Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-31 Wanita di masa lalu Damian



Hari sudah larut tapi Damian masih berada didalam ruang kerjanya, benaknya masih penuh dengan mengumpulkan lagi ingatannya dimasa lalu, wajah Shezie semakin mengingatkannya pada seseorang, seorang wanita yang pernah dikenalnya sebelum bertemu dengan Hanna.


Hingga akhirnya muncul sebuah nama dibenaknya, Vina, nama wanita itu Vina. Apakah Shezie itu ada hubungannya dengan Vina? Apakah dia anaknya Vina? Tidak mungkin! Banyak orang yang mirip meskipun tidak ada ikatan darah.


Damian benar-benar tidak terlalu mempedulikan status gadis itu, dia hanya merestuinya karena Shezie pacarnya Henry, dia tidak terlalu banyak larangan dengan siapa putranya kan menikah, asalkan Henry mencintai gadis itu dan bahagia bersama gadis itu, itu sudah cukup untuk mendapatkan restu darinya. Jadi soal Shezie pun tidak banyak hal yang dia cari karena Shezie juga yatim piatu.


Kalau benar Shezie ada hubungan dengan Vina atau mungkin ibunya, berarti Vina sudah meninggal? Kenapa Vina meninggal diusia muda?  Rasanya tidak mungkin. Kalaupun masih ada mungkin usianya tidak akan beda jauh dengan Hanna.


Damian terhenti beropini, dia menghela nafas panjang, dia merasakan gelisah yang amat sangat, kenapa kehadiran Shezie malah mengingatkannya pada masa lalu? Meskipun Shezie tidak ada hubungannya dengan Vina, hanya kehadirannya kembali membuka cerita lama.


Diraihnya ponselnya menghubungi seseorang.


Hanna sudah terlelap dari tadi, terbangun saat tangannya menggapai-gapai tubuh suaminya tapi tidak ada di sampingnya. Dilihatnya jam di dinding ternyata sudah larut, diapun turun dari tempat tidur. Dengan mata yang masih mengantuk, Hanna berjalan keluar dari kamarnya menuju ruang kerja suaminya.


Dia akan membuka pintu saat mendengar suara percakapan didalam ruang kerja itu.


“Aku ingin tahu kabarnya Vina! Iya, aku sudah lama tidak bertemu dengannya lebih dari 20 tahun,” terdengar suaranya Damian.


Hanna terkejut mendengarnya, siapa wanita yang ingin di cari Damian? Kenapa tiba-tiba Damian mencari-cari wanita yang bernama Vina? Siapa wanita itu? Berbagai pertanyaan muncul dibenaknya Hanna, ada rasa cemburu yang tiba-tiba menyelimuti hatinya.


Apakah Vina itu nama mantan pacarnya Damian? Selama menikah dengan Damian tidak pernah Damian menceritakan kerabatnya yang bernama Vina, bahkan teman wanita yang di perkenalkan juga hanya Maria. Siapa lagi Vina? Apakah mungikin memang sebenarnya Damian memang memiliki pacar di setiap kota yang disinggahinya? Bagaimana jika itu benar dan terbukti sekarang setelah mereka menikah sekian lama?


Hanna masih berdiri di depan pintu saat tiba-tiba pintu itu terbuka. Damian terkejut saat akan keluar ruang kerjanya malah mendapati istrinya berdiri dipintu.


“Sayang! Kenapa kau tidak masuk?” tanya Damian.


“Aku baru saja akan mengetuk pintu,” jawab Hanna, mencoba bersikap biasa.


“Kau mencariku?” tanya Damian, tangannya menyentuh rambut istrinya yang sebagian menutupi wajahnya.


“Iya, kenapa kau belum juga tidur?” jawab Hanna, mencoba bersikap biasa saja, meskipun dalam hatinya dia masih memikirkan wanita yang bernama Vina itu.


Damian tersenyum dan langsung memeluk istrinya dengan erat.


“Kau tidak bisa tidur tanpa ku peluk?” tanyanya berbisik ke telinganya Hanna dan mencium pipi istrinya itu.


Hanna menatap Suaminya, menatap wajah tampan itu, siapa wanita yang berani menolak pesonanya Damian, suaminya itu sangat tampan dan kaya dia juga royal, sikapnya sangat lembut, banyak wanita yang menyukainya. Dengan pesonanya itu  dia sangat mudah mendapatkan wanita yang dia mau. Hanya saja mungkin dia wanita yang beruntung yang dinikahi Damian.


Jangankan dulu saat muda, sekarang saja sudah mempunyai anak sebesar Henry, dia masih terlihat awet muda, suaminya masih memiliki pesona untuk menarik wanita cantik bahkan wanita muda sekalipun.


“Kenapa sayang?” tanya Damian, menatap istrinya yang malah menatapnya.


“Tidak apa-apa, aku hanya mengantuk,” jawab Hanna, berbohong.


Damian kembali mencium pipinya.


“Ayo kita tidur,” ucapnya, merengkuh bahunya Hanna, istrinya itu hanya mengangguk. Merekapun menuju kamar mereka yang bersebrangan dengan kamarnya Henry.


“Sayang!” panggil Hanna, saat Damian mulai merebahkan tubuhnya ke tempat tidur.


“Ya, ada apa?” tanya Damian, mencoba mencari posisi yang nyaman untuk tidurnya. Hanna duduk ditempat tidur, disamping tubuh suaminya sambil menatapnya.


“Apa ada yang kau sembunyikan dariku?” tanya Hanna.


“Disembunyikan?Apa? Tidak ada,” jawab Damian, menggelengkan kepalanya.


Hanna terdiam, Damian tidak jujur itu artinya memang ada sesuatu yang disembunyikan. Sesuatu yang tidak baik.


“Memangnya kenapa?” tanya Damian, sekarang menatap Hanna yang juga masih menatapnya.


“Tidak, tidak apa-apa, hanya bertanya saja,” jawab Hanna.


“Kau mulai berfikir yang aneh-aneh! Ayo tidurlah, katanya kau ingin aku peluk, kemarilah,” ucap Damian mengulurkan tangannya ke arah Hanna.


Hanna segera mendekat dan merebahkan tubuhnya dipelukan suaminya. Meskipun dipeluk Damian, yang biasanya dia bisa langsung terlelap tapi tidak sekarang. Hanna masih penasaran dengan wanita yang dicari Damian, kenapa Damian begitu berniat mencari wanita itu? Siapa wanita itu? Kenapa Damian tidak jujur soal itu? Apakah wanita itu matan pacarnya?


Dengan berbagai pertanyaan yang muncul, lambat laun akhirnya Hanna tertidur juga meskipun hari sudah menjelang pagi bari dia bisa terlelap.


*******


Sinar matahari sudah memasuki celah celah jendela, sinarnya terasa hangat menyentuh kulit. Shezie menggeliatkan tubuhnya saat sinar matahari itu menyilaukan matanya. Dia merentangakn kedua tangannya dengan bebas, tidur yang sangat nyenyak dan nyaman, sofa yang benar-benar sangat nyaman, fikirnya sambil membuka matanya.


Shezie terkejut saat menyadari tangannya menyentuh kain yang dia tiduri, matanya semakin terbelalak saat menyadari semuanya, diapun langsung bangun.


“Tempat tidur! Aku tidur di tempat tidur!” serunya.


“Siapa yang memindahkanku dari sofa?” gumamnya, lalu menoleh kearah sofa ternyata tidak ada siapa-siapa disana. Shezie menatap tempat tidur itu, jadi semalam dia tidur di tempat tidur ini? Bersama Henry? Ah tidak, kenapa dia bisa tidur dengan Henry segala?


Terdengar suara pintu kamar dibuka. Sosok pria berbadan tegap masuk kedalam kamar itu.


“Kau sudah bangun?” tanya Henry saat melihat Shezie duduk ditempat tidur dan menatapnya.


“Kenapa aku tidur di tempat tidur? Siapa yang memindahkanku?” tanya Shezie.


Henry berdiri balas menatapnya, dengan kedua tangan berada disakunya.


“Kau menuduhku yang memindahkanmu?” tanya Henry.


“Tentu saja, siapa lagi?” tanya Shezie.


“Buat apa aku memindahkanmu, buang-buang energiku saja,” jawab Henry.


“Kalau bukan kau terus siapa? Tidak mungkin aku dipindahkan oleh hantu atau..atau… aku berjalan dalam tidur?”tanya Shezie.


“Sepertinya begitu, aku terbangun kau sudah tidur di tempat tidur,” jawab Henry sambil berjalan menuju jendela.


“Apa? Jadi aku berjalan dalam tidur? Pindah tidur ke tempat tidur dan aku tidur seranjang denganmu?” tanya Shezie. Henry tidak menjawa, dia merasakan kesejukan udara di luar yang masuk lewat jendela.


“Oh tidak!” seru Shezie.


“Kenapa?’” tanya Henry, menoleh pada Shezie yang bersikap seperti itu.


Shezie langsung menatap Henry.


“Jadi aku tidur denganmu? Oh tidak, kenapa aku harus tidur denganmu?” tanya Shezie.


Henry tidak menjawab.


“Kita akan ke rumah baru, bersiap-siaplah,” ucap Henry.


Tapi yang diajak bicara malah seperti meratapi nasib.


“Kenapa aku harus tidur denganmu? Aku baru tahu kalau aku berjalan dalam tidur,” gumamnya.


“Kau dengar tidak apa yang aku katakan? Cepat bersiap-siap, kita pindah ke rumah baru,” kata Henry, jadi kesal melihat sikap Shezie yang berlebihan.


“Sekarang?” tanya Shezie.


“Iya sekarang!” jawab Henry dengan ketus.


Shezie kembali menatap wajah Henry. Berbagai tuduhan berkumpul didalam kepalanya.


 


****************


Readers episodenya aku potong pendek pendek ya, biar tidak hang. Sekarang kalau kata-katanya banyak suka hang dan langsung ngeclose aplikasinya dan gagal up.