Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-75 Makan Malam



Shezie berkali-kali bercermin, dilihat lagi dilihat lagi penampilannya, rasanya seperti ada saja yang kurang. Dia sangat gelisah, jantungnya berdebar kencang dan sangat gugup.  Malam ini Henry mengajaknya makan malam diluar. Padahal cuma makan malam dengan suaminya tapi gugupnya bukan main, serasa menjadi kencan pertama masa-masa pacaran.


Terdengar suara mobil memasuki halaman rumah. Shezie buru-buru berlari menuju pintu kamarnya tapi tiba-tiba menghentikan langkahnya, diapun kembali masuk ke kamar dan melihat lagi dirinya di cermin. Terdengar suara mobil berhenti dan suara mobil dikunci, sepertinya Henry sudah keluar dari mobil. Shezie buru-buru berlari keluar kamarnya. Saat sampai ditangga, dia mendengar langkah Henry sudah masuk rumah.


Shezie menghembuskan nafas sebentar mencoba tenang lalu menuruni tangga dengan pelan, mencoba seanggun mungkin. Hanya sekedar akan malam tapi terasa begitu merepotkan.


Henry menatap istrinya turun dari tangga. Dia langsung tersenyum melihat istrinya menggunakan gaun yang tadi siang dia kirim.


“Kau sudah datang,” kata Shezie, mencoba tenang, hatinya gelisah beetanya-tanya apa penampilannya malam ini sempurna dimata Henry.


“Iya, aku tidak sabar ingin mengajakmu makan malam,” jawab Henry, masih dengan senyumnya, istrinya membalas senyumnya dan berjalan menghampiri.


“Sepertinya kau sudah siap,” ucap Henry.


“Iya,” jawab Shezie.


“Kau terlihat cantik, sepertinya gaunnya cukup dibadanmu, kau terlihat sempurna,” kata Henry.


“Iya,” jawab Shezie, melihat gaun yang dipakainya.


Henry berjalan mendekat dan memeluk pinggang Shezie.


“Kau terihat sangat cantik,” pujinya lagi sambil mencium pipinya Shezie. Senyum tidak lepas dari bibirnya Shezie, bahagia rasanya dipuji begitu oleh suaminya.


“Aku mandi dulu sebentar, kau tunggu ya,” kata Henry. Shezie mengangguk.


 Henry melepaskan pelukannya, lalu bergegas naik menuju kamarnya.


Shezie masih terseyum, dia melirik kaca di lemari yang ada diruangan itu, melihat penampilannya sekali lagi, dia senang dipuji cantik oleh Henry.


Tidak butuh waktu lama saat Henry sudah selesai mandi dan berpakaian. Suaminya menuruni tangga dengan penampilannya yangjuga perfect. Dia sangat tampan, Shezie merasa sangat bangga memilikinya.


“Ayo sayang,” ajak Henry, tangannya mengulur pada Shezie yang segera menyambutnya. Merekapun keluar rumah menuju sebuah resto yang sudah dipesan oleh Henry.


Resto yang dipilihkan Henry adalah sebuah Resto mewah yang romantic.


“Kau mengajakku makan disini?” tanya Shezie, saat mereka sudah berdiri didepan pintu masuk Resto.


“Iya,” jawab Henry.


“Resto yang terlalu romantic buat kita,” kata Shezie.


“Kita juga butuh suasana romantis,” ucap Henry, menatap Shezie sambil tersenyum. Dia merasa bahagia bisa melihat wajahnya Shezie setiap hari. Sudah tidak khawatir lagi akan pergi meninggalkannya. Gadis itu sudah benar-benar jadi miliknya.


Tangan kanan Henry memeluk pinggangnya Shezie, mereka masuk ke dalam resto. Seorang pelayan membawa mereka ke meja yang telah dipesan Henry.


“Karena aku tidak tahu menu kesukaanmu, jadi aku tidak banyak pesan makanan, kau bisa pesan apa yang kau mau sekarang,” kata Henry pada Shezie yang duduk di sebrangnya.


Shezie menerima map menu dan dibacanya.


Di tempat lain tidak jauh dari tempat mereka duduk, datang sepasang pria dan wanita. Yanag wanita tampil sangat canti dan sexi, dengan gaun yang memiliki belahan samping yang tinggi sampai paha, benar-benar sangat elegant. Di sebelahnya seorang pria dengan bajunya yang terlihat sangat mahal, tapi tubuhnya lebih pendek sedikit dari wanita itu dengan rambutnya yang pelontos, tampak begitu bangga menggandeng wanita cantik disebelahnya.


“Sayang, kau bisa pesan makanan yang kau suka, apa saja, kau tenang saja, aku punya banyak uang untuk mentraktirmu,” kata pria itu sambil terkekeh.


Wanita itu tersenyum dengan terpaksa, dia membuka menunya.


“Aku pesan ini saja,” ucapnya sambil memberikan menu itu pada pelayan yang berdiri disamping kirinya. Bersamaan dia menoleh kekiri, matanya terhenti pada sosok yang duduk berdua berhadapan.


Matanya langsung terbelalak, apa dia tidak salah lihat? Itu Henry dan Shezie, mereka juga makan disini, hatinya langsung saja jadi mendung. Sudah kencan dengan pria yang tidak lebih keren dari Henry, eh malah melihat Henry makan malam dengan gadis pelayan café itu.


“Kau kenapa sayang?” tanya pria yang bersamanya itu jadi ikut menoleh pada Henry.


“Tidak apa-apa,” jawab gadis itu yang tiada lain Andrea.


Hati Andrea langsung saja dibakar cemburu. Menatap pria didepannya yang sangat kalah jauh dari Henry.


Matanya kembali melirik kearah Henry. Mantan pacarnya itu sangat tampan dan gagah, dia sudah jarang melihatnya dan sekarang melihatnya lagi dia terlihat lebih mempesona, ada senyum di bibirnya Andrea saat menatap Henry, tapi saat menoleh pada gadis yang bersama Henryy, hatinya menjadi kesal dan cemburu. Seharusnya dia yang bersama Henry, seharusnya dia tidak memutuskan Henry, seharusnya dia bisa lebih bersabar dengan penolakan Henry, seharusnya..ah seharusnya…dia menyesal putus dari Henry.


Henry menatap wanita didepannya itu.


“Sayang, aku punya sesuatu untukmu,” kata Henry.


“Sesuatu? Apa?” tanya Shezie, terkejut mendengarnya.


Henry merogoh sakunya, ditangannya sekarang ada sebuah kotak kecil yang diberi pita.


“Selama ini aku tidak pernah memberimu apa-apa. Tadi setelah memesan gaun aku juga memesan ini untukmu,” kata Henry sambil memberikan kotak itu.


Shezie menerimanya dan membukanya perlahan, ada sebuah cincin berlian yang indah disana.


“Kau memberiku cincin?” tanya Shezie, menatap Henry.


Henry mengangguk.


“Kau suka?” tanya Henry.


Shezie mengangguk dan mengambil cincin itu.


“Sini aku pakaikan,” kata Henry, mengulurkan tangannya, Shezie memberikan cincin itu dan menyimpan kotaknya di meja. Sebelah tangan Henry meraih tangannya Shezie, di jari manisnya Shezie ada cincin pernikahan mereka.


“Ini dipasang ditengah saja ya,” kata Henry. Shezie mengangguk. Henry memasangkan cincin itu dijari tengahnya Shezie.


Andrea yang kebetulan melirik lagi pada Henry, terkejut saat pria itu memasangkan cincin ditanganya Shezie.


“Kau memberikanku hadiah?” tanya Andrea pada pria yang ada di depannya.


“Tidak sayang, ini kan bukan hari ualang tahunmu,” jawab pria itu, jawaban yang sangat tidak menyenangkan, membuat Andrea semakin enek saja.


“Cantik bukan?” tanya Henry pada Shezie, tangannya masih memegang tangannya Shezie.


“Iya, sangat cantik,” jawab Shezie, dia sangat bahagia mendapatkan hadiah dari Henry.


“Terimakasih,” ucap Shezie.


Henry mengecup tangannya Shezie.


“Aku mencintaimu,” ucapnya lalu menatap istrinya itu.


“Aku minta maaf aku sangat terlambat menyadari kalau aku mencintaimu,” ucapnya lagi, ucapan yang terdengar sangat manis dan membahagiakan Shezie, sungguh dia tidak salah memilih Henry jadi suaminya.


“Tidak ada yang terlambat, yang penting kau mencintaiku, aku sangat senang,” jawab Shezie.


“Terimakasih, sayang,” ucap Henry.


Andrea yang melihat kemesraan mereka semakin cemburu saja, hatinya terasa panas, dia makan menu makannya dengan kesal. Dia berdandan sangat cantik hanya dapat pria pendek berkepala botak, sangat menyebalkan.


Terdengar lagi Henry bicara pada Shezie.


“Sayang ada lagi hadiah untukmu,” kata Henry. Andre langsung memasang telinganya, dan melirik kearah meja Henry.


Henry tampak memanggil seseorang dan tidak berapa lama orang itu membawakan sebuah kotak yang lebih besar pada Henry.


“Terimakasih,” ucap Henry, pria yang membawa kotak itu pergi lagi.


Andrea semakin penasaran  Henry akan memberikan hadiah apa lagi?


“Kau masih akan memberiku hadiah?” tanya Shezie, menatap Henry. Karena saking focusnya pada pasangan mereka, mereka tidak tahu ada sepasang mata yang memperhatikan gerak-gerik mereka.


“Iya, sebenarnya aku tadi bingung perhiasan apa yang kau suka, apa kau suka cincin atau kalung, gelang, jadi aku membeli satu set untukmu, kau bisa pilih sendiri mana yang ingin kau pakai,” kata Henry sambil membuka kotak itu dan memperlihatkannya pada Shezie.


Shezie terbelalak kaget saat melihatnya, satu set pehiasan cantik ada disana, yang jelas pasti harganya sangat mahal.


Andrea sampai terkejut melihatnya, sekilas dia melihat kilatan perhiasan di kotak itu meskipun tidak jelas, yang pasti dia bisa menebak berapa harga satu set perhiasan, hatinya semakin terasa kepanasan saja.


“Ternyata dia tidak sepelit saat pacaran, aku menyesla putus darinya,” batinnya, dengan lesu.


“Henry ini terlalu mahal untukku,” kata Shezie menatap perhiasan diatas meja itu.


“Tidak terlalu mahal sayang, aku senang membelikannya untukmu, apa kau tidak suka?” tanya Henry, dia heran biasanya gadis gadis berlomba untuk merayunya supaya dibelikan perhiasan.


“Aku suka” jawab Shezie.


“Tapi kau tidak perlu seperti ini, diberi cincin juga aku sudah senang,” kata Shezie, dia merasa tidak enak dengan pemberian dari Henry itu yang kalau diuangkan sangat besar jumlahnya.


“Tidak sayang, kau istriku, sudah seharusnya aku memanjakanmu,” kata Henry, mendengarnya benar-benar semakin membuat Shezie bahagia.


Andrea yang melihat ekspresi Shezie yang senang mendapat hadiah dari Henry semakin iri saja.


“Aku kalah dari pelayan café itu,” gerutunya dalam hati. Diapun menyimpan sendoknya.


“Kau kenapa? Makanannya kurang enak?” tanya pria yang ada di depannya itu.


“Kita putus!” kata Andrea, sambil bangun dari duduknya membuta pria itu terkejut.


“Apa? Putus? Tapi kenapa?” tanya pria itu.


Andrea tidak menjawab, dia langsung meraih tasnya dan keluar meningalkan pria itu yang menatapnya tidak mengerti.


Andrea kesal bukan main melihat perlakuan Henry pada Shezie. Henry yang saat pacaran begitu terkenal dengan kepelitannya, malah begitu sangat memanjakan istrinya, dia benar-benar menyesal sudah putus dari Henry, tahu begitu dia tidak akan pernah melepaskan Henry waktu itu.


Dia langsung mengeluarkan ponselnya menelpon seseorang.


“Kau bagaimana sih? Katamu kau bisa memisahkan mereka, tapi apa buktinya? Mereka malah lebih mesra!” makinya pada orang diseberang itu.


“Apa maksudmu lebih mesra? Henry itu ditolak oleh Ibunya Shezie,” terdengar suara pria yang tiada lain adalah Martin.


“Tapi kenyataannya mereka sedang makan malam berdua disini!  Apa kau tidak bisa bertindak yang lebih agresis atau apa ke biar mereka berpisah? Aku ingin Henry kembali padaku!” kata Andrea.


Martin terdiam, setelah kejadian di rumah Shezie itu ternyata Henry dan Shezie masih bertahan, apa yang harus dilakukannya sekarang?


“Kau tenang saja, aku masih punya cara untuk mereka segera berpisah, yang pasti mereka tidak akan pernah direstui ibunya Shezie,” ucap Martin.


“Jangan ngomong saja buktikan!” teriak Andrea sambil menutup telponnya.


Martin menatap ponselnya yang dimatikan. Dia juga ikut panas hati mendengar Henry dan Shezie semakin mesra.


“Sayang, ada telpon siapa sih? Mengganggu saja,” tanya suara wanita yang keluar dari balik selimut disampingnya Martin.


************


Readers sehubungan aku nulis tidak pernah pakai konsep dan ngalir sejadinya cerita, aku belum tahu ya tamatnya di bab berapa.


 Yang masih suka ikutin saja terus.. jangan lupa di like dan vote biar semangat nulisnya. Terimakasih yang kemarin sudah pada ngasih tips. I Love U.


**************