Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-107 Saling Cemburu



Cristian sangat terkejut melihat Damian ada dirumahnya Hanna. Bukan itu saja, tapi rekan bisnisnya itu sedang memeluk mantan kekasihnya, mantan pengantin wanitanya.


Hanna juga terkejut melihat Cristian yang tiba-tiba datang ke rumahnya, apalagi melihatnya dipeluk oleh Damian.


Tangan Hanna melepaskan tangannya Damian.


“Cristian!” panggil Hanna, sambil berdiri. Damian diam saja.


“Maaf aku mengganggu, aku hanya mampir sebentar, ibumu ada?” tanya Cristian, wajahnya terlihat memerah. Rasa cemburu begitu bertumpuk dihatinya. Walaubagaimanapun dia mencintai Hanna dari kecil,dia belum bisa melupakan perasaannya begitu saja.


“Kau duduklah, aku kedalam sebentar memanggil ibuku,” kata Hanna, sambil diapun masuk ke dalam rumah.


Cristian menatap Damian.


“Kau ada disini?” tanya Cristian, kenapa rasanya dia tidak rela melihat Damian ada di rumah bekas calon mertuanya dulu?


“Ya,”jawab Damian pendek, dia masih duduk saja dikursi.


Bukan saja Cristian yang merasa cemburu, tapi Damian juga. Karena Cristian pernah dekat dengan Hanna itu artinya cristian juga sering berkunjung ke rumahnya Hanna. Damian membayangkan bagaimana dekatnya Cristian dengan Hanna. Damian menggeleng-gelengkan kepalanya, dia tidak boleh cemburu. Walaubagaimanapun dia adalah pemenangnya. Hanna mencintainya dan semua orang mengetahui kalau Hanna adalah istrinya meskipun bohongan.


Hanna muncul ke ruang tamu itu bersama Bu Astrid.


Bu Astrid menatap Cristian, ada rasa bersalah dalam hatinya saat melihat Cristian. Keluarganya sudah begitu dekat dengan Cristian juga orangtua Cristian. Kalau melihat hal itu dia merasa tidak tega Hanna berpisah dengan Cristian. Tapi Hanna sudah menikah dengan Damian dan sedang hamil, tidak ada yang bisa dilakukannya selain merestui Hanna dan Damian.


“Nak, kau datang tiba-tiba,” ucap Bu Astrid.


“Iya tante, ibuku mengirimkan beberapa barang dari LN buatku dan ada yang buat tante juga. Jadi aku mengantarnya kesini,” jawab Cristian tersenyum ramah, sambil memberikan kantong yang dibawanya.


 Melihat senyum ramahnya Cristian membuat Bu Astrid semakin merasa bersalah saja, pria itu sudah begitu baik menjaga putrinya bertahun-tahun.


“Terimakasih, Nak. Sampaikan terimakasihku pada ibumu,” kata Bu Astrid, menerima kantong itu. Wajahnya langsung berbinar-binar, tangannya langsung membuka isi kantongnya itu.


“Ini kain yang sangat bagus sekali,” ucap Bu Astrid, mengeluarkan kain itu.


“Ibumu pandai memilihkan modelnya, aku suka,” seru Bu Astrid.


“Ibuku pasti senang kalau tahu Tante menyukainya,” ucap Cristian, sambil tersenyum.


“Tentu saja aku suka, katakan terimakasih pada ibumu,” kata Bu Astrid, berulang-ulang, dia senang sekali dengan hadiah itu.


Melihat ibu mertuanya begitu senang dengan oleh-oleh yang dibawakan Cristian, membuat Damian cemburu. Terlihat sekali ibu mertuanya begitu bahagia. Padahal dia juga bisa membelikannya kain seperti itu, fikir Damian.


“Ayo Nak, duduk dulu, Tante buatkan teh,” seru Bu Astrid, tangannya langsung memeluk bahu Cristian.


“Mm tidak, Tante  aku…” tolak Cristian tapi Bu Astrid terus merangkul bahunya menyuruh duduk dikursi.


Melihat sikap Bu Astrid itu membuat Damian semakin cemburu. Ibu mertuanya malah menyuruh-nyuruhnya tadi, tidak memeluknya seperti pada Cristian, wajahnya langsung saja masam. Sepertinya dia harus memberi hadiah pada ibu mertuanya supaya bersikap ramah seperti pada Cristian.


Perubahan sikapnya Damian itu tidak luput dari perhatiannya Hanna. Dia mengerutkan keningnya, ada apa dengan Damian yang berubah tampangnya jadi kusut begitu?


“Tante buatkan minum, kau duduk dulu,” ucap Bu Astrid, menepuk bahu Cristian, lalu meninggalkan ruang tamu itu.


Cristian duduk bersebrangan dengan Damian. Hanna berdiri di dekat meja tidak bicara apa-apa.


Karena merasa kesal dan cemburu dengan sikapnya Bu Astrid yang menurutnya lebih ramah pada Cristian, Damian tiba-tiba menarik tangannya Hanna.


“Sini sayang, duduk denganku,” ucap Damian.


Hanna terkejut dengan sikap Damian itu, dia terpaksa duduk dikursi yang sama dengan Damian.


Ada rasa panas yang menjalar di hatinya Cristian melihat mereka duduk berdua.


Tidak hanya itu saja, tangan Damian memeluk pinggang Hanna menariknya supaya duduk menempel dengannya, dan tidak melepaskan pelukannya.


Hanna melirik pada Damian, sebelah tangan kanannya memegang tangan Damian yang ada dipinggangnya supaya melepasnya, dia merasa tidak  nyaman mesra seperti itu didepan Cristian. Tapi Damian sepertinya masabodoh dia malah mempererat pelukannya.


Hanna akhirnya diam dan menunduk. Dia tidak tega semesra itu dengan Damian di depan Cristian. Walaubagaimanapun dia tidak mau sengaja menyakiti Cristian yang sudah begitu menyayanginya.


Bu Astrid datang membawa minuman buat Cristian. Lagi-lagi Damian semakin merasa cemburu. Tadi dia datang yang membawa suguhan minuman adalah asisten rumahtangganya, sekarang kalau buat Cristian, Bu Astrid yang langsung membawakannya.


“Ayo minumlah, ini teh manis kesukaanmu. Aku masih ingat kau tidak suka kopi, kau lebih suka teh manis,” ucap Bu Astrid pada Cristian. Sebenarnya Bu Astrid tidak berniat membuat Damian cemburu, tapi karena dengan Cristian sudah dekat jadi dia sudah terbiasa bersikap akrab.


Raut muka Damian semakin merah saja, melihat Cristian lebih dulu memenangkan hati mertuanya. Hanna bisa melihat perubahan sikap Damian itu. Tangan Damian yang ada dipinggang, beralih ke bahu dan mengusap usap bahunya Hanna.


Cristian yang melihat gerakan tangannya Damian di bahu Hanna samakin merasa cemburu.


“Aku tidak lama Tante,” kata Cristian, dia tidak sanggup melihat Hanna mesra  dengan Damian, itu sangat menyakiti hatinya. Menjaga, melindungi dan memberi perhatian pada teman kecilnya itu hanyalah sia-sia, teman kecilnya itu mencintai pria lain.


“Ya kau minum dulu tehnya,” ucap Bu Astrid. Yang duduk di kursi yang berbeda dekat dengan Cristian. Cristian mengangguk dan langsung meminummya.


“Sebaiknya aku langsung pulang, aku ada pekerjaan,” kata Cristian, sambil berdiri. Bu Astrid juga langsung berdiri. Hanna akan berdiri tapi bahunya dipeluk erat Damian.


“Ya baiklah, jangan lupa sampaikan terimakasih Tante pada ibumu,” kata Bu Astrid,


Cristian mengangguk dan keluar dari ruangan itu diantar Bu Astrid. Tidak ada yang di ucapkannya pada Hanna dan Damian. Dia tidak kuat melihat sikap Damian yang sengaja mesra-mesra pada Hanna di depan matanya.


Bua Astrid masuk lagi dan melihat Damian  yang masih memeluk Hanna, lalu dia menoleh keluar. Dia kembali tersadar, dua pria itu sekilas memang mirip.


“Hari ini ibu tidak akan ke restaurant, ibu akan memasak buatmu,” kata Bu Astrid pada Hanna.


Mendengar Bu Astrid cuma menyebut buat Hanna, Damian merasa tersinggung, kenapa tidak menyebut buatnya juga.


“Aku makan diluar saja,” jawab Damian.


“Tidak, kau makan disini saja,” ucap Hanna, menoleh pada Damian, memengang tangan kirinya Damian. Dia bisa tahu kalau suami palsunya itu sedang cemburu. Benar kata Satria, kalau Damian itu sebenarnya pencemburu.


“Kalau mau makan disini juga tidak apa-apa, ibu akan memasak dulu,” kata Bu Astrid, pergi meninggalkan ruangan itu.


Hanna menatap Damian.


“Kau kenapa?” tanya Hanna.


“Tidak apa-apa,” jawab Damian.


“Kau cemburu pada Cristian?” tanya Hanna.


“Tidak,” jawab Damian.


“Benar begitu?” Hanna memicingkan matanya, tidak percaya.


“Buat apa aku cemburu, bukankah kau cintanya padaku?” jawab Damian, menatap Hanna.


“Tapi kenapa sikapmu sangat aneh?” tanya Hanna.


“Biasa saja,” ucap Damian.


Hannapun diam, Damian tidak mau menatap matanya, berarti benar pria itu sedang cemburu.


“Aku tidak tau kalau ibumu suka kain, aku bisa membelikannya kain yang lebih bagus,” ucap Damian.


Hanna terdiam mendengarnya pasti Damian cemburu karena ibunya sangat dekat dengan Cristian.


“Kau cemburu karena ibuku dekat dengan Cristian?” tanya Hanna.


“Tidak,” jawab Damian.


“Aku berteman dengan Cristian dari kecil, jadi orangtuaku juga dekat dengannya, kau jangan merasa cemburu,” kata Hanna.


“Aku tidak cemburu!” sanggah Damian dengan nada tinggi, membuat Hanna terkejut.


“Ayo kita pulang saja, kau jangan tinggal disini,” lanjut Damian, memegang tangan Hanna.


“Tapi Damian, ibu memintaku menginap dulu disini, sekarang ibu juga memasak untuk kita,” kata Hanna.


“Untukmu,” ucap Damian.


“Tidak, untukmu juga. Kau hanya salah faham dengan sikap ibu. Ibu tidak seramah padamu kerena ibu belum mengenalmu, percaya deh lambat laun ibu akan dekat denganmu juga, sama dangan pada Cristian,” kata Hanna.


“Aku tidak mau sama dengan Cristian,” ucap Damian dengan ketus.


“Ya tidak, kau akan lebih dekat dengan ibuku, kau kan menantunya, iya kan?” Hibur Hanna. Dia masih kaget dengan sikap Damian itu. Ternyata benar, dia sangat cemburuan.


Kini pria itu masih memberengut. Hanna merasa pusing kalau begini. Diapun menempelkan tubuhnya memeluk Damian.


“Jangan berfikir macam-macam, yang penting aku mencintaimu,” Hibur Hanna lagi lalu mencium pipinya Damian, pria yang sedang cemburu itu. Damian tidak bicara lagi tangannya balas memeluk Hanna.


Sepulang dari rumahnya Hanna, perasaan Cristian semakin gelisah. Kenapa saat dia tahu Hanna adalah istrinya Damian, hatinya tidak secemburu ini, mungkin karena melihat mereka jarang terlihat bersama didepan matanya. Tapi sekarang melihat sikap Damian yang seakan sengaja memanasi dirinya, sengaja menunjukkan kalau Hanna adalah miliknya ,membuat hatinya merasa cemburu.


Adegan Damian memeluk Hanna itu serasa menusuk-nusuk dihatinya. Kekasihnya benar-benar telah jadi milik orang lain, dia merasa kecewa. Cristian pun menjalankan mobilnya menuju kantornya.


Saat sekretarisnya menyapanya dia tidak menjawab.


“Pak! Ada yang mau saya sampaikan,” kata sekretarisnya.


“Ada apa?” tanya Cristian.


“Saya boleh ijin sebentar,Pak?  kebetulan keponakan saya dari ibukota merayakan ulangtahun di hotel kita, dia juga mengundang beberapa teman artis yang sudah top, saya mau kesana, ingin mengucapkan selamat,” kata sekretarisnya itu.


Tiba-tiba Cristian ingat seusatu.


“Apa keponakanmu mengundang temannya yang ada di foto pernikahannya Hanna dan Damian?” tanya Cristian.


“Aku tidak tahu pak, kalau bapak mau datang kesana, tidak apa-apa sakalian dengan saya,” ucap Sekretarisnya.


Cristian berfikir sejenak.


“Baiklah aku akan kesana sebentar, aku juga kan pemilik hotelnya, itung-itung aku memberi ucapan selamat pada keponakanmu,” kata Cristian.


“Baiklah, kita berangkat jam 11 ya Pak, ada beberpa berkas yang harus di tanda tangani dulu,” kata sekretarisnya itu.


Cristian mengangguk, diapun masuk ruangannya. Ayahnya memang jarang ada di kantornya ini, jadi Cristian yang memegang semua urusannya, hanya masalah masalah besar saja biasanya Cristian berunding dengan ayahnya.


Cristian duduk diruang kerjanya itu, dia berfikir tidak ada salahnya dia bicara dengan orang-orang yang disewa Damian untuk menjadi orangtuanya Hanna di acara resepsi pernikahan mereka.


***********


Readers terimakasih atas dukungannya untuk Hanna dan Damian. Meskipun viewnya masih dibawah hari hari sebelumnya yang penting tidak terlalu hilang, mungkin view turun juga karena sudah banyak yang bosan juga.


Terimakasih atas supportnya dan yang sudah ngasih tips terimakasih banyak.