Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-74 Informasi Shezie



Sejak pergi menemui wanita itu, Damian tidak banyak bicara, didalam pesawat dia hanya membaca koran saja. Hannapun sudah berberapa kali bolak-balik mencari perhatian, pria itu sama sekeli tidak mengajaknya berbincang. Benar-benar  membuatnya kesal.


“Damian!” panggil Hanna.


“Iya sayang,” jawab Damian, tapi masih membaca korannya.


Hanna cemberut melihat sikap suaminya itu, memangnya apa yang dibacanya  sampai begitu serius tidak mau berpaling? Diapun kembali berbaring, sepertinya suaminya memang tidak mau diganggu, sampai akhirnya dia terpaksa memejamkan matanya dan tidur.


Entah berapa lama dia tidur, begitu bangun dia sudah ada didalam mobilnya Damian.


“Sudah turun?” tanya Hanna, tapi saat membuka matanya dia bahagia karena dia tidur berbantalkan paha suaminya. Itu artinya suaminya menggeendongnya dari pesawat, diapun tersenyum.


“Kenapa?” tanya Damian.


“Tidak apa-apa,” jawab Hanna.


“Kalau kau senyum senyum sendiri, pasti ada sesuatu yang aneh,” kata Damian.


“Tidak ada yang aneh, aku hanya senang saja aku bangun berbantalkan kakimu, kau juga pasti yang menggendongku dari pesawat,” ucap Hanna, tangannya mengusap-usap paha suaminya.


“Jangan mengusap-usap pahaku,” protes Damian. Hanna malah tertawa dan sengaja mengusap usapnya lebih cepat.


“Sayang, kita bawa supir,” ucap Damian mengingatkan, wajahnya sudah berubah memerah, istrinya mulai bermain-main dengannya.


Damian menunduk menatap istrinya yang cengengesan, istrinya memang begitu suka iseng menggodanya. Pandangan merekapun bertemu.


“Kau ingin bermain-main denganku? Sepertinya suatu kesalahan mengajakmu pergi,” ucap Damian.


“Kesalahan apa?” tanya Hanna.


“Aku tidak bisa bekerja dengan serius karena kau ganggu terus,” jawab Damian, dan langsung mencium bibirnya Hanna, istrinya itu malah tertawa.


“Damian!” panggil Hanna.


“Apa?” tanya Damian, masih menunduk menatap istrinya.


“Aku masih wanita satu-satunya dalam hidupmu kan?” tanya Hanna.


“Tentu saja,” jawab Damian, kembali mencium bibir istrinya. Tangannya mengusap rambutnya Hanna.


Kalau melihat sikap Damian seperti ini, rasanya tidak mungkin Damian berselingkuh tapi kenapa Damian mencari-cari wanita itu? Buat apa? Kalau memang dia pernah dekat dengan wanita itu tidak perlulah mencari-carinya, yang lalu biarkan berlalu, dia juga punya masa lalu dengan Cristian tapi dia tidak pernah memikirkan Cristian, ini malah dicari-cari, kecuali kalau memang wanita itu sangat berarti bagi Damian. Hanna langsung cemberut, dia merasa cemburu kalau memang seperti itu.


“Kau sedang memikirkan apa?” tanya Damian.


“Tidak ada,” jawab Hanna.


“Jangan berbohong!” kata Damian.


“Oh iya aku lupa kalau kau bisa telepati,” jawab Hanna.


Damian malah tertawa dan kembali mencium bibir istrinya.


“Bagaimana kau tidak akan satu-satunya wanita dalam hidupku, kau juga wanita teraneh satu-satunya di dunia,” ucapnya, membuat Hanna semakin cemberut saja.


Damian kembali tertawa, jarinya menyentuh bibir istrinya yang cemberut, dan ciuman berkali-kali mendarat di bibirnya Hanna. Supirnya benar-benar dianggap tidak ada.


“Aku sangat mencintaimu, sayang,” ucap Damian, pandangannya bertemu dengan mata Hanna. Istrinya tidak menjawab. Apa benar begitu? Dulu mungkin iya, tapi sekarang? Dia merasa ragu, batin Hanna.


Terdengar ponsel Damian berbunyi.


Damian meraih ponsel disaku celananya, sedangkan Hanna merubah posisi tidurnya, miring membelakangi perut suaminya.


Damian melihat nomor yang masuk itu.


“Jaringannya jelek, bisakah kau minggir sebentar?” kata Damian pada supir.


Hanna langsung menatap lagi suaminya.


“Sayang aku harus menerima telpon dulu diluar, jaringannya jelek,” ujar Damian.


Hannapun bangun, kenapa setiap menelpon bilang jaringannya jelek? Mobilpun berhenti dipinggir jalan. Damian turun keluar dari mobil itu.


“Katanya aku wanitanya satu-satunya di dunia, tapi lihat  saja sikap dia menerima telpon, masa jaringan jelek terus,” gerutu Hanna, diapun mengambil ponselnya dan jaringannya ternyata bagus.


“Berbohong itu pinteran sedikit, Damian,” gerutunya lagi.


 Hanna semakin penasaran saja dengan kesibukan Damian yang satu ini, ada urusan apa lagi sih? Tapi kenapa pria itu tidak mau cerita apa-apa padanya?


Damian berhenti di dekat sebuah pohon agak jauh dari moilnya diparkir, diapun menerima telponnya.


“Soal putrinya Bu Vina Pak,” jawab informan itu.


“Iya, kenapa?” tanya Damian.


“Putrinya Bu Vina itu bukannya menantu Bapak?” tanya informan itu.


“Apa maksudmu menantuku?” tanya Damian, terkejut bukan main.


“Iya Pak, Putrinya Bu Vina namanya Shezie yang menikah dengan putra Bapak, Henry,” jawab informan itu.


“Kau pasti salah, menantuku orang tuanya sudah meninggal, dia yatim piatu,” kata Damian, wajahnya mulai berubah pucat.


“Apa benar begitu?” tanya informan seakan tidak percaya.


“ Iya, aku saja tidak melakukan lamaran pada orang tuanya,” kata Damian.


“Maaf kalau begitu Pak, akan saya cek lagi apa ada yang salah?  Saya hanya dapat informasinya begitu. Putrinya Bu Vina menikah dengan putra Bapak, Henry, dalam data-data  pernikahan juga begitu, data identitas tempat tinggal juga sama dengan tempat tinggalnya Bu Vina,” jawab informan itu.


Damian terdiam mendengarnya, Henry dan Shezie menikah dengan sah jadi data-datanya tidak mungkin salah, apa benar begitu? Dia tidak percaya kalau Shezie itu benar-benar putrinya Vina.


Tapi kenapa Shezie mengatakan dia yatim piatu? Apa Shezie memang sengaja berbohong itu karena  dia istri bayaran  Henry  supaya orang tuanya tidak perlu tahu?


“Ada yang lain tidak?” tanya Damian, tangannya terasa gemetar saat memegang ponsel itu, hatinya mendadak gelisah saja.


“Baiklah, coba kau cari informasi lagi seakurat mungkin, karena menantuku itu yatim piatu, barangkali ada yang salah,” kata Damian, seolah-olah memaksa ingin mendapatkan hasil kalau informasi ini salah.


Setelah telpon di tutup, Damian tidak langsung ke mobil, dia malah diam melamun. Tidak disadarinya istrinya memperhatikan didalam  mobil. Hanna semakin merasa gelisah saja, ingin tahu apa yang sedang terjadi sebenarnya, sepertinya wanita itu jadi begitu menyita perhatiannya Damian.


Damian kembali memasukkan ponselnya dan menuju mobilnya.


Saat Damian masuk Hanna menatap wajah suaminya, Damian menoleh padanya lalu tersenyum, tangannya langsung mengulur meraih bahu istrinya supaya duduk lebih merapat padanya.  Sebuah ciuman mendarat dipipinya.


“Jalan lagi Pak,” ucapnya pada Pak supir.


Hanna memeluk tubuhnya Damian.


“Sayang, kalau Shezie itu yatim piatu kan?” tanya Damian.


“Iya, eh tidak sayang, apa aku sudah bilang belum?” jawab Hanna, mendongak menatap wajahnya Damian yang kini menatapnya.


“Soal apa?“ tanya Damian, hatinya semakin gelisah saja.


“Henry bilang Shezie itu masih punya ibu sayang, cuma Shezie berbohong kalau orang tuanya meninggal itu karena waktu itu dia dibayar oleh Henry,” jawab Hanna.


Damian terdiam mendengarnya, wajahnya semakin pucat saja.


“Kau kenapa?” tanya Hanna, merasa reaksi sauminya berlebihan.


“Tidak apa-apa,” jawab Damian, sambil mencium pipinya Hanna. Istrinya itu mengerutkan keningnya merasa aneh dengan sikap Damian.


“Kita harus menemui ibunya Shezie kalau begitu sayang. Henry sudah mengatakan kalau dia dan Shezie ingin melanjutkan pernikahan mereka, jadi kita harus menemui ibunya Shezie.  Tapi aku juga belum banyak bicara dengan Henry karena kita beda rumah sekarang,” kata Hanna, mendekatkan hidungnya pada pipi Damian.


“Aku mencintaimu Damian,” ucap Hanna.


Damian menoleh dan menatap istrinya.


“Aku tahu,” jawab Damian.


“Harusnya kau jawab aku juga mencintaimu,” kata Hanna.


“Aku juga mencintaimu,” ucap Damian sambil mengusap pipinya Hanna.


“Aku harap cintamu tidak akan berubah selamanya,” kata Hanna, menatap Damian dengan serius.


Suaminya balas menatapnya.


“Tentu saja, kenapa harus berubah?” jawab Damian.


“Apa kau sudah berkata jujur?” tanya Hanna.


“Tentu saja kenapa aku harus berbohong?” Damian balik bertanya, tangannya mengusap kepalanya Hanna.


Hannapun tersenyum, Damian langsung memeluknya dengan erat.


***********