Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-50 Apakah aku jatuh cinta



Damian sedang mengendarai mobilnya saat ponselnya berbunyi berkali-kali.


“Sayang coba kau lihat, siapa yang menelpon,” kata Damian.


Hanna yang duduk disampingnya, merogoh saku suaminya dan mengambil ponselnya.


“Tidak ada namanya,” kata Hanna, saat melihat hanya angka-angka saja yang muncul.


“Tidak ada namanya?” tanya Damian.


“Matikan saja?” tanya Hanna, menatap suaminya.


“Jangan jangan!” larang Damian.


“Aku angkat?” tanya Hanna.


“Jangan-jangan!” jawab Damian, lalu menghentikan mobilku dipinggir jalan, membuat Hanna keheranan dan menatapnya, kalau tidak boleh dimatikan kenapa tidak boleh diangkat?


Damian mengambil ponsel dari tangan Hanna itu lalu menekan tombol hijau menerima panggilan. Tapi setelah itu Damian langsung turun dari mobilnya.


“Halo!” sapanya, sambil menutup pintu mobil dan menjauh dari mobilnya.


Hanna menatapnya keheranan, buat apa Damian menerima telpon itu dan pergi menjauh, apa dia tidak mau pembicaraannya didengar olehnya? Sebenarnya siapa si penelpon itu?


“Kau ada kabar apa?” tanya Damian, berdiri dibawah pohon dipingir jalan itu.


“Bu Vina sudah pindah cukup lama Pak,” jawab suara di seberang.


“Pindah kemana?” tanya Damian.


“Menurut informasi pindah ke ibukota, tapi tidak diketahui sekarang tinggal dimana,” jawab suara disebrang.


“Kau bisa cari tahu barangkali ada teman atau kerabatnya yang tinggal di ibukota,” kata  Damian.


“Baik Pak, nanti kalau sudah dapat info saya laporkan lagi,” jawab suara di sebrang itu lagi.


“Oke!” jawab Damian. Diapun menutup telponnya, terdiam beberapa saat seperti sedang berfikir, lalu kembali ke mobilnya, istrinya sedang menatapnya.


“Telpon dari siapa?” tanya Hanna.


“Rekan kerjaku yang baru, jadi aku belum save nomornya,” jawab Damian, kembali menjalankan mobilnya.


Hanna menatap wajah suaminya dia merasa aneh dengan sikapnya.


“Kau menyembunyikan sesuatu?” tanya Hanna.


“Tidak,” jawab Damian.


“Kenapa kau menelpon jauh-jauh, kau ketakutan kedengaran olehku?” tuduh Hanna.


"Tidak, di dalam mobil sinyalnay jelek,” jawab Damian.


Hanna tidak bicara lagi, bibirnya cemberut rasanya tidak percaya dengan perkataan Damian, pria itu menyembunykan sesuatu darinya.


Melihat istrinya cemberut begitu, Damian kembali menghentikan mobilnya. Diapun memiringkan tubuhnya menghadap Hanna.


“Kau kenapa?” tanya Damian, tangannya memegang sandaran kursi dibelakang Hanna.


Hanna tidak menjawab, tapi Damian bisa menebak istrinya sedang marah.


“Sudah jangan cemberut, kau membuatku ingin menciummu,” ucap Damian, tangannya menyentuh bibirnya Hanna.


“Ada yang kau sembunyikan dariku!” tuduh Hanna.


“Tidak, tidak ada, Sepertinya belakangan ini kau cemburuan, “ kata Damian.


“Tentu saja aku cemburuan, bagaimana kalau kau ternyata berselingkuh?” ucap Hanna.


“Kau ini ada-ada saja, kefikiran berselingkuh juga tidak. Sudah jangan berfikir macam-macam, aku hanya mencintaimu saja,” kata Damian, meraih kepala istrinya dan mencium keningnya. Tapi entah kenapa Hanna merasa ada yang disembunyikan Damian, tapi kenapa juga Damian tidak mau jujur? Perasaan istri tidak bisa dibohongi.


“Bagaimana kalau kita mampir ke rumahnya Henry, kita belum menengok mereka kan?” kata Damian.


Hanna pun mengangguk. Kini sebuah kecupan mendarat di bibirnya. Tangan kirinya Damian mengusap rambutnya. Kalau Damian sudah bersikap manis begitu, rasa kesalnya langsung saja hilang, diapun tersenyum. Damian kembali menjalankan mobilnya.


*******


Malam ini di rumah terasa begitu sepi. Henry berbaring di sofa dengan televisi yang menyala tapi tidak di tontonnya.  Seharian ini Henry bekerjapun tidak focus,  bayang-bayang wajah Shezie berseliweran dipelupuk matanya. Ungkapannya kalau dia menyukai Shezie masih terngiang ditelinganya, apa benar dia menyukainya?


Lama semakin lama rasanya tidak rela kalau melepaskan Shezie untuk menikah dengan Martin. Hatinya tidak bisa membiarkan itu semua. Kenapa semua ini jadi begini? Bukankah rencana awal hanya menunda perceraian? Kenapa sekarang untuk bercerai itu terasa berat? Bahkan sikapnya malah ingin menunjukkan kalau dia adalah suaminya Shezie. Apa yang harus dilakukannya supaya Shezie masih berada di sampingnya?


Henry menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba menghilangkan bayang-bayang wajah Shezie. Tapi wajah itu terus saja menempel. Apa dia sudah jatuh cinta pada gadis itu?


Tiba-tiba terdengar suara mobil diparkir di teras, kemudian suara pintu dibuka dan sapaan kepala pelayannya. Henry masih saja berbaring , dia malas untuk melihat siapa yang datang.


“Kenapa begitu sepi? Henry!” terdengar suara wanita.


Suara itu tentu saja membuat Henry kaget dan diapun langsung bangun. Ibu dan ayahnya muncul dipintu dan menatapnya.


“Kau sedang apa? Kemana istrimu?” tanya Damian, menatap putranya yang malah bengong saja, tidak menyangka kalau orang tuanya datang ke rumah.


“Shezie, dia..dia…sudah tidur!” jawab Henry berbohong.


“Sudah tidur? Padahal masih sore,” kata Hanna, sambil duduk di sofa dekat putranya.


“Ayah, ibu kemari kenapa tidak memberi kabar?” tanya Henry.


“Tadi ada acara dengan teman-teman ayah jadi mampir kesini. Bagaimana kalian betah tinggal disini?” tanya Damian, dia juga duduk disamping Henry dan memeluk bahu putranya itu.


“Betah,” jawab Henry.


“Tentu saja betah, kau berdua saja dengan istrimu tidak ada yang mengganggu,” kata Hanna sambil tersenyum.


Henry tidak menjawab apa-apa. Tidak ada pengaruh apa-apa mau berdua atau tidak juga.


Terdengar suara langkah kaki masuk ke ruangan itu.


Semua mata menoleh kearah pintu. Henry terkejut saat melihat Shezie yang datang.


Hanna dan Damian juga terkejut karena tadi Henry bilang Shezie sedang tidur, kenapa sekarang malah Shezie datang dan sepertinya sudah bepergian?


“Ayah, ibu!” sapa Shezie, dia terkejut bukan main melihat ayah dan ibu mertuanya ada di rumahnya.


“Kapan kalian datang?” tanya Shezie.


Hanna dan Damian menoleh kearah Henry, menatapnya tajam. Henry memalingkan muka, dia bingung harus menjawab apa.


“Henry, katamu istrimu sedang tidur, ko Shezie datang dari luar?” tanya Hanna.


“Kalian bertengkar lagi?” tanya Damian, menatap Henry.


Hanna menoleh pada Henry lalu pada Shezie.


“Kalau kalian bertengkar terus, kapan kalian punya anaknya? Seharusnya masa- masa pengantin baru kalian itu lebih mesra!” kata Hanna.


Shezie tertegun mendengar perkataan mertuanya dia bingung tidak mengerti ada apa.


“Kami tidak bertengkar,” kata Shezie.


“Sudah jangan berbohong lagi! Kalian itu tidak mendengar perkataan orang tua, supaya kalian rukun rukun saja, memangnya apa sih permasalahan kalian? Masa pengantin baru kerjanya bertengkar terus, belum sebulan kalian menikah,” keluh Hanna.


“Bu, kami memang tidak bertengkar, aku tadi tahunya Shezie tidur. Aku juga ketiduran di sofa, jadi aku tidak tahu Shezie pergi,” kata Henry, lalu menoleh pada Shezie yang masih bingung. Diapun langsung menarik tangan Shezie.


“Kami keatas dulu ya Bu, yah,” kata Henry.


Shezie melihat tangan Henry yang menariknya, tidak mengerti tapi tidak bicara apa-apa, Henry membawanya ke kamar mereka.


“Ada apa? Kenapa kau menarik tanganku?” tanya Shezie.


“Kenapa kau pulang? Katamu kau menginap di rumah sakit?” tanya Henry.


“Aku mau mengambil dompetku, ketinggalan!” jawab Shezie,


“Tadi aku naik taxi meminjam uang perawat,” lanjut Shezie.


Henry tidak bicara apa-apa lagi.


“Tadi aku bilang kau sedang tidur, kau tiba-tiba datang, jadi orangtuaku mengira kita bertengkar,” kata Henry kemudian.


“Bukankah itu bagus, katamu kita harus membuat pertengkaran-pertengkaran supaya bisa bercerai?” ujar Shezie.


“Jangan-jangan, jangan sekarang” cegah Henry, membuat Shezie mengerutkan dahinya, kenapa malah harus pura-pura rukun terus?


“Ada apa orang tuamu kemari?” tanya Shezie.


“Hanya mampir saja,” jawab Henry.


“Henry! Apa kalian bertengkar?” terdengar teriakan Hanna.


Henry menatap Shezie.


“Tidak Bu!” teriak Henry.


“Ibu akan menginap disini!” teriak Hanna lagi.


“Apa? Menginap?” Shezie menatap Henry.


“Aku kan mau ke rumah sakit lagi,” ucap Shezie.


“Kau tidak bisa ke rumah sakit, nanti orang tuaku bertanya macam-macam, mereka kan tahunya kau yatim piatu, pasti akan bertanya-tanya kenapa kau pergi lagi,” kata Henry, padahal dalam hatinya dia senang bisa melihat wajah Shezie langsung dari pada tadi hanya bayangannya saja yang berseliweran.


“Terus bagaimana dong?” tanya Shezie, sambil duduk di sofa dengan lesu.


“Kau telpon ART ibumu saja, kalau ada apa-apa telpon kalau yang penting-penting,” saran Henry.


“Henry!” panggil hanna lagi, ibunya itu berteriak-teriak saja.


“Ya Bu” teriak Henry, lalu menoleh pada Shezie.


“Ingat, kau tidak bisa pergi, ayo!” kata Henry.


Tangan Henry langsung menarik tangannya Shezie lagi, yang mengikutinya dengan langkah cepat karena kakinya Henry sangat panjang jadi dia mengimbanginya dengan setengah berlari.


“Ada apa Bu?” tanya Henry turun dari tangga menemui ibunya, tangannya masih menuntun tangan Shezie.


“Kalian bertengkar lagi?” tanya Hanna.


“Tidak,” jawab Henry.


Hanna menatap mereka  penuh selidik.


“Benar Bu, kami tidak bertengkar, iya kan sayang?” tanya Henry sambil menoleh pada Shezie, tangannya langsung memeluk bahunya Shezie, yang langsung mengangguk.


“Benar?” tanya Hanna menatap Henry dan Shezie dengan tajam.


“Iya kami baik-baik saja, ya kan sayang?” tanya Henry, sambil menoleh lagi pada Shezie dan mencium keningnya. Cup! Ups! Henry terkejut karena dia mencium keningnya Shezie,  membuat Shezie menahan nafasnya, apa barusan Henry mencium keningnya? Tangannya langsung memegang jidatnya.


Henrypun tersadar, telapak tangannya langsung menempel juga di keningnya Shezie dan mengusap-usapnya, menghapus bekas kecupannya tadi, sambil tersenyum pada ibunya.


Hanna menatap kedua insan ini dengan bingung, kenapa bekas ciuman harus dihapus jejaknya? Kelakuan putranya itu sangat aneh.


Sementara Hanna keheranan, Damian berbaring saja di sofa tidak menghiraukan mereka.


*****************