang mencari Hanna ini kerabatnya atau orang jahat?
“Maksudmu?” tanya Cristian, hatinya kembali kecewa.
“Bagaimana kalau kita bertemu saja? Aku juga ada yang ingin aku tanyakan, tapi aku tidak tahu apakah orangnya sama dengan yang kau cari itu,” jawab Satria.
“Begitu juga bagus. Kau ada dimana? Sekecil apapun informasimu akan sangat berharga buatku,” kata Cristian. Satria terdiam sejenak, sepertinya wanita ini sangat special bagi Cristian. Mungkin memang bukan Hanna, istri kakaknya. Tapi tidak ada salahnya untuk bertemu dengan Cristian.
“Aku ada di ibukota,” jawab Satria.
“Baiklah kau sebutkan saja dimana kita bisa bertemu. Aku akan menemuimu besok, karena aku ada diluar daerah,” kata Cristian.
“Nanti aku kirimkan pesan alamat dimana nanti kita bertemu,” ucap Satria.
“Ya. Baiklah, aku tunggu,” jawab Cristian. Telponpun ditutup. Dia menghela nafas panjang, semoga saja orang itu benar-benar tahu keberadaan Hanna. Tidak terasa sudah lebih dari satu bulan mungkin mendekati dua bulan, Hanna menghilang. Berbagai upaya dia lakukan untuk menemukan pengantinnya itu, tapi tidak seorangpun yang memberi kabar keberadaannya.
“Apa kau baik-baik saja?” Tiba-tiba sebuah sapaan membuat Cristian terkejut. Diapun menoleh ke arah suara, ternyata Damian.
“Iya. Sepertinya besok aku tidak bisa menemanimu, aku ada urusan ke ibukota,” kata Cristian. Damian hanya mengangguk, lalu menoleh pada pak Indra yang menghampirinya.
“Pak, ada beberapa berkas penting yang harus ditandatangani di ibukota,,” kata Pak Indra.
“Bisa kau suruh orang saja untuk membawanya kemari?” tanya Damian.
“Ada beberapa kontrak baru juga dengan beberapa rekan bisnis kita,” jawab Pak Indra.
“Ya baiklah kalau begitu, aku ke ibukota besok,” ucap Damian, diapun menoleh pada Cristian.
“Apa kita akan berangkat bersama?” ajaknya.
“Oh tidak, terimakasih. Aku tidak mau mengganggu pekerjaanmu,” jawab Cristian.
“Mm baiklah, kalau begitu nanti jika kau sudah di ibukota, kalau ada waktu kita bertemu,” ucap Damian.
“Ya, nanti aku hubungi jika aku sudah di ibukota,” kata Cristian. Damian mengangguk.
Sore harinya rombongan Damian kembali ke hotel.
Begitu mendengar suara pintu ada yang membuka, Hanna buru-buru naik ke tempat tidur, berselimut, berpura-pura sakit begini benar-benar menyiksanya. Dia terus berfikir bagaimana cara supaya bisa keluar dari kota ini, supaya tidak bertemu orang-orang yang mengenalinya.
Damian melihat Hanna masih berbaring, menghampirinya, menatap wanita yang dia kira hamil itu.
“Kau tidur?” tanyanya.
“Tidak, hanya badanku terasa lemas saja,” jawab Hanna dengan lesu, matanya menatap Damian yang duduk di dekatnya.
“Aku ada rencana ke ibukota besok,” kata Damian. Mendengarnya Hanna senang bukan main, diapun langsung bangun dengan bersemangat.
“Kita ke kota besok?” serunya dengan wajah berseri-seri. Damian terbengong melihatnya, bukankah tadi dia bilang badannya lemas?
“Kau sudah sembuh sekarang?” tanya Damian keheranan. Membuat Hanna tersadar, saking senangnya mau meninggalkan kota ini dia sampai lupa sedang pura-pura sakit.
“Tidak, aku hanya terkejut saja,” ucap Hanna dengan pelan, dia kembali tidur dan berselimut.
“Kalau kau sakit sepertinya aku tidak bisa mengajakmu,” ucap Damian.
Hanna bangun lagi.
“Tidak, tidak, aku baikan sekarang,” seru Hanna, lagi-lagi Damian keheranan.
“Aku tidak mau kau meninggalkanku disini,” ucap Hanna.
“Tapi kau kan sedang tidak sehat,” kata Damian, menatap Hanna.
“Tidak apa-apa, aku sudah baikan sekarang. Bukankah katamu aku harus ikut kemanapun kau pergi? Aku tidak mau kau meninggalkanku disini,” jawab Hanna, sambil memegang tangan Damian. Dia berfikir harus kemana lagi dia pergi kalau tidak bersama Damian?
Damian melirik tangannya yang dipegang Hanna. Dia berfikir apa ibu hamil ini sedang manja padanya? Dia baca di artikel atikel juga begitu. Mood ibu hamil suka berubah-ubah, kadang lebih ingin diperhatikan, sepertinya Hanna juga begitu. Akhirnya diapun tersenyum dan mengangguk. Hanna langsung tersenyum lebar, senangnya bisa keluar dari kota ini juga kamar hotel ini yang membosankan.
“Besok pagi kita berangkat, malam ini kau jangan begadang, kau tidak perlu menungguku tidur, tidur lebih awal supaya besok tubuhmu lebih segar,” kata Damian.
“Jadi aku libur lagi malam ini?” tanya Hanna, tersenyum senang.
“Iya, tapi bukan berarti kau bisa main game sampai malam,” jawab Damian.
“Ya aku akan tidur lebih awal,” ucap Hanna. Damian beranjak dari duduknya, masuk ke kamar mandi.
Hannapun menarik selimutnya sampai menutupi seluruh kepalanya. Tangannya mengotak atik hapenya bermain game.
“Kau fikir tidak bosan, seharian di dalam kamar,” batinnya.
“Tidur!” Terdengar suara Damian memberi peringatan.
“Iya, ini juga sudah mau tidur, kau tidak perlu bicara terus,” ucap Hanna sambil membalikkan badannya bermain game dibawah selimut.
Setelah cukup lama bercakap-cakap lewat pesan dengan rekan bisnisnya, Damian mematikan handphonenya, diapun berbaring untuk segera tidur. Tapi ternyata dia tidak bisa memejamkan matanya, karena wanita yang disebelahnya itu tidak berhenti bergerak. Penghuni bawah selimut itu terus saja bergerak-gerak. Bukankah dia dari tadi sudah tidur? Kenapa selimut itu tampak bergerak-bergerak saja? Membuatnya penasaran apa yang dikerjaan wanita itu dibawah selimut.
Diapun menarik selimut itu hingga membuka kepalanya Hanna yang sedang main game. Hanna terkejut mendapati kepalanya sudah tidak berselimut lagi. Diliriknya pria itu yang menatapnya tajam.
“Aku meliburkanmu bukan membiarkanmu begadang main game. Kalau besok pagi kau masih tidur, aku tinggalkan,” ucap Damian dengan kesal, ternyata Hanna sangat tidak bisa diatur. Damian langsung mengambil handphonenya Hanna.
“Damian! Lagi seru-serunya, sebentar lagi aku tidur,” ucap Hanna, dengan kesal.
“Tidak ada main game, tidur!” bentak Damian.
“Kau ini,sebentar lagi aku tidur, sini hapenya,” pinta Hanna, bangun dari tidurnya, duduk menatap Damian.
“Aku jenuh seharian di kamar terus,” ucap Hanna.
“Tapi tidak untuk begadang,” Damian menggeleng, handphone disimpannya dibawah bantalnya, lalu bantal itu di tidurinya.
“Hii ii, kau mengganggu kesenangan orang lain saja,” gerutu Hanna. Damian cuek saja tidur membelakanginya.
Hannapun terpaksa berbaring dengan kesal, bagaimana dia bisa tidur, seharian tadi dia memaksakan diri tidur terus, tentu saja malam harinya susah untuk tidur. Sekarang handphonenya diambil Damian, disimpan di bawah bantalnya. Bagaimana cara mengambil handphone di bawah bantal itu?
“Damian, sepertinya ada yang mengetuk pintu,” ucap Hanna berbohong, maksudnya biar Damian bangun dari tidurnya dan dia bisa mengambil handphone itu.
“Itu ke tetangga kamar sebelah,” jawab Damian, dia sudah tahu tipu muslihatnya Hanna.
Hanna kembali berbaring, sambil terus berfikir cara mengambil handphone itu.
“Damian, apa kau sudah ke kamar mandi?” tanya Hanna.
“Mau apa ke kamar mandi?” tanya Damian.
“Ya pipis sebelum tidur,” jawab Hanna.
“Aku bukan anak kecil yang pipis sebelum tidur!” seru Damian dengan kesal, wanita ini benar-benar menggganggu tidurnya.
Hanna cemberut, apalagi idenya untuk membuat Damian bangun. Tangan Hanna terulur ke bawah bantal, tapi Damian yang tadi membelakangi merobah posisinya terlentang, jadi bantalnya penuh oleh kepalanya. Hannapun mengurungkan niatnya.
“Ayo tidurlah, jangan menggangguku tidur,” kata Damian, sambil terpejam.
“Bagaimana kalau kau mengigau?” tanya Hanna.
“Biar saja malam ini kau tidak perlu memelukku. Tidurlah. Kita berangkat besok pagi,” ucap Damian lagi tanpa membuka matanya.
Akhirnya hanna terpaksa berbaring ,memaksakan untuk tidur. Dilihatnya Damian kembali bebaring membelakanginya. Tapi tangannya malah menarik bantal itu semakin jauh ke depan wajah Damian. Bagaimana bisa hape itu dia ambil?
Terpaksa Hanna memejamkan matanya mencoba tidur. Semenit dia terlentang masih juga tidak biaa tidur, diapun berbaring membelakangi Damian mereka jadi tidur punggung punggungan. Semenit kemudian dia terlentang, lalu telungkup memeluk bantalnya, kemudian berubah lagi menghadap punggungnya Damian. Agak lama kalau menghadap punggung Damian. Dia menatap punggung pria itu.
Kenapa dia bisa tidur bersama pria ini? Diapun bangun, mendekatkan kepalanya ke wajah Damian, terlihat Damian sudah tidur, tapi tetap tidak bisa mengambil handphone dibawah bantal itu.
“Huh!” HAnnapun duduk. Apa yang harus dilakukannya? Dia belum mengantuk, hape di rampas Damian. Dia harus menunggu Damian tidur, kalau mengigau tinggal memeluk Damian sambil main game, fikirnya. Atau mungkin menonton tv saja dulu. Ya menonton tv saja. Hanna akan bergerak turun, tapi tiba-tiba dua buah tangan kokoh menarik tubuhnya ke belakang, membuatnya terkejut. Bruk! Dia jatuh kebelakang, beradu dengan tubuh si pemilik tangan yang menariknya tadi.
Damian memeluknya dengan erat.
“Sepertinya kau harus ku peluk baru bisa tidur,” ucap Damian, memeluk Hanna dengan kuat. Hanna yang tiba-tiba dipeluk Damian seperti itu sangat terkejut. Dia tidak menyangka Damian akan memeluknya.
“Damian, kenapa kau memelukku? Lepaskan!” teriak Hanna.
“Tidak ada cara lain, supaya membuatmu diam. Kau sangat mengganggu tidurku, aku sudah katakan berulang kali, kita berangkat besok pagi, aku tidak mau lelah besok,” kata Damian, memeluknya semakin erat.
“Tapi aku tidak mau kau peluk,” ucap Hanna.
“Tidak bisakah kau diam? Kau bicara lagi kucium,”kata Damian. Mendengar perkataan Damian, membuat Hanna semakin terkejut. Ah dari pada dicium Damian lebih baik dia diam. Akhirnya dia tidak bicara lagi, tapi bagaimana dengan pelukan ini? Kenapa pria ini memeluknya sangat erat? Hanna mencoba berontak malah pelukannya semakin erat. Akhirnya tubuhnyapun diam. Matanya berkedip kedip menghadap lehernya damian. Tubuhnya
sangat erat dipeluk pria ini, bahkan menempel ditubuh pria ini, jantungnya semakin berdegup kecang tidak karuan. Dia ingin lepas tapi tangan kokoh itu sepertinya tidak akan melepaskannya. Terpaksa diapun mencoba memejamkan matanya di pelukan pria itu. Dan ternyata beberapa menit kemudian Hanna tertidur.
*******************
Readers sebenarnya author masih sibuk, tapi author sempetin deh buat nulis.
Tapi..hik hiks kenapa adegannya di tempat tidur mulu? Hadeueueh...
Jangan lupa like vote dan komen.
Yang belum baca “My secretary” buruan baca.
Yang baca ‘Kontes menjadi Istri Presdir’ upnya besok aja ya.
Author ucapkan terimakasih atas dukungan kalian semua.
I Love U All